Sugar

Sugar
Invitation


__ADS_3

Bau aneh dan tidak menyenangkan langsung tercium begitu kami membuka pintu. Bekas pesta semalam benar-benar membuat rumah Drey sangat berantakan. Sehingga mau tidak mau aku menjadi sukarelawan membantu membersihkannya. Namun ini sudah sangat berlebihan. Ini ajang pesta atau medan perang sebenarnya?


Tidak hanya bekas makanan dan minuman berceceran. Tubuh manusia juga tergeletak di mana-mana. Benar-benar pemandangan menyeramkan. Aku bahkan tidak tahu harus mulai membersihkan dari mana.


Drey segera membangunkan satu persatu temannya. Mengingatkan mereka agar segera pulang. Sementara aku, sudah mencari kantong untuk memunguti sampah yang berceceran.


Aku tidak sengaja melihat Gracey yang tidur menguasai sofa besar. Dengan pakaian yang sudah terbuka masih juga tersingkap, dia tidur begitu nyenyak. Ingatan tentang kejadian semalam langsung muncul begitu saja.


Sebenarnya aku kesal sekali. Marah sekali. Cemburu sekali. Namun saat memikirkan alasan di balik tindakan Gracey, entah kenapa aku bisa memahaminya. Gracey melakukan apapun untuk menggoda Drey, karena pria itu bukan miliknya. Gracey pasti tahu bahwa Drey telah dimiliki orang lain dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan agar bisa menarik perhatian Drey hanya menyerangnya secara agresif.


Lagipula pada akhirnya Drey menolak dan datang padaku. Sehingga aku bisa melihat Gracey dengan senyum penuh kemenangan. Kemarahan hanyalah hal yang sia-sia.


"Bangun..."


Aku menggoyangkan tubuh Gracey, setelah menutup bagian tubuhnya yang terbuka di sana sini. Menurutku beruntung sekali tidak ada yang menyerangnya semalam.


Gracey membuka matanya malas. Dia hanya melihatku sebentar, lalu kembali tidur.


"Apa hari ini kau tidak ada pekerjaan? Bangunlah"


Tanyaku tak menyerah. Kali ini Gracey membuka lebar matanya. Sambil menguap dan mengusap rambutnya yang sudah berantakan, Gracey duduk untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya.


Selanjutnya aku segera membangunkan para mantan wanitanya Drey. Dari Melina, si A, si B, semuanya yang juga tergeletak tak beraturan di seluruh ruangan. Aku segera menyajikan air putih agar mereka segera sadar.


"Heh... Akhirnya Sugar muncul juga"


Sapa Gracey dengan senyum meledek setelah benar-benar terbangun.


"Sugar, kau jadi pelayan di sini?"


Timpal Melina sambil tertawa saat melihatku sibuk memunguti sampah bekas mereka. Entah mengejek atau bercanda.


"Tutup mulut kalian. Cepat bangun, cuci muka dan pulang"


Balasku. Mereka kembali tertawa.


"Panggilkan manajerku, bilang suruh menjemputku"


"Kalau aku, aku masih ingin menginap di sini dengan Drey"


Sepertinya mereka sengaja membuatku kesal. Ada saja yang mereka ucapkan untuk menggangguku.


"Kalau kalian tidak segera pulang, aku akan memasukkan kalian kesini"


Ancamku menunjukkan kantong sampah yang kubawa. Wanita-wanita jahil itu akhirnya beranjak dari tempat mereka dan mulai bergantian pergi ke kamar mandi.


Aku sedikit lega saat melihat para wanita itu bersiap untuk pergi. Namun mereka tetap saja tidak pergi dengan damai. Gracey dan gerombolannya tiba-tiba menyerbuku saat pamit pulang. Mereka berebut menciumi pipiku hingga membuatku kegelian. Bahkan saat aku berteriak minta dilepaskan, mereka malah semakin menjadi. Baru setelah aku lemas, mereka melepaskanku.


"Sampai jumpa, Sugar"


Tanpa rasa bersalah, mereka meninggalkanku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran para mantan Drey itu.


"Sepertinya mereka menyukaimu"


Celetuk Drey yang sedari tadi tidak menolongku dan hanya melihat. Aku hanya mendengus kesal.


"Kupikir kau akan marah-marah pada mereka. Selama ini kau terlihat tidak nyaman berada di sekitar mereka"


Ujar Drey lagi.


"Tentu saja aku masih tidak nyaman. Mereka terlihat masih menginginkanmu meskipun sudah ada aku. Tetapi kupikir melelahkan terus marah pada mereka. Jadi aku ingin berdamai dengan masa lalumu"


Jawabku jujur. Awalnya Drey menatapku heran, sejurus kemudian dia tersenyum.


"Memang tidak ada yang bisa mengalahkan Sugar"


Ujar Drey. Dia mendekat, mungkin bermaksud memelukku. Namun aku dengan cepat menghindar.


"Selama tanda itu masih ada, jangan pernah menyentuhku"


Tandasku sambil menunjuk tanda  yang ditinggalkan Gracey di lehernya. Drey sedikit kecewa, tetapi aku sudah membulatkan tekad. Kali ini Drey harus belajar menghargai perasaanku.


******


Aku tidak akan pernah mengijinkan Drey membuat pesta bodoh lagi di rumahnya atau di manapun lagi. Cukup sekali ini saja aku harus menghabiskan waktu berjam-jam membersihkan semua kekacauan itu. Belum lagi menghilangkan aromanya juga sangat sulit. Waktu libur berhargaku akhirnya terbuang sia-sia untuk berjibaku dengan sampah-sampah.


"Terima kasih sudah membantu membereskan semua ini"


Bahkan ucapan itu yang disertai dengan senyuman terbaik Drey tetap tidak terasa menyenangkan bagiku.


Waktu berlalu cepat saat kami sibuk membersihkan rumah. Belum sempat aku melihat siang, senja sudah datang. Hari dengan cepat berganti. Karena itu, bagiku hari liburku telah berlalu sia-sia.

__ADS_1


Tubuhku langsung kaku semua, sehingga di sisa hari aku hanya bisa berbaring di sofa sambil menghafalkan naskah untuk syuting besok.


Drey sepertinya merasa bersalah. Dia sibuk melakukan sesuatu untuk menyenangkanku. Dari menyiapkan minuman, hingga menawari untuk memijitku.


"Aku baik-baik saja. Tidak perlu melakukan apapun untukku"


Tukasku sedikit menyuruh Drey untuk tenang. Aku terganggu melihatnya sibuk mondar mandir saat aku sedang mencoba berkonsentrasi.


Drey menurut dan akhirnya duduk di sampingku. Sekilas aku sempat memperhatikan tanda di lehernya, sudah ditutup dengan plester. Rasanya geli dan ingin tertawa juga. Drey menganggap serius permintaanku.


"Sepertinya sudah lama kita tidak memiliki waktu untuk berduaan seperti ini"


Ujar Drey. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Walaupun sudah kubilang untuk menjaga jarak, pria semacam Drey pasti akan mencari kesempatan.


"Hm..ya"


Jawabku singkat. Aku berusaha menahan diri agar tidak terpancing olehnya. Bagaimanapun, aku tahu saat ini hatiku juga berbunga-bunga hanya dengan duduk di sampingnya.


"Sugar..."


Sudah kuduga, Drey akan melakukan sesuatu. Dia merapatkan tubuhnya padaku, berbisik hangat di telingaku. Memanggil dengan suaranya yang berat dan seksi.


Bisa kurasakan bulu di tengkukku meremang. Menyentuh kerinduan di hatiku. Aku sendiri sampai heran, sebesar apa persediaan rasa rinduku pada Drey hingga tak pernah ada habisnya meski kami bertemu.


"Aku sedang membaca naskah"


Ujarku mencoba menghentikan Drey. Padahal suaraku sudah bergetar.


Kupikir Drey akan berhenti. Nyatanya tidak. Dia sama sekali tidak menyerah untuk menggoyahkanku. Tahu-tahu Drey sudah melingkarkan lengan besarnya di bahuku. Menarik tubuhku agar merapat padanya.


Damn him!


Jantungku sudah berdetak kencang. Bahkan hanya untuk bernafas saja rasanya aku kesulitan. Dan Drey masih terus melancarkan serangannya. Aku bisa merasakan nafas hangatnya menyapu pipiku.


Aku langsung diliputi kebimbangan. Haruskah aku menyerah dan meladeninya? Lagipula aku juga sangat merindukannya. Waktu yang bisa kami habiskan berdua sangatlah terbatas.


Atau bersikap tegas, memukulnya dengan naskah di tanganku. Menunjukkan bahwa Drey tidak akan bisa mendapatkan segala hal sesuka hatinya. Dia harus belajar menghargai perasaanku. Membiarkannya menyesali perbuatannya. Karena aku juga sudah berkorban untuk berdamai dengan segala reputasi buruknya di masa lalu.


Namun pada akhirnya aku menyerah pada pilihan pertama. Tanpa kusadari, aku sudah meletakkan lembar naskah. Melingkarkan lenganku pada lehernya. Lalu menatap mata birunya yang menawan.


Seburuk apapun Drey, aku selalu lemah terhadapnya. Semakin dia hendak terlepaskan, semakin aku ingin menariknya dalam gravitasiku. Aku bisa jatuh dalam pelukannya berkali-kali tanpa jengah.


Drey menyatukan dahi kami. Lalu membiarkan mata kami saling mengunci. Berbicara tentang cinta dari sana. Lalu perlahan menyapukan bibirnya. Dahi, alis, tulang pipi, hidungku, Tak satupun luput darinya. Dia membiarkanku menikmati perhatiannya.


Aku menginginkannya lebih, lebih dalam lagi...


"Hm... Sungguh sore yang panas"


Hingga suara pengganggu itu memusnahkan keinginanku


*****


Aku membalik kasar buku naskahku. Menahan rasa malu dan geram di hatiku. Mendengarkan tawa tanpa dosa yang memenuhi ruang tengah.


"Bukankah dia lucu sekali?"


Daniel menunjuk karakter di TV dengan tawa lebar, membuatku ingin menghantamnya dengan naskah ini. Kalau saja aku tidak ingat jika naskah ini lebih berharga daripada manajer kurang ajar itu.


Rasanya aku ingin menangis. Pada akhirnya aku memiliki waktu berduaan dengan Drey, dan Daniel malah datang ke rumah kami. Tanpa mengetuk pintu langsung ngeloyor masuk. Merusak suasana romantis antara aku dan Drey. Alasannya hanya karena TV di rumahnya sedang rusak. Jadi dia datang kemari untuk numpang. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan Daniel sangat menyukai acara TV.


Sama sekali tidak peka. Sudah begitu dia masih mengajak Lara kemari. Tidak hanya hadir di antara aku dan Drey, mereka menginvasi rumah ini. Berbuat semaunya.


Drey juga terlihat kesal. Sejak tadi dia menatap Daniel dengan aura membunuh.


"Kenapa sepertinya mood kalian sedang jelek?"


Daniel bertanya seolah dia tidak tahu bahwa dirinya penyebab semua ini. Namun aku bisa melihat dia  tersenyum meledek. Dia pasti sengaja.


"Kau ingin aku menjawabnya?"


Tanyaku balik sambil menggertakkan gigi. Jika dia makanan, pasti aku sudah mengunyahnya sampai habis.


"Jangan begitu, sudah lama kita berempat tidak berkumpul seperti ini"


Daniel masih berani menjawab dengan tawa lebar. Membuat amarahku naik ke ubun-ubun.


"Kalau aku tahu mereka berdua sedang ingin berduaan, aku pasti tidak akan ikut denganmu"


Lara yang berada di pihakku menyuarakan protesnya sambil menyikut Daniel.


"Dia bilang kalian sedang membuat pesta dan mengundang kami"

__ADS_1


Tambah Lara membela diri.


"Mereka memang membuat pesta, hanya saja kita tidak diundang. Mungkin karena kita tidak penting"


Akhirnya Daniel mengatakan juga alasan dia mengganggu kami. Dia hanya ingin balas dendam karena tidak diundang ke pesta Drey kemarin. Padahal dia tahu sendiri, jika kami bekerja sampai larut malam saat pesta itu.


Sepertinya aku benar-benar menyesali diadakannya pesta itu. Tidak ada yang berjalan baik karenanya.


Berdebat dengan Daniel tidak akan ada habisnya. Sehingga aku memilih diam dan tidak memperpanjangnya. Aku hanya harus menunggu Daniel menyerah dan pergi dengan sukarela. Pasti acara balas dendamnya itu tidak akan bertahan lama.


"Drey, kau bisa datang kan?"


Lara mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan topik pembicaraan.


"Tentu. Aku tertarik untuk melihat tema tahun ini"


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


Tanyaku mencoba ikut dalam pembicaraan.


"Kau tahu pagelaran show untuk merk "V" kan? Aku akan tampil di sana, jadi aku mengundang Drey untuk datang juga"


Jawab Lara. Kali ini aku benar-benar tertarik. "V" adalah salah satu merk pakaian dalam paling terkenal. Setiap tahunnya mereka mengadakan show untuk mengenalkan produk mereka. Pertunjukan itu cukup terkenal dan prestisius di kalangan para model dan selebriti. Aku sendiri sering menontonnya meskipun tidak secara langsung. Setahuku Lara adalah salah satu model eksklusif untuk merk itu.


"Enak sekali Drey bisa menonton"


Ujarku. Aku berharap bisa mendapat undangan seperti Drey juga. Aku dengar para model yang tampil di sana bisa mengundang anggota keluarga mereka untuk datang. Drey pasti bisa datang setiap tahun karena Lara.


"Bukankah kau dapat undangan juga?"


Tanya Lara.


"Tidak. Siapa juga yang akan mengundangku"


Jawabku sedikit kecewa.


"Kau diundang"


Kompak Drey, Lara dan Daniel membantahku.


"Yang benar? Undangan dari Lara juga?"


Tanyaku antara tak percaya dan senang mendengarnya.


"Gracey. Dia yang mengundangmu"


Jawab Daniel. Senyumku langsung pupus. Entah kenapa aku trauma mendengar nama itu. Akhir-akhir ini aku baru sadar bahwa aku tidak bisa membaca isi pikirannya. Dia wanita yang sulit dan penuh kejutan.


"Kenapa?"


Tanyaku penuh kecurigaan. Disebut teman pun kami kenal belum lama. Satu-satunya hal yang menghubungkan kami hanya Drey. Lagipula aku masih belum bisa melupakan apa yang sudah Gracey lakukan pada Drey di belakangku.


"Sudah kubilang dia menyukaimu"


Jawab Drey dengan senyum di wajahnya.


Apa sebegitu pentingnya disukai oleh Gracey?


******


"Kenapa Gracey mengundangku?"


Pertanyaan itu belum terjawab dan terus menggangguku. Walaupun dua minggu sejak undangan itu kudapatkan dan aku sedang dalam perjalanan menghadirinya.


Aku sempat bertanya lewat Daniel. Namun jawaban yang kudapatkan dari Gracey hanyalah teka-teki.


"Coba tebak kenapa"


Begitu katanya.


Sikapnya yang mencurigakan itu membuatku ingin batal datang, tetapi aku rasa membiarkan Drey pergi sendiri justru akan membuatku merasa lebih buruk. Bayangkan saja! Ada puluhan model cantik dan seksi berlenggak lenggok di atas catwalk hanya mengenakan pakaian dalam. Drey akan merasa dirinya di surga.


Perasaanku hanya tidak enak saja. Seperti sesuatu akan terjadi hari ini. Aku hanya berharap Gracey tidak dengan sengaja menghadirkanku di sini karena dia sedang merencanakan suatu drama. Sungguh, dia adalah wanita paling menakutkan buatku.


Perhatian yang ditujukan untuk pagelaran ini cukup besar. Banyak media meliput, dan animo penggemar juga tinggi. Belum lagi dengan hadirnya beberapa penyanyi terkenal yang akan ikut mengisi acara. 


Aku jadi ikut tegang karena situasi. Padahal bukan aku yang akan tampil. Sejak datang hingga duduk di tempat yang telah disediakan, aku terus menggamit lengan Drey. Menggunakannya sebagai tameng untuk bersembunyi. Tidak sepertiku, Drey cukup santai sekali.


Sebagai undangan, aku dan Drey termasuk dalam undangan VIP. Kami duduk di barisan paling depan. Di antara para tamu istimewa lain yang kebanyakan adalah orang yang terkenal di bidang fashion.


Tak berapa lama, lampu panggung akhirnya menyala membuat riuh suara penonton yang telah menantikan dimulainya acara. Lampu itu berganti warna dari putih, pink, biru. Lalu keluar efek asap. Aku bisa mendengar suara penonton makin keras saat suara penyanyi yang sedang naik daun tahun ini mulai terdengar. Penyanyi itu membawakan lagu hits miliknya yang sontak diikuti para penonton. Hampir seperti acara konser.

__ADS_1


Aku takjub jika suasananya ternyata lebih meriah dan mendebarkan daripada saat melihat tayangan di internet.


Ketika si penyanyi selesai membawakan intro dari lagunya, Gracey muncul dari belakang panggung. Dia disambut oleh penonton sebagai model pembuka. Gracey terlihat berbeda dan sangat menawan di atas panggung itu. Dia tersenyum dan melangkah penuh percaya diri. Bahkan aku jadi mendukungnya tanpa sadar.


__ADS_2