
Aku tahu memenangkan hati Richard tidak akan mudah. Namun aku sudah membulatkan tekadku. Bagaimanapun caranya, aku harus membuatnya membiarkanku bekerja dengan tenang.
"Selamat pagi" sapaku dengan senyum seramah mungkin.
Aku tahu, Seperti biasa Richard tidak menanggapiku berpura-pura tidak mendengar. Meski begitu, aku bisa menangkap ekspresi heran di wajahnya. Mungkin ia bertanya-tanya kenapa aku bisa menyapanya seolah tidak terjadi apa-apa. Karena selama beberapa Hari terakhir, aku tidak melakukannya. Bahkan cenderung menghindarinya, seolah melihat hantu.
Richard meninggalkanku Setelah itu. Aku langsung melakukan deep breathing selama tiga Kali Setelah ia pergi. Ini adalah tips yang diberikan oleh Dr. Lily agar aku bisa mengatasi Rasa gugup Dan sakit saat melihat Richard. Jujur saja, aku tidak sepenuhnya ingin melakukan ini. Menghindari Richard akan lebih mudah. Namun aku senang bisa melewati tantangan kecil ini.
*****
Seperti biasa, Richard masih mengerjaiku saat syuting. Dia membuatku mengulangi adegan yang sama. Entah mengkritik ekspresi atau mencari kesalahan kecil lainnya.
Dan itu terjadi lagi,
Aku kembali merasa sesak. Nafasku terasa sulit, padahal saat ini aku masih Ada di depan kamera. Isi kepalaku mendadak menguap. Segala dialog yang sudah ku hafal kalah oleh rasa sakit di dadaku.
"Jika perasaan itu mulai datang lagi, kau harus melakukan ini..."
Tiba-tiba aku teringat pesan Dr. Lily.
Aku segera memejamkan mata. Aku harus menghindari pemandangan yang membuatku panik. Di saat yang bersamaan menyadari bahwa rasa "sakit" ku sedang kambuh. Mengingatkan bahwa ini hanya akan berlangsung dalam waktu yang singkat. Cukup sebentar dan akan segera berlalu. Aku tidak perlu khawatir dan menjadi lebih panik.
Setelah itu aku menghirup nafas panjang, menahannya beberapa detik dan melepaskannya perlahan. Aku mengulanginya selama tiga Kali Dan bisa ku rasakan dadaku mulai terasa longgar. Rasanya mulai sejuk di tubuhku. Sembari mengatur nafas, aku menggosok-gosokkan tanganku di permukaan celanaku. Merasakan teksturnya agar kesadaranku tetap terjaga. Aku sedang berdiri di sini, jadi tidak boleh jatuh.
Setelah merasa tenang, aku membuka Mata perlahan-lahan. Aku melihat sekelilingku dan mengetesnya. Meski melihat Hal yang sama dengan yang membuatku panik tadi, perasaan itu tidak kembali. Semua terlihat biasa saja di mataku. Aku menghembuskan nafas lega.
Aku merogoh kantongku dan mengambil roll on yang ku simpan di Sana.
"Apa yang akan kau lakukan dengan itu?" Tanya Drey. Dia menunjuk deterjen di tanganku.
"*Kalau begini akan lebih mudah dibawa kemana-mana"
"Kenapa kau harus membawa itu?" Tanya Drey masih tidak mengerti. Mungkin dia merasa aneh melihatku berusaha memasukkan deterjen ke dalam botol roll on. Sementara isi asli roll on yang masih utuh malah ku buang.
"Aku suka dengan baunya," jawabku berteka-teki.
"Aku bisa membelikanmu parfum yang lebih wangi daripada itu"
Kali ini Drey malah menatapku iba. Terpaksa aku mengacuhkannya. Drey tidak akan mengerti alasanku*.
Aku tersenyum mengingat obrolan kami semalam.
Aku membuka tutup roll on itu dan mencium aromanya. Hanya aroma yang umum ditemui pada deterjen. Ada sedikit wewangian bunga di Sana. Namun bagiku aromanya istimewa. Ini adalah aroma rumah, Yang biasa ku cium saat mencuci baju atau saat bergelayut manja pada Drey. Kaus nya akan memiliki aroma seperti ini. Dan itu menenangkanku.
Kata Dr. Lily, mencium aroma yang familiar Dan membuat nyaman dapat menenangkan saat gugup di tempat yang asing. Karena itu aku memilih ini. Benar saja, aku merasa kembali rileks Dan dialog yang tadi sempat terlupa bisa kembali dengan sendirinya.
Aku memang belum berhasil menaklukkan Richard, tetapi setidaknya sudah menguasai serangan panikku.
*****
"Kopi... Pahit." Aku menggumamkan kata yang sedang ku tulis keras-keras. Dan akhirnya menarik perhatian Drey.
"Apa yang sedang kau lakukan sejak tadi?" Tanyanya.
Memang sudah sejam aku duduk sambil menatap layar ponsel. Padahal hari ini sedang libur dari pekerjaan, namun aku bahkan tidak mengajak Drey bicara.
"Aku sedang riset"
Drey mengernyitkan keningnya. Pasti terdengar aneh dan tidak biasa buatnya.
__ADS_1
"Untuk film," lanjutku cepat. Untungnya Drey manggut-manggut saja. Tidak bertanya lebih jauh. Dia sendiri kembali asyik menyaksikan pertandingan di televisi.
Aku kembali melanjutkan kegiatanku. Tidak sepenuhnya bohong menyebut ini sebagai riset. Aku memang sedang mencari tahu lewat internet, tetapi tidak Ada hubungannya dengan film. Aku sedang mencari tahu hal-hal yang mungkin disukai pria tua.
Dr. Lily memberiku banyak Saran tentang Richard, namun kebanyakan hanya poinnya saja. Aku harus mencari tahu lebih detail sendiri. Misalnya saja tentang kopi. Richard suka sekali meminumnya. Selama seharian di lokasi syuting, aku bisa melihatnya minum sebanyak tiga kali. Hanya saja aku tidak tahu seleranya. Richard mungkin menyukai yang pahit atau yang manis.
Aku membaca tulisan di internet dengan sedikit rasa malu. Kebanyakan topik di internet tentang mendapatkan perhatian pria tua adalah tentang menggoda mereka sebagai pasangan. Ternyata ini cukup populer juga. Jarang sekali yang membahas tentang hubungan dengan ayah dari pacar. Jika Drey melihat ini, dia pasti salah paham.
"Apa perlu ku bantu?"
Jantungku serasa copot saat tiba-tiba Drey sudah berbisik di belakangku. Aku cepat-cepat menurunkan ponselku agar dia tidak melihat isinya.
"Jarang sekali kita punya waktu berdua seperti ini, dan kau malah mengabaikanku. Jadi lebih baik aku membantumu agar kau lekas selesai"
Sebelum aku sempat menolak, dia sudah lebih dulu membujuk. Mau Tak mau ku taruh ponselku dan segera mengalungkan lenganku ke lehernya.
"Sudah selesai"
Drey tersenyum Dan segera menarik pinggangku. Merapatkan tubuh kami berdua. Dia menempelkan keningnya pada milikku agar bisa menatap intens ke dalam mataku.
"Kau terlihat lebih baik hari ini," ujarnya.
Setelah melihatku menangis tempo Hari, aku pasti telah membuatnya khawatir. Drey juga sudah cukup baik tidak membahasnya saat aku tidak ingin.
"Seseorang telah membantuku. Dia memberi banyak saran dan aku merasa lebih baik"
"Siapa?" Tanya Drey dengan ekspresi penuh selidik. Aku bisa melihat ada sedikit kecemburuan di nada pertanyaannya.
"Kau tidak perlu cemburu pada seorang wanita yang usianya sudah setengah abad," jawabku sambil tertawa.
Ada senyum malu di wajah Drey. Di saat yang sama, juga senyum penuh kemenangan. Entah dari siapa.
Kami berdua melepaskan tidak rela. Menyebalkan sekali ada yang datang di saat seperti ini. Namun tamu tetaplah tamu.
Aku heran saat melihat bahwa ternyata pacar Lara, Archie yang datang bertamu. Dia juga sendirian.
"Apa Drey Ada di sini?" Tanya Archie sopan. Mungkin Lara yang memberitahunya untuk mencari Drey di sini. Archie juga datang penuh persiapan. Ia membawakan kue dari toko paling terkenal di Kota ini.
"Ya, masuklah" ujarku mempersilakan.
Aku bertanya-tanya alasan Archie datang menemui Drey. Wajah Drey juga tampak tidak nyaman saat melihatnya. Lalu seolah tidak ingin aku mendengar tentang urusan mereka, Drey mengajak Archie bicara di luar. Kalau dipikir lagi, Drey sebelumnya bertengkar di pesta yang diadakan Archie.
*****
Sepertinya aku sudah menebalkan muka di depan Richard. Aku terus mencari cara untuk mendapat perhatiannya. Selain menerapkan Saran yang diberikan oleh Dr. Lily, aku juga mencoba hasil risetku.
Hari kedua, aku dia masih mengabaikan sapaanku. Karena itu aku mencoba memberinya kopi. Dari yang ku perhatikan, Richard lebih suka kopi yang diseduh oleh asisstennya sendiri. Ia tidak pernah membelinya. Jadi aku menyeduh sendiri. Aku cukup percaya diri pada kemampuanku. Di rumah, aku selalu membuat kopi untuk Drey.
Ekspresi Richard saat menerima kopi dariku cukup bisa ditebak. Dia hanya mematung dengan mata terbelalak. Nampak juga keraguan seolah takut aku memasukkan racun ke dalamnya. Walaupun akhirnya dia menerimanya. Hanya saja, di luar dugaan dia tidak suka kopi pahit. Aku mengikuti Saran dari internet yang mengatakan bahwa orang tua cenderung menyukai rasa pahit kopi. Jadi aku tidak menambahkan gula ke dalamnya. Yang Ada, dia malah hampir menyemburkan kopi itu Setelah meminumnya. Percobaan pertama gagal.
Tidak hanya Richard melotot padaku, dia juga mengomeli assistennya habis-habisan karena sudah membiarkanku membuatkan kopinya.
Hari ketiga, aku mengubah caraku menyapanya. Dia mungkin bosan dengan 'selamat pagi' yang biasanya ku ucapkan.
"Dasi Anda hari ini bagus sekali. Bukankah itu koleksi terbatas Men's suit?"
Dr. Lily bilang, Richard mungkin suka jika aku memuji dasi atau pakaiannya. Berhubung dia memakai setelan jas yang warnanya sama setiap Hari, aku harus menunjuk dasinya.
Tanpa ku sangka, Richard salah tingkah dengan pujianku. Dia memang tidak mengatakan apapun, tetapi karena juga tidak menduga aku akan menyapanya seperti ini, dia cukup terkejut. Richard bahkan secara refleks memegang dasinya. Akhirnya!
__ADS_1
Demi ini aku sampai menghafalkan berbagai produk dasi. Batinku.
Setelah mendapat perhatiannya dengan sapaan, aku kembali mencoba dengan kopi. Untung asisstennya masih bisa dibujuk. Kali ini aku memasukkan gula dalam kopinya, berharap sesuai dengan seleranya.
"Apa kau ingin membuatku kena diabetes?" Tanya Richard usai meminum kopiku. Menandakan bahwa aku terlalu banyak memasukkan gula.
Kopinya gagal lagi.
Perjuanganku berlanjut di hari-hari setelahnya. Aku bahkan sampai lupa datang kemari untuk syuting, malah lebih mempedulikan Richard. Aku berhasil menemukan banyak cara menyapanya. Sepertinya dia tidak suka sesuatu yang monoton Dan diulang-ulang. Jadi terkadang aku memuji dasinya, pakaiannya, rambutnya, jam tangannya atau kembali pada sapaan membosankan.
Richard yang biasanya mengabaikanku mulai menunjukkan reaksi. Terkadang spontan memegang benda yang ku sebutkan. Kadang keceplosan menjawab. Bahkan akhir-akhir ini, dia mulai mencoba menghindar. Jika dari kejauhan melihatku, dia pasti cepat-cepat berpindah tempat. Dia mungkin sadar telah masuk dalam pengaruhku.
Butuh waktu lama juga bagiku berhasil menemukan perpaduan kopi dan gula yang pas dengan selera Richard. Dia yang biasanya hanya menyesap sekali atau bahkan menolak kopi buatanku, sedikit demi sedikit mulai menghabiskannya. Selain itu, dengan mewawancarai assistennya, aku jadi tahu Richard suka pastry yang dijual di toko depan kantornya. Jika sedang luang, aku sering membelinya saat berangkat ke lokasi syuting.
Kemajuan lainnya, aku mulai bisa mengobrol dengannya. Richard suka dengan pacuan kuda. Dia tidak akan menolak saat ada orang mengajaknya berdiskusi tentang itu. Atau tentang Hal baru yang belum pernah diketahuinya. Richard adalah orang yang penuh rasa penasaran. Jadi mudah memancingnya.
Aku juga berhasil mengajaknya makan bersama. Dr. Lily menyarankanku untuk mengajak Richard untuk makan sup. Ternyata itu benar, Richard hampir tidak menolak sejak aku mengajaknya mampir ke tempat dengan racikan sup yang lezat.
Entah sejak kapan Richard mulai terasa mudah dihadapi. Dia tidak lagi terlihat keras. Malah sekarang aku menantikan pergi ke lokasi syuting hanya untuk menemukan hal baru dari Richard. Seperti apa reaksinya Hari ini?
Richard juga berhenti menggangguku. Dia lebih banyak diam saat take adegan. Tidak lagi membuat komentar memojokkanku. Aku sudah tidak lagi mendadak sakit. Aku juga mulai terbiasa melihatnya dulu sebelum memulai syuting. Semua ketakutanku seolah musnah begitu saja.
*****
"Apa Anda sudah akan pulang?" Tanyaku pada Richard seusai syuting. Dia terlihat terburu-buru.
Richard menjawab dengan dehaman, Tak berniat berbicara lebih panjang.
"Kalau begitu, hati-hati di jalan" ucapku.
Baru saja aku hendak pergi, dia Tiba-tiba menahanku.
"Percuma" ujarnya.
"Huh? Apanya?"
Richard melihatku, "kau tidak akan bisa mengubah keputusanku. Drey tetap akan ku jodohkan, karena itu berhentilah bersikap baik padaku"
Richard sepertinya menyadari perubahan hubungan kami. Itu mungkin membuatnya takut Dan akhirnya memberikan peringatan semacam itu padaku.
Sejujurnya aku sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Namun tetap saja aku tidak siap. Saat dia mengatakannya, aku hanya diam mematung. Membiarkan kesempatan untuk menjawabnya berlalu. Richard pergi setelah mengatakan itu.
Aku masih termangu di Sana. Tadi tidak membantah Richard, tetapi hatiku merasa tidak terima. Richard benar-benar salah paham. Tentu saja aku berharap dia akan berhenti mengganggu hubunganku dengan Drey. Hanya saja bukan itu yang ku pikirkan saat mendekatinya.
Aku ingin dia berhenti merundungku di sini dan membiarkanku bekerja dengan tenang. Lalu perlahan, ternyata aku menyukainya. Aku suka melihat Richard menaggapiku. Aku suka mengobrol hal baru dengannya. Aku juga suka saat dia menghabiskan kopi buatanku.
Bagiku, dia telah menjadi teman.
Mungkin keterlaluan menganggap begitu dengan perbedaan usia kami. Aku juga adalah pacar anaknya. Namun apa salahnya?
Setelah beberapa menit berlalu, aku baru sadar harusnya mengatakan itu pada Richard. Sehingga aku memutuskan mengejarnya. Hari ini Richard datang sendirian kemari, dia pasti sedang Ada di parkiran.
Tidak sulit menemukan Mobil Richard, yang terlihat Paling Mahal. Karena kacanya berwarna hitam, aku tidak bisa melihat dia Ada di dalam atau tidak. Yang ku lakukan hanya mengetuk kaca mobilnya. Berharap dia masih bersedia untuk melihatku.
Richard menurunkan kacanya hanya dengan sekali aku mengetuk.
"Aku... "
Tidak sempat ku lanjutkan ucapanku. Aku terkejut melihat Richard yang nampak kesakitan sambil memegang dadanya. Satu tangan yang lainnya berusaha meraihku seolah hendak meminta pertolongan.
__ADS_1
"Kau kenapa?!"