
Isn't she lovely
Isn't she wonderful
Isn't she precious
Less than one minute old
I never thought through love we'd be
Making one as lovely as she
Lagu lawas milik Stevie Wonder itu akhir-akhir ini selalu terdengar di mobilku. Seperti sebuah curahan isi hatiku. Tentang dia.
Gadis itu melambaikan tangannya dengan senyum lebar sebelum masuk ke kursi penumpang.
"Aku lelah, aku mau tidur"
Ujarnya begitu duduk. Dia sudah mengambil selimut di jok belakang Dan memejamkan mata. Bahkan tidak menunggu untuk mendengar jawabanku.
Aku segera melajukan Mobilku. Jam sudah hampir menunjuk pukul 1 malam, dia pasti lelah. Meskipun awalnya dia selalu malu-malu hanya untuk duduk di sampingku, sekarang dia dengan cool langsung terlelap.
My lovely sugar.
Aku benar-benar tidak pernah memiliki seseorang seperti dia. Yang galak, yang kekanakan, tetapi masih bisa menghadapiku dengan baik. Meski melihatnya setiap Hari, selalu Ada Hal mengejutkan yang dia lakukan untukku.
Saat pertama Kali hubunganku dengan Luna diumumkan ke publik, banyak temanku yang terkejut. Dia terlalu pemalu untuk pria sepertiku. Banyak yang memprediksikan bahwa kami tidak Akan bertahan lama. Mereka bahkan bertaruh. Kebanyakan memasang taruhan untuk waktu di bawah satu bulan. Beberapa bahkan tidak percaya kebenaran berita itu.
Dan kubuktikan, itu salah. Tidak Ada yang menang dalam taruhan itu. Luna juga membuktikan, dia bukan gadis pemalu seperti yang orang lain pikirkan.
Di Hari di Mana aku memergoki dia bertemu Casey, pikiranku langsung kalut. Aku mengira Akan kehilangan Luna. Dan aku berharap alkohol Akan membunuhku Hari itu.
Tetapi besoknya semua temanku mengirimiku pesan. Dari teman pria sampai wanita. Mereka yang menjadi saksi di malam Luna menjemputku. Mereka bertanya bagaimana keadaanku. Bukan karena aku habis mabuk berat. Namun mereka ingin tahu apakah Luna menghajarku atau tidak. Dari kemarahannya malam itu, mereka yakin Luna Akan menghabisiku.
Akhirnya mereka juga tahu, aku tidak sedang mengencani gadis pemalu. Luna memang seorang gadis manis, namun dia lebih kuat dari kelihatannya. Tidak suka teritorinya diganggu.
You can't mess with her.
Hanya saja bagian yang Paling kusukai darinya, aku bisa menjadi diriku sendiri di depannya. Aku bisa marah, aku bisa berteriak, Tanpa perlu menahan diri lagi. Karena itu tidak Akan membuatnya takut padaku. Dia bisa menghadapiku.
Well, bukan berarti ini hubungan yang mudah. Aku tidak bisa menghitung berapa kali kami bertengkar. Berapa Kali kami saling menyakiti. Namun dengan Luna, aku yakin bisa melalui semuanya.
Apalagi akhir-akhir ini Luna mulai berbeda. Perlahan dia mulai bisa menerimaku. Bahkan berani menggodaku. Kini aku sedang menantikan Hal baru apa lagi yang Akan dia tunjukkan padaku.
Sambil menunggu, aku menikmati perjalanan dengan ditemani lagu Favoritku sekarang.
Isn't she pretty
Truly the angel's best
Boy, I'm so happy
*********************************
Aku mencari pakaian ganti di antara tumpukan baju. Tidak ada. Aku baru ingat jika Pakaian yang kucuci sebelumnya belum diangkat. Akhirnya aku turun ke ruang laundry. Saat pindah ke London, aku memang tidak bisa membawa semis barangku. Semua masih di Madrid, di rumah yang rencananya Akan segera kujual.
Aneh, bajuku tidak Ada. Selain yang kotor, aku tidak bisa menemukan pakaian bersih yang baru saja kucuci. Padahal sepertinya sudah diangkat oleh Luna.
Baru saja aku akan menanyakan dimana pakaianku, aku sudah melihat Luna yang sedang menenggak air di dapur. Dia mengenakan salah satu kaus yang baru saja kucuci.
"Pakaianmu Ada di ruang tengah, aku baru selesai melipatnya"
Seolah tahu apa yang ingin kutanyakan, Luna sudah lebih dulu menjawabnya. Mungkin Melihatku keluar dari ruang laundry.
"Bukankah bajuku Ada di situ?"
Tanyaku sambil menunjuk kaus yang dipakainya. Luna hanya meringis.
"Akan kukembalikan dengan yang sebelumnya"
Jawabnya.
Aku hanya bercanda. Sejujurnya aku suka melihat dia memakai pakaianku. Dengan tubuhnya yang kecil, jadi kelihatan kebesaran. Terlihat lucu Dan menggemaskan. Bagiku juga itu seolah memberitahuku, bahwa dia milikku.
Sebelumnya aku selalu berpikir bahwa seorang wanita harus terlihat seksi. Mungkin karena semua teman wanitaku begitu. Aku menikmati potongan rendah pakaian mereka. Menampakkan bagian tubuh mereka. Membuatku leluasa menilainya. Seberapa menggodanya mereka.
Tetapi aku lebih suka Luna seperti ini. Tampilannya apa adanya. Membuatku lebih penasaran dengan apa yang disembunyikannya. Mungkin akal sehatku juga menghendakinya. Sebagai pria normal, tidak bisa dibayangkan bagaimana kerasnya aku menahan diri. Aku harus selalu mencoba meredam keinginanku menerkamnya. Tidak untuk sekarang.
"Apa yang Akan kau lakukan?"
Tanyaku pada Luna. Mencoba mengajaknya bicara sebelum pikiranku makin tidak benar.
Hari ini Luna juga sedang libur Syuting. Dan pasti sedang mencari kegiatan untuk dikerjakan.
"Pergi ke kamarmu"
Aku langsung menelan ludah mendengar jawaban Luna. Dia mengatakannya dengan wajah datar seolah itu adalah Hal biasa. Apa dia sedang menggodaku?
"Jangan berpikir macam-macam. Dasar mesum! Aku hanya ingin melihat apa yang bisa kulakukan dengan kamarmu"
Semprot Luna. Aku tidak tahu jika ekspresiku mudah terbaca olehnya.
"Kenapa dengan kamarku?"
Tanyaku bingung. Luna langsung memasang tampang cemberut.
"Apa Ada wanita yang diam-diam kau bawa kemari?"
Luna balik bertanya. Aku langsung kaget dia berpikir seperti itu. Luna bukan orang yang bicara Tanpa ada alasan.
__ADS_1
Aku mendadak merasakan tengkukku dingin, takut. Mencoba mengingat jika aku membuat kesalahan saat mabuk. Jika itu yang terjadi, selesailah sudah ini. Luna mungkin tidak Akan memaafkanku.
"Tidak! Aku tidak pernah membawa satupun wanita ke kamarku, bahkan ke rumah ini"
Sangkalku keras. Jika Ada waktu di Mana aku Paling takut, mungkin saat ini.
Luna menatapku penuh selidik, membuat jantungku berdetak begitu kencang. Otakku sudah sibuk mencari alasan jika Aku memang pernah melakukan kesalahan itu. Namun, sejurus kemudian Luna akhirnya mengatakan alasan sebenarnya dia menanyakan itu.
"Lalu kenapa di kamarmu tidak Ada apa-apanya? Bersih sekali seolah tidak pernah ditinggali. Apa kau tidak suka tinggal di rumah ini?"
Ada ekspresi Tak Aman di wajah Luna mengatakannya.
Sejujurnya, aku memang bukan orang rumahan. Aku lebih suka mencari kehidupan di luar Sana, berpesta. Rumah tidak pernah membuatku nyaman. Sehingga aku mencoba tidak meninggalkan sesuatu di Sana. Rupanya itu mengganggu Luna yang berbeda denganku menganggap bahwa rumah adalah segalanya.
"Ya, aku memang tidak suka"
Ada raut kecewa di wajah Luna mendengar jawabanku. Membuatku merasa geli sendiri.
"Aku lebih suka di sini. Karena Kau Ada di sini"
Lanjutku. Dan sebuah senyum puas terulas di wajahnya.
"Kalau begitu, boleh kurubah kamarmu? Agar kau menyukainya juga?"
Dasar Luna. Bilang saja ini tujuannya. Hal yang baru aku tahu, Luna itu suka mengubah sesuatu. Terutama interior rumah. Dia Tidak tahan melihat ruangan suram Dan terasa kosong seperti milikku.
"Memangnya kau akan mengisinya dengan apa?"
Tanyaku.
"Kau mau apa?"
Tanya Luna balik.
"Aku suka gambar wanita seksi Dan telanjang"
Candaku. Tapi Luna menanggapinya sedikit serius. Dia berpikir sejenak sebelum dengan wajah sebal mencoba mengiyakan.
"Tidak boleh banyak tapi"
Tawarnya. Namun dengan wajah cemberut. Membuatku ingin tertawa.
"Tapi aku maunya itu gambar aktris bernama Luna Eloise. Tidak mau wanita lain"
Candaku lagi. Luna hampir melempar gelas di tangannya.
Namun aku bisa melihat Rona merah di wajahnya Dan senyum terkembang. Aku jadi tidak tahan untuk tidak memeluknya.
Luna hanya tidak tahu, betapa aku membenci rumah. Karena aku tidak pernah menemukan kebahagiaan di dalamnya. Tetapi aku sudah menemukannya sekarang. Rumah itu bagiku bukan tempat ini, tetapi Luna sendiri. Di manapun Luna, di situlah rumah bagiku.
**********************************
Luna benar-benar mengacak kamarku. Entah apa yang Ada di imajinasinya, dia sudah menggambar sesuatu di buku sketsanya. Sembari memeriksa seluruh sudut kamarku. Lalu sesekali mengajukan pertanyaan padaku.
Aku membiarkannya bereksplorasi. Lagipula tidak Ada Hal aneh di kamarku. Begitu pikirku hingga saat aku lengah, Luna membuka Laci nakasku. Dia kemudian mengacungkan padaku beberapa bungkus benda itu.
"Apa ini?"
Tanyanya penasaran.
Luna adalah wanita pertama Yang pernah bertanya padaku benda apa itu. Setiap wanita yang kukenal bahkan sudah fasih memakaikannya. Namun tatapan polos Luna itu seolah menelanjangiku.
Aku juga bingung bagaimana menjelaskannya.
"Itu.."
Suaraku seolah tertahan di ujung tenggorokan. Dan kegugupanku inilah kesalahanku. Harusnya aku menjawab sekenanya dengan penuh percaya diri, karena Luna juga tidak tahu. Kebiasaan Luna saat berhadapan dengan orang yang tidak bisa menjawab pertanyaannya adalah semakin keras bertanya.
"Apa ini Drey?"
Dia bahkan sudah membawanya mendekat padaku. Mengira aku tidak bisa menjawab karena tidak melihat dengan jelas.
"Itu...pengaman.."
Jawabku spontan. Dan ini juga jawaban bodoh. Karena Luna justru Makin penasaran.
"Pengaman untuk apa?"
Tanyanya lagi. Rasanya aku sudah tersudut. Tidak mungkin berbohong kalau sudah sejauh ini. Luna juga pasti Akan tahu di Masa mendatang.
"Itu... Kond*m"
"Apa ini pengaman untuk pemain sepak bola?"
Kami bicara bersamaan. Saat aku menjawab, saat itu dia bertanya.
Seketika kami langsung diam berpandangan. Aku merasa menyesal sudah mengatakannya. Dugaan Luna jauh lebih pintar Dan harusnya itu yang kugunakan sebagai alasan. Terlambat, karena Luna sudah mendengar jawaban jujurku. Meski tidak tahu bentuknya, aku yakin Luna tahu apa fungsi benda itu.
"Sudah berapa Kali?"
__ADS_1
Itu pertanyaan pertama Luna, dengan ekspresi kaget. Seakan baru tahu bahwa Akan Ada orang yang benar-benar menggunakan benda itu.
Aku langsung garuk kepala. Bagaimana bisa aku ingat berapa Kali. Dengan siapa saja aku juga sudah lupa.
"Kau tidak bisa menghitungnya?"
Tanya Luna lagi. Persis seperti yang kupikirkan.
Aku benar-benar bingung dengan situasi ini. Tidak tahu apa jawaban terbaik yang mesti kuberikan. Padahal biasanya aku bisa melontarkan jawaban sesukaku atas pertanyaan teman kencanku. Tetapi dengan Luna, aku benar-benar merasa harus jujur dengannya. Hingga membuatku kesulitan menjawab.
Wajah Luna langsung pucat pasi. Dan tanpa mengatakan apapun, dia meletakkan benda itu Dan keluar dari kamarku.
Aku yang terlalu nakal, Dan Luna yang kelewat polos. Beginilah jadinya jika kami bertemu.
*********************************
Aku memandang gelisah bola di kakiku. Sejak tadi aku sedang melatih tendangan bebasku, dan semuanya meleset. Padahal ini keahlianku. Aku tahu ini karena pikiranku sedang tidak fokus. Untung saja bukan di waktu pertandingan.
Begitu latihan selesai, aku cepat-cepat memeriksa ponselku. Kosong. Luna tidak menghubungiku sama sekali. Sepertinya dia masih kecewa dengan kejadian tadi siang. Bahkan saat berangkat Syuting dia tidak mau Melihatku.
Kami tidak bisa terus seperti ini. Salah satu dari kami harus memulai. Jadi aku mengumpulkan keberanian untuk mengirim pesan padanya.
"Hai sugar, pulang jam berapa? Aku Akan menjemputmu"
Aku tidak berharap banyak Luna Akan menjawabnya. Tetapi beberapa kemudian sebuah balasan datang darinya. Aku sudah senang menerimanya. Namun baru membacanya sudah membuatku berang.
"Tidak perlu. Aku menginap di set malam ini"
Alasan yang Sama lagi. Aku yakin dia Akan kabur. Jadi Tanpa pikir panjang, aku langsung pergi ke lokasi syutingnya. Aku tidak suka Luna yang kabur-kaburan begini.
Sudah hampir pukul delapan malam saat aku sampai di lokasinya. Di Sana masih ramai. Dan yang pertama menyambutku adalah Daniel.
"Dia mau kabur kemana lagi?"
Tanyaku tanpa basa basi. Kalau sudah memiliki rencana untuk pergi, biasanya Luna Akan memberitahu Daniel.
"Apa maksudmu dengan kabur?"
Daniel malah bertanya balik dengan ekspresi bingung. Kupikir hanya aktingnya saja.
"Luna bilang Akan menginap di set lagi. Itu cuma alasan Kan?"
Desakku Tak sabar.
"Ah..dia tidak bohong. Hari ini kami Akan Syuting semalam suntuk. Mungkin dia Akan pulang besok pagi"
Jawab Daniel. Aku masih antara percaya Dan tidak dengan jawaban Daniel. Jadi dia mengantarku ke tempat Luna sedang melakukan pengambilan gambar sekarang.
Meski sudah beberapa Kali menjemput Luna di lokasi, ini pertama kali aku melihat Luna yang sedang Syuting. Dia membuatku takjub.
Luna memerankan seorang gadis dengan pengalaman masa lalu yang buruk hingga membuatnya memiliki gangguan kepribadian yang aneh. Dia sedang memperagakan adegan di Mana gangguan kepribadiannya muncul. Dan saat aku melihatnya, aku benar-benar seperti melihat orang lain, saking bagusnya akting Luna. Tidak hanya aku, semua mata juga fokus tertuju padanya.
Luna menangis sangat keras, tetapi begitu kata "cut" terdengar, dengan santai menghapus air matanya. Lalu tersenyum mengucapkan terima kasih. Di mataku itu mengagumkan. Dia benar-benar terlihat sebagai aktris professional.
Aku menunggu Luna melakukan monitor adegannya. Saat itu Daniel berbisik sesuatu padaku.
"Tadi di Mobil Luna tiba-tiba bertanya padaku, Apa kau punya kond*m? Membuatku kaget. Memangnya apa yang terjadi?"
Aku juga kaget mendengar pertanyaan Daniel itu. Tidak menyangka Luna Akan menanyakannya pada seorang pria.
"Lalu kau jawab apa?"
Tanyaku balik.
"Kutanya balik, kau mau satu?"
Jawab Daniel sambil cekikikan. Sudah kuduga jawaban semacam itu Akan keluar dari seorang Daniel.
"Lalu apa katanya?"
Tanyaku lagi.
"Oh...jadi kau juga punya"
Daniel menirukan Luna. Yang tidak memberitahuku Apa maksud Luna menjawab begitu. Apa dia mengadakan semacam survei?
Mungkin karena tadi semua orang fokus pada Luna, mereka tidak menyadari bahwa aku di sini. Namun sekarang aku bisa melihat beberapa orang, pria Dan wanita sedang berbisik sambil menunjuk ke arahku. Sepertinya mulai mengenaliku.
Saat ini aku menyesal sekali datang kemari. Aku terlalu curiga. Dan jika Luna Melihatku di sini, mungkin bisa mengganggu fokusnya. Akan membuat aktingnya kacau. Jadi aku segera memberi tanda pada orang-orang yang Melihatku untuk diam. Untungnya mereka tidak bicara atau membuat kehebohan.
Setelah itu aku pamit ke Daniel kembali ke Mobil. Lebih baik aku menunggu Luna di tempat yang tidak terlihat olehnya.
**********************************
Suara ketukan kaca membangunkanku. Dengan setengah sadar, aku mengintip arlojiku. Sudah hampir jam 4 pagi. Lama sekali aku tertidur. Suara ketukan lagi akhirnya membuatku melihat ke samping. Ternyata Luna. Cepat-cepat aku membuka kunci Mobil.
Luna kemudian masuk ke samping kursi pengemudi. Aku masih setengah sadar, melihat Luna. Tidak menyangka bahwa dia Akan masuk ke mobilku. Biasanya saat marah, bertemu pun tidak mau.
"Kita bahas di rumah saja. Aku mengantuk"
Ujar Luna sambil menguap. Sepertinya dia tahu betul apa yang ingin kukatakan. Tetapi seperti biasa, sebelum aku menjawab, Luna sudah terlelap.
Aku segera menyalakan mobilku dengan hati sumringah. Sambil kuperdengarkan lagu itu lagi.
__ADS_1