
Bergantian aku menyentuh pipinya, rambutnya, hidungnya, tangannya. Hanya untuk meyakinkan bahwa dia nyata, bukan sekedar khayalanku. Baru seminggu yang lalu kami mengucapkan perpisahan dengan berat. Baru seminggu aku merasa tersiksa berjauhan darinya, dan Luna sudah kembali. Masih sulit bagiku mempercayainya.
"Apa sebegitu mengejutkannya untukmu?"
Tanya Luna dengan senyum lebar. Padahal sudah jelas tentu saja mengejutkan bagiku.
"Aku merasa seperti sedang dipermainkan sekarang"
Jawabku masih ragu. Luna terkekeh.
"Kau harusnya protes pada Daniel. Dia yang mempermainkan kita"
Ujar Luna. Dengan sedikit mengomel, dia akhirnya menceritakan alasan semuanya bisa menjadi begini.
Setelah dikenalkan Lara pada temannya, Daniel merasa cocok dengan wanita itu. Jadi mereka berjanji melakukan kencan buta. Kebetulan wanita itu ada di Los Angeles sehingga meminta Daniel menemuinya di sana sebagai bukti keseriusannya.
Hanya saja sebagai manajer, tidak mungkin jika Daniel meninggalkan artisnya di London dan pulang sendirian ke LA. Dia bisa mendapat masalah dari agensi. Karena itu Daniel membawa serta Luna pulang.
"Kau tahu bagian paling menyebalkan?"
Luna kelihatan berapi-api mengeluarkan keluhannya.
"Dia membawaku dalam acara kencan buta itu sebagai bukti bahwa dia bekerja sebagai manajerku! Lalu menyuruhku pulang sendirian setelah kencannya berjalan dengan lancar. Dia adalah pria paling brengsek yang pernah kutemui"
Sembur Luna penuh emosi. Kali ini gantian aku yang tertawa, meskipun geram juga dengan tindakan seenaknya dari Daniel.
"Lalu, apa yang terjadi?"
Tanyaku penasaran.
"Aku mengirim surat permintaan penggantian manajer, dan Daniel akhirnya meminta maaf. Dia berjanji menebus kesalahannya. Karena itu aku ada di sini sekarang"
Luna menaruh tangannya di bawah dagunya untuk membuat gaya imut.
"Maksudnya?"
Tanyaku masih tidak mengerti.
Luna segera mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tasnya. Ia menyodorkan padaku, kertas yang berisi bagan seperti timeline itu, sambil menjelaskan padaku.
"Karena sekarang belum ada tawaran bermain film, Daniel mencarikan pekerjaan di London. Termasuk yang ini"
Luna menunjuk sebuah pekerjaan dengan namaku di sana. Sebuah iklan parfum untuk pasangan. Daniel berusaha mendapatkan tawaran untuk itu agar Luna bisa bekerja denganku.
Aku dan Luna bertukar pandangan bahagia.
"Kompensasi yang pantas"
Ujarku puas. Namun mengesampingkan semua itu, aku lebih dulu menarik Luna dalam pelukanku. Melampiaskan semua kerinduanku.
*****
Suara bising membangunkanku, padahal rasanya mataku masih berat. Kubuka selimut yang menutupi kepalaku, lalu segera meraih jam tangan yang tergeletak di meja. Masih pukul lima pagi lewat sedikit. Namun aku terpaksa bangun dan melihat dari mana asal suara itu.
Tubuh ramping itu bergerak cekatan dengan penyedot debu di tangannya. Menyusuri setiap lantai rumah, tak membiarkan satupun terlewat. Pemandangan sederhana itu membuatku melupakan rasa sebal karena mimpiku sudah dibuat buyar.
Lagipula untuk pertama kalinya dalam seminggu berlalu, aku bisa tidur nyenyak semalam. Membayangkan bahwa kini tidak ada jarak lagi antara aku dan Luna.
Begitu tubuh Luna mendekati sofa tempatku tidur, aku segera berpura-pura tidur. Luna sepertinya belum menyadari itu. Lalu begitu ia ada tepat di depan sofa, aku segera memeluk pinggangnya, membuatnya terjengit kaget.
"Dreeyyy!!"
Serunya.
Aku tidak peduli dan tetap mendekapnya erat. Membenamkan kepalaku di punggungnya. Menikmati rasa bahagia ini.
"Apa aku membangunkanmu?"
Tanya Luna sambil mematikan penyedot debunya.
"Ya. Ini masih pagi, Sugar"
Protesku saat menyadari bahwa samar-samar terdengar suara deru mesin cuci. Sebenarnya dia bangun jam berapa untuk mengerjakan semua ini?
"Maaf, tubuhku masih menyesuaikan dengan waktu di LA"
Jawab Luna. Aku baru ingat kalau ada perbedaan 8 jam antara dua kota ini. Luna masih harus menyesuaikan diri.
Aku tidak keberatan jika Luna melakukan kegiatan bersih-bersihnya sekarang. Memang salahku telah membuat rumah ini kotor dan berantakan. Namun dia baru saja pulang kemari. Dia pasti masih lelah dengan perjalanan meskipun tidak terasa.
Akhirnya aku memaksa Luna duduk di sofa, dan membawanya dalam posisi tidur. Aku masih memeluknya.
"Satu jam lagi. Aku masih mengantuk"
Ujarku mencari alasan untuk mengajaknya beristirahat. Untungnya Luna tidak menolak.
__ADS_1
Sambil menikmati aroma shampo nya yang khas, aku kembali memejamkan mata. Mencoba memimpikan hari-hari indah kami selanjutnya.
******
"Kau tampak senang sekali"
Komentar Joaquim saat menyapaku. Dia memang ahli dalam membaca ekspresi orang lain.
Aku hanya tersenyum, tidak terlalu ingin berbagi kabar mengenai kepulangan Luna. Joaquim dekat dengan perkumpulan Gracey, dia pasti akan menyebarkan hal ini nanti. Padahal aku ingin menikmati kedamaian ini.
"Hari ini ada di Sixth Mirror jika kau ingin datang"
Joaquim tidak menyerah untuk mengajakku menghadiri pesta itu. Sampai menyebutkan salah satu bar yang lumayan terkenal di kalangan industri selebriti. Aku cukup menjawab dengan gelengan. Untuk apa aku pergi kesana, jika ada Luna di sini. Tentu saja menghabiskan waktuku di rumah lebih menyenangkan.
"Oh ya, ada yang ingin kutanyakan padamu. Sebenarnya siapa yang kau temui itu?"
Kali ini Joaquim sudah mengganti topik.
"Maksudmu siapa?"
Tanyaku balik. Aku tidak paham dengan pertanyaannya.
"Bukankah foto pertemuanmu dengan wanita yang tidak teridentifikasi sedang beredar?"
Aku langsung menghentikan aktifitas pemanasanku begitu mendengar ucapan Joaquim.
"Sekarang semua orang sedang bermain tebak-tebakan mengenai siapa dia. Kalau aku sendiri, yakin jika itu bukan pacarmu yang pulang ke Amerika itu kan? Postur dan warna rambut mereka berbeda"
Joaquim menjelaskan panjang lebar. Namun tidak satupun dari itu yang membangkitkan ingatanku tentang foto apa yang dia maksud. Apalagi mengenai wanita itu. Aku sudah menghentikan kebiasaanku menemui wanita lain dan hanya menjalin hubungan dengan Sugar-ku sekarang. Rasanya pemberitaan itu jadi tidak masuk akal buatku.
"Foto seperti a--"
Baru saja aku hendak menggali informasi lebih dalam pada Joaquim, instruksi dari pelatih yang menyuruh kami berkumpul menghentikanku. Mau tak mau aku harus menyimpan rasa penasaranku.
Namun aku tetap tidak bisa menyingkirkan perkataan Joaquim dari pikiranku. Jadi begitu sesi latihan selesai, aku segera membuka mesin pencari di ponsel. Cukup mengetik "Drey Charleville" di sana dan kumpulan foto serta artikel yang jelas baru dirilis kemarin malam itu langsung memenuhi layar ponselku.
Aku hanya bisa terhenyak, melihat diriku yang sedang berbincang dengan seorang wanita di balkon belakang sebuah hotel ternama. Kabar baiknya, wanita itu mengenakan topi pantai yang cukup untuk menutupi wajahnya.
Kabar buruknya, meskipun hanya tiga foto berbeda yang dirilis, terlalu jelas memperlihatkan bahwa kami terlihat dekat. Mengobrol serius hanya dengan jarak kurang dari satu meter di antara kami. Lalu seperti yang dikatakan Joaquim, wanita itu terlihat jelas bukan Luna. Postur dan rambut mereka, serta garis wajah yang tampak samar-samar itu berbeda. Karena memang wanita itu adalah Priscilla.
Memori itu berkelebat cepat di kepalaku. Saat aku bertemu diam-diam dengan Priscilla saat berlibur di acara Archie baru-baru ini.
******
- Flashback On-
Aku membelai rambut Luna. Berharap mendapat kekuatan yang sama sepertinya. Luna yang masih bisa tersenyum, bahkan berjanji akan meluluhkan hati ayahku. Padahal aku sendiri tidak ingin menghadapinya.
Ayahku terlalu keras, meskipun aku menolak, menerima pukulannya, dia tidak berubah pikiran. Tetap memintaku menerima perjodohan dengan Priscilla. Tidakkah dia melihat jika aku mencintai orang lain? Memikirkan itu, aku tidak bisa lagi memejamkan mataku.
Masalah lainnya adalah Priscilla itu. Jika saja dia juga menolak perjodohan, maka ayahku akan berhenti bersikeras. Lagipula dia juga sudah tahu reputasiku. Gadis terhormat sepertinya pasti tidak akan tahan dengan itu.
Aku melihat ke arah Luna lagi. Sejujurnya aku merasa bersalah tidak memberitahunya perihal Priscilla maupun perjodohan kami. Namun aku yakin bisa menyelesaikan ini sendiri tanpa perlu Luna tahu. Ya, dia tidak perlu terganggu dengan hal tidak penting ini.
Aku segera mengambil ponselku, mengirim pesan pada Priscilla untuk mengajak bertemu dan bicara. Berkat itu, semalaman aku tidak bisa tidur. Beberapa kali aku menatap gelisah pada jam. Seakan waktu berlalu begitu lambat.
Begitu melihat fajar telah sedikit mengintip, aku segera turun pelan-pelan dari ranjang. Takut membangunkan Luna. Segera bersiap dan pergi keluar diam-diam.
Aku sengaja memilih balkon belakang hotel sebagai tempat bertemu. Tempat itu jarang didatangi orang. Apalagi sepagi ini. Jadi kami bisa bicara dengan tenang. Ternyata Priscilla sudah lebih dulu ada di sana ketika aku sampai. Mengenakan terusan panjang berwarna putih, dia menutupi rambut brunette-nya dengan topi pantai.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
Tanya Priscilla tanpa repot-repot menyapa lebih dulu.
"Tentu saja tentang ide gila ayahku"
Aku juga akhirnya membuang basa basi.
Ada seulas senyum tipis di wajah Priscilla. Entah apa maksudnya. Sebenarnya aku tidak terlalu mengenalnya. Ini juga perjumpaan pertamaku dengannya meski telah sering mendengar bahwa kami dijodohkan.
"Aku tidak mengerti kenapa kau bisa menyebut perjodohan ini sebagai ide gila ayahmu"
Priscilla benar-benar memberikan tanggapan di luar dugaanku. Wanita itu malah nampak menatapku dengan pandangan tak setuju.
Rasanya kesal sekali. Kupikir pembicaraan ini bisa berakhir dengan cepat. Sebelum aku bicara dengan suara keras, aku mendekat padanya.
"Ayolah, seorang gadis dari kalangan terhormat sepertimu dengan pria yang terkenal suka berganti pacar sepertiku. Bukankah itu tidak masuk akal? Lagipula aku sudah memiliki kekasih yang sangat kucintai sekarang ini. Aku yakin kau pun sama. Mustahil wanita cantik sepertimu tidak memiliki seseorang juga"
Meskipun setengah berbisik, aku memastikan bicara dengan nada menekan.
Priscilla menatapku. Aku sama sekali tidak bisa membaca ekspresinya yang datar. Lalu sejurus kemudian kembali menampakkan senyum tipis.
"Bagiku, tidak ada yang salah dengan perjodohan ini. Sama seperti ayahmu, aku juga memiliki kepentingan dalam hal ini. Business is business. Terlepas seperti apapun bentuknya. Jadi jika kau merasa memiliki masalah, selesaikanlah dengan ayahmu. Jangan melibatkanku"
Priscilla meninggalkan jawabannya yang berisi penolakan. Setelah itu tanpa pamit langsung meninggalkanku.
__ADS_1
Wanita sialan!
Umpatku dalam hati. Kupikir dia wanita cerdas, nyatanya lebih dari itu mirip sekali dengan ayahku. Menyembunyikan sesuatu di balik senyumannya. Karena itu dia bersedia datang untuk makan malam bersama Luna?
Aku gusar sekali. Jika sudah seperti ini, aku tidak punya pilihan selain harus menghadapi ayahku secara langsung. Bagaimanapun caranya, akan kubuat dia menerima Luna.
- Flashback Off -
******
Aku hampir membanting ponsel di tanganku saat mengingat pembicaraanku dengan Priscilla waktu itu. Lebih lagi, aku tidak tahu siapa yang sudah mengambil foto ini dan menyebarkannya pada media.
Ayahku?
Tidak salah lagi. Pasti ada campur tangan ayahku dalam hal ini. Dia pria licik yang bisa melakukan apapun termasuk jika harus mencederai reputasi anaknya.
Sialnya, jika hanya dengan foto itu saja, orang akan salah paham. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya aku dan Priscilla bicarakan. Entah kami sebenarnya hanya berdebat atau mengobrol santai, orang tidak tahu itu. Mereka hanya melihat bahwa aku bertemu dengan wanita lain. Sehingga sekarang rumor yang beredar, adalah aku berselingkuh dari Luna dengan menemui wanita lain. Di hotel pula! Semuanya kacau.
Luna?
Tiba-tiba saja aku ingat tentang bagian terpenting dari semua ini.
Aku tidak menceritakan tentang perjodohan itu, bahkan bertemu diam-diam dengan Priscilla di belakangnya, padahal kami menginap di hotel yang sama.
Aku merasa harus segera meluruskan masalah ini pada Luna. Jadi tanpa berpikir panjang, aku langsung pulang.
Sepanjang jalan, aku berdoa agar Luna belum melihat semua berita itu. Dia harus mendengar semuanya dariku sendiri untuk menghindari kesalahpahaman. Aku banyak berharap karena biasanya Luna tidak terlalu suka memeriksa berita.
Begitu mobil masuk pekarangan, aku memarkirnya sembarangan dan langsung berlari ke dalam rumah mencari Luna. Aku sedikit lega menemukannya sedang berdiri di meja makan.
"Sugar, ada yang ingin kukatakan padamu"
Panggilku terburu-buru.
Luna langsung menoleh, tetapi begitu mata kami saling berpandangan, aku bisa merasakan tubuhku lemas. Wajah Luna nampak kecewa, dengan ponsel di tangannya. Tanpa perlu bertanya, aku sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi.
Ada banyak hal ingin ku katakan pada Luna, namun semuanya buyar detik itu juga. Aku bisa melihat dada Luna naik turun dengan cepat seolah menahan emosi di sana.
Luna yang lebih dulu berjalan ke arahku. Menatap mataku.
"Apa kau ingin membicarakan tentang foto yang sedang beredar sekarang?"
Tanya Luna tanpa basa basi. Suaranya terdengar berat dan tidak bersahabat.
"Dengarkan, itu--"
"Priscilla bukan?"
Potong Luna. Aku terkejut dia bisa menebak hal itu dengan benar. Hingga tidak menyadari bahwa sekarang kegugupan sudah menyergapku.
"Aku, Priscilla... Jadi kami oleh ayahku dijodohkan, dan--"
"Aku sudah tahu jika kalian dijodohkan"
Lagi-lagi Luna memotong kata-kataku yang tidak jelas akibat terlalu gugup.
"Darimana kau tahu itu?"
Tanyaku heran. Jelas aku sama sekali tidak menyinggung masalah perjodohan sama sekali padanya.
"Lara"
Jawab Luna singkat. Tenggorokanku tercekat. Bingung, benar-benar bingung. Karena ternyata akulah yang tidak tahu apa-apa. Aku tak tahu sudah sampai sejauh mana yang diketahui Luna tentang diriku.
Namun saat aku melihat Luna mulai menitikkan air mata, aku tahu pasti ini buruk sekali.
"Apa foto saat kau bertemu Priscilla ini diambil saat kau bilang pergi jogging?"
Tanya Luna tentang kebohongan yang ku katakan padanya sebelumnya. Aku memang mengatakan itu, dan tidak punya alasan menyangkalnya.
Tanpa sadar, aku sudah berusaha meraih tangan Luna. Ada ribuan maaf yang tidak bisa terucap. Namun dengan cepat Luna menepis tanganku. Kali ini dia tidak berusaha menyembunyikan kemarahannya lagi. Luna telah sesenggukan.
"Sugar, ini salah paham. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku menemui Priscilla hanya untuk membicarakan pembatalan perjodohan itu"
Aku masih mencoba meluruskan kesalahpahaman kami. Namun ekspresi Luna tidak berubah.
"Kau tahu apa yang membuatku kecewa? Bukan karena kau bertemu Priscilla. Bukan karena foto ini! Kau membuatku lelah Drey. Mengatakan bahwa kau mencintaiku, tetapi tidak sedikitpun membiarkan aku mengenal duniamu. Kau menyembunyikan terlalu banyak hal. Membuatku harus selalu menebak apa yang terjadi padamu. Tentang ayahmu, tentang perjodohan, aku ingin mendengarnya langsung darimu, bukan dari Lara atau orang lain. Dan yang terburuk, kau juga berbohong padaku. Itu hanya menunjukkan bahwa kau sama sekali tidak mempercayaiku!"
Luna berteriak sekuat tenaga. Menampar hatiku dengan keras. Bahwa ternyata akulah yang salah paham.
"Apa kau tahu? Setelah melihat foto ini aku baru sadar bahwa kita tidak memiliki hal paling penting dalam hubungan, yaitu kepercayaan. Meski mengatakan saling mencintai setiap hari, semua itu percuma jika kau dan aku masih saling menyembunyikan sesuatu"
Aku benar-benar bungkam. Tidak bisa mengatakan apapun untuk menyangkal semua ucapan Luna. Walaupun hatiku tidak ingin membenarkannya.
Luna lebih dulu melangkah pergi, saat aku mencoba menahannya, kekuatanku yang biasanya seolah hilang. Dengan mudah Luna menghempaskanku.
__ADS_1
"Selesaikan semua rumor itu sendiri"
Hanya itu yang diucapkan Luna sebelum dia keluar dari rumah. Membiarkan kesunyian datang lagi. Padahal baru saja kami bersama. Dan aku sudah menghancurkannya.