Sugar

Sugar
The Risk


__ADS_3

Aku bergerak gelisah di kursiku. Sesekali melantunkan doa dalam hati. Setelah menanti, akhirnya tibalah Hari ini, di mana aku harus melakukan adegan berbahaya yang dibenci Drey.



Aku Makin gugup Setelah gagal total saat latihan. Jika kesalahan itu terulang lagi, pasti Akan menyusahkan semua kru yang terlibat. Karena proses syuting bisa berjalan lebih lama.



Aktor yang memerankan Max sudah berada di kisaran usia 40-an. Karena memang dia berperan sebagai paman Sofia. Aku sudah beberapa kali bertemu beliau, dari sejak proses reading. Tetapi kami tidak begitu dekat karena perbedaan usia yang cukup jauh di antara kami.



“Luna, stand by”



Panggil salah satu kru untuk segera bersiap di set. Mau tidak mau aku harus segera beranjak kesana. Kucoba yang terbaik untuk menjadi lebih tenang. Meskipun rasanya tubuhku sudah dingin karena gugup.



Aku menyapa kikuk pemeran Max yang sudah duluan bersiap di set. Lalu berusaha mengatur nafas untuk mengumpulkan fokusku. Setelah kami semua siap, sutradara pun memberikan aba-aba untuk memulai pengambilan gambar.



Di luar dugaanku, tidak ada kesalahan yang terjadi selama proses syuting adegan ini. Aku bisa menghayati peranku dengan baik sebagai Sofia. Merasakan ketakutan, sakit dan ingin melawan, serta rasa benci yang teramat sangat pada sosok Max. Bahkan air mataku tak bisa berhenti mengalir meskipun pengambilan gambar antara aku dan pemeran Max telah usai. Sepertinya hatiku telah mengenali dengan baik perasaanku dengan Drey. Sehingga aku tidak bisa lagi berakting di depannya.



“Cut!”



Ujar sutradara. Pengambilan gambar diakhiri dengan adegan yang memperlihatkan wajah putus asa Sofia.



“Akting yang bagus”



Puji pemeran Max sambil menepuk bahuku. Aku hanya bisa meringis malu-malu.



****



Hari masih terang saat syutingku berakhir. Sehingga aku tidak ingin langsung pulang. Aku meminta Daniel untuk mengantarku pergi ke suatu tempat lebih dulu. Sampai di sana, Daniel lalu meninggalkanku. Petugas yang mengenaliku selanjutnya mengantarkan ke tujuanku.



Meski tempat itu sepi penonton, masih sayup-sayup terdengar sorakan. Ada beberapa yang terlihat duduk bergerombol. Serta beberapa reporter yang sibuk memotret. Layaknya sedang ada pertandingan resmi di sana. Aku memilih salah satu tempat yang sedikit jauh dari keramaian. Lalu membiarkan mataku pada satu orang.



Drey terlihat sibuk bercanda dengan beberapa rekan setimnya. Terkadang saling berebut bola. Suasana santai itu membuat mereka tidak seperti pemain professional. Malah mirip anak sekolah dasar yang bermain di halaman belakang. Namun pemandangan yang cukup menarik bagiku.



Salah satu rekan Drey yang menyadari kehadiranku. Dia lalu berbisik pada Drey, membuatnya segera menoleh ke arah tempat dudukku. Drey Nampak terkejut saat aku melambaikan tangan padanya. Namun tersenyum kemudian. Kusadari bukan hanya Drey yang akhirnya melihatku. Orang-orang di sana termasuk para reporter yang tadinya sibuk memotret juga. Hingga beberapa kali aku merasakan sinar blitz kamera mulai mengarah padaku. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin melihat Drey.



Tiga puluh menit kemudian latihan berakhir. Drey menemuiku di tempat parkir. Aku bisa melihat senyumnya yang lebar. Mungkin karena ini pertama kalinya aku mengunjunginya di tempat latihan. Drey tidak sendiri, di belakangnya ada tiga rekan setimnya yang mengajak berkenalan. Karena aku memang bukan penggemar sepak bola, aku tidak mengenali wajah para pemain bintang itu. Joaquim, Renner dan Thariq. Ketiganya berasal dari Negara yang berbeda-beda.



Sebenarnya aku ingin langsung pulang dan makan malam dengan Drey di rumah. Tetapi ketiga rekan Drey memaksa untuk makan malam dengan mereka. Kami tidak bisa menolak dan akhirnya bergabung.


Yang kukhawatirkan sebenarnya adalah takut tidak nyambung dengan mereka. Empat pemain sepak bola duduk bersama, aku yakin sebagian besar yang mereka bicarakan adalah tentang sepak bola. Bidang yang sama sekali tidak kupahami. Aku sudah bersiap menjadi terkucil di antara mereka.



Ternyata perkiraanku salah. Mereka sama sekali tidak menyinggung tentang sepak bola. Malah isinya curhat tentang kampung halaman. Joaquim berasal dari Meksiko, Renner dari Spanyol, dan Thariq dari Mesir. Membuat kami berlima sama-sama sebagai orang perantauan. Sehingga aku bisa bersimpati pada cerita mereka.



Obrolan kami cukup seru, dan tanpa sadar aku bisa banyak berbicara. Rasa canggungku berhadapan dengan orang baru apalagi pria tidak terasa. Justru bicara dengan mereka yang berbeda bidang dan kebangsaan membuatku takjub. Orang yang bekerja dengan popularitas seperti kami ternyata tidak melulu membahas alkohol, kekayaan atau wanita. Ada sisi pembicaraan yang manusiawi juga. Mungkin karena selama ini aku memang kurang pergaulan.



Sudah hampir tiga jam lebih dan kami mulai berkemas untuk pulang.



“Ah.. Luna, sebenarnya aku ingin mengundangmu ke pesta. Akhir pekan ini kekasihku berulang tahun”



Ujar Joaquim sebelum kami beranjak pergi. Aku tidak langsung menjawab dan menatap bingung pada Drey, yang notabene teman Joaquim sebenarnya.



“Aku sudah mengajak Drey, tapi dia bilang tidak bisa pergi ke pesta tanpa dirimu”



Tambah Joaquim yang menyadari kebingunganku. Drey hanya tersenyum mengiyakan. Aku baru ingat bahwa terakhir kali dia kolaps setelah mabuk, aku mengancamnya untuk tidak lagi pergi berpesta. Aku risih dengan kebiasaan di pesta yang dipenuhi alkohol dan wanita.


Tetapi setelah kupikir lagi, tidak ada salahnya jika kami pergi bersama. Aku bisa mengawasi Drey dan dia bisa menjagaku. Jadi aku mengiyakan undangan itu.



***********************************


"Apa kau akan baik-baik saja di pesta?"



Tanya Drey saat kami sampai di rumah. Sepertinya dia masih meragukan keputusanku menerima undangan Joaquim.

__ADS_1



"Apa kau takut tidak Akan bisa bertemu wanita lain jika denganku?"



Godaku. Drey hanya tersenyum.



"Aku lebih takut kau akan bersikap genit pada pria lainnya di Sana. Akan ada  banyak pria keren datang kesana"



Godanya balik.



"Sudah kubilang aku hanya genit padamu"



Jawabku sambil memonyongkan bibir. Drey tertawa Dan spontan menghantarkan kecupan kecil di puncak kepalaku.



Drey hendak memelukku. Saat aku Tak sengaja malah mendorongnya menjauh.



"Aww.."



Jeritku merasakan sakit luar biasa saat Drey menyentuhku.



"Ada apa?"



Tanya Drey panik. Suasana penuh tawa tadi langsung digantikan dengan ketegangan.



Aku tidak menjawab Dan melepas sweaterku. Kami berdua hanya bisa terkejut mendapati lebam di sepanjang lengan Dan pergelangan tanganku. Drey yang sangat khawatir tanpa aba-aba langsung menyingkap kaos di bagian bahu dan perutku. Membuatnya menemukan beberapa lebam lain di sana, yang bahkan tidak kusadari.



"Apa ini? Apa karena diriku?"



Tanya Drey sambil menatapku dengan pandangan nanar. Tatapan yang sama saat aku mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Aku tahu dia membicarakan latihan kemarin.




Jawabku menenangkannya. Aku tidak bohong. Tadi pagi semua lebam ini memang belum Ada saat aku berangkat syuting.



Meskipun dengan penjelasanku,  ekspresi Drey tidak membaik. Rahangnya masih mengeras. Namun dia masih berusaha keras menahan segala amarahnya.



"Akan kuambilkan kompres"



Ujar Drey kemudian.



Drey mengobatiku dalam diam. Sama sekali tidak melihatku. Terlihat sekali berusaha menghindar untuk menunjukkan marahnya. Hingga aku terpaksa hanya meringis menahan sakit saat dia mengoleskan obat.



Aku tidak tahan didiamkan lama. Jadi aku mencoba bercanda dengannya.



"Semoga ini hilang saat pesta nanti, biar kau tidak dikira melakukan kekerasan dalam hubungan padaku"



Aku mencoba sedikit tertawa walaupun garing. Tapi Drey malah melotot padaku.



"Bukankah peran kita terbalik? Kenapa malah aku yang mengobati lukamu? Aku serasa punya pacar gangster saja"



Protes Drey yang sudah sedikit mencair. Dia mengatakannya sambil menekan lukaku hingga aku mengaduh dengan keras.



Sebenarnya terluka macam begini sudah biasa bagiku. Resiko menjadi aktris. Bahkan saat Syuting film action bisa lebih parah daripada ini. Aku berusaha menjelaskannya pada Drey. Mau tidak mau, selama menjadi pacarku, dia harus terbiasa Melihatku begini.



Drey menghela nafas besar saat aku hanya meringis.



"Tapi aku tidak Akan pernah bisa tertawa saat melihatnya"


__ADS_1


Jawab Drey memberi peringatan.



******


Berkat kedatanganku saat latihan Drey kemarin, banyak berita muncul tentang kami. Kebanyakan membahas keberadaanku di London, di kota yang sama dengan klub Drey. Sebelumnya memang tidak ada yang tahu bahwa aku telah pindah sementara kemari.



Aku baru merasa was was. Entah menggunakan indera keenam atau indera penciuman yang sangat tajam, para paparazzi bahkan sudah menemukan di Mana kami tinggal. Tentu saja untuk saat ini mereka hanya tahu bahwa kami tinggal bersebelahan. Belum tahu yang sebenarnya. Jika sudah, tamatlah riwayatku.



"Apa kau tahu jika mereka sudah tahu tempat ini?"



Tanyaku pada Drey.



"Hm...oh ya?"



Jawab Drey cuek. Aku hanya bisa berdecak kesal. Baginya sih tidak masalah. Tapi kalau sampai orang tuaku tahu, bisa dihapus namaku dari daftar keluarga.



"Drey...ini.."



"Kau tidak bersiap-siap? Nanti Kita terlambat ke pesta"



Potong Drey. Begini jeleknya Drey. Dia tidak Akan bisa diajak bicara serius tentang Hal yang dianggapnya sepele.



Aku memutuskan mengalah dan kembali ke kamar. Kalau bukan karena janjiku untuk datang ke pesta, aku tidak Akan pergi. Siapa juga yang bisa berpesta dalam situasi seperti ini.



Hanya berselang beberapa jam, kami akhirnya sampai juga di pesta. Tadinya aku berpikir bahwa ini hanya pesta rumahan layaknya ulang tahun biasa. Nyatanya kekasih Joaquim adalah model terkenal. Jadi ini juga pesta besar dengan banyak selebriti di dalamnya. Kebanyakan dari kalangan model Dan pesepak bola.



Hingar bingar suara musik langsung berdentum di telingaku. Berpacu seiring dengan detak jantungku. Enah kenapa hatiku cemas sekali. Seakan mencium aroma masalah di pesta ini.



"Kau datang juga ternyata?"



Lara sudah berlari menghampiriku. Dia adalah salah satu model terbaik di negara ini. Sudah pasti datang juga. Setidaknya aku lega, Ada orang yang kukenali di sini.



Kami ngobrol kesana kemari. Lara memberi bocoran bahwa Drey sempat curhat pada Lara, mengeluhkan kegiatan syutingku. Terutama saat aku terluka. Jujur saja, kekhawatiran Drey itu membuatku terbuai. Drey mungkin tidak bisa mengungkapkan semuanya padaku karena ini sudah resiko pekerjaan.



"Aku terkejut kau setuju datang ke pesta ini"



Ujar Lara saat obrolan kami tentang Drey telah usai.



"Kenapa?"



Lara hanya menjawab dengan telunjuknya. Menyuruhku melihat ke sudut pesta ini.



Baru saja terpisah beberapa menit dariku, Drey sudah lepas diri. Saat ini dia sedang duduk dikelilingi banyak wanita. Bukan wanita biasa, aku mengenali hampir mereka semua. Gracey, Melina, Sansa, Sofia, dkk. para model yang pernah diberitakan dengannya. Rasanya aku seperti menonton film yang berkisah tentang klub mantan pacarnya.



Paling parah, Drey sepertinya menikmati itu. Satu tangannya merangkul bahu Gracey. Dia terlihat bersenda gurau Dan tertawa bersama mereka. Mungkin lupa kalau aku Ada di sini.



"Dia selalu seperti itu kalau sudah datang ke pesta"



Bisik Lara sambil tertawa. Maksudnya bercanda. Namun aku tidak menganggap ini lucu. Sekarang aku tahu bagaimana perasaan Drey saat melihatku terluka akibat Syuting.  Kalau yang sekarang, sudah resiko bagiku punya pacar penuh pengalaman seperti dia.



Aku mencoba berpikir jernih. Tidak mungkin mencak-mencak Dan berteriak di tengah pesta begini. Lagipula kuperhatikan di sekitar, sepertinya Hal seperti itu sudah biasa. Yang Mana pacarnya, tapi siapa yang digandeng. Jadi aku tidak mau mempermalukan diri sendiri juga.



Aku segera menarik Lara untuk mendekat pada mereka.



"Hai.."



Sapaku, menyela gurauan mereka. Spontan mereka semua memperhatikanku. Aku hanya tersenyum. Entah senyum tulus atau penuh ancaman.

__ADS_1


__ADS_2