
"Tentu saja Drey juga pantas menjadi nominasi, kau saja yang tidak jeli mengenali bakat seseorang!"
Aku tersenyum geli mendengar Sullivan yang memarahi Daniel. Dia tidak terima karena Daniel memuji Leon Ambrossini, pemain yang mendapat gelar pemain sepak bola terbaik tahun ini. Lalu mengatakan bahwa aku harus seperti dia agar dinominasikan untuk gelar yang sama.
Mereka kemudian berdebat, meskipun sudah jelas Daniel yang kalah. Aku sendiri tidak bisa mengikuti diskusi panas mereka. Aku tidak bermain sepak bola untuk ambisi sebesar itu. Lagipula pikiranku tertuju pada hal lain.
Luna memiliki keluarga yang bahagia. Walaupun orang tuanya konservatif, dan kakaknya yang tidak bisa mengakui hubungan mereka secara terbuka. Dia jelas dibesarkan dalam keluarga yang normal. Keluarga itu juga yang ia berikan padaku.
Sedangkan aku? Bahkan untuk sekedar bercerita mengenai ayah dan ibu kandungku, aku malu. Aku tidak bisa menawarkan hal yang sama padanya. Mungkin juga sulit bagiku mempertemukan Luna dengan seluruh keluargaku nantinya.
Jadi meskipun Lucy cukup baik menyambut Sullivan dan Mutia, aku yakin mereka akan bertanya-tanya tentang ayahku. Sosok itu tidak kelihatan kehadirannya sama sekali di rumah ini. Itu membuatku takut. Jika Sullivan dan Mutia mungkin kecewa mengetahui kondisi keluargaku. Kemungkinan terburuk, mereka tidak akan bisa melepaskan Luna pada keluarga yang kacau ini.
Padahal aku pun berharap bisa memberikan hal yang sama pada Luna.
"Drey, tolong bantu aku sebentar"
Panggilan Luna untuk sementara mengalihkan isi pikiranku. Aku segera pamit pada Sullivan dan Daniel untuk mengikuti Luna yang berjalan ke dapur.
"Tolong letakkan ini di sana"
Luna menyerahkan beberapa gelas padaku sambil menunjuk rak yang ada di atas. Luna harus menaruh kembali gelas-gelas itu di sana, tetapi tingginya tidak sampai.
Rak tempat gelas itu memang diletakkan terlalu tinggi. Hanya aku dan Lucas yang bisa menjangkaunya. Sehingga aku bisa menata gelas-gelas itu dengan mudah. Lucy sengaja membuatnya begitu karena dia berpikir Lucas akan tinggal di sini. Jadi sebenarnya rak itu tidak berfungsi dengan baik.
"Kau kenapa?"
Pertanyaan Luna membuatku menghentikan kegiatanku.
"Kenapa memangnya?"
Tanyaku balik dengan heran.
"Kau kelihatan murung dan banyak melamun sejak di jalan. Apa kau sedang ada masalah?"
Luna benar-benar tak ada hentinya mengejutkanku. Bagaimana bisa dia bisa dengan jelas melihat ke dalam diriku. Padahal aku sudah berusaha keras menyembunyikan kegelisahanku. Berpura-pura bersikap normal seperti biasa.
Aku tidak langsung menjawab. Kuselesaikan dulu tugasku. Setelah menutup rak itu, baru aku melihat kepada Luna. Sungguh mata hitam yang tajam. Tidak ada yang bisa kusembunyikan darinya.
"Aku... hanya sedang-"
"Apa orang tuaku membuatmu tidak nyaman? Apa kau tidak suka jika orang tuaku datang kemari?"
Cecar Luna. Aku tahu dia bukannya sedang marah padaku. Melainkan khawatir.
"Bukan begitu"
Aku memegang kedua bahu Luna dan menatapnya lekat.
"Maaf aku tidak memiliki keluarga yang sempurna sepertimu"
Mungkin tanpa sadar aku sedikit mengeratkan genggamanku pada Luna saat menyebut kata "keluarga". Karena aku sangat minder.
Dia kemudian melingkarkan lengannya di pinggangku. Lalu meletakkan dagunya di dadaku agar bisa menatap mataku. Ada senyum lembut di wajah Luna.
"Kau sudah cukup sempurna bagiku"
Kata-kata yang diucapkan Luna dengan wajah polosnya itu menghantam keras kepalaku. Mengalirkan desiran bahagia yang mengisi tiap rongga di paru-paruku, hingga sulit bagiku bernafas dengan baik. Jantungku harus memacu lebih cepat untuk mengambil oksigen, dan aku bisa mendengar detakannya dengan jelas.
Apakah Luna juga mendengar degup jantungku?
Wajahnya yang begitu dekat dengan dadaku, membuatku yakin dia mendengarnya. Namun kini aku sudah tidak peduli. Luna harus tahu aku menyukai ucapannya.
Aku tak bisa memungkiri bahwa Luna memberiku banyak pengalaman pertama dalam cinta. Dia gadis pertama yang mampu meluluhkanku hanya dengan kata-katanya. Aku bersyukur bertemu dengannya. Karena kata-kata mungkin tidak cukup mengungkapkannya, aku tahu apa yang mesti kulakukan.
Kuhantarkan sebuah kecupan di keningnya. Hanya dipenuhi rasa sayang dan tanpa nafsu.
"Itu untuk janjimu semalam"
Aku teringat bagaimana sebelumnya Luna mencium pipiku saat di mobil. Sekarang aku tahu seperti apa perasaan Luna saat melakukannya. Terkadang ada hal yang tak akan cukup kami ekspresikan melalui kata-kata.
Mataku dan Luna saling mengunci. Seolah hanya ada kami berdua di sini. Aku tergoda untuk menikmati waktu ini. Karena itu tanganku telah memegang kepalanya untuk membawa wajahnya mendekat kepadaku. Ingin kupagut bibir yang sudah mengucapkan kalimat manis itu.
"Ehem...ehem..."
Suara dehaman membuat aku dan Luna secara spontan saling mendorong untuk berpisah. Dengan wajah sama-sama merah, kami melihat ke arah Lara yang sudah berdiri di depan dapur.
"Aku tahu perasaan kalian sedang menggebu-gebu, tetapi tahanlah sedikit. Setidaknya lakukanlah di kamar yang terkunci, jangan di dapur. Bagaimana kalau orang lain yang lewat tadi"
Ujar Lara menggoda. Luna langsung menutup wajahnya dan ngacir begitu saja. Membuat Lara tertawa terbahak-bahak.
"Dasar pengganggu!"
Umpatku.
******
"Kenapa kalian membawa banyak sekali oleh-oleh sih? Aku kan bisa mengirimkannya lain waktu"
__ADS_1
Omel Luna yang tergopoh membawa dua tas besar berisi barang-barang yang dibeli orang tuanya selama di London. Sullivan sampai harus membawa koper tambahan untuk mengangkut oleh-olehnya itu.
"Kalau kau yang mengirim namanya bukan oleh-oleh"
Sanggah Mutia. Luna hanya mendengus kesal. Akhirnya dia juga membantu memasukkan semua barang itu.
Aku hanya memperhatikan perdebatan ibu dan anak itu dari kejauhan. Sullivan malas membantu persiapan, dan mengajakku untuk menikmati kopi saja.
Hari ini Sullivan dan Mutia akan pulang ke Indonesia. Sehingga tak banyak lagi waktu bisa kami habiskan bersama. Aku juga tidak mengira jika pertemuan beberapa hari ini terasa tak cukup. Rasanya aku ingin bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan mereka.
Aku menatap wallpaper yang sempat terkelupas tempo hari. Sudah kembali menutupi pintu penghubung ke rumahku. Sullivan memutuskan untuk memakunya pagi ini karena merasa terganggu. Aku lega karena keberadaan pintu itu tidak pernah dipertanyakan.
"Sekarang sudah tertutup rapat ya"
Komentar Sullivan yang menyadari aku sedang memperhatikan wallpaper itu.
"Iya, terlihat lebih baik daripada sebelumnya"
"Aku tidak memasang pakunya dengan rapat, jadi kau bisa membongkarnya nanti. Pasti akan repot jika kau harus berjalan memutar untuk pulang"
"Ya, tentu sa-"
Tenggorokanku tercekat sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
"Jalan memutar untuk pulang?"
Aku melihat Sullivan yang tersenyum padaku. Bukan senyuman yang biasanya ia perlihatkan. Terlihat seperti orang yang baru saja menangkap basah pencuri.
"Pintu itu..."
"Menuju rumahmu kan?"
Potong Sullivan. Tidak salah lagi. Dia jelas tahu apa yang aku dan Luna sembunyikan. Tiba-tiba aku merasa bersalah dan malu. Mataku tidak bisa menatap Sullivan dan berakhir menundukkan kepala.
"Ss...sejak kapan kau mengetahuinya?"
Tanyaku dengan nada bergetar.
"Sejak awal melihat wallpaper aneh itu, padahal putriku adalah orang yang pemilih menyangkut masalah interior"
Jawaban Sullivan terdengar mengintimidasi, menampar akal sehatku. Mulutku langsung bungkam, bahkan otakku yang biasanya encer membuat alasan langsung berhenti berpikir. Kupikir Sullivan mungkin akan memukulku apapun jawabanku.
"Tidak perlu menyembunyikan wajahmu, aku tidak akan memukulmu"
Ujar Sullivan seolah membaca pikiranku.
Sullivan benar. Aku adalah seorang pria, tidak harusnya melarikan diri. Aku harus menghadapinya dengan jantan. Perlahan, aku pun mengangkat wajahku dan menatap Sullivan.
Dengan suara lantang aku mengakui kesalahanku. Padahal sebenarnya jantungku seolah akan melompat keluar saking gugupnya.
Di luar dugaanku, Sullivan justru tersenyum.
"Baguslah kalau kau berani mengakuinya, kalau kau tetap berkelit atau menyalahkan Luna, mungkin aku akan mempermasalahkannya"
Jawab Sullivan.
"Apa... Kau tidak marah?"
Tanyaku heran.
"Tentu saja awalnya aku marah. Seorang pria tanpa ikatan pernikahan berani sekali tinggal dalam rumah yang terhubung. Hampir sama saja artinya kalian tinggal seatap"
Jawab Sullivan keras.
"Namun... Aku mencoba berpikir dari sisi lainnya. Pintu itu ada karena kau menghargai Luna. Pintu itu tidak hanya penghubung, tetapi juga pembatas. Kau tahu garis mana yang tidak boleh kau lalui"
Suara Sullivan terdengar lembut sekali. Dan itu mengiris hatiku. Memberikan rasa bersalah yang dalam. Rasanya aku sudah mengkhianati orang tua yang sangat menyayangi anaknya.
Berkat pembicaraan tentang pintu itu, Sullivan membuka dirinya. Mengatakan semua cerita yang lebih mengejutkan daripada pintu itu.
Saat pertama mendengar kabar kencanku dan Luna, Mutia sebenarnya keberatan. Aku punya reputasi yang buruk dengan banyak wanita. Hal itu mengganggunya. Sementara Sullivan berpikir bahwa Luna mungkin hanya bermain sebentar denganku seperti para wanita lain. Dia meyakinkan Mutia tentang hal itu.
Namun, mereka berubah pikiran saat mendengar bahwa Luna dan aku sama-sama tinggal di London. Begitu juga dengan besarnya pemberitaan tentang kami yang bertahan lama, tanpa ada tanda-tanda akan putus. Mereka khawatir. Luna boleh bermain, tetapi tidak boleh terlalu lama. Itu pendapat mereka.
Mutia dan Sullivan akhirnya kemari untuk melihat sendiri seperti apa aku, dan seperti apa hubungan antara aku dan Luna. Sullivan yang terus mengajakku bicara tanpa henti dan Mutia yang mendiamkanku sepanjang waktu adalah salah satu taktik mereka untuk mengujiku. Tanpa disangka, ternyata aku meninggalkan kesan cukup baik di mata mereka.
Sullivan hampir kehilangan kesabaran saat melihat pintu itu. Dia memilih menahan diri dan mengawasi lebih lama. Tanpa mengatakannya pada Mutia tentunya. Sebagai ibu, Mutia mungkin tidak akan bisa berpikir jernih.
"Aku juga melihat apa yang kalian lakukan di dapur"
Aku menelan ludah pahit mendengar pengakuan Sullivan.
"Aku hampir saja mengangkat kursi untuk dilempar pada kalian, tapi..."
Sullivan menghembuskan nafas besar. Aku baru menyadari jika dia pun merasa gugup dalam pembicaraan ini.
"Melihat caramu memeluknya, mengingatkan pada bagaimana aku memeluk istriku. Itu adalah cara pria memeluk wanita yang sangat berharga baginya. Luna juga tersenyum seperti istriku, menandakan bahwa dia bahagia"
__ADS_1
Sullivan benar-benar menatapku dengan lembut saat ini. Rasanya aku meleleh, mendapati kehangatan dari ekspresinya. Ini adalah ekspresi dari seorang ayah.
"Aku bersikap ketat pada Luna bukan karena kolot. Aku hanya ingin memastikan bahwa Luna bertemu pria yang tepat untuk dicintai. Dia terbiasa hidup mandiri jauh dari orang tua, sehingga tidak bisa merasakan kasih sayang yang cukup dari seorang ayah. Dia juga tidak punya kakak laki-laki. Karena itu, aku tidak rela jika ada pria menyakitinya. Dia harus bertemu pria yang benar-benar mencintainya, dan bisa ia jadikan tempat bergantung"
Aku mencoba mencerna setiap kata Sullivan. Lalu mengukirnya di hatiku, tanpa ada satu kata yang terlewat.
"Tetapi sebagai ayah, aku belum bisa sepenuhnya mempercayaimu. Masih panjang jalan yang harus kalian lalui agar aku tahu kesungguhanmu"
Aku langsung menjawab dengan anggukan. Sullivan langsung meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
"Sebagai ayah, aku tidak berharap banyak. Aku hanya ingin kau berjanji. Jika kau tidak sanggup menjaga Luna untuk selamanya, tolong jangan rusak dia. Jangan ambil hal paling berharga baginya, dan kembalikan hatinya pada tempat semula"
"Aku berjanji akan melakukannya. Akan kujaga Luna tanpa mengecewakanmu"
Jawabku tegas.
******
"Drey, aku akan membawa ini ke depan, tolong panggil ibu. Kita harus segera berangkat"
Ujar Luna meraih tas di tanganku, dan langsung berlalu begitu saja menyusul ayahnya yang hendak memasukkan koper ke dalam mobil.
Aku memutar langkahku dan naik ke lantai atas.
"Ya, masuk saja. Aku masih mengemas barangku"
Jawab Mutia saat aku mengetuk pintu. Aku segera masuk.
"Apa ada yang bisa kubantu?"
Tanyaku.
"Terima kasih, kalau begitu bisa minta tolong ambilkan coat di lemari Luna?"
Tanpa perlu dijelaskan lagi, aku segera membuka lemari. Aku sudah hafal seluruh pakaian Luna, jadi bisa menemukan milik Mutia dengan mudah.
"Terima kasih"
Kembali Mutia berterima kasih saat aku meletakkan coat miliknya di samping tasnya.
Aku tidak langsung pergi karena berpikir mungkin saja Mutia akan butuh bantuan lagi. Namun ternyata keberadaanku memberi kesempatan Mutia untuk bicara padaku.
"Drey, kau tadi bicara panjang sekali dengan ayah Luna, apa yang kalian bicarakan?"
Aku langsung gugup mendengar pertanyaan itu. Tidak mungkin aku membuat pernyataan bahwa kami membicarakan pintu yang menghubungkan rumah ini dengan rumahku. Sullivan sudah memberi peringatan keras agar merahasiakannya dari Mutia.
"Apa dia mengancammu?"
Tanya Mutia lagi saat aku tidak kunjung memberi jawaban.
"Bbu.. bukan. Dia hanya memberi beberapa nasehat saja"
Mutia tersenyum mendengar jawabanku.
"Tolong jangan terlalu merasa terbebani dengan itu. Ayah Luna hanya merasa cemburu"
Entah Mutia salah paham atau memang sengaja mengatakan itu.
"Cemburu?"
"Suamiku selalu berharap bisa menjadi satu-satunya pria yang bisa diandalkan di mata Luna. Namun sekarang dia harus menerima bahwa ada pria lain yang lebih menyita perhatiannya. Dia pasti cemburu"
"Dia ayah yang baik"
Jawabku malu. Mutia menjawabnya dengan anggukan setuju.
"Apakah dulu Casey juga begitu?"
Entah keberanian dari mana, aku menanyakan sesuatu yang membuatku paling penasaran. Aku menahannya saat bicara dengan Sullivan tadi. Bagaimanapun Sullivan dan Mutia pernah bertemu dengannya sebelumnya. Apalagi Luna menjalin hubungan lebih lama ketimbang denganku.
Mutia sepertinya tidak terganggu dengan pertanyaanku.
"Casey adalah seorang kakak. Dia tidak bisa menjadi kekasih untuk Luna"
Jawab Mutia dengan nada santai.
Jadi begitu.
Mutia tiba-tiba memelukku.
"Aku titip Luna ya. Dia mungkin gadis yang keras, tetapi mudah sekali patah. Tidak mudah bertahan dengannya, dan aku berharap kau bisa melakukannya"
Pesan Mutia. Rasanya aku menjadi percaya diri sekali. Tidak hanya Sullivan, ibunya pun menitipkan Luna padaku. Artinya mereka mempercayaiku.
"Dan kau"
Mutia menepuk kedua lenganku dengan keras usai melepas pelukannya.
__ADS_1
"Jangan ragu untuk bergantung pada Luna juga. Kalau dia tidak cukup, kau bisa datang pada kami. Tidak ada orang tua yang akan membiarkan anaknya kesulitan sendirian"
Aku berharap ibuku akan mendengar kata-kata Mutia. Atau setidaknya belajar cara mengatakannya. Karena meskipun hanya kalimat basa basi, itu sudah cukup membuatku menangis. Oleh tangisan bahagia, saking hangatnya hatiku.