Sugar

Sugar
Home's Trouble


__ADS_3

Akhirnya rumah! Setelah lima tahun, akhirnya aku bisa kembali melihatnya. Walaupun bentuknya sudah berbeda jauh dari sebelumnya. Begitupun orangnya. Banyak yang tidak ku kenali lagi. Ternyata sudah banyak hal berubah selagi aku jauh dari sini. Kecuali kegilaan ayahku saat menyambut Drey. Hal lebih buruk apa lagi yang bisa terjadi?


Tentu saja ada. Ibuku langsung mencubitku keras sekali meski baru saling bertatap muka. Aku yakin cubitan itu membekas di pinggangku.


"Siapa yang mengajarimu seperti itu?!"


Omel ibuku. Ini adalah tentang video saat aku mencium Drey. Ibu ternyata masih dendam tentang hal itu.


"Aku khilaf, Bu"


Ujarku sedikit memelas. Namun tetap saja sebuah pukulan dihadiahi untukku. Dan aku tidak bisa protes. Dulu aku pernah berjanji tidak akan mengikuti pergaulan ala barat. Meski tidak ada kesepakatan pasti di antara kami, pergaulan seperti apa. Tindakan berciuman di depan umum ternyata diartikan ibuku sebagai salah satunya. Sudah untung aku tidak ditendang sebagai anak, jadi aku hanya bisa menerima kemarahan ibu.


Untungnya juga, keluarga dan saudara sedang berkumpul di sini. Jadi, kemarahan ibuku tidak berlangsung lama. Dia harus menyambut Drey dan mengenalkannya pada semua orang.


*****


Karena kamarku dipakai oleh Drey, mau tidak mau aku harus tidur dengan Mona. Aku tidak tahu bisa disebut dekat dengannya atau tidak. Kami berbicara selayaknya saudara kandung lain, hanya saja terbiasa hidup berjauhan. Jadi tidur berdua begini sedikit canggung.


Sejak kecil, aku tidak pernah terbiasa memanggilnya dengan sebutan kakak. Walau kami terpaut tiga tahun. Mungkin karena mengikuti keluarga Ayah. Sejak di New Jersey, memanggil saudara kandung dengan sebutan nama sudah cukup.


"Mon, mau jadi pengantin pakai perawatan apa?"


Tanyaku penasaran. Ku lihat seharian Mona hanya mondar mandir tanpa melakukan apapun. Padahal kalau aku hendak menghadiri acara penghargaan, sehari sebelumnya sudah melakukan pembersihan dari atas sampai bawah. Kata Daniel, agar auranya keluar.


"Aku kan merawat hati, bukan luarnya"


Jawab Mona sengak. Ingin ku lempar mulutnya yang sebelas dua belas dengan Daniel itu.


"Iya, kan hatimu jelek"


Balasku sengak juga. Mona segera menggunakan jurus andalannya, menjatuhkan aku ke kasur. Kami berdua segera bergulat. Hanya sebatas kelitikan.


"Tok...tok"


Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamar. Aku yang lebih dulu turun.


"Drey?"


Ternyata Drey yang sedang di depan pintu dengan wajah meringis.


"Toilet"


Ujarnya singkat. Namun sudah cukup memberitahuku bahwa dia ingin minta diantar.


Kamarku memang satu-satunya yang belum dilengkapi fasilitas kamar mandi dalam di rumah ini. Karena sejak rumah ini direnovasi, kamar itu belum dipakai lagi.


"Sebentar, akan ku beritahu Mona"


Maksudku sebenarnya adalah aku akan pamit dulu pada Mona, dan Drey secara cepat menarik lenganku.


"Denganmu saja. Jangan dia"


Ujar Drey membuatku heran. Ekspresi nya juga kelihatan tidak nyaman saat menyebut nama Mona.


"Ya, aku hanya memberitahunya saja"


Barulah Drey melepaskan tanganku.


"Mon, aku turun dulu"


"Mau ngapain? Cari alasan biar bisa masuk ke kamar cowokmu ya?"


Tuduh Mona.


"Somprett!!"


Umpatku sambil menutup pintu. Bisa ku dengar suara tawa Mona.


Setelah itu aku mengantar Drey untuk turun. Di lantai bawah masih ada beberapa orang, baik yang melakukan kegiatan begadang atau membersihkan sisa makan malam tadi. Terpaksa kami pergi ke toilet luar, karena banyak sekali ibu-ibu di dapur.


Sudah lama aku tidak melihat halaman belakang. Seram juga di sini kalau malam. Tempatnya terlalu luas hingga penerangan tidak mampu menjangkau semuanya. Aku sampai merapat ke pintu toilet. Bahkan saat Drey membuka pintu toilet saja aku terjengit kaget.


"Kenapa?"


Tanya Drey saat aku mengelus dada. Aku hanya menggelengkan kepala dan menggandeng lengannya. Rencananya kami akan langsung kembali ke dalam.


Namun saat kami berpandangan, seolah membaca keinginan hati masing-masing. Akhirnya kami berbelok ke arah pondok di belakang.


Mungkin karena di rumah kami terbiasa menempel satu sama lain, jadi di sini rasanya ada jarak di antara kami. Banyak juga mata mengawasi kami. Mumpung ada kesempatan berduaan, harus dimanfaatkan.


"Ternyata tempatmu dilahirkan indah sekali ya"


Ujar Drey.


"Aku kan tidak lahir di sini"


Ralatku. Ada sedikit keterkejutan di wajah Drey.


"Aku lahir di New Jersey sebelum pindah kemari saat berusia tiga tahun"


"Ah... Benar juga. Aku lupa tentang itu. Tapi, sekarang ini tanah airmu kan?"


Kilah Drey. Aku hanya tertawa dan mengangguk. Ternyata ada hal tentang diriku yang tidak diketahui Drey juga.


"Kenapa suasananya jadi begini sih"


Keluh Drey. Mungkin tadinya dia ingin menggombaliku. Sayangnya ucapannya salah. Lagipula hari ini juga sedang tidak indah sama sekali. Langit berawan, tidak kelihatan bintang ataupun bulan. Di sini juga gelap dan terkadang nyamuk terlihat berterbangan di sekitar kami.

__ADS_1


Kami hanya bisa tertawa kecut. Semua itu tidak penting. Yang paling penting saat ini kami sedang bersama.


Aku menelusupkan lenganku dalam lengan Drey. Hangat sekali berada di dalam rengkuhannya. Aku bersandar pada bahunya dan mencium aroma tubuhnya yang begitu ku rindukan. Aku selalu berharap Drey menyukai tempat ini.


"Sugar..."


"Hm... Ada apa?"


"Sepertinya kakakmu tidak menyukaiku"


Aku langsung menatap heran pada Drey. Dia biasanya bukan orang yang mudah terpengaruh dengan sikap orang lain. Lagipula Mona tidak pernah bilang tidak suka pada Drey.


"Kenapa kau bicara begitu?"


"Dia terus menghindariku. Tidak begitu nyaman saat ku sapa. Bahkan terkadang sepertinya ia takut saat melihatku"


"Bukankah itu hanya karena Mona pemalu? Dia selalu seperti itu pada orang baru apalagi laki-laki. Jadi jangan terlalu dipikirkan"


Hiburku.


"Ya, ta--"


"Ehem..ehem"


Suara dehaman mengejutkan kami. Aku dan Drey otomatis memisahkan diri dan menoleh.


Ibu??!!


Tatapan tajam yang mirip pisau baru diasah itu langsung menghujamku.


"Hm... Kayaknya enak ya berduaan di sini"


Ibuku bicara sambil tersenyum, tetapi tangannya sudah menjewer telingaku.


"Ah...ampun!"


Drey ikutan panik. Dia langsung mencoba memisahkan tangan ibu dari telingaku.


"Ini akan menyakitinya. Hukum saja aku"


Bela Drey.


Rasanya telingaku mau putus saat ibuku akhirnya melepaskanku.


"Yang mau nikah itu kakakmu! Kok malah kamu yang mojok di tempat gelap begini"


Ibuku mungkin akan menjewerku lagi kalau saja Drey tidak menengahi.


*****


Mona tertawa terpingkal. Sangat keras sampai air matanya keluar saat melihatku digiring ke kamar sambil diomeli oleh ibu. Sudah tidak jadi berduaan, dijewer, diomeli ditertawakan pula. Sungguh malang nasibku. Aku sampai tidak sempat melihat apa yang terjadi pada Drey.


Goda Mona. Dia sepertinya senang sekali. Aku jadi teringat sesuatu.


"Mon, kamu nggak suka ya sama Drey?"


Selidikku. Tawa Mona langsung berhenti.


"Kenapa kamu Tanya begitu?"


Mona malah balik bertanya. Jadi ku ceritakan tentang pengakuan Drey tadi yang merasa tidak mendapat keramahan. Wajah Mona mendadak kelihatan serius.


"Sejujurnya, aku takut sama dia Lun. Badannya gede begitu, serem"


"Kampret! Mahluk Tuhan paling ganteng begitu dibilang serem. Mungkin minus matamu nambah Mon"


Belaku tidak terima pacarku dibilang seram. Drey bukan preman yang harus ditakuti. Mona malah tertawa.


"Yaelah...dasar bucin!"


Ledeknya.


"Apaan tuh bucin?"


"Budak cinta neng... Nggak gaul banget sih?"


"Ya mana ada orang Inggris ngomong bucin"


Protesku. Tawa kami pun pecah.


"Cuma bercanda sih, aku punya alasan lain"


Kini Mona akhirnya bicara dengan serius. Dia melepas kaca matanya lalu mengajakku bercermin secara berdampingan.


"Aku minder"


Ujar Mona. Dia menatap wajahku.


"Aku nggak mau pacarmu lihat wajahku terlalu lama dan sadar. 'kok kakaknya kayak Luna versi udik?'. Nanti dia ilfeel sama kamu"


Sepertinya kakakku ini terlalu banyak menonton film. Bagaimana dia bisa berkhayal sampai sejauh itu? Sepertinya dia cocok dengan ayah Drey. Mereka sepertinya harus menggabungkan khayalan mereka bersama. 


Namun aku bisa sedikit memahami alasan Mona seperti itu. Karena alasan yang sama juga, Mona meminta agar hubungan kami sebagai saudara kandung tidak dibuka. Karena dia takut selalu dibanding-bandingkan denganku. Wajah kami, sifat kami, semuanya.


Sejak kecil, orang di sekitar kami selalu menyebut bahwa aku lebih baik dari Mona. Padahal kami berbeda. Tidak seperti orang kembar, Hanya garis wajah yang mirip. Aku lebih banyak meniru wajah ayah dengan lekuk blasteran yang kental. Sementara Mona lebih banyak meniru ibu. Sama halnya dengan sifat. Namun orang lain tidak bisa melihat seperti itu.


Selama ada aku, Mona tidak akan bisa mengeluarkan sinarnya sendiri. Karena itu, Mona selalu minder jika sudah menyangkut tentang diriku.

__ADS_1


Aku segera merangkul Mona.


"Kamu tuh terlalu negative thinking sama Drey. Dia nggak sejahat itu kok"


Ujarku meyakinkan.


"Hm... Bucin beneran nih"


Goda Mona. Dia sudah bisa kembali tersenyum dan bercanda.


"Pokoknya Mon, lebih baik dikit lah sama Drey. Dia sudah jauh-jauh dari Inggris kesini. Masa' dikacangin? Nanti dia nggak cinta sama aku lagi gara-gara takut sama kamu gimana?"


"Iya deh, aku bakal bersikap lebih baik sama Drey"


Janji Mona. Kesepakatan itu mengakhiri diskusi kami. Untuk membahas hal baru. Karena besok Mona akan berganti status, aku dan dia memanfaatkan waktu ini untuk berbagi cerita.


Mona lebih banyak bercerita tentang calon suaminya. Aku baru tahu jika namanya Adam. Kantornya bersebelahan dengan Mona dan mereka sama-sama bekerja sebagai pegawai pemerintah. Banyak cerita lucu dalam hubungan mereka. Mona kan sangat pemalu di depan pria. Kerennya, pria bernama Adam ini bisa menaklukannya. Tanpa perlu masa pacaran yang lama, mereka memutuskan menikah.


"Aku tidak sabar pengen lihat wajah Adam kalau tahu kamu adikku"


Ujar Mona jahil. Aku sendiri juga tidak bisa membayangkannya. Namun bisa juga sebaliknya Adam itu tidak mengenaliku. Kalau kemungkinan kedua ini, pasti lebih lucu.


"Lalu, bagaimana dengan hubunganmu dan Drey?"


Kali ini gantian Mona yang memancingku untuk bicara tentang Drey.


Tanpa sadar ku ceritakan semua kisahku dengan Drey. Kali ini dalam versi paling jujur. Dari kisah awal di mana Drey memaksaku berpacaran dengannya, kami yang hampir tinggal serumah di London, bahkan sampai ayah Drey yang tidak menyukaiku.


Mona adalah orang pertama yang mendengar semua versi lengkap itu. Mungkin karena aku lebih percaya padanya. Kepandaiannya menyimpan rahasia sampai kepintarannya dalam memberikan reaksi. Rasanya lega setelah aku mengeluarkan semua itu.


"Kenapa ceritamu malah lebih rumit dari punyaku?"


Gurau Mona. Reaksi seperti ini yang ku harapkan darinya. Ia masih bisa menyikapi dengan santai walaupun adiknya sempat dipermainkan. Coba kalau aku menceritakannya pada ibu. Mungkin Drey sudah dihabisi sejak lama.


"Kalian sudah pernah melakukannya?"


Tanya Mona.


"Melakukan apa?"


"Duh, o'on banget sih nggak paham. Ya melakukan itu. Kan kalian tinggal serumah"


Ujar Mona gemas. Aku baru paham apa yang dimaksudnya.


"Kan udah ku bilang, Drey bukan cowok kayak begitu"


Protesku. Mona hanya meringis.


"Soalnya reputasinya begitu"


Aku hanya bisa melihatnya sebal. Sebenarnya Mona ini mendengarkan ceritaku atau tidak sih?


"Tapi aku bisa lihat kalau dia serius sama kamu"


Akhirnya Mona mengatakan sesuatu yang bagus juga.


"Sejujurnya aku malah iri dengan kalian. Kisah kalian itu dibanding milikku lebih dramatis, dan romantis. Kalian sudah menemukan kelemahan dan kelebihan masing-masing. Kalian sudah menemukan cara berbaikan saat bertengkar. Kalian tuh, udah kayak pasangan yang menikah bertahun-tahun tahu"


Komentar Mona.


"Aku sama Adam Aja belum sampai segitunya. Kalau kamu tanya jeleknya dia, aku belum terlalu tahu"


Tambahnya.


"Oh ya, lagu yang katanya terinspirasi dari kisah kalian itu bagus lho. Aku juga pengen dapat yang begitu. Drey romantis banget ngasih lagu itu ke kamu"


Mona senyum-senyum sendiri dengan komentarnya.


"Bukannya itu hampir sama kayak dia melamar kamu"


Kali ini ucapan Mona mengejutkanku.


"Ngaco!"


Bantahku, meskipun wajahku sudah tersipu.


"Hm... Tinggal tunggu nikahnya nih"


Goda Mona. Kami sedikit berdebat Setelah itu. Mona berbahaya sekali mencuci otakku dengan kata-katanya. Sekarang aku jadi berharap.


Kami segera tidur setelah itu. Besok Mona akan menghadapi Hari besarnya. Namun dia masih sempat berpesan sebelum tidur,


"Jalanilah kalau kamu merasa bahwa dia pria terbaik yang bisa kamu miliki"


******


Aku masih beberapa kali menguap saat didandani. Menjadi wanita memang ribet. Acara dimulai pukul delapan dan sudah dandan sejak pukul enam. Padahal karena tidur terlalu larut semalam, aku masih mengantuk.


Aku bahkan hanya beberapa kali menanggapi dengan senyum saat para perias yang disewa Mona membicarakanku. Mereka tidak percaya bisa mendandani seorang Artis. Sejak datang melihatku sudah histeris. Mona yang menikah sampai kalah pamor.


Berbeda denganku yang terkantuk-kantuk di kursi rias, Mona malah tegang sekali. Beberapa kali dia memintaku memeriksa hasil riasannya. Aku sampai sungkan sendiri pada periasnya. Khawatir mereka tersinggung.


Namun melihat Mona yang didandani dengan adat Sunda, aku jadi berpikir, kira-kira jika menikah nanti, aku akan menggunakan adat mana ya? Apa Swiss memiliki pakaian adat pernikahan juga?


Aku segera menepis pikiranku. Ini gara-gara ucapan Mona semalam. Aku jadi berpikir sampai sejauh itu. Drey saja tidak pernah membicarakannya.


Selesai dirias dan berganti pakaian, aku menunggu Mona. Antara penasaran dengan hasil akhir riasannya, juga lebih baik jika kami keluar bersama.

__ADS_1


Setengah jam sebelum waktu acara, akhirnya Mona selesai dan kami keluar. Di saat yang lain mengagumi kecantikan Mona, aku sibuk mengagumi yang lain. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah Drey. Dia terlihat sangat tampan dan gagah dalam balutan busana batik. Aku tidak sempat melihatnya kemarin karena diusir oleh ibu. Namun Drey cocok mengenakannya.


Aku tersenyum puas dan segera menggandeng Drey. Mengklaim bahwa pria tampan ini milikku. Mungkin benar kata Mona kalau aku bucin pada Drey. Aku tidak menolak kenyataan itu. Dia memang satu-satunya yang paling memesona bagiku.


__ADS_2