
Aku langsung membeku saat melihat Drey. Campuran antara kaget dan ngeri saat melihat wajah dinginnya.
"Kenapa kau ingin ke hotel?"
Tanya Drey lagi saat tidak mendapat jawaban dariku.
"Karena aku tidak ingin melihatmu"
Jawabku jujur. Seolah sedang menantang Drey, padahal mungkin kakiku sudah gemetar saat ini. Ngeri dengan respon Drey. Tatapannya seperti mengeluarkan sinar laser yang bisa melubangiku saat ini. Otomatis aku tidak berani menatapnya langsung.
"Kau tidak Akan pulang?"
Aku menggeleng cepat. Rasanya jantungku berdetak cukup kencang menantikan reaksi Drey terhadap jawabanku.
"Apa karena Lara?"
Kini Drey menanyakan secara langsung padaku inti dari masalah kami. Sebuah pertanyaan yang jawabannya sudah jelas. Aku bahkan tidak perlu mengatakannya.
Drey masih menatapku dingin. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Namun aku menjadi takut. Mungkin Drey akan membentakku lagi, atau bahkan memukulku. Biasanya itu yang terjadi pada pasangan seperti kami.
"Sudah kubilang jangan melarikan Diri saat Ada masalah. Hadapilah Dan bicarakan padaku semua keluhanmu"
Tak kusangka, Drey ternyata bicara dengan kalem. Namun cukup dalam menampar ego-ku.
Ya, itu memang sifat jelekku. Aku selalu melarikan Diri saat Ada masalah di depanku. Bahkan saat ini, meski aku sedang marah pada Drey, aku tidak ingin menemuinya Dan malah berencana untuk bersembunyi.
"Ayo pulang, malam sudah semakin dingin"
Drey sudah mengulurkan tangannya padaku.
Hatiku sudah terlalu lemah padanya. Dan Tanpa kusadari, aku sudah menerima uluran tangannya itu. Berbeda dengan pagi ini, tangan Drey cukup dingin. Namun aku masih merasa nyaman di Sana. Cukup dengan itu saja, Drey sudah berhasil membujukku pulang.
Tanpa mengatakan apapun sepanjang perjalanan, Drey membawaku kembali Ke rumah kami. Aneh memang, tapi aku suka saat Drey mengatakan "ayo pulang" padaku. Seakan kami telah memiliki tempat yang sama sekarang. Dan perlahan kemarahan di hatiku ikut mencair.
Tidak berarti aku telah baik-baik saja. Lara masih Ada di rumah saat aku kembali. Bersama dengan Daniel yang ternyata sudah lebih dulu kembali kemari. Masih Ada ganjalan tersisa di hatiku. Setidaknya aku masih bisa membiarkan Lara tinggal Dan duduk di satu meja yang sama dengannya.
Aku mungkin tidak nyaman dengan kehadiran Lara. Tetapi sejak kecil orang tuaku selalu mengajarkanku untuk menghormati Tamu. Jangan biarkan mereka keluar saat hujan atau dalam keadaan lapar. Akupun mengajak Lara ikut serta untuk makan malam.
Hanya saja, aku tidak bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sepertinya semua merasakan Hal yang sama denganku. Karena suasana sangat canggung sepanjang makan malam. Tidak Ada satupun dari kami memulai pembicaraan. Termasuk Drey Dan Lara. Namun aku bisa merasakan jika sesekali mereka berdua sesekali mencuri pandang ke arahku. Dan aku pura-pura tidak tahu.
Usai makan malam, aku membereskan peralatan makan. Aku sebenarnya sudah tidak peduli jika Lara Dan Drey Akan kembali bersenang-senang Tanpa aku. Tetapi ternyata Lara lebih memilih membantuku.
Meski Ada di ruang yang sama, baik aku maupun Lara tidak Ada yang bicara. Kami sama-sama sibuk berpikir apa yang harus dilakukan untuk mencairkan kecanggungan ini. Dan aku teringat kata-kata Drey tentang sifat burukku. Aku terlalu pengecut Dan memilih melarikan Diri setiap Ada masalah. Mengingat bahwa dia berkali-kali mengeluhkan itu, pasti Drey sangat tidak menyukainya.
Jadi mumpung kami hanya berdua, Aku memutuskan untuk mengumpulkan keberanianku Dan bertanya pada Lara.
"Apa kau pernah menjadi kekasih Drey?"
Ada banyak makna yang terkandung dari pertanyaanku itu. Aku Akan bisa mendefinisikan kedekatan mereka dari jawaban Lara.
Namun Lara langsung melihatku sambil bengong saat mendengarnya. Ada ekspresi tidak percaya dan bingung di wajahnya. Seolah baru saja mendengar Hal yang sangat konyol.
"Drey tidak memberitahumu?"
Bukannya menjawabku, Lara malah balik bertanya padaku.
Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala. Padahal sebenarnya aku belum pernah menanyakan Hal ini pada Drey.
"Aku ini adik tiri Drey"
Jawab Lara sembari tersenyum geli.
Aku mengernyitkan kening karena bingung Dan juga terkejut. Pernyataan itu terlalu tiba-tiba Dan tidak Ada dalam rencanaku. Sehingga aku tidak tahu bagaimana menyikapinya. Yang jelas aku berharap bahwa ini hanya situasi salah dengar. Sungguh, kalau itu benar maka aku akan sangat malu. Baik pada Drey maupun Lara.
"Adik tiri? Seperti orang tua kalian menikah?"
Aku menanyakan sesuatu Hal yang bodoh. Tentu saja mereka menjadi saudara jika orang tua mereka menikah. Darimana mereka bisa menjadi keluarga kalau tidak dari Sana.
"Ya, sudah beberapa tahun yang lalu. Walau sekarang orang tua kami sudah hidup terpisah"
__ADS_1
jawab Lara masih sambil tertawa kecil. Pasti reaksiku sangat konyol di matanya. Rasanya aku ingin sembunyi sekarang ini.
Aku tidak pernah dengar tentang keluarga atau latar belakang Drey sebelumnya. Tentu saja aku tidak Akan mengenali status Lara. Apalagi mereka tidak memiliki nama belakang yang sama.
Segala ingatan saat aku marah Dan menampakkan kecemburuan di depan Drey langsung berputar di otakku seperti film. Yang ngambek, yang menangis, yang kabur. Dan Tanpa memberikan penjelasan, Drey hanya menanggapinya santai. Aku benar-benar merasa bodoh sekarang ini.
"Tenang saja, aku hanya mengunjungi kalian untuk memastikan bahwa Drey memperlakukanmu dengan baik. Aku melihat Drey tadi sangat khawatir sekali saat kau pergi. Dia sampai berlarian mengelilingi seluruh blok untuk mencarimu. Aku jadi lega karena aku tidak pernah melihatnya seperti itu"
Tambah Lara. Membuatku semakin malu. Itu sama saja artinya Lara juga tahu aku cemburu padanya.
*********************************
Lara Dan Daniel pulang usai makan malam. Menyisakan aku Dan Drey berdua di rumah. Drey tidak langsung kembali ke tempatnya untuk membantuku membersihkan sisa sampah makanannya Dan Lara saat bermain game tadi.
Aku sebenarnya tidak bisa melihat langsung Drey saat ini. Segala kecemburuanku yang dipicu oleh salah paham membuatku sangat malu menghadapinya. Tetapi aku juga tidak ingin melarikan Diri lagi.
"Kenapa kau tidak mengatakan kalau Lara adalah adikmu?"
Tanyaku. Setidaknya aku harus membuat Drey berpikir bahwa kesalahpahamanku bukan murni salahku. Ada juga bagian Drey di dalamnya.
Drey langsung melihatku dengan senyum puas di wajahnya. Seolah baru saja memenangkan pertarungan denganku. Tanpa menyadari bahwa aku jadi Malu setengah mati karena masalah ini.
"Kau tidak pernah bertanya padaku"
Jawab Drey dengan Gaya angkuhnya. Dan aku kesal karena dia benar, tidak bisa menjawabnya balik. Sepertinya aku tidak pernah bisa menang saat berdebat dengan Drey.
"Berapa banyak lagi saudara yang kau punya? Apa kau masih memiliki adik secantik Lara lainnya? Atau mungkin kau punya sepupu, saudara atau keluarga lain yang harus kuketahui?"
Cecarku Tak sabar. Aku lebih memilih menghafalkan seluruh silsilah keluarga Drey daripada menjadi malu seperti tadi.
Bukannya menjawab, Drey malah tertawa melihat ekspresiku. Padahal aku sedang serius.
"Keluargaku tidak terlalu menarik untuk dibicarakan"
Hanya itu yang diucapkan Drey padaku. Meski dia sedang tersenyum, aku bisa melihat ekspresi tidak nyaman tersembunyi di Sana. Seolah mengatakan padaku bahwa dia tidak ingin membicarakan tentang keluarganya.
Sepertinya aku telah salah bicara lagi. Sehingga aku tidak bertanya lebih jauh. Tetapi dampaknya, aku tidak membicarakan apapun lagi. Aku bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaan atau membawa suasana. Sekali aku merasa canggung, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan atau lakukan.
Tetapi kini Ada orang yang berbeda. Drey menyadari bahwa aku merasa bersalah. Alih-alih memaksaku untuk memperbaiki suasana, Drey memelukku. Melakukan tindakan yang selalu kuharapkan sejak dulu.
"Kau sangat lucu saat cemburu"
Canda Drey. Aku hanya bisa memukulnya karena masih mengungkit kejadian memalukan itu. Yang hanya membuat tawanya Makin meledak.
Aku tahu Drey menggodaku untuk mengalihkan perhatianku. Tidak ingin membiarkan Rasa canggung di antara kami bertahan terlalu lama. Karena itu aku berterima kasih padanya. Hanya Hal kecil seperti ini yang kubutuhkan. Agar aku bisa kembali bersikap seperti biasa.
**********************************
Kepalaku pusing membaca barisan kata yang terlihat panjang di mataku. Aku sampai tidak bisa membedakan mana abjad, Mana titik, atau Mana koma. Semua terlihat sama. Mungkin karena sudah lama aku tidak membaca.
Besok aku sudah harus memulai Syuting. Karena itu aku juga harus segera menghafalkan isi dialog dalam naskah. Akan memalukan jika aktris utama lupa apa yang mesti diucapkannya.
Sebenarnya aku sudah menghafal dialog-dialog ini dengan baik selama proses reading. Namun karena selama seminggu ini aku disibukkan oleh agenda pindah rumah, semua hafalanku langsung hilang entah kemana. Dan ternyata mulai membaca dari awal tidak mudah.
Ditambah lagi dengan adanya perusuh satu ini.
"Apa kau Akan pergi dengan Daniel?"
"Dimana kalian Akan Syuting?"
"Besok pulang jam berapa?"
Drey yang Ada di sampingku terus saja bertanya Tanpa henti. Seakan dia sedang menghabiskan seluruh rasa penasarannya Hari ini. Dan terus memecah konsentrasiku.
Jika aku tidak menjawab, dia Akan mengulang pertanyaannya. Jika aku pindah tempat, dia Akan mengikutiku.
"Tolong jangan ganggu aku. Hanya sebentar saja. Aku harus menghafal ini"
Ada kalanya aku memelas pada Drey secara jujur. Drey Akan mengangguk seakan paham, lalu diam. Namun Lima menit kemudian kembali lagi mengangguku. Dia benar-benar tidak membiarkanku memiliki waktu yang tenang walau sebentar saja.
Lama-lama aku jadi frustasi juga.
__ADS_1
"Jika kau terus begini aku akan benar-benar menginap di hotel atau rumah Daniel malam ini"
Ancamku karena kesal. Sukses membuat Drey akhirnya bersikap serius.
"Aku bosan karena kau terus membaca dari tadi"
Protes Drey.
Ugh! Rasanya aku ingin membenturkan kepalaku ke dinding saja saat ini. Sepertinya kesabaranku sedang benar-benar diuji. Kenapa aku bisa dipertemukan dengan mahluk semacam Drey. Aku sama sekali tidak tahu apa isi pikirannya. Kadang begitu mengintimidasi, bijaksana di saat lainnya, dan tiba-tiba bertingkah kekanakan seperti ini. Dan sikapnya yang terakhir ini Paling menyebalkan.
Drey sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa ini bagian dari pekerjaanku. Tetapi masih sempat bersikap seperti anak kecil padaku.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku harus menghafalkan semua ini"
Protesku balik.
"Mau latihan denganku?"
Tawar Drey kemudian. Aku tidak tahu dia sedang bercanda atau serius. Jika Drey terus menggangguku maka Hari ini akan berakhir Tanpa hasil bagiku.
"Aku serius"
Ujarnya Seolah membaca isi pikiranku. Karena ide dia membantu menjadi lawan latihanku lebih baik, akhirnya aku menerima tawarannya.
Di luar dugaanku, Drey cukup serius menjalankan perannya. Biasanya aktor amatir akan sedikit bermain-main dengan dialognya, namun aku bisa merasakan kalau Drey sedang berusaha keras melakukan tugasnya. Yang Ada aku yang sulit serius.
Drey sangat Kaku membaca dialognya. Yang justru terlihat lucu Dan membuatku geli. Drey sepertinya menyadarinya. Dia mencubit pipiku.
"Ayo serius"
Omelnya untuk mengembalikan fokusku.
Dibantu oleh Drey, aku bisa menghafal dialogku lebih baik. Malahan dengan akting buruknya, aku jadi lebih bisa menajamkan kepekaanku dalam mengekspresikan emosiku.
Saking terlarutnya dalam naskah, waktu berlalu Tanpa kami sadari. Kami berhenti ketika waktu makan malam hampir tiba. Lagipula aku sudah berhasil menghafalkan seluruh bagianku.
Sudah lama aku tidak sesemangat ini saat waktu makan tiba, terutama saat diet. Aku suka makan, dan makanan diet tidak sesuai seleraku. Tetapi sejak Drey mengubah menu untukku, rasanya lebih baik di lidahku. Selain itu, aku tidak lagi makan sendirian. Ada Drey duduk satu meja denganku.
"Drey, ayo Kita makan"
Ajakku selesai menyiapkan makan malam.
Drey tidak menjawab, jadi aku mendatanginya. Ternyata dia sedang membaca naskahku. Anehnya dengan wajah cukup serius.
"Makanannya sudah siap"
Ulangku. Drey langsung melihat ke arahku, namun masih Tanpa jawaban. Herannya dia menatapku dengan dingin seperti saat kami sedang bertengkar. Padahal barusan dia masih baik-baik saja. Jadi aku bertanya-tanya apa yang salah.
"Kau tidak bilang Ada adegan pelecehan di sini. Siapa yang memerankan Luke Anderson? Jangan bilang itu Casey. Karena hampir seluruh isi naskah ini adalah tentang kau dan siapapun yang bernama Luke itu"
Cecar Drey terlihat menahan marah. Aku hanya bisa membeku. Tidak bisa menjawab Drey, karena semua itu memang benar. Aku lupa bahwa Ada banyak Hal yang tidak seharusnya Drey baca di naskahku. Atau salahku juga tidak menceritakan lebih dulu pada Drey mengenai film macam apa yang harus kuperankan.
Justru karena aku tidak menjawab, sepertinya Drey sudah langsung mengetahui jawabannya. Aku bisa melihat tangannya mengepal. Hingga membuatku merasa harus cepat-cepat mengatakan sesuatu untuk meredam amarahnya.
"Apa kau sedang cemburu?"
Dan hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Biasanya Drey selalu mengatakannya padaku saat aku marah. Namun aku tahu bahwa Cara kami mengatakannya berbeda. Aku tidak bisa membuatnya terdengar seperti sebuah candaan layaknya Drey. Dan malah memperburuk situasi.
"Tentu saja, kau kekasihku"
Dan itu yang jawaban Drey. Diucapkannya dengan geram. Membuatku langsung bungkam.
Di saat ini aku berharap bisa memiliki sedikit saja dari sifat Drey yang pintar dalam meredam konflik. Karena aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku katakan atau lakukan untuk menenangkan Drey.
Setelah itu, Drey melemparkan naskah di tangannya cukup keras ke lantai. Dan pergi begitu saja Tanpa mengatakan apapun. Melewatiku. Pulang ke rumahnya.
Untuk beberapa lama, aku masih berdiri di Sana. Terlalu syok dengan amarah Drey. Tiga tahun bersama Casey, kami tidak pernah bertengkar atau berdebat. Casey juga tidak pernah bicara keras padaku Satu-satunya pertengkaran kami adalah yang membuat kami putus. Sehingga aku tidak punya pengalaman menghadapi pria yang marah. Atau bagaimana memperbaiki kesalahanku.
Makan malam yang kunantikan pun batal. Drey tidak kembali Dan aku tidak punya nafsu untuk makan lagi. Makanannya itu menjadi dingin dengan sendirinya Dan tetap di atas meja hingga esok pagi.
__ADS_1