Sugar

Sugar
Lies (Drey POV)


__ADS_3

Aku merasa telah membuat sebuah kesalahan besar. Seharusnya saat ada kesempatan, aku menolak Priscilla lebih keras. Hingga Luna Tidak akan terluka, dan aku tidak berdaya untuk menghiburnya.


"Sepertinya semua sudah selesai diberikan"


Ujar Luna sambil memeriksa daftar di tangannya. Kami sedang membicarakan oleh-oleh yang dibawakan ibunya. Selama beberapa waktu kami bekerja mengirimkannya pada orang-orang dalam daftar.


"Ya"


Aku mengamati wajah Luna. Meski sudah lebih baik, tetapi masih Ada jejak sembab di wajahnya. Tadi siang dia menangis cukup keras dan lama di ruang laundry. Aku bahkan tidak bisa membawa masalah kami dalam pembicaraan sekarang.


"Mereka mengucapkan terima kasih atas oleh-olehnya. Mereka senang sekali menerimanya," tambaku.


Luna menatapku, namun hanya untuk beberapa detik. Ia kembali mengalihkan pandangannya seolah tidak tahan untuk melihatku berlama-lama.


"Aku akan menyampaikannya pada ibu" jawabnya singkat.


Luna melipat daftar di tangannya. Dan keheningan menghampiri kami. Aku melihat tatapan murung di wajahnya Luna.


Aku sungguh tidak tahu apa yang musti ku lakukan. Ingin menghiburnya, namun Luna tampak enggan membicarakan masalah Priscilla. Ingin memeluknya, aku merasa tak pantas. Aku hanya takut kedatangan Priscilla tadi akan merusak segalanya. Menciptakan jarak antara aku dan Luna.


"Aku tidur dulu"


Ucapan Luna membuyarkan lamunanku. Dia sudah beranjak dari tempatnya.


"Sugar"


Langkah Luna terhenti.


"Ada apa?" Tanya Luna.


Sejujurnya aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin ku katakan. Aku hanya spontan memanggilnya. Seolah ingin menahannya di sini lebih lama.


Namun aku melihat binar murung itu lagi di Mata Luna. Rasanya egois meminta Luna untuk tetap di sini, sementara aku tidak tahu cara menghiburnya.


"Have a nice dream"


Sebuah ucapan canggung keluar dari mulutku. Luna hanya menjawab dengan senyuman lalu pergi.


Aku hanya bisa melihat langkahnya yang terlihat gontai. Sambil merutuki ketidakberdayaanku ini.


*****


Aku tidak bisa fokus selama latihan. Luna terus Ada di pikiranku. Meskipun dia sudah bersikap seperti biasanya pagi ini, aku masih merasa Ada yang mengganjal. Kami belum membicarakan masalah kemarin sama sekali. Sekarang ini terkesan seolah kami sedang menghindarinya. Namun aku tidak bisa membicarakannya jika Luna Tidak memulainya.


"Drey, Ada yang ingin menemuimu" ujar salah satu staff memanggilku.


Tumben sekali Ada yang mencariku sampai kemari. Apakah itu Luna?


Aku bergegas pergi ke tribun usai mengganti pakaian. Awalnya aku bersemangat sekali untuk menemui orang itu, tetapi saat melihat siluetnya dari kejauhan decih kesal keluar dari mulutku.


Aku memberi jarak 1 meter dari tempat orang itu duduk, sambil membanting tas di bahuku. Aku memang menelfonnya tadi pagi, namun melihatnya langsung ternyata membuatku kesal.


"Ada apa kemari?" sapaku tak bermaksud ramah sama sekali.


"Apa begitu caramu menyapa ayahmu?"


Aku hanya melengos. Bagiku sudah cukup ramah aku padanya. Setidaknya aku bicara sambil duduk. Tidak berdiri sambil menunjuk-nunjuk ke wajahnya.


"Bukankah kau berharap aku kemari Setelah menelfonku tadi pagi?" Tanyanya.

__ADS_1


Aku mengingat tindakanku tadi pagi. Aku sangat marah dengan kedatangan Priscilla hingga merasa harus melampiaskannya juga pada orang di balik semua kekacauan ini. Jadi aku bicara dengan ayahku. Untuk memberi peringatan tentunya. Agar dia dan wanita kesayangannya it menjauh dari Luna.


"Aku tidak tahu jika pria sibuk sepertimu ternyata punya waktu luang menemuiku, lagipula aku sudah selesai mengatakan semuanya di telfon" jawabku sengit.


Ayah tertawa, dengan nada meledek.


"Jika sudah tidak ada yang ingin kau katakan, aku pergi dulu" potongku cepat. Aku merasa kami tidak akan bisa membuat pembicaraan.


"Tunggu dulu" tahan ayah. Mau tak mau, aku kembali duduk.


"Apa lagi?"


"Lusa datanglah ke hotelku. Kita akan makan malam dengan keluarga Priscilla"


Aku tidak tahu, sebenarnya ayahku ini pendengarannya kurang atau sulit memahami ucapanku. Padahal tadi pagi aku sudah mengatakan dengan jelas agar dia berhenti menggangguku. Aku tidak ingin Dan tidak akan menikahi Priscilla. Lalu Ada apa dengan undangan makan malam ini?


"Sepertinya kau harus mencari penggantiku" ujarku berusaha menahan amarah. Ini masih di tempat kerjaku, aku tidak bisa kelepasan di sini.


Ayahku melihatku, masih dengan tatapan menyebalkan itu. Seolah kata-kataku tidak mempengaruhinya sama sekali.


"Kau pasti datang"


"Aku tidak--"


"Kecuali kau ingin melihat gadis itu membayar semuanya. Kau tahu betul apa yang bisa ku lakukan untuk menghancurkan karir dan nama baiknya" sela ayah.


Aku hanya bisa membeku saat Luna mulai menjadi topik pembicaraan. Aku benci tidak bisa mengatakan apapun untuk membantahnya. Bayangan Luna yang menangis begitu sedih kemarin kembali di benakku.


Ayahku lebih dulu berdiri. Dengan tenang dia membetulkan jasnya, lalu berjalan melewatiku. Sebelum pergi, dia masih sempat menepuk bahuku sambil berbisik,


"Pikirkan Mana pilihan yang terbaik jika kau ingin melindunginya"


*****


Aku suka melihat wajah Luna berseri lagi. Tawanya yang keras dan renyah. Serta binar ceria di matanya yang berkilat-kilat. Aku suka semua itu telah kembali. Namun aku juga merasa tidak nyaman dengan yang ku rasakan saat ini.


"Kecuali kau ingin melihat gadis itu membayar semuanya. Kau tahu betul apa yang bisa ku lakukan untuk menghancurkan karir dan nama baiknya"


Ucapan ayahku tadi siang masih terngiang dengan jelas di telingaku. Aku takut karena itu bukan ancaman kosong.


Belasan tahun tinggal dengan ayah, aku tahu monster seperti apa dia. Uang dan kekuasaan yang dia miliki membuatnya mampu melakukan dan mendapatkan apapun. Aku juga sudah melihat berapa banyak orang yang dihancurkannya karena dianggap menghalanginya.


Terlebih, dia tidak punya cukup hati untuk mengampuni orang. Ibuku salah satu buktinya. Dengan Cara Kotor, ayahku berhasil membuatnya kehilangan pekerjaan meskipun dia adalah dokter yang berbakat. Ibuku tidak bisa bekerja lagi di Kota kami, atau bahkan di seluruh Swiss. Padahal ibuku pernah menjadi wanita yang pernah dicintainya.


Karena alasan itu juga Lucy tidak berani mengajukan perceraian meski sekarang ditelantarkan. Lucy memilih diam Dan tidak melawan atau Lara Dan Lucas akan ikut jadi korban.


Aku sendiri Tak luput dari kekejaman ayahku. Saat aku menolak berhenti dari sepak bola, dia membuka kasus korupsi klubku, yang hampir menghancurkan karirku juga. Padahal aku baru saja memulainya. Untung aku masih bisa bertahan berkat bantuan paman Dan agenku. Ayahku benar-benar perwujudan penindas sebenarnya.


Aku tidak ingin Luna mengalaminya, tetapi aku juga tidak ingin pergi kesana. Itu sama saja aku mengkhianatinya. Aku tidak tahu harus melakukan apa.


"Oh ya, aku lupa mengatakannya. Lucy mengundang Kita untuk makan malam di rumahnya sebagai ucapan terima kasih atas oleh-oleh. Kau ada waktu kan?"


Pertanyaan Luna mengembalikan kesadaranku.


"Lusa?"


"Ya. Bukankah kau tidak ada jadwal Hari itu? Jadi ku pikir itu hari yang tepat untuk makan malam dengannya"


Otakku seolah berhenti bekerja saat ini. Bagaimana bisa mereka memilih waktu yang sama?

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Luna saat tidak kunjung mendapat jawabanku.


"Maaf, aku sudah ada janji lain Hari itu"


Tanpa sadar aku sudah berbohong meskipun belum memutuskan pergi memenuhi undangan ayahku atau tidak.


"Ah, begitu ya? Tidak apa-apa, biar aku kesana sendiri"


Rasanya tatapan hangat Luna saat ini menusuk ulu hatiku. Aku sudah bersikap tidak jujur padanya. Dan Kebohongan kecil yang baru ku ucapkan itu terasa mencekik tenggorokanku.


"Maafkan aku"


"Kau tidak perlu minta maaf. Harusnya aku bicara padamu dulu dan tidak langsung mengiyakan tawaran Lucy"


Padahal bukan karena itu aku meminta maaf padanya. Aku harus minta maaf karena telah menyembunyikan sesuatu darinya.


Kali ini senyum Luna yang terasa berat. Dan aku merasa begitu jahat telah menerimanya. Namun aku harus melindunginya.


*****


Satu kebohongan akan memerlukan kebohongan lain untuk menutupinya. Aku sudah lama mendengar tentang hal itu, Dan baru tahu artinya. Kata-kata itu benar sekali.


Sejak mengatakan memiliki janji lain, aku harus membuat alasan lain memperkuatnya. Janji macam apa? Dengan siapa? Di mana? Aku harus membuat semua alasan itu untuk Luna.


Aku berbohong akan pergi dengan teman lama untuk menonton pertandingan ice hockey agar Luna Tidak curiga atau mencariku. Luna Tidak familiar dengan hal itu, sehingga tidak mungkin tiba-tiba datang ke pertandingan. Ini adalah alasan Paling aman yang bisa ku pikirkan.


"Jam berapa pertandingannya?" Tanya Luna saat melihatku sedang memanasi mobil.


"Jam enam" jawabku sambil meneguk ludah. Aku merasa gugup oleh kebohonganku.


Untungnya Luna Tidak bertanya lebih jauh. Aki bernafas lega saat dia masuk ke dalam rumah.


Aku memeriksa jok belakang. Memeriksa setelan jas yang sudah ku taruh di sana semalam. Tidak mungkin aku pergi mengenakannya hanya untuk menonton ice hockey. Luna akan curiga. Jadi aku akan berganti pakaian di jalan.


Aku benar-benar benci perasaan ini. Akhir-akhir ini aku selalu gugup saat melihat Luna. Aku takut dia akan sangat kecewa saat mengetahuinya. Dia mungkin tidak akan memaafkanku.


Aku melirik arloji di tanganku. Masih ada waktu untuk membatalkan ini. Aku bisa memilih untuk pergi dengan Luna ke rumah Lucy. Namun saat ingat ancaman ayah, pilihan itu langsung hilang.


Jam Lima aku sudah bersiap untuk berangkat, untuk mengantisipasi jika nanti macet. Karena hotel ayah Ada di pusat kota.


"Aku boleh ikut denganmu saja?" Tanya Luna sebelum aku pergi.


Aku tidak menyangka pertanyaan itu akan muncul. Jadi tidak bisa langsung menjawabnya. Rasa takut akan ketahuan begitu kencang menghantuiku.


"Kenapa? Tidak boleh?" Tanya Luna lagi.


"Tentu saja boleh. Ayo masuklah, aku Akan mengantarmu"


Buru-buru aku meralat keterlambatanku menjawab. Ya, lebih baik aku mengantarnya sekalian. Rumah Lucy tidaklah jauh dari sini.


Luna segera masuk dalam Mobil. Dan sejujurnya aku tidak pernah menyetir dalam keadaan segugup ini. Berharap Luna Tidak tiba-tiba mengganti tujuannya dan mengatakan akan menemaniku menonton acara ice hockey.


"Kenapa kau menyimpan jas di sini?"


Ah! Aku lupa dengan jasku di jok belakang.


Harusnya itu yang ku khawatirkan lebih dulu. Aku langsung tegang, mencengkeram erat kemudi. Otakku langsung buntu meski hanya sekedar untuk mencari-cari alasan.


"Aku mungkin akan pulang terlambat nanti. Jadi ajaklah temanmu untuk makan malam juga"

__ADS_1


Luna sudah mengganti topik, seolah tidak lagi membutuhkan jawaban atas setelan jas di belakang. Setidaknya aku bisa kembali bernafas lega.


__ADS_2