Sugar

Sugar
A Gift (Drey POV)


__ADS_3

"Kau tidak sabaran sekali. Padahal aku sedang menyiapkan ini"


Protes Luna. Merujuk padaku yang tadi berkali-kali memanggil Luna saat lampu tiba-tiba mati.


Aku hanya tertawa menyaksikan tubuh ramping itu memotong kue sambil bercerita panjang lebar tentang kejutannya. Sambil mengenang ulang tahunku yang telah berlalu.


Mungkin sebenarnya pernah dirayakan. Dibuatkan kue dengan lilin di atasnya. Namun saat aku masih sangat kecil hingga sulit mengingatnya. Yang jelas sejak berusia 7 tahun, sudah tidak ada lagi yang semacam ini.


Hampir setiap tahun aku melupakannya. Tidak Ada yang merayakan untukku. Hanya ucapan selamat, dari fans atau teman. Selebihnya, tidak ada yang menarik dari ulang tahunku. Lagipula aku bisa datang ke pesta setiap hari jika menginginkannya. Tidak ada gunanya bagiku merayakannya.


Aku menatap kue bulat dengan tulisan "Happy Birthday Our Drey" itu. Aku mengenali tulisannya. Pasti dibuat terburu-buru oleh Luna tadi. Tulisan yang berantakan dan hampir sulit dibaca. Meskipun hanya tulisan itu yang dibuat oleh Luna, aku tetap merasa senang.


Kue itu yang membuat Sullivan dan Mutia terlambat pulang. Luna tahu aku Paling suka kacang. Jadi dia memilih kue dilapisi dark chocolate, dengan taburan almond di atasnya. Luna memberikan sepotong di depanku. Padahal aku belum mencobanya, tetapi rasa manis gurihnya seakan sudah terasa di mulutku.


Aneh sekali. Ada rasa hangat yang mengisi hatiku dengan hanya melihat semua itu. Mungkin seperti ini rasanya saat ulang tahun dirayakan. Meski hanya sederhana, tidak ada balon atau party poopers. Hanya Luna dan kuenya. Dan aku bisa merasakan kebahagiaan yang meluap di hatiku.


"Drey, lihat ini"


Luna tiba-tiba menyodorkan ponselnya. Memutar video di sana untukku. Ada gambar Mutia, Sullivan, Mona dan suaminya. Diambil barusan pada acara resepsi.


"Selamat ulang tahun Drey. Semoga kau selalu sehat dan panjang umur. Semoga kau segera menjadi pemain sepak bola terbaik dunia dan menjalani hari penuh berkah setiap harinya. Selalu dilimpahi kebahagiaan sepanjang waktu"


Kompak mereka mengatakannya, sambil tersenyum padaku.


Aku tidak bisa berkata apapun. Aku dikelilingi oleh banyak orang yang bersikap baik padaku. Apa lagi yang ku harapkan?


*****


Aku mencium aroma kopi yang harum. Membiarkannya memenuhi seluruh rongga hidungku. Kopi di sini cukup berbeda dengan yang biasa ku nikmati. Meski Luna menyeduhnya bersama dengan ampasnya, masih terasa lezat sekali. Dan lagi, ada sebuah Cara menikmati kopi di sini yang diajarkan Sullivan padaku. Sambil duduk di teras rumah, menatap langit malam.


Luna keluar dengan cangkir di tangannya yang masih mengepulkan asap. Entah minuman apa yang dibuatnya karena dia tidak minum kopi sepertiku. Dia duduk di sampingku.


"Apa kau ingin camilan?"


Tawar Luna, yang ku jawab dengan gelengan kepala. Kue yang kami nikmati barusan sudah cukup mengenyangkanku.


"Sugar..."


"Hm..?"


"Terima kasih"


Aku tahu ucapan itu terasa hambar dan tidak cukup dengan apa yang sudah ia lakukan untukku. Namun aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa.


Luna mengulas senyum.


"Jika kau berterima kasih dengan wajah serius begitu, apa yang harus ku katakan untuk semua perlakuan baikmu padaku selama ini?"


Balas Luna. Kami tertawa kecil.


"Syukurlah jika kau menyukainya. Ku pikir kau akan mengatakan padaku bahwa itu childish. Tapi aku ingin melakukannya untukmu"


Ungkap Luna.


"Memang kekanakan, tetapi aku menyukainya"


Godaku. Lagi-lagi kami hanya tertawa.


Rasanya pembicaraan ini hangat sekali. Sehangat minuman yang ada di tangan kami sekarang.


"Apa ada hadiah yang kau inginkan?"


Tanya Luna.


"Hadiah? Menurutku kau sudah menjadi hadiah terbaik untukku"


Luna tertawa.


"Aku Tanya tentang hadiah. Bukan memintamu merayuku. Sesuatu yang kau inginkan. Jadi lebih baik kau sendiri yang memilihnya. Kalau bisa mendapatkannya, aku pasti akan memberikannya. Aku ini tidak terlalu pandai memilih hadiah"


Ulang Luna.


"Kalau begitu, aku ingin kau hanya melihatku. Selamanya hanya aku. Jangan ada pria lain. Pokoknya hanya aku!"


Luna kembali tertawa.


"Sudahlah. Aku menyerah"


Jawabnya setengah bercanda.


Aku menatap gadis ini. Sudah berapa lama kami bersama? Hanya beberapa bulan. Itupun masih dikurangi penolakannya saat pertama. Namun rasanya dia telah merengkuhku lebih banyak dari siapapun. Tertawa denganku lebih banyak dari siapapun. Melihat semua keburukanku lebih dari siapapun. Serta memberikan kenangan lebih dari siapapun. Mungkin bukan Luna yang menyerah, melainkan aku. Sejak pertama aku melihatnya, aku sudah menyerah padanya.

__ADS_1


"Sugar, ada yang ingin ku ceritakan padamu"


"Huh? Apa? Ceritakan... Ceritakan. Aku akan mendengarkan semuanya"


Luna bersemangat sekali menjawab. Sepertinya dia memang ingin sekali tahu semua hal tentangku.


Aku menghembuskan nafas perlahan. Mencoba mempersiapkan diri. Ini adalah pertama Kali aku mengungkapkan ini pada seseorang.


"Ini tentang ibuku"


Sejauh yang ku ingat, orang tuaku adalah pasangan yang bahagia, dulunya. Mereka bertemu di usia 20-an di kampus yang sama. Berpacaran selama lima tahun sebelum akhirnya menikah.


Mereka saling mencintai. Itu yang ku lihat dari foto-foto masa muda mereka. Seperti pasangan yang Akan saling menjaga hingga hari tua. Namun ternyata kenyataannya tidak begitu.


Setelah aku lahir, pernikahan tidak berjalan mulus untuk mereka. Yang tersisa dari kenangan Masa kecilku adalah pertengkaran yang seperti tak Ada habis setiap harinya. Sebuah alasan yang baru ku ketahui setelah beranjak dewasa. Mereka menikah karena saling mencintai. Namun pada akhirnya merasa terikat oleh pernikahan itu. Kehilangan kebebasan, dan berakhir membenci pernikahan itu.


Mereka akhirnya berpisah. Saat aku berusia tujuh tahun. Ibuku yang seorang dokter menghilang sejak saat itu. Tidak pernah sekalipun mengirim surat atau datang ke rumah. Ayah juga sama buruknya. Sibuk dengan pekerjaannya.


Setelah perceraian itu, ayahku empat kali menikah lagi. Termasuk dengan Lucy yang terakhir kalinya. Semua berakhir sama. Gagal. Ayahku sempat berkata, "Cinta akan berubah setelah diikat oleh pernikahan". Seperti menjadikan semua pernikahannya eksperimen, dia kini berhenti melakukannya. Membiarkan hubungannya dengan Lucy mengambang. Tidak membahagiakannya atau menceraikannya.


Karena itu, aku berseberangan dengan ayah. Bagiku ia hanya perwujudan dari keburukan. Lalu membuatku berpikir bahwa ibu masih lebih baik. Dia mungkin meninggalkanku, tetapi aku yakin ibu punya alasan untuk itu. Bahkan kenapa dia tidak menemuiku. Mungkin karena ayah.


Apapun, aku mencoba berpikir bahwa masih ada ibu untukku. Karena itu aku menjadi pemain sepak bola. Karena jika aku bisa menjadi terkenal, ibuku pasti bisa melihatku. Di manapun ia berada kini. Lagipula kenangan terindah dari masa kecilku adalah sepatu sepak bola yang dihadiahkan ibuku sebelum ia pergi.


Aku berharap bisa menyampaikan itu. Bahwa dia membuatku menjadi seorang pemain sepak bola yang hebat.


"Aku tahu, bisa saja semua hanya harapanku. Ibuku bisa saja tidak ingat semua itu, bahkan padaku. Dia mungkin tidak menemuiku karena tidak pernah menyayangiku"


Ujarku menutup cerita. Saat itu, aku merasakan Luna menggenggam tanganku.


"Aku bukan pria mengagumkan yang kuat seperti kelihatannya. Apa kau kecewa padaku?"


Tanyaku. Kali ini Luna langsung menarik hidungku.


"Bukankah sudah terlambat menanyakan jika aku kecewa? Kau itu punya banyak hal lebih buruk dari itu"


Dia menatapku.


"Kau sudah menjadi pria yang hebat. Tidak ada orang tua yang tidak ingin anak sepertimu. Mereka semua pasti berharap memiliki satu seperti dirimu.


"Meskipun begitu, aku takut bertemu ibuku lagi. Bagaimana jika dia berbeda dari yang ku harapkan? Bagaimana jika sebenarnya dia tidak ingin menemuiku?"


"Aku yakin. Ibumu pasti melihatmu dari suatu tempat. Dia pasti berkata pada dirinya sendiri, 'putraku telah tumbuh dengan baik. Aku menyesal baru melihatnya'. Dia pasti juga ingat tentang hadiah yang diberikan untukmu. Ibuku saja masih ingat berapa kali mengganti popokku dalan sehari. Dan ibumu pasti, juga merindukanmu, lebih banyak dari kerinduanmu sekarang"


"Jika nanti aku bertemu dengan ibumu. Aku akan mengatakan padanya, bahwa kau adalah pria yang hebat dan mengagumkan. Aku akan membantumu mengatakan semua yang tidak bisa kau katakan padanya"


Luna seolah menarik beban dari hatiku. Aku pun tidak menyadarinya. Bahwa ternyata ada kepedihan sebanyak ini tersimpan di hatiku. Saking tidak sadarnya, aku sampai belum mengobati satupun.


"Tunggu dulu. Kalau dia melihatmu, bukankah artinya dia juga melihatku? Kira-kira apa yang dipikirkannya tentang aku? Dia tidak menilaiku seperti yang dilakukan ayahmu kan?"


Aku tertawa. Di saat begini masih sempatnya dia berkelakar.


Minuman kami telah dingin, tetapi rasanya hatiku tetaplah hangat. Aku segera memintanya naik ke pangkuanku. Menatapnya dalam-dalam.


"Aku tidak butuh hadiah apapun. Asal kau selalu di sampingku, selalu mendengarkanku, bahkan keluhanku. Tidak kecewa dengan segala keburukanku. Menjadi perisai saat aku lemah, dan mencintaiku apapun kondisinya. Bagiku itu sudah lebih dari cukup"


Luna melingkarkan lengannya di leherku. Membawaku mendekat padanya. Menyatukan kening kami dan mengunci mataku. Lalu tersenyum dan mengangguk.


Rasanya Ada kupu-kupu terbang di dadaku. Berdesir hebat. Ada sejuta perasaan campur aduk di dalam hatiku. Namun kebahagiaan adalah definisi utamanya.


Kami saling mendekat, hendak menyatukan bibir kami. Hingga suara deru mesin mobil terdengar masuk di halaman. Lampu sorot dan suara klaksonnya mengejutkan kami.


Luna spontan melepaskan aku dan berdiri, tetapi karena terburu-buru kakinya tersandung kakiku dan jatuh.


"Aduh... Pantatku"


Keluh Luna sambil mengusap pantatnya.


Aku membantu Luna berdiri saat Mutia keluar dari mobil sambil mencak-mencak.


"Laluna Gempitaaaaa!!!! Udah dibilangin kenapa masih bandel juga?!"


******


"Apa ini?"


Tanyaku memperhatikan bingkisan berbentuk kotak yang diberikan padaku barusan. Padahal aku tidak sedang ulang tahun. Kotaknya terasa berat. Aku mengayunkannya untuk memeriksa suaranya. Ada suara benda beradu dengan kardus.


"Bukalah, itu hadiah untukmu"


Aku memperhatikannya yang bicara sambil tersenyum Padaku. Mendengar kata hadiah, langsung saja ku buka kotak di tanganku. Kertas pembungkus bingkisan cantik itu kini berserakan di lantai.

__ADS_1


Mataku terbelalak saat melihat sepasang sepatu berwarna hitam dan silver itu. Aku tak sabar mengambilnya. Lalu segera mencobanya di kakiku.


"Wah... Cocok sekali"


Pujinya.


Sepatu ini memang terasa nyaman dan pas di kakiku. Aku menyukainya.


"Terima kasih ibu"


Ujarku pada ibuku yang tak melepaskan pandangannya dariku sedikitpun. Dia lalu berjongkok di depanku. Mengusap kepalaku.


"Drey, dengarkan ibu. Sekarang kau bisa bermain sepuasmu. Carilah banyak teman agar kau tidak pernah merasa kesepian. Tumbuhlah menjadi pria hebat dan bisa ibu banggakan"


Kata-kata itu terdengar menjauh. Meskipun ia mengatakan dengan senyum di wajahnya, namun malah terasa perih di hatiku. Mengirisnya dengan kejam. Jika seperti ini rasanya, aku tidak butuh hadiah itu. Tidak butuh sepatu di kakiku ini.


"Drey... Drey..."


Aku mendengar suara memanggilku. Namun bukan suara ibuku. Suara yang lebih lembut dan hangat. Menghilangkan kesedihan di hatiku. Bersama rasa usapan di kepalaku, aku membuka mata.


Aku bisa melihat wajah khawatir Luna. Dia membelai lembut kepalaku.


Ternyata mimpi.


Aku merasakan kepala dan badanku berat sekali. Rasanya juga panas.


"Demammu sangat tinggi. Apa ada yang sakit?"


Tanya Luna cemas. Dia menunjukkan termometer yang menunjuk di atas angka 38 derajat celcius. Sepertinya selagi aku tidak sadar dia sudah memeriksaku.


Aku hanya bisa menggeleng.


"Tunggu sebentar. Aku akan memanggil dokter"


Aku segera menarik lengan Luna untuk mencegahnya.


"Jangan. Aku akan minum obat Dan beristirahat. Cukup beri paracetamol"


Ujarku. Meskipun awalnya Luna ragu, dia akhirnya mengiyakan.


Aku kembali tidur setelah makan dan minum obat. Bisa ku rasakan Luna beberapa Kali mengganti kompres untukku. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya, tetapi rasanya tubuhku tidak mampu bergerak.


******


Rasanya aku telah tidur untuk waktu yang lama. Aku Tidak begitu ingat apa saja yang terjadi selama aku terlelap. Bahkan saat beberapa Kali bangun untuk makan dan minum obat. Namun ternyata cukup memberiku waktu untuk mengembalikan kondisiku.


Saat aku bangun, tubuhku sudah segar. Panasku juga turun.


Pukul tujuh.


Aku menatap jam dinding. Sepertinya aku tidur selama seharian. Aku turun dari ranjang untuk merenggangkan tubuhku. Saat itu mataku menatap jendela yang tirainya masih tertutup.


Ada yang aneh. Batinku sambil pelan-pelan membuka tirai. Ini bukan jam tujuh malam. Ini jam tujuh pagi. Ternyata aku tidur sehari semalam kemarin.


Aku segera turun mencari Luna. Rumah sepi sekali, hanya pintu belakang yang terbuka. Aku menemukan Luna yang sedang sibuk menjemur pakaian.


"Sugar, aku tidur seharian kemarin?"


Tanyaku menghampirinya. Luna sempat melihatku dengan wajah terkejut.


"Ya. Kau membuatku khawatir. Bagaimanapun aku mencoba membangunkanmu, kau tidak bergerak seperti Batu. Hampir saja aku membawamu dengan ambulans"


Protesnya. Namun setelah itu dia memeriksa keningku.


"Apa kau sudah baik-baik saja? Aku bisa memanggil dokter jika kau masih merasa sakit"


Luna nampak masih khawatir.


"Ya, aku sudah merasa lebih baik. Demamku juga sudah turun"


Luna menghembuskan nafas lega.


"Kau tidak pernah sakit jadi aku khawatir sekali. Banyak pikiran burukku. Jangan-jangan kau tidak cocok dengan suhu di sini. Jangan-jangan kau keracunan kue"


Kening Luna berlipat-lipat saat bercerita padaku. Aku pasti sudah membuatnya sangat khawatir kemarin.


"Pasti karena cerita tentang ibuku sebelumnya. Aku sempat bermimpi tentang dia kemarin"


"Kau benar-benar sudah tidak apa-apa?"


Sepertinya aku malah menambah kecemasannya.

__ADS_1


"Tidak. Mungkin ini hadiah untuk ulang tahunku"


Jawabku.


__ADS_2