Sugar

Sugar
The End of Friction


__ADS_3

Aku menatap Drey ragu. Menunggu apa yang akan diucapkannya.


"Jadi, apa kau masih marah padaku?"


Drey pintar sekali memilih pertanyaan pembuka. Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Yang bisa ku lakukan hanya memalingkan wajah tanda enggan.


"Apa aku harus memulai dari cerita perjodohan itu dulu?"


Tanya Drey lagi. Kali ini tanpa menunggu responku, Drey menceritakan kisah perjodohan yang dibuat oleh ayahnya. Tidak ada Hal baru yang mengejutkan. Ceritanya Sama persis dengan yang ku dengar dari Lara. Tentang mimpi besar Richard yang terdengar konyol bagiku.


"Ku pikir ini adalah masalah tidak penting. Lagipula aku sudah menolaknya. Hingga aku memilih tidak menceritakannya padamu. Yah.. itu salahku"


Drey mengulang pengakuannya sebelumnya.


Hal paling ku tunggu justru adalah cerita tentang pertemuan Drey dengan Priscilla. Di sanalah masalahnya. Ketika Drey memutuskan membohongiku. Dia me-reka ulang pembicaraannya dengan Priscilla waktu itu.


Drey meminta Priscilla menolak perjodohan, namun tidak ditanggapi dengan baik. Sampai di sini aku tidak tahu seberapa banyak dari ucapan Drey yang benar. Bahkan kalau berbohong lagi, aku juga tidak tahu.


"Aku mendekat karena khawatir ada yang mendengar pembicaraan kami. Lihatlah. Aku sama sekali tidak tersenyum padanya. Aku juga tidak menyentuhnya"


Drey meyakinkanku sambil menjelaskan gambarnya di foto. Kalau sudah sampai sedetail ini, aku jadi tidak bisa membantahnya.


"Aku terpaksa berbohong mengatakan jogging Karena ku pikir kau belum tahu apapun tentang Priscilla. Ini terjadi karena aku takut kau salah paham. Apapun itu, aku memang salah. Jadi aku minta maaf. Aku tidak akan berbohong seperti ini lagi padamu"


Ujar Drey sambil menatap mataku dengan serius. Tanpa ku sadari, dia ternyata sudah berlutut di depanku.


"Mulai sekarang aku akan membicarakan semuanya denganmu. Aku tidak akan menutupi apapun darimu. Apalagi berbohong. Aku janji memperbaiki semuanya, jadi ku mohon jangan abaikan aku lagi"


Tambah Drey. Kali ini aku benar-benar mati kutu. Aku bisa melihat kilat di matanya yang mengisyaratkan kesungguhannya. Setelah penjelasan dan janjinya, aku juga tidak bisa terus marah. Ku anggukkan kepalaku tanda setuju.


Drey segera merengkuhku dalam pelukannya. Dia mendekapku erat sekali seolah takut kehilangan. Perlahan, aku juga mulai menggerakkan tanganku untuk memeluknya. Mencoba berdamai dengannya dan perasaanku.


*****


You're my downfall, you're my muse


My worst distraction, my rhythm and blues


I can't stop singing, it's ringing in my head for you


My head's underwater


But I'm breathing fine


You're crazy and I'm out of my mind


Suara nyanyian dari tiga sekawan yang tinggal di pondok sebelah itu terdengar. Mereka mengalunkan lagu "All of Me" milik John Legend itu diiringi gitar.


Mungkin sebuah lagu yang menggambarkan perasaanku dan Drey saat ini. Kami memang telah terlalu gila oleh cinta. Hingga pertengkaran kemarin bisa terselesaikan dengan mudah.


Aku dan Drey mendengarkannya dari balik kaca kusam pondok ini. Berpelukan dengan tangan yang saling berpegang erat. Akhirnya, kami bisa menikmati waktu sedamai ini.


Drey mungkin kelelahan, dia sudah mendengkur halus saat lagu di luar sana berganti dengan yang lain. Seharian kemarin mengikutiku, dan masih harus pulang pergi dari sini ke pusat kota London. Drey sudah menuruti keegoisanku. Pelan-pelan aku menurunkan lengannya yang melingkar di perutku. Lalu turun mengambil selimut.


Setelah menyelimuti Drey, aku kembali duduk di sampingnya. Diam-diam memeriksa ponsel Drey. Bukan untuk menyelidiki isinya, hanya melihat media sosialnya.


Aku tersenyum geli dengan foto yang baru diunggah sejam yang lalu itu. Sudah disukai dan dikomentari banyak orang. Ide Drey memang gila.


Foto Drey dan Priscilla terlanjut beredar di luar sana. Rumor yang mengatakan bahwa Drey bermain api di belakangku juga terlanjur dibicarakan. Label pengkhianat dan terkhianati sudah disematkan pada kami. Tidak peduli apapun kebenarannya, bahkan ketika di sini kami berbaikan. Hubungan kami terlanjur di cap memiliki masalah.


Karena itu, Drey dengan idenya, membuat rencana melawan foto dengan foto. Drey ingin mengklarifikasi foto dan rumornya menggunakan cara halus. Jadi dia mengunggah foto kami berdua. Foto yang baru saja diambil dengan menambahkan caption, yang menunjukkan bahwa kami sedang berlibur.


Jika melihat hubungan kami berdua baik-baik saja, itu bisa mementahkan rumor tentang Priscilla. Sekaligus memberitahukan bahwa kami baik-baik saja. Buktinya, banyak sekali komentar positif yang diunggah di foto kami. Banyak yang bersyukur, hubungan kami baik-baik saja.


Ada gunanya juga aku kabur ke tempat ini. Akhirnya aku dan Drey malah berlibur.


Ku tatap foto kami yang sedang tertawa lebar. Pekerjaan menjadi Artis sungguh mengagumkan. Kami bisa memasang topeng palsu secepat itu. Padahal hanya beberapa menit sebelum foto itu diambil, aku masih marah pada Drey.


Yah, apapun itu. Aku lega masalah ini selesai.


Ku letakkan ponsel Drey dan akhirnya bergabung dengannya untuk tidur. Suara nyanyian di luar masih terdengar, seolah ikut bersorak memberi selamat pada kami.


*****


"Kau belum mandi sejak kemarin?"


Goda Drey sambil tertawa besar. Dasar! Penyakit lamanya itu kumat lagi.


Aku hanya bisa memalingkan wajah malu. Di sini tidak ada fasilitas mandi, tentu saja aku hanya mencuci muka. Dia juga tidak perlu menyebutkan hal itu keras-keras. Dia membuatku minder sekarang.


Berkali-kali aku mencoba mencium badanku memeriksa baunya.

__ADS_1


"Berhenti!"


Semburku kesal saat Drey masih menertawakanku.


"Baiklah, baiklah... Tunggu sebentar"


Ujar Drey setelah puas tertawa. Aku menunggu apa yang akan dilakukannya.


Drey keluar dari pondok. Lalu berjalan ke pondok tiga sekawan. Mengetuk pintunya karena.


Apa yang akan dia lakukan?!


Tanyaku yang hanya bisa memperhatikan dari balik kaca pondok. Drey datang kesana tanpa mengenakan masker atau apapun untuk menyembunyikan wajahnya.


Tak lama, pintu dibuka. Aku bisa melihat eskpresi terkejut mereka saat melihat Drey. Setelah itu mereka berbicara sebentar dan Drey kembali.


"Apa yang kau lakukan?"


Tanyaku begitu dia masuk ke dalam pondok.


"Aku bertanya pada mereka di mana tempat untuk mandi di sini"


"Bukan itu! Apa tidak masalah mereka mengenalimu?"


Bukannya menjawab, Drey malah tersenyum. Membuatku mengernyitkan kening, bingung.


"Yah, mereka cukup terkejut sih. Semoga posisi kita ini tidak diunggah di internet, lalu orang-orang berdatangan kemari"


Aku menatap tak percaya pada Drey.


Sebenarnya dia ini sedang bercanda atau tidak sih? Santai sekali


"Tidak apa-apa, mereka orang baik"


Ujar Drey kemudian sambil meluruskan keningku yang berkerut.


"Kembali pada topik, ada tempat untuk mandi di dekat sini. Bagaimana? Apa kau mau kesana?"


Dengan cepat Drey sudah mengalihkan pembicaraan. Kalau sudah begini mana mungkin aku menolak.


"Di mana?"


"Di sungai belakang area perkemahan"


Drey menganggukkan kepalanya. Kini aku harus berpikir lagi untuk mengiyakan. Artinya, aku harus mandi di area terbuka?


"Sepertinya.... Tidak usah"


Jawabku berubah pikiran.


"Kenapa? Airnya bersih. Kalau kau khawatir diintip, aku akan Mandi denganmu. Akan ku dekap kau erat sampai tidak ada yang bisa melihatmu"


Aku segera melayangkan pukulan pada Drey. Senyumnya yang penuh harap itu menyebalkan sekali. Kalau begitu, dia yang untung banyak. Dasar pria mesum!


Drey tertawa keras.


"Hanya bercanda. Ada pemandian umum, tetapi kita harus turun ke bawah pos penjaga"


Aku memukul Drey lagi. Senang sekali dia bisa menggodaku!  Argh...!


******


Rasanya segar sekali bisa menyentuh air lagi, setelah dua hari ini. Aku membersihkan setiap inci tubuhku tanpa terlewat. Di luar dugaan, bilik mandi di sini cukup bersih. Airnya juga jernih dan sejuk.


"Tok... Tok"


Sayangnya, bilik ini terbuat dari kayu. Tidak kedap suara dan orang di sebelahku bisa mengetuknya. Siapa lagi kalau bukan Drey.


"Aku pinjam sabunnya"


Ujar Drey. Tidak perlu bersuara keras, kami bisa berbincang di sini. Buyar sudah acara mandiku. Kami hanya membawa satu set peralatan mandi. Padahal aku sudah mengatakan untuk gantian saja. Namun Drey tidak mendengarkanku.


Tanpa menjawab, aku menyerahkan sabun dari lubang yang ada di bawah. Ini juga kelemahan bilik mandi di sini. Ada lubang cukup besar di bagian bawah untuk berbagi barang seperti ini. Sekilas aku bisa melihat kaki Drey yang basah dari balik sana.


"Apa kau sudah selesai menggunakannya? Kau harus membersihkan dirimu dengan baik"


Ku harap Drey bisa menutup mulutnya. Jika ada orang di luar sana, mereka akan mendengar kami dan itu memalukan sekali.


"Aku tahu kau bisa mendengarku"


Lanjut Drey saat aku memilih tidak menanggapinya.

__ADS_1


"Mau ku bantu membersihkan?"


Aku bisa mendengar tawa mesum Drey dari balik sana. Padahal di sini wajahku sudah merah tak karuan. Drey bahkan sempat bernyanyi kecil. Dia ini percaya diri sekali hanya karena aku sudah memaafkannya.


Berkat Drey, aku tidak bisa Mandi dengan tenang. Aku dibuat gelisah oleh ocehannya. Kalau tahu begini, lain Kali aku akan kabur ke hotel Mahal yang menawarkan privasi tinggi.


Akhirnya aku memilih keluar lebih dulu. Aku bersyukur tidak ada orang di luar saat aku membuka pintu.


"Cepat sekali? Kau yakin sudah Mandi dengan bersih?"


Komentar Drey begitu keluar. Aku hanya bisa mendelik padanya. Memangnya salah siapa aku selesai secepat ini?


Namun Drey akan tetap menjadi Drey. Dia tidak hentinya menggodaku. Aku menyesal sekali sudah memaafkannya.


"Apa kau marah?"


Tanya Drey sambil mengejarku. Bukannya sudah jelas jawabannya? Karena tidak tahan dengan godaannya, aku memilih ngacir duluan sambil berjalan cepat.


Drey juga nampaknya tak serius. Aku bisa mendengar dia sesekali terkekeh.


Aku ingin sekali protes pada Drey, tetapi dia lebih dulu secara tiba-tiba meraihku dalam pelukannya. Aku belum sempat bertanya saat Drey juga mendadak menciumku.


Pikiranku blank dengan tindakan Drey. Namun kemudian aku tahu alasan dia melakukannya. Tak lama setelah itu ada sekelompok orang yang lewat. Aku bisa mendengar suara mereka membicarakan kami yang berciuman di jalan. Beberapa bahkan berdeham menggoda. Drey ingin menyembunyikan wajah kami dari mereka. Dan cara ini paling efektif. Bukan hal aneh melihat pasangan sedang berpelukan di jalan.


Setelah kelompok itu lewat, Drey melepaskan ciumannya. Namun masih erat memelukku. Dia menyatukan kening kami dan menatapku. Aku yakin bahwa Drey bicara dengan intonasi yang sangat lembut.


"Aku merindukanmu"


Dan rasanya ada hempasan di dadaku. Rasa bahagia akan jarak di antara kami yang akhirnya terpangkas. Kali ini aku yang menciumnya. Untuk mengatakan bahwa aku juga sangat merindukannya.


******


"Apa kau yakin?"


Tanyaku ragu.


"Ayolah. Percaya padaku"


Ujar Drey meyakinkanku. Dia tiba-tiba mengajakku bergabung dengan tiga sekawan yang menyewa pondok di sebelah. Dia terus bilang bahwa mereka orang baik. Padahal ini bukan masalah baik atau tidaknya.


Mau tak mau akhirnya aku menurut dan meraih tangannya yang menggandengku.


Kami keluar dari pondok. Saat baru membuka pintu, tiga sekawan itu sudah melambaikan tangannya pada kami mengajak bergabung. Berbeda dengan Drey, ini pertama kalinya aku berhadapan langsung dengan mereka. Sebelumnya, aku menyembunyikan wajah saat mereka menyapaku.


Nampaknya Drey sudah akrab. Dia langsung berjabat tangan dengan mereka dan mengenalkanku.


"Kami sudah tahu. Dia sangat cantik dilihat dari dekat"


Ujar mereka saat Drey menyebutkan namaku. Membuatku jadi sedikit malu. Namun, sambutan ramah mereka, lumayan mencairkan kegugupanku.


Tiga sekawan itu, Ryan, Niall dan Sarah adalah musisi dari Irlandia. Saat ini mereka masih berusaha mengejar impian dengan bernyanyi di jalanan. Pergi dari satu negara ke negara lainnya adalah salah satu cara mengenalkan musik mereka. Itu menjelaskan mengapa mereka terus bernyanyi sepanjang Hari selama di sini.


Drey benar. Tampilan mereka memang seram, tetapi mereka orang yang baik. Mereka tidak sekalipun mengajukan pertanyaan yang mengganggu privasi kami. Walaupun terkejut karena kami menghabiskan liburan di tempat seperti ini. Niall sendiri mengaku sebagai fans Drey, dan mengikuti media sosialnya. Tidak menyangka, bahwa foto yang disukainya ternyata diambil di tempat ini.


Sambil mendengarkan lagu-lagu yang didendangkan mereka bertiga, kami menikmati marshmallow. Musik mereka tidak buruk juga. Jika memiliki lagu sendiri, aku yakin mereka akan bisa menjadi musisi professional.


Paling mengagumkan untukku adalah sikap Drey. Dia begitu cepat akrab dengan orang asing. Tidak canggung dengan perbedaan di antara mereka. Kalau melihat sifat Richard, mustahil itu menurun darinya. Pasti Drey mendapatkan sifat itu dari ibunya. Mungkin lain kali aku harus bertanya tentang ibu Drey. Dia belum pernah menceritakannya sama sekali.


Kami berpisah sebelum tengah malam. Drey harus bangun pagi besok dan kami harus tidur lebih awal. Sementara tiga orang itu masih lanjut bernyanyi.


*****


Seperti sebuah kebiasaan, Drey langsung memelukku begitu kami naik ke ranjang. Dia ini sama sekali tidak punya rasa sungkan. Sama saja denganku yang tidak menolak. Rasanya hangat dan nyaman.


"Besok kita pulang"


Ujar Drey tegas. Bukan hanya dia, aku pun juga harus pulang ke rumah.


"Iya"


"Hah... Sayang sekali. Aku tidak akan bisa memelukmu lagi seperti ini"


Keluh Drey sambil terkekeh. Kalau sudah di rumah nanti, memang mau tak mau kami akan kembali tidur terpisah. Aku segera menepis pikiranku. Sekarang jadi seolah aku yang menginginkan ini.


Drey tidak mengatakan apapun setelah itu. Membuat ruangan kecil ini kembali sepi. Hanya ada derak kaca jendela dan samar-samar suara nyanyian di luar sana.


Rasanya masih seperti mimpi menghabiskan waktu di sini dengan Drey. Semuanya hanyalah sebuah kebetulan. Karena kami bertengkar. Namun rasanya aku justru menemukan kelegaan luar biasa.


Drey masih diam, mungkin sudah tidur. Jadi aku bergerak pelan-pelan. Memutar tubuhku untuk menghadapnya. Hampir saja aku berteriak karena melihat matanya ternyata terbuka lebar menatapku.


Tawa kami pecah.

__ADS_1


Kini aku gantian memeluknya. Mendekap tubuh besar yang tak lelah melindungiku itu. Drey menarikku Makin dalam ke pelukannya. Lalu mengecup lembut puncak kepalaku.


Kami tidak perlu mengatakan apapun. Kami tahu jantung kami sama-sama berdetak kencang saat ini.


__ADS_2