
"Cut!"
Aku lega take adegan akhirnya selesai.
"Untuk Hari ini, sampai di sini saja" lanjut James. Terdengar sorakan gembira dan tepuk tangan dari para kru.
Aku juga merasa lega syuting selesai lebih cepat. Setelah berpamitan, aku langsung kembali untuk ganti pakaian.
"Apa ini?" Tanyaku pada Daniel saat mendapati sekotak kue ditaruh di mejaku.
"Apa lagi? Tentu saja dikirim oleh Richard," jawab Daniel.
Aku hanya manggut-manggut mengerti. Akhir-akhir ini Richard memang sering mengirim sesuatu ke lokasi syuting, seperti minuman atau makanan. Menurutnya, itu sebagai balasan atas kopi Dan pastry yang sering ku bawakan untuknya. Richard sendiri sudah hampir tidak pernah terlihat di sini lagi.
Daniel sedang diet dan kue itu kelihatan terlalu besar untuk ku habiskan sendiri. Jadi sepertinya aku harus mencari teman untuk menghabiskannya. Aku tahu siapa orangnya.
*****
"Apakah Dr. Lily ada? Apakah dia sedang senggang?" Tanyaku pada petugas di meja administrasi. Sebenarnya ini sudah lewat dari jam praktik, tetapi aku tidak yakin apakah dr. Lily sedang luang.
"Beliau Sudah tidak Ada pasien lagi" jawab petugas itu ramah. Aku sudah kemari beberapa Kali, jadi dia cukup mengenalku juga.
Aku bergegas pergi ke ruang yang terletak di sudut koridor rumah sakit, lalu mengetuk pintunya. Setelah mendengar jawaban, aku baru membukanya.
"Apa aku mengganggu?" Tanyaku basa basi.
Dr. Lily menyuruhku kemari kapanpun aku membutuhkannya, jadi sekarang aku punya kebiasaan untuk datang tanpa memberitahunya.
"Tentu tidak, kalau kau kemari untuk menikmati secangkir teh" jawabnya ramah.
Selagi dr. Lily menyiapkan teh, aku juga menata kue. Hari ini Richard membelikan cheese cake dan kue dengan berbagai rasa selai buah.
"Kau kelihatan bahagia akhir-akhir ini," komentar Dr. Lily. Aku refleks memegang pipiku Dan menyadari bahwa aku sedang tersenyum.
"Yah, semuanya telah berjalan lancar. Perjodohannya dibatalkan, dan ayah Drey sangat baik padaku. Tidak Ada Hal lain yang lebih membahagiakan dari itu" jawabku antusias.
"Aku turut bahagia"
"Tapi tidak terlihat seperti itu. Dokter justru terlihat gelisah"
"Benarkah? Apakah kelihatan begitu?" Tanya Dr. Lily terkejut. Dia segera meletakkan cangkir tehnya dan mengambil cermin di lacinya. Dia segera memeriksa gurat wajahnya.
Aku hanya melihat heran. Padahal aku hanya asal tebak Dan ingin menggodanya. Tidak ku sangka dr. Lily benar-benar menanggapinya.
"Apa ada masalah?" Tanyaku.
Dr. Lily meletakkan cerminnya sambil menghembuskan nafas berat. Terlihat keningnya berkerut. Aku bisa menebak dari semua itu, bahwa Dr. Lily memang memiliki masalah. Sepertinya juga berat.
"Apa, kau tidak keberatan mendengarnya?" Tanya Dr. Lily balik.
Cepat-cepat ku jawab, "Tentu saja. Ceritakanlah..."
"Aku bertemu dengan orang yg sudah ku hindari selama hidupku. Terakhir bertemu, dia terlihat kuat, keras Dan kejam hingga aku membencinya sampai ke tulang. Anehnya, pertemuan pertama kami Setelah bertahun-tahun, dia justru terlihat sangat lemah. Itu mengingatkanku bahwa dia juga seorang manusia"
__ADS_1
Banyak Hal langsung bermunculan di otakku. Lebih banyak mempertanyakan siapa orang yang Dr. Lily ceritakan itu.
"Apa, kau bertemu dengannya di rumah sakit ini?" Tanyaku yang dijawab dengan anggukan oleh Dr. Lily.
"Aku selalu berhasil melarikan diri dari pandangannya, entah kenapa aku malah bertemu lagi dengan mantan--" Dr. Lily segera membekap mulutnya. Sepertinya dia telah keceplosan.
"Mantan?" Tanyaku mengulang bagian yang mungkin keceplosan itu.
Dr. Lily tertawa canggung. "Mantan kekasih" jawabnya.
Aku jadi ikut menahan senyum juga.
"Bukankah terdengar aneh, wanita seusia diriku masih terikat pada mantan kekasihnya?" Tanya dr. Lily seakan sedang mencoba membaca pikiranku. Padahal bukan itu yang ku pikirkan.
Aku justru sedang membayangkan bahwa Dr. Lily pasti sangat mencintai orang itu. Bahkan sampai sekarang, dr. Lily tetap sendirian.
"Bbu..bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin bertanya, apakah Anda menemuinya?" Dengan cepat aku membantah Dan mengalihkan topik.
Dr. Lily tersenyum kecut.
"Tidak, kalau aku bertemu dengannya, aku takut akan mengingat semua hal yang sudah ku tinggalkan"
Aku merasa Ada kesedihan di Mata Dr. Lily. Seperti campuran rasa sedih dan kebingungan. Aku tahu, sebenarnya, hati Dr. Lily pasti berkata berbeda. Dia pasti sangat, sangat ingin bertemu dengan orang itu.
*****
"Tapi apa yang dimaksudnya dengan semua Hal yang ku tinggalkan?" Gumamku.
Aku mencoba memikirkan cerita Dr. Lily tadi. Dan, sepertinya aku terlalu penasaran dengan cerita tadi. Menurutku itu kisah yang tragis dan manis.
Perbincangan kami cukup singkat karena aku tidak bisa berlama-lama di Sana. Jadi aku tidak bisa mendengar cerita Dr. Lily lebih detail.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Drey tiba-tiba muncul dan mengejutkanku. Aku tidak sadar jika mobilnya telah merapat di dekatku. Aku tidak menjawab dan segera berlari masuk ke mobilnya. Hari sedang mendung, Dan hujan sepertinya akan turun. Jadi sebaiknya kami segera pulang.
Benar saja, belum sampai beberapa meter Mobil meninggalkan pelataran rumah sakit, gerimis sudah turun.
"Kau sering sekali mengunjungi rumah sakit?" Tanya Drey. Matanya menatapku penuh selidik, seolah khawatir aku menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku punya sahabat baik di Sana"
Drey masih menatapku Tak percaya.
"Aku sungguh-sungguh. Aku tidak kesana karena sakit"
Aku memasang senyum selebar mungkin untuk meyakinkannya Drey. Dia akhirnya mengusap rambutku. Menandakan tidak ingin berdebat.
"Kalau begitu, kau harus memperkenalkannya padaku suatu saat"
Aku hanya mengangguk.
"Oh ya, bagaimana dengan rencana besok?" Tanya Drey.
__ADS_1
"Tidak masalah, Aku sudah mengosongkan jadwalku" jawabku sambil membuat tanda ok pada Drey.
Beberapa Hari yang lalu Drey tiba-tiba mengajakku untuk makan malam di luar. Dia bilang sudah lama kami tidak memiliki waktu untuk kencan romantis. Drey bahkan sudah memesan tempat di sebuah restoran mewah yang sejak lama ingin ku datangi.
Untuk makan malam Kali ini, Drey sangat bersikeras agar aku tidak secara mendadak membatalkannya. Sejak beberapa Hari yang lalu dia terus memastikan jadwalku. Menurutku juga itu adalah Hal yang wajar. Minggu depan kompetisi Drey akan dimulai, kami mungkin akan semakin jarang bertemu.
Aku merasakan Drey menggenggam tanganku Dan menciumnya.
*****
"Kenapa hujan turun di Hari seperti ini?" Keluh Drey dengan nada kecewa. Dia beberapa Kali memeriksa perkiraan cuaca hanya untuk mengetahui kapan hujan yang telah turun sejak pagi itu akan berhenti.
"Tidak masalah Kan? Kita juga akan makan di dalam ruangan" ujarku heran.
"Aku tidak ingin mengenang hari ini sebagai Hari dengan cuaca yang buruk"
"Kenapa juga kau harus mengenang hari ini? Ini juga bukan pertama kalinya Kita pergi makan di luar"
Drey tidak menjawab dan hanya menatapku tidak setuju. Kemudian dia bergumam lirih, hingga suaranya hampir tidak bisa ku dengar.
"Ini Hari yang istimewa..."
Kami berangkat Tak lama Setelah itu. Drey mengenakan pakaian yang rapi malam ini. Jadi aku mengimbanginya dengan koleksi dress terbaruku. Lalu menaruh sedikit riasan. Aku mendapat pujian saat Drey melihatku. Yah, tidak Ada salahnya melakukan yang terbaik.
Restoran tempat Drey memesan tempat berada di pusat kota. Tempat itu cukup eksklusif sehingga tidak banyak orang mengunjunginya. Desain interiornya mengingatkanku pada restoran pertama yang kami kunjungi bersama di Madrid. Saat itu Drey membuat jantungku berdetak keras untuknya.
"Kau menyukainya?" Tanya Drey saat kami berjalan menuju meja yang sudah dipersiapkan.
"Ya, aku sudah lama ingin datang kemari"
Drey tersenyum puas. Dia menggandengku semakin erat.
Aku hanya bisa takjub melihat meja yang akan kami tempati malam ini. Berbeda dengan meja lain yang ku lihat saat berjalan kemari. Sepertinya diatur secara khusus. Di desain sedemikian romantis. Ada lilin-lilin di atas mejanya, serta warna hangat di sekitarnya.
Drey secara khusus menarik kursi untukku. Setelah aku duduk, Ada seorang pelayan menyerahkan sebuket bunga. Ada kartu yang bertuliskan 'untuk wanita tercantik malam ini'.
Sebenarnya hari apa ini? Aku merasa begitu dimanjakan.
Drey hanya tersenyum memperhatikan setiap reaksiku. Aku tahu wajahku pasti merah sekali saat ini. Tadi aku memprotes Drey yang ingin mengenang malam ini, tetapi tampaknya aku juga akan mengenangnya.
Drey memberi isyarat pada pelayan. Tak lama, hidangan pembuka juga sudah disediakan. Drey bahkan memikirkan seluruh detail. Dia bahkan telah mengatur menu dengan bahan kesukaanku. Bahkan menghidangkan segelas jus cranberry bukannya wine.
Aku cukup senang dengan semua yang Drey sediakan malam ini. Namun anehnya Drey sendiri malah terlihat gugup.
"Aku ke toilet sebentar," ujar Drey kemudian. Setelah itu dia bangkit dari kursinya dan pergi.
Tiba-tiba aku jadi ingin ke toilet juga. Rasanya perlu memeriksa riasanku. Aku akan pergi sebentar Dan kembali sebelum Drey. Begitu pikirku, jadi aku menyusul di belakang Drey.
Namun, langkahku terhenti saat sampai di depan ruang tempat kami makan. Drey ternyata masih ada di depan Sana. Aku hendak memanggilnya saat Drey yang tadinya berhenti memutar langkahnya. Bukan ke arah toilet, dia ke salah satu meja di sana.
Aku segera memperhatikan siapa yang hendak Drey datangi, dan ternyata itu adalah Richard. Mengejutkan sekali melihatnya juga sedang makan malam di sini. Dan dia... Dia sedang bersama Dr. Lily.
Aku tidak paham dengan apa yang terjadi, hingga suara penuh kemarahan milik Drey menyapa Dr. Lily.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Bu"