
Richard Charleville. Namanya mungkin cukup terkenal, tetapi ini pertama kalinya aku melihatnya. Karena kemarin begitu panik, baru pagi ini aku sadar betapa miripnya dia dengan Drey. Dari garis wajah hingga tubuh besarnya, jelas sekali Drey itu adalah salinan ayahnya.
Kecuali keramahan yang tidak tampak di wajah pria ini. Setelah melihat caranya memperlakukan Drey kemarin, aku tidak berpikir dia adalah orang yang baik, tetapi menghadapinya langsung sendirian begini tetap saja nyaliku ciut.
Aku berharap kami bertemu dalam situasi yang lebih baik. Mendapat kesempatan memperkenalkan diri seperti Drey dengan orang tuaku. Bukan seperti kemarin, saat aku dengan berani mengancamnya.
Karena kemarin aku dan Drey sibuk membicarakan masalah bikini, aku juga lupa menanyakan alasan Richard memukulnya. Aku mungkin bisa menggunakan itu sebagai topik pembicaraan. Karena sudah sepuluh menit berlalu dan Richard belum mengatakan sepatah katapun padaku. Padahal sudah mengajakku duduk di meja yang sama.
Richard mungkin bisa menikmati sarapannya, tetapi aku tidak bisa. Sulit sekali menelan makanan dengannya berada di depanku. Sejak tadi aku juga terus bergerak tidak nyaman di kursiku. Setiap gerakan orang di depanku ini sukses membuatku terintimidasi.
Aku hanya menatap tak berselera pada baguette di depanku. Padahal aku sudah ngiler sejak kemarin ingin memakannya. Karena sarapan pagiku yang indah telah rusak, aku memutuskan untuk sekalian saja terjun dalam kekacauan.
"Kebetulan sekali kita menginap di tempat yang sama. Apa Anda juga sedang berlibur di sini?"
Aku nekat memulai pembicaraan. Berusaha bicara sesopan mungkin bertanya padanya. Namun bukannya menjawab pertanyaanku, Richard malah balik bertanya.
"Sudah berapa lama kalian bersama?"
"Sejak awal musim dingin"
Jawabku masih mencoba tersenyum. Aku tidak ingin menunjukkan perasaanku sebenarnya. Sedikit kesal karena Richard berusaha mengabaikan untuk waktu yang lama. Begitu aku bertanya, dia juga mengabaikannya.
"Masih belum lama..."
Gumam Richard pelan. Dia telah menyelesaikan sarapannya. Begitu meletakkan garpunya, tanpa basa basi lagi dia akhirnya menunjukkan alasannya mengajakku bicara.
"Putuslah dengannya"
Richard sama sekali tidak mempermanis ucapannya. Sebuah kalimat bernada perintah yang singkat dan to the point.
"Drey bukanlah pria yang bisa menikah dengan sembarang wanita. Jadi sebaiknya kau pergi sebelum terlambat"
Rasanya aku seperti ditembak dua kali oleh Richard. Setelah menyuruhku putus, lalu menyebutku sebagai wanita sembarangan. Bukankah itu sudah terlalu berlebihan bagi orang yang baru dua kali bertemu?
Aku bahkan tidak sedang syuting telenovela. Memangnya ini sudah tahun berapa masih ada orang tua yang mengatakan hal semacam itu pada pacar anaknya. Bahkan sebelum memperkenalkan diri secara benar.
"Aku tidak akan putus darinya"
Jawabku tegas. Lupakan soal kesopanan, Richard telah menyentil egoku.
Aku bisa melihat tatapan tidak senang untukku. Sebenarnya membuatku keder. Dia mungkin menilai diriku sebagai gadis kurang ajar sekarang.
"Kalau sulit bagimu melakukannya sekarang, aku bisa memberi waktu sedikit lebih lama"
Richard sepertinya tidak memahami maksudku. Jadi kali ini aku berbicara lebih tegas lagi.
"Aku tidak akan memutuskannya sampai kapanpun. Drey adalah kekasihku, masalah bersama atau putus adalah sepenuhnya keputusan kami. Anda tidak perlu mencampurinya"
"Apa kau sadar sedang bicara dengan siapa? Aku ayah Drey. Aku punya hak atas hidupnya. Dan aku tidak ingin dia berhubungan dengan bocah sepertimu"
kami berdua akhirnya sudah berdebat dengan diliputi emosi. Richard dengan mudahnya menunjuk dan menilaiku dengan rendah. Hingga tanpa sadar aku jadi berkata buruk pada Richard.
"Bagaimana Anda bisa mengatakan itu meskipun Anda bukanlah ayah yang baik bagi Drey?"
Kata-kataku sepertinya cukup membuat Richard tersinggung. Wajahnya merah sekali, membuatku menyesal secara instan. Cepat-cepat aku membuat pembelaan.
"Ayah yang baik tidak akan meminta anaknya keluar dari rumah hanya karena bermain sepak bola. Tidak juga memukulnya di tempat umum. Apalagi meminta pacarnya untuk memutuskannya tanpa mencoba mengenal lebih dulu"
Rasanya suaraku bergetar. Richard tidak akan melemparku dengan piring di depannya kan? Kami sedang di tempat umum. Bisa-bisa kami jadi headline berita besok jika itu sampai terjadi.
Di luar dugaanku, ekspresi Richard malah sedikit melunak. Dia berdiri dari kursinya, tampak akan pamit dan mengakhiri perdebatan kami.
"Kau tangguh juga. Kalau begitu mari kita lihat siapa yang akan menang. Perlu kau tahu, aku sangat menyukai kompetisi, apalagi memenangkannya"
Jelas sekali Richard sedang mengancamku. Aku hanya bisa melongo melihat pria tua itu pergi.
Apa aku sudah menabuh genderang perang?
Menyadari hal itu, aku langsung ambil langkah seribu juga. Lari kembali ke kamar. Sebelum Richard berubah pikiran dan kembali kemari.
Baru saja aku membuka pintu kamar, Drey ternyata sudah berdiri di sana mengagetkanku. Jantungku rasanya mau copot, hingga langsung terduduk lemas.
"Kau kenapa?"
Tanya Drey heran. Tidak tahukah dia jika aku baru saja terlibat dalam kekacauan.
"Bagaimana sarapannya?"
Tanya Drey lagi.
"Perutku tiba-tiba sakit. Sepertinya aku makan nanti saja denganmu"
__ADS_1
Jawabku beralasan. Tidak mungkin aku mengatakan tentang pertemuanku dan Richard. Dengan sifatnya, Drey pasti langsung emosi dan mendatangi ayahnya.
"Aku mau mandi dulu"
Ujarku mencoba menghindari pertanyaan lebih lanjut dari Drey.
*****
Liburan. Itu adalah alasan aku dan Drey berada di tempat ini sekarang. Namun sejak datang hingga sekarang, tidak ada hal menyenangkan yang terjadi. Malahan hampir setiap hari ada masalah baru. Apalagi besok kami akan kembali ke London. Jadi hari ini adalah kesempatan terakhir untuk bersenang-senang.
Kulupakan ancaman Richard padaku, hari ini aku harus menikmati liburan ini. Aku, Drey, Lara dan Archie, kami berempat menyewa mobil dan pergi mengelilingi pulau. Menuju ke bagian Selatan pulau yang cukup terkenal dengan keindahannya.
Destinasi pertama tentu saja pantai. Pulau ini memiliki suhu hangat, sehingga meski baru saja memasuki musim semi, matahari di sini sudah cukup terik. Kami bisa menikmati gelombang air pantai tanpa khawatir.
Untuk alasan privasi, Archie menyewa sebuah villa yang terletak di bibir pantai. Di sana kami bisa bermain tanpa khawatir ada gangguan. Selain itu, kami juga menikmati waktu secara terpisah.
Lara sudah mengenakan bikini di balik pakaiannya. Jadi begitu sampai langsung melepasnya dan menghilang entah kemana dengan Archie. Meninggalkan aku dan Drey sendirian di sana.
Angin langsung kencang menerpa wajahku saat aku mencoba keluar dari villa. Aroma laut yang khas juga menguar di hidungku. Matahari terik yang terasa membakar, tetapi nyaman di saat bersamaan.
Ini dia. Ini liburan yang kudambakan.
Aku sudah hendak kelepasan berlari ke pantai hingga Drey harus menarik tanganku.
"Kenapa?"
Tanyaku heran.
"Kau tidak ganti?"
"Ganti apa? Aku tidak bawa baju ganti"
"Kita di pantai, bukankah seharusnya kau memakai bikini?"
Aku benar-benar ingin melemparkan pria ini ke laut di depan sana. Kemarin marah-marah dan membuatku trauma memakai bikini, sekarang mendesakku memakainya.
"Aku tidak punya"
Jawabku sambil hendak berlari, namun ditahan Drey lagi.
"Kenapa lagi?"
"Tenang saja, aku sudah membawanya untukmu"
"Cepatlah ganti"
Drey sudah menyerahkan bikini itu ke tanganku dan mendorongku ke kamar mandi.
"Tidak, tidak, aku tidak mau memakainya!"
Tolakku sambil mendorong balik Drey walaupun sia-sia. Drey tidak bergeming.
"Archie akan melihatku. Kau tidak suka itu kan?"
Kukeluarkan alasan sekenanya.
"Archie tidak akan tertarik padamu"
Jawab Drey dengan tawanya yang jahil. Kali ini dia mendorongku dengan kuat hingga aku masuk ke kamar mandi. Drey langsung menutup paksa dari luar, dan aku juga terpaksa menuruti keinginannya.
*****
"Apa warna kulitmu sedang menyesuaikan diri dengan warna bikininya? Sama-sama merah"
Drey menertawaiku dengan keras sejak aku selesai ganti baju. Rasanya ingin ku tenggelamkan dia ke laut. Dia memaksaku memakai bikini hanya untuk menggodaku habis-habisan.
Drey benar-benar meruntuhkan kepercayaan diriku. Padahal butuh keberanian menunjukkan diriku pada pria yang kusukai.
"Apa kau sedang meniru trenggiling sekarang? Tubuhmu menekuk di sana sini"
Drey masih belum berhenti. Kali ini mengomentari tangan dan kakiku yang sibuk menutupi tubuhku gara-gara dia tidak berhenti menjahiliku.
"Aku akan ganti"
Aku segera memutar langkah untuk kembali ke kamar mandi. Tangan Drey lebih cepat menahan tubuhku. Dia sudah mengangatku dan membopongku keluar.
Sontak saja tindakannya itu membuatku terkejut. Dia memanggulku seperti karung beras, sambil tertawa. Persis seperti yang pernah ia lakukan saat awal pacaran. Aku juga spontan berontak, walau tidak didengarnya. Kali ini Drey menurunkanku di pantai. Hingga kakiku akhirnya bisa merasakan sensasi dari tekstur pasir.
Drey masih tertawa melihatku kesal. Semacam aku ini adalah mainan baginya.
"Jangan khawatir, kau cantik sekali. Tidak perlu menyembunyikan dirimu"
__ADS_1
Sebuah pola yang mudah ditebak dari seorang Drey. Setelah menggodaku, dia pasti akan merayuku dengan mulut manisnya. Sialnya, berapa kalipun aku mengalaminya, aku masih jatuh dalam pola itu. Entah kemana perginya kekesalanku tadi, menguap begitu saja.
Drey merentangkan tangannya padaku, dan aku tak bisa menolaknya. Menerimanya, membiarkan ia menggenggam erat tanganku.
Pantai ini seakan hanya milik kami berdua. Sunyi tanpa siapapun. Hanya ada suara deburan ombak dan semilir angin. Mengiringi langkah kami menyusuri garis pantai. Hanya dengan begini saja aku sudah bahagia. Aku bisa merasakan atmosfir liburan yang menyenangkan.
Aku berharap kedamaian ini akan terus berlangsung.
Namun tepat saat aku memikirkan hal itu, Drey mendorongku. Aku kehilangan keseimbangan dan langsung terjungkal masuk ke dalam air. Aku bahkan tidak sempat berteriak.
What a jerk he is!
Drey menertawakanku lagi. Sepertinya mengganggu atau membuatku kesal adalah hobinya. Tidak bisakah Drey berdamai denganku sebentar saja?
Aku segera mengambil segumpal pasir yang masih basah oleh terjangan air laut. Lalu sekuat tenaga melemparkannya pada Drey.
"Plok"
Suara pasir itu saat mengenai tubuh kekar Drey. Suara yang keras, sekeras tubuhnya. Membentuk noda aneh di sana setelah luruh. Kali ini gantian aku yang tertawa. Namun tidak berlangsung lama, karena Drey sudah menerjangku untuk kembali masuk ke air.
"Aaahhh.....!!!"
Jeritanku sukses membelah kesunyian di pantai itu.
******
Basah, kotor, dan lengket semua. Itulah gambaran tubuh kami berdua setelah seharian bergulat dengan air dan pasir di pantai ini. Kami berhenti setelah kelelahan dan langit telah berubah warna menjadi jingga, tanda senja telah tiba.
Aku lupa kapan terakhir kali bersenang-senang seperti ini. Lima tahun belakangan ini, yang ku ingat hanyalah mengenai pekerjaan. Aku tidak pernah memiliki kehidupan normal seperti ini.
Namun warna senja di langit seolah menyadarkanku bahwa kesenanganku akan berakhir hari ini. Besok aku harus pulang. Kembali ke rutinitasku. Mungkin akan sulit juga bagiku menghabiskan waktu dengan Drey sebanyak hari ini.
Rasanya aku kecewa sekali. Berharap mengulang hari pertama kami di sini. Aku pasti akan menghabiskan waktu dengan lebih baik.
Aku memperhatikan Drey yang masih asyik memainkan kakinya di air. Persis seperti anak kecil yang baru pertama kali datang ke pantai. Staminanya besar sekali, aku saja sudah tidak sanggup berdiri.
Mungkin karena sedang merasa kecewa, melihat Drey saat ini mengingatkanku lagi pada masalah lain. Ini salah Drey karena begitu mirip dengannya. Aku jadi ingat Richard dan ancamannya. Padahal aku tidak pernah bermaksud menantangnya, tetapi kini dipandang sebagai lawannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Karena terlalu banyak melamun, aku tidak sadar kalau Drey ternyata sudah duduk di sampingku. Bukan hanya itu. Sebuah handuk besar sudah dilingkarkannya pada tubuhku. Entah kapan dia mengambilnya.
Memikirkan ayahmu.
Ingin aku menjawab seperti itu. Namun aku tahu, hubungan mereka sudah buruk. Kejujuranku hanya akan membuatnya makin berantakan.
"Aku tidak ingin pulang besok"
Kilahku. Tidak sepenuhnya bohong juga.
Drey merapatkan tubuhku padanya.
"Kenapa mengkhawatirkan hal yang baru terjadi besok? Nikmati saja yang ada sekarang. Kau akan rugi melewatkan suasana matahari terbenam yang indah"
Jawab Drey santai. Sungguh jawaban tidak simpatik dan tidak bertanggung jawab. Namun aku tidak membencinya. Dia membuatku merasa ditarik untuk memeluknya.
Memang senja yang indah. Seakan disajikan hanya untuk dinikmati kami berdua. Aku benar-benar tidak boleh melewatkannya. Ini adalah saat paling tepat untuk memulai pembicaraan lebih dalam dengan Drey.
"Boleh aku bertanya?"
Tanyaku. Drey menjawabnya dengan anggukan.
"Seandainya ayahmu tidak menyukaiku dan memintamu meninggalkanku, apa yang akan kau lakukan?"
Aku bisa merasakan tubuh Drey sedikit menegang saat mendengar pertanyaanku. Menurutku itu wajar. Ini seperti aku memintanya memilih antara aku dan ayahnya. Hanya saja, aku ingin memastikan. Bahwa aku tidak berusaha berjuang sendirian untuk meyakinkan ayahnya.
"Jika aku adalah anak yang penurut, aku pasti sudah berhenti bermain sepak bola sekarang"
Jawaban yang sama sekali tidak ku duga.
Apakah artinya...
Belum selesai aku menyimpulkan, Drey sudah mengangkat tubuhku dalam pangkuannya. Menempatkanku untuk berhadapan dengannya. Hingga aku bisa melihat wajahnya yang kini disinari oleh warna jingga dari senja. Drey menempelkan dahi kami dan berkata,
"Ada dua hal yang tidak akan pernah kulepaskan dari hidupku. Itu adalah sepak bola dan kau"
Rasanya ada kupu-kupu terbang dari dadaku. Lalu menyebarkan kebahagiaan lewat aliran darahku, bergerak ke setiap inci tubuhku. Memenuhiku. Menghapus yang lain dan hanya membiarkan perasaan pada Drey untuk tinggal.
Jika saja cinta punya warna, mungkin warnanya seperti yang saat ini ku lihat pada Drey.
Kini aku tidak menyesal menentang Richard. Bagiku Drey layak diperjuangkan. Meskipun aku tidak akan pantas untuknya, aku tidak bisa begitu saja membiarkan orang lain datang dan mengacaukannya.
__ADS_1
Drey sudah meraih bibirku. Memanfaatkan kelengahanku, dia memulai petualangannya. Ini mungkin rasa termanis yang pernah ia berikan padaku. Begitu lembut membasahi bibirku.
Drey memangkas jaraknya. Tangannya telah masuk ke dalam handuk dan berhenti di punggungku. Aku bisa merasakan suhu tangan Drey dengan jelas di sana. Menari-nari seakan menggodaku. Menelusurinya seakan ingin menghafal garis punggungku. Aku bahkan tidak sanggup menolak buaiannya. Yang bisa kulakukan hanya meresapi semua rasa yang Drey berikan.