
Akhirnya kehidupan London-ku dimulai. Bagian Paling kutunggu, Luna sudah berhasil kudapatkan juga. Daniel mengikuti rencanaku untuk membawa Luna padaku. Dan sudah kuduga dia tidak akan langsung menerimaku.
Tapi di sanalah bagian Paling kusuka. Ekspresi Luna yang selalu lucu saat terkejut atau marah. Membuatku merasa kalah darinya. Dia sudah membuatku kecanduan Dan tidak ingin melepaskannya dari genggamanku.
Butuh waktu lama meyakinkan Luna agar dia bersedia tetap di rumah ini. Untungnya Luna akhirnya memutuskan untuk tinggal. Aku sudah berpikir bahwa dia akan mempertahankan egonya Dan memilih pindah. Namun di detik-detik terakhir, dia mau menerimaku.
Aku sangat menantikan hari-hari yang Akan kulalui dengannya. Aku berharap menemukan banyak sisi Luna yang belum kuketahui. Salah satunya adalah bahwa dia bukan gadis pendiam Dan pemurung. Luna yang sebenarnya ceria Dan banyak bicara.
Saat sudah terlarut membicarakan Hal yang disukainya, bisa berjam-jam lamanya. Ekspresi wajahnya juga begitu hidup. Dengan Mata yang berbinar Dan senyum terkembang. Aku sebenarnya tidak paham tentang desain interior yang dikatakannya. Namun aku bisa menikmati ekspresinya Tanpa bosan.
Aku selalu berharap menemukan banyak Hal baru tentang dirinya seperti ini.
Tetapi sekarang aku sedang menghadapi krisis terbesar di awal kehidupan bersama kami. Luna mendadak ngambek. Mogok bicara denganku Setelah kami keluar pertama kalinya. Kembali seperti awal kepindahan kami kemari. Masalahnya aku tidak tahu apa penyebabnya.
Luna baik-baik saja saat kujemput. Dia juga sangat bersemangat saat berbelanja. Dan tidak Ada tanda-tanda tidak suka saat aku membawanya makan malam. Namun begitu keluar dari restoran, suasana hatinya mendadak menjadi buruk.
Akan lebih mudah jika Luna marah padaku, meneriakiku, atau memakiku. Dia bisa melampiaskan semua kemarahannya Dan segera kembali seperti semula. Hanya saja Kali ini Luna cuma terdiam. Itu lebih membingungkanku.
**********************************
Seperti biasa, pagi ini kami pergi untuk jogging. Sepertinya Luna mulai terbiasa dengan jadwal yang telah kuberikan padanya. Dia tidak perlu lagi dipaksa untuk bangun. Bahkan mematuhinya meski masih dalam mode marah padaku.
Tetapi tidak seperti biasa, dia berlari berjauhan denganku. Selalu berusaha menjaga jarak dariku untuk menghindari obrolan. Beberapa Kali malah dengan sengaja mengacuhkan pertanyaanku. Ketika aku mencoba untuk mendekat, maka dia Akan memasang ekspresi memberengut yang akhirnya membuatku mundur.
Itu terus berlanjut saat kami sarapan bersama. Kami duduk di meja yang sama, namun tidak Ada satupun kata keluar dari kami. Aku hanya melirik sesekali untuk melihatnya makan tidak selahap biasanya. Kelihatan sekali jika dia kehilangan seluruh semangatnya Hari ini.
Ada banyak Hal kukhawatirkan dari Luna. Salah satunya mengenai diet ini. Di mataku Luna sudah cukup kurus, rapuh. Seolah Akan ambruk hanya dengan satu sentuhan saja. Namun dia masih dituntut untuk menurunkan berat badannya. Aku tidak paham dengan standard kecantikan orang-orang yang menilai bahwa gadis kurus akan selalu lebih cantik. Aku lebih menyukai kecantikan sikap Luna.
"Apa kau masih tidak mau bicara padaku?"
Sudah kesekian Kali aku menanyakan Hal yang sama pada Luna. Aku masih berharap dia akhirnya Akan luluh. Nyatanya tidak juga. Untuk kesekian kalinya juga Luna hanya menatapku tidak bersahabat.
Sungguh aku ingin mencubit pipinya yang menggemaskan itu saat merengut. Luna adalah satu-satunya gadis yang terlihat tetap lucu meskipun sedang marah. Tapi aku harus menahan diri, atau dia Akan semakin marah padaku.
Kusudahi acara membujukku pagi ini. Aku bisa melanjutkannya nanti Setelah latihanku. Yang jelas, Drey tidak Akan pernah gagal meluluhkan hati seorang gadis.
**********************************
"Apa dia masih marah padaku?"
Tanya Daniel cemas. Selama beberapa Hari ini dia mengabaikan semua panggilan Luna karena takut menerima kemarahan akibat menjebaknya tinggal di rumahku.
Siang ini aku mengajaknya bertemu di klub ku. Tetapi bukan untuk membahas tentang masalahnya. Aku menghadapi situasi yang lebih sulit darinya. Jadi Tanpa menjawabnya, aku sudah memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Terutama bagaimana meluluhkan hati Luna saat sedang marah.
"Aku sudah Lima tahun mengenalnya dan tidak Ada yang bisa kulakukan untuk Mengatasi kemarahannya. Dia akan kembali seperti semula dengan sendirinya. Saat suasana hatinya sudah membaik"
Jawab Daniel. Sama sekali tidak membantu. Kalau harus menunggu kemarahan Luna mereda, kami tidak Akan bicara sampai akhir minggu. Padahal minggu depan dia akan mulai disibukkan dengan acara Syuting.
"Lagipula apa yang membuat dia marah padamu?"
Tanya Daniel dengan ekspresi penuh perasaan.
"Aku juga tidak tahu"
Kali ini ekspresi penasaran Daniel berganti dengan heran. Meski kedengarannya aneh, aku memang tidak tahu kenapa Luna marah padaku. Dia langsung ngambek begitu saja. Kami juga tidak sedang bertengkar.
"Luna memang kekanakan, tapi dia tidak Akan pernah marah Tanpa sebab"
Sanggah Daniel tidak percaya. Aku sudah berusaha keras mengingat semua hal yang kami lakukan saat pergi belanja. Namun aku sama sekali tidak tahu bagian Mana yang tidak disukai Luna.
"Dulu saat dengan Casey pun dia sering seperti ini. Hanya saja dia Akan melampiaskan padaku"
Mendadak Daniel membawa nama Casey dalam pembicaraan kami seolah Tanpa dosa. Mungkin karena dia tidak memiliki niatan buruk membicarakan Casey. Namun itu adalah nama yang Paling tidak ingin kudengar dikaitkan dengan Luna.
karena Daniel menyebutnya, itu mengingatkanku bahwa minggu depan Luna akan Syuting dengan Casey. Jika kami tetap tidak bicara, Luna mungkin Akan kembali pada pria itu.
Sekarang malah suasana hatiku ikut menjadi buruk juga. Aku berpikir bahwa menemui Daniel Akan memberiku saran yang berguna. Nyatanya karena nama Casey dibawa, malah menyinggung egoku.
Apa aku cemburu? Tentu saja. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Luna pada Casey atau padaku. Aku tidak tahu seberapa besar ruang hati Luna yang diberikan pada Casey dulu. Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Dan aku tahu Akan Ada banyak kenangan di antara mereka. Dan itu adalah kelemahanku dibandingkan dengan Casey.
Rumah masih gelap saat aku pulang. Sepertinya Luna belum sempat menyalakan semua lampu. Ini tidak biasa. Karena malam datang lebih cepat di London saat musim dingin, biasanya dia Akan menyalakan semua lampu sebelum aku pulang. Jadi aku segera memeriksanya. Khawatir terjadi sesuatu.
Aku benar-benar terkejut saat Luna ternyata Ada di ruang tengah yang sebelumnya ingin dia ganti dekorasinya. Dia sedang berusaha memindahkan rak sendirian. Saat aku datang, Ada barang yang hampir jatuh ke kepalanya Dan dia tidak menyadarinya. Aku memang berhasil menangkap barang itu tepat waktu, namun kemarahanku akhirnya meletup.
"Apa kau tidak tahu kalau ini berbahaya?!"
Bentakku sangat keras. Tidak hanya kesunyian di rumah ini yang terpecah, Luna pun sampai terjingkat saking kagetnya.
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya aku berteriak pada Luna, bukan, mungkin juga pada seorang wanita. Aku tidak pernah kehilangan kendali sebelumnya. Aku masih emosi mendengar nama Casey tadi. Dan ini seperti timing yang pas, Luna membuatku marah juga. Hingga Tanpa sadar aku melampiaskan padanya.
Rasa bersalah langsung muncul secara instan di hatiku. Baru terpikir olehku, bagaimana jika Luna menangis karena takut padaku. Namun bukannya takut, Luna malah balik berteriak padaku.
"Tidak Ada yang minta bantuanmu!"
Sikap Luna sungguh kekanakan. Persis yang dikatakan Daniel. Tetapi aku juga tidak kalah kekanakan-nya meladeni perdebatan ini.
"Tentu saja aku harus membantu. Kau melakukannya di depan mataku!"
Banyak wanita menyukaiku karena aku tidak pernah memperlihatkan emosiku. Wanita adalah mahluk yang rapuh. Sekali mereka melihat kemarahan seorang pria, dia Akan menandai pria itu dengan kata "takut". Karena itu aku selalu menahan diri di depan wanita. Lagipula bagiku membentak wanita adalah Hal yang tidak keren. Karena mereka lemah. Meskipun begitu, di depan Luna aku melanggar keyakinanku sendiri. Membentaknya, bahkan mendebatnya. Sungguh tidak keren sekali.
Luna juga bukan gadis biasa. Pada pria yang memiliki tubuh lebih besar darinya. Lebih dominan darinya, dia melawan Tanpa takut.
"Kalau kau tidak suka melihatnya, pindah saja ke rumah Lara!"
Teriak Luna lebih keras. Tetapi yang Kali ini membuatku langsung bungkam.
Ah...jadi itu alasan Luna marah padaku sejak kemarin. Dia tidak suka pada Lara.
Cemburu?
Tiba-tiba itu yang terlintas di pikiranku. Seketika kemarahanku langsung luluh. Ada perasaan senang yang muncul. Luna cemburu pada wanita lain adalah sebuah kabar baik untukku. Artinya dia menaruh perhatian padaku.
Terlihat sekali gurat sebal di wajah Luna. Aku tidak menduga bahwa kemunculan Lara akan membuatnya sebegitu kesalnya.
"Hm..jadi kau sedang cemburu?"
Aku sudah berganti ke mode menggodanya sekarang. Tanpa bisa menutupi senyum yang terkembang di wajahku.
Luna sedikit terkejut. Rona merah langsung muncul di pipinya. Menunjukkan bahwa aku telah menebak dengan benar isi hatinya.
"Tidak!"
Tolaknya masih dengan suara keras. Mencoba menutupi Rasa malunya. Padahal wajahnya sudah semerah tomat saat ini.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Aku segera memeluk Luna. Tubuh mungilnya yang masuk dengan mudah dalam kungkunganku. Dia masih menolak Dan mencoba berontak.
Bisikku. Dan bisa kurasakan, Luna menjadi tenang setelahnya. Dia tidak lagi mencoba melepaskan diri.
"Kau Akan minum dengannya tanpaku"
Protes Luna. Aku sebenarnya tidak ingat apa yang kukatakan pada Lara kemarin. Bahkan apakah aku menyebut tentang mengajak Lara untuk minum. Namun Luna pasti kesal. Karena dia tidak mengonsumsi alkohol. Dia pasti tidak suka jika aku memilih minum dengan wanita lain.
"Kita bisa minum jus saja kalau begitu"
Candaku sambil tertawa. Luna memang tidak menganggapnya lucu, namun aku bisa merasakan tangannya sedikit melingkar di pinggangku. Menandakan bahwa dia sudah mengakhiri perang dingin denganku.
"Jangan lakukan Hal berbahaya lagi. Aku tidak mau kau terluka"
Bisikku lagi. Dan dia menjawabnya dengan anggukan setuju.
**********************************
Suasana di rumah menjadi lebih baik saat Luna telah kembali seperti biasa. Dia kembali berceloteh dengan ceria. Dan Hal yang Paling kusukai adalah teriakan histerisnya yang membuat rumah ini tidak pernah sepi.
Meski sudah melihatnya beberapa Kali, Luna masih mengeluarkan reaksi yang sama saat melihatku bertelanjang dada, Dan hanya mengenakan handuk. Dia Akan langsung berteriak atau melarikan Diri dengan wajah merah. Padahal biasanya wanita lain Akan menggodaku saat Melihatku seperti ini. Namun reaksi Luna sangat berbeda.
Jadi awalnya aku hanya melakukannya Tanpa sengaja, sekarang aku sengaja melakukannya. Aku suka sekali reaksinya yang heboh itu. Seperti tidak pernah melihat tubuh pria sebelumnya. Meskipun air di rumahku baik-baik saja, aku Akan menumpang Mandi di rumah Luna. Hanya untuk menggodanya seperti ini.
"Kumohon, pakai bajumu kalau Akan Mandi"
Ujar Luna. Hari ini pun aku tidak gagal mengejutkannya. Tetapi Luna sudah lebih sigap. Dia menyiapkan handuk Dan melemparkannya padaku.
Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya. Ditambah Rona merah yang muncul di seluruh wajah Dan tangannya. Karena biasanya dia selalu memakai pakaian panjang, hanya itu bagian yang bisa kulihat dirinya. Sungguh wanita yang konservatif.
Jika Luna sudah mencak-mencak tidak karuan, baru aku pergi. Tetapi dari kejauhan aku bisa mendengar suaranya mengomel.
"Apa kau tidak bisa melihat Ada gadis muda disini? Tidak sopan sekali caramu berpakaian"
Dan Luna akan melanjutkan ceramahnya saat makan malam. Cukup melihat reaksinya, aku bisa tahu sejauh Mana hubungan Luna dengan Casey dulu. Dan di sini aku merasa menang.
Sepertinya Casey juga pria yang konservatif. Mempercayai bahwa Ada batasan dalam pacaran. Ada hal-hal yang tidak boleh dilakukannya. Mungkin karena itu Luna masih tetap menjadi gadis polos hingga sekarang. Tapi aku Akan memiliki banyak waktu untuk mengubah itu dari Luna mulai sekarang. Aku tidak perlu terburu-buru.
__ADS_1
"Kapan kau Akan mengganti cat nya?"
Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Kapan kau bisa melakukannya?"
Tanya Luna balik. Secara cepat dia sudah melupakan ceramahnya dan binar di matanya muncul saat membicarakan mengenai rencana tata ruang nya.
"Baiklah, besok Setelah aku pulang latihan"
Luna langsung mengangguk setuju. Senyum lebar terkembang di wajahnya.
Entah mengapa, setiap melihatnya begini, aku jadi tidak tahan untuk menggodanya.
"Jadi, bagian Mana dari tubuhku yang kau suka?"
Tanyaku membahas mengenai kebiasaan topless ku lagi. Seketika senyum di wajah Luna menghilang. Dia melotot Dan mulai lagi dengan ceramahnya yang panjang itu.
Satu Hal lain yang kupelajari dari Luna. Sangat mudah mengubah Suasana hatinya.
**********************************
Aku terkejut saat membuka pintu penghubung rumahku dengan Luna sore ini. Aku baru pulang dari latihan dan berencana untuk menyapa Luna seperti biasa. Namun baru kubuka pintu, Luna ternyata sudah berdiri di depan pintu. Dengan kepala sedikit melongok seolah menantikan kemunculanku sambil meringis.
Tidak seperti Luna biasanya. Aku sampai menatapnya bingung. Sebelum aku bertanya kenapa dia seperti itu, Luna sudah lebih dulu mengumumkan alasan kebahagiannya.
"Berat badanku berhasil turun"
Ujarnya setengah bersorak. Aku akhirnya ikut bersorak Dan melakukan high five dengannya.
Luna harus menurunkan 3 kg berat badannya hingga akhir minggu ini. Namun masih 2 Hari lagi sebelum minggu ini berakhir Dan dia sudah mencapai targetnya. Tentu saja kami senang.
Selama ini aku sengaja memberikan menu olah raga yang sedikit keras padanya, karena kupikir Luna tidak Akan melakukannya. Ternyata meskipun aku tidak di rumah, dia mematuhi dengan baik semua menu latihan yang kuberikan.
"Dan lihat ini.."
Luna mengeluarkan sebuah majalah dari balik badannya. Ada wajahnya menjadi cover majalah itu. Sebenarnya aku sudah berniat membelinya sejak Daniel memberitahuku sebulan yang lalu. Ternyata Luna sudah lebih dulu mendapatkannya.
"Perutku tidak buncit, aku juga punya tubuh yang bagus"
Luna dengan bersemangat menjelaskan alasannya menunjukkan majalah itu padaku. Dan dengan bangga memperlihatkan foto-fotonya yang sangat menawan. Ada salah satu fotonya menggunakan crop top Dan celana pendek. Memperlihatkan perutnya yang langsing sempurna kakinya yang jenjang. Semua yang dia miliki sebagai mantan model.
Rasanya kata-kata Luna seperti menamparku. Dia pasti seperti ini karena sesuatu yang kukatakan di Masa lalu. Meskipun aku tidak ingat kenapa. Dan itu membuatku merasa bersalah.
"Wah... Kau seperti top model. Cantik Dan seksi. Kau sudah melakukan pekerjaan yang baik"
Binar di Mata Luna makin terang mendengar pujianku. Seperti anak kecil yang baru dipuji saat mendapat nilai bagus di sekolah.
Aku hanya bisa membelai rambutnya Dan berjanji di dalam hatiku. Aku tidak akan membiarkan Luna menyiksa dirinya lagi hanya demi memenuhi ekspektasiku.
**********************************
Aku juga memenuhi janjiku untuk membantu Luna mengganti cat. Ruang tengah tidak begitu besar. Dengan bantuan Luna, kami menyelesaikan malam itu juga.
Luna sepertinya sangat menyukai eksperimen dengan desain interior. Dia kelihatan serius Dan tenang. Sambil membantu mengecat, dia masih sempat mengganti sarung bantal, menata seluruh barang-barang secara detail.
Luna mengubah ruang tengah berwarna putih itu menjadi berwarna. Kombinasi warna teal, kuning Dan sedikit pastel. Aku sampai takjub dengan perubahan drastis ruangan itu. Persis seperti hasil rancangan desainer interior professional.
Usai membereskan semuanya, kami melihat semua hasil kerja keras Luna sambil beristirahat.
"Sepertinya aku Akan betah tinggal di sini"
Ujarku dengan maksud memuji. Luna hanya menjawab dengan senyum puas.
"Bukankah tempat ini menjadi terang? Aku memilih warna kuning karena matahari jarang muncul di London"
Ujar Luna. Entah serius atau berkelakar. memang warna itu membuat ruangan ini terasa lebih hangat Dan ceria.
"Lalu kenapa warna teal?"
Tanyaku. Kali ini Luna tidak langsung menjawab. Seolah harus berpikir lebih dulu.
"Aku suka warnanya yang menenangkan. Dan juga... Dalam Feng shui, warna ini berarti memulai sesuatu yang baru. Seperti Kita"
Rasanya Ada kupu-kupu terbang di dalam hatiku. Tidak pernah Ada kata cinta yang jelas di antara kami. Namun Luna selalu punya Cara membuatku tersentuh.
Kali ini tidak bisa lagi kutahan perasaanku. Aku meraihnya Dan menciumnya. Sebagai ucapan terima kasih. Telah memberikan warna untuk tempat ini dan hatiku.
__ADS_1