
Hari yang indah. Salju tidak turun dan langit terlihat lebih terang dari biasanya. Sungguh hari yang tepat untuk menikmati waktu liburku dengan bersantai. Itu yang kupikirkan, sebelum membuka pintu untuk tamu yang telah mengetuk sejak tadi pagi.
"Ca..Casey...?"
Jantungku rasanya mau copot saat aku melihat pria itu sedang tersenyum, berdiri di depanku.
Keringat dingin rasanya mengucur di tengkukku, melihat mobil Drey yang terparkir manis di pekarangan rumahku. Kami pulang cukup larut dari pesta, sehingga Drey memutuskan parkir di sana dan masuk lewat rumahku. Dari semua hari, mobil itu ada di sini saat Casey berkunjung.
Bencana. Ini adalah bencana buatku. Bukan hanya mobil, Drey juga sekarang sedang tidur di sofa ruang tengahku. Di hari sepagi ini, keberadaan seorang pria di rumah pacarnya yang tinggal sendirian pasti akan menimbulkan kesalahpahaman.
"Kenapa harus Casey?", rutukku dalam hati.
"Pa..pagi sekali kau datang kemari".
Tanyaku tergagap. Saat ini pikiranku sedang terpecah. Berpikir bagaimana menyembunyikan keberadaan Drey. Kalau mobil, aku masih bisa beralasan meminjamnya.
"Kebetulan aku sedang ada urusan di sekitar sini, jadi aku memutuskan mampir. Lagipula sejak pindah, aku belum berkunjung untuk memberikan hadiah atas kepindahanmu"
Jawab Casey masih tersenyum. Malah semakin membuatku gugup.
"Ah..begitukah. Silahkan masuk"
Ujarku berusaha menyembunyikan kepanikanku.
"Daniel yang memberitahuku tentang tempat ini"
Tambah Casey yang sudah duduk, mengungkap siapa dalang di balik kedatangannya.
"Dasar manajer tukang gosip! Sepertinya aku harus menghajarnya. Sembarangan saja menyebarkan privasi orang"
Umpatku dalam hati. Daniel seperti ingin mengerjaiku. Padahal dia tahu sendiri kondisi rumahku yang menyatu dengan Drey. Masih berani memberitahu alamat ini pada Casey. Dan lagi, dia tidak cukup bodoh untuk menyadari seperti apa hubungan kami bertiga.
"Mau minum apa?"
Tanyaku mencoba mengalihkan perhatian.
"Apapun. Oh ya... maaf hanya membawakanmu ini"
Casey sudah menyodorkan sebuah kantong belanja yang sedari tadi dibawanya. Mungkin itu yang dikatakannya sebagai hadiah kepindahanku. Dari tulisan di depan kantong itu, aku bisa mengenalinya sebagai salah satu merk peralatan rumah tangga yang cukup terkenal.
"Terima kasih"
Ucapku sedikit lega. Sepertinya dia serius dengan ucapannya yang hanya bertujuan melakukan kunjungan.
"Apa Drey ada di sini? Aku melihat mobilnya di luar"
Baru saja aku berpikir bahwa Casey tidak menyadari hal itu, dia menanyakannya. Aku otomatis mematung.
Segala skenario buruk langsung terpikir olehku. Jika aku membuatnya salah paham, bisa berbahaya. Casey cukup mengenal keluargaku. Aku tidak tahu cerita macam apa yang bisa keluar dari mulutnya nanti.
"Ah..itu..aku me--"
"Ternyata ada tamu"
Ucapanku yang ingin membuat alasan bohong langsung terpotong karena ternyata Drey sudah berdiri di belakangku.
Bukan hanya Casey, aku pun dibuat terkejut. Rasanya aku ingin berteriak saat melihat tampilan Drey. Pria itu bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Rambutnya acak-acakan karena memang baru bangun tidur. Dalam kepanikan itu aku langsung mendorong Drey menjauh.
"Di mana bajumu?!"
Tanyaku sedikit berteriak.
"Aku melepasnya sebelum tidur semalam"
Jawab Drey santai. Dia kelihatan tidak merasa bersalah dan hanya menggaruk kepalanya. Padahal aku ingin sekali meninjunya sekarang. Jelas sekali pria ini berbohong. Tadi pagi saat aku memeriksanya, dia masih terlelap dengan berpakaian lengkap.
"Pakai bajumu! Jangan keluar sebelum kau berpenampilan dengan benar"
Perintahku dengan tatapan penuh ancaman. Drey hanya mengangguk, tetapi masih meringis jahil.
******
Ini harusnya bisa menjadi hari indah untuk bersantai bagiku. Namun sejak tadi aku hanya mengeluh dan menghembuskan nafas berat. Aku tahu Casey orang baik, dia biasanya tidak terlalu suka mencampuri urusan orang lain. Namun dari tatapannya saat ini, aku bisa menangkap rasa penasaran yang membara. Mempertanyakan kehadiran Drey di sini.
Sudah sepuluh menit kami bertiga hanya diam. Tidak ada yang berinisiatif memulai percakapan. Rasanya canggung sekali. Casey nampak tidak nyaman, sedangkan Drey justru tersenyum menikmatinya.
"Silahkan diminum teh nya. Aku baru membelinya. Ini adalah darjeeling yang paling terkenal di sini"
Aku berusaha mencari topik untuk dibicarakan. Kebetulan Casey punya ketertarikan terhadap teh.
"Kau juga mengetahuinya? Aku juga biasa membeli jenis ini"
"Hee.. ternyata kau suka teh. Berbeda sekali denganku. Aku suka kopi, semakin pahit semakin bagus. Terasa lebih jantan"
Baru saja Casey sedikit mencair dengan ucapanku, Drey sudah menengahi. Merusak suasana kembali. Kali ini Casey seolah membalas tatapan kurang menyenangkan dari Drey.
"Tentu, selera setiap orang pasti berbeda"
Ujarku canggung. Aku hanya bisa tersenyum seperti orang bodoh.
Aku berharap mereka bisa berhenti membuat ketegangan dan sedikit akur. Mereka memang sama-sama memiliki cerita denganku, harusnya tidak menjadi masalah menjadi teman. Namun harapan itu sulit terkabul.
"Pagi sekali kau melakukan kunjungan kemari?"
Drey bertanya dengan nada mengintimidasi. Casey tidak terima dan membalasnya.
__ADS_1
"Bukankah ini juga terlalu tidak biasa bagimu untuk berada di sini sepagi ini?"
"Tentu saja ini hal yang biasa. Kami ti--"
Sebelum Drey mulai mengeluarkan kata yang tidak-tidak, aku segera menutup mulutnya.
"Aku minta tolong padanya untuk mengganti lampuku yang mati"
Hanya itu alasan bodoh yang terpikir olehku. Setelah itu aku segera menatap tajam Drey. Mengancamnya untuk tidak menyebutkan soal "tinggal bersama" yang mungkin terpikir di otak mesumnya itu.
******
Dalam perang, warga sipil adalah yang paling menderita. Begitu menurutku. Saat ini aku tahu bagaimana rasanya menjadi warga sipil itu. Bedanya, aku berada di antara 2 pria yang kekanakan ini.
Seharusnya Casey segera pergi setelah memenuhi tujuannya mengunjungiku. Dia hanya ingin memeriksa rumahku saja. Namun dia malah tinggal cukup lama bahkan menikmati sarapan bersama kami.
Drey juga seharusnya memahami keinginanku untuk tetap tutup mulut. Namun pria ini jelas sekali ingin menunjukkan bahwa dia tidak datang kemari hanya sekedar memperbaiki lampu. Beberapa kali dia memancing pembicaraan ke arah sana. Membuatku panas dingin.
"Maaf hanya ini yang bisa kami sajikan untuk sarapan. Kami berdua selalu berusaha menjaga menu sehat untuk sarapan. Luna cukup menyukai masakanku, semoga ini juga sesuai dengan seleramu"
Pernyataan ini salah satu contohnya. Dia memberi petunjuk bahwa kami terbiasa sarapan bersama. Sekaligus dia selalu memasak untukku.
Casey hanya tersenyum. Aku tidak bisa menebak isi pikirannya. Kalau saja Casey bertanya tentang kenapa kami bisa sarapan bersama, aku bisa membuat alasan. Namun karena dia tidak mengatakan apapun, jika tiba-tiba aku menjelaskannya pasti terdengar aneh sekali.
Aku mencubit paha Drey di bawah meja. Memperingatkannya bahwa aku terganggu dengan pernyataannya.
"Kau nakal sekali mencubitku di sana. Jangan seperti itu, kita masih ada tamu"
Justru dengan santainya Drey membicarakan itu keras-keras.
"Sialan! Dia pasti sengaja"
Umpatku dalam hati. Mukaku langsung merah, menyadari Casey menatapku bingung. Seolah menemukan hal paling mengejutkan dalam hidupnya.
Iblis di balik semua ini, Drey hanya tersenyum puas. Sepertinya dia sudah berniat membuatku mati kutu.
Lalu rasa penasaran Casey hanya memperburuknya.
"Apa kau punya halaman belakang juga?"
Tanya Casey menunjuk pintu yang berada di salah satu sudut dapur. Pintu yang menghubungkan langsung rumahku dan rumah Drey.
"**..te.. tentu saja"
Jawabku terbata. Rasanya sulit sekali meski hanya untuk menelan ludahku di saat seperti ini.
"Oh.. kau punya halaman belakang? Sepertinya aku belum pernah melihatnya"
Timpal Drey, ekspresi wajahnya jelas sedang menggodaku.
"Ada apa di halaman belakangmu?"
"Ingin melihatnya?"
Drey menimpali kembali. Menuangkan minyak ke dalam api. Membuatku kebakaran jenggot.
"Tidak ada apa-apa di sana. Sekarang sedang musim dingin, apapun yang di sana semuanya dalam keadaan kering"
Jawabku panik. Jantungku sungguh berdetak cukup kencang saat ini. Hatiku tak henti mengucapkan doa. Sungguh, jika Casey sampai membuka pintu itu, menyadari aku tinggal dengan Drey, tamat riwayatku. Aku tidak bisa berkelit lagi. Casey yang juga begitu ketat mengenai hubungan antara pria dan wanita tidak akan menerimanya. Dia mungkin akan mengatakan sesuatu pada keluargaku.
Untungnya, Casey tidak melanjutkan rasa ingin tahunya. Untuk saat ini aman. Namun beberapa kali berada dalam situasi darurat, nafsu makanku benar-benar hilang. Rasanya perutku mendadak sakit, tetapi aku bahkan tidak bisa pergi. Aku tidak bisa membiarkan Drey berduaan dengan Casey. Entah apa lagi yang akan diucapkannya.
******
Berkali-kali aku mengelap keringat yang jatuh di dahi dan tengkukku. Padahal ini musim dingin, penghangat ruangan juga disetel pada suhu hangat, tetapi rasanya aku gerah sekali. Aku gugup membayangkan apa yang akan Drey lakukan selanjutnya.
Mataku tak lepas menatap Drey. Memberikan sinyal ancaman kapanpun aku bisa. Hal yang paling mengkhawatirkan dari dia adalah senyumannya yang bagai seorang iblis. Seperti menyimpan suatu tujuan, pastinya untuk menyulitkanku.
"Apa kau tidak membayar seseorang untuk melakukan tugas membersihkan dan memasak?"
Tanya Casey.
"Untuk apa dia harus membayar orang? Dia memilikiku. Kami juga tidak terlalu mempermasalahkan pembagian tugas rumah tangga"
Lagi-lagi sebelum aku menjawab, Drey sudah mendahului. Dia benar-benar menekankan bahwa Drey ikut mengurus rumah ini denganku.
Casey hanya menatapku. Tampak sejuta pertanyaan tergambar di wajahnya.
"Aku tidak sempat mencari orang"
Kelitku mencoba meluruskan. Samar-samar aku bisa mendengar tawa kecil Drey. Sepertinya dia sangat menikmati ini.
"Tadi kau bilang sedang ada urusan lain. Apa tidak masalah berlama-lama di sini?"
Tanyaku pada Casey setelah tidak lagi bisa menahan diri. Memang terlihat jelas aku sedang mencoba mengusirnya dengan halus.
"Sepertinya kau juga harus segera pulang. Kau pasti punya banyak hal untuk dikerjakan di rumahmu kan?"
Supaya adil, aku mengusir Drey juga.
"Pulang lewat mana? Pintu depan atau belakang?"
Drey mulai lagi dengan permainannya.
"Tidak ada jalan di pintu belakang. Kau harus lewat depan dan membawa mobilmu pergi"
__ADS_1
"Hm.. benarkah tidak ada jalan di belakang?"
"Dreeyyy....!"
Aku sudah kehilangan kesabaran hingga hampir memanggil namanya sambil menggertakkan gigiku.
Drey tertawa dengan reaksiku. Dia benar-benar sengaja melakukan semua ini. Kupikir dia akan berhenti usai berhasil membuatku merasa sebal. Ternyata Drey masih punya trik konyol lainnya.
"Aku akan pergi setelah mandi"
"Untuk apa kau mandi di sini?"
Aku menarik tangan Drey berusaha menahannya. Sikapnya itu terlalu santai sebagai seorang tamu.
"Tubuhku berkeringat dari semalam. Kau benar-benar liar"
"Apanya yang liar?!"
Aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku dan berteriak begitu saja.
"Jangan khawatir, akan kupastikan mencuci semua pakaian kotor setelah mandi. Hari ini giliranku untuk mencuci kan?"
Pria iblis itu belum berhenti mengoceh. Lalu pergi dengan tawa puas. Entah harus kuapakan dia.
Casey hanya diam melihat kami sejak tadi.
******
Hening sekali setelah Drey pergi. Aku dan Casey hanya bisa saling melihat dengan canggung.
Rusak sudah semua. Hari liburku, dan reputasiku. Hanya orang bodoh yang tidak akan memahami segala pembicaraan antara aku dan Drey. Casey bukanlah orang bodoh. Aku bahkan tidak tahu dari mana harus mulai menjelaskan semua ini padanya.
"Sepertinya aku harus segera pergi"
Casey pamit. Mungkin dia sudah sangat tidak nyaman.
Aku mengantar Casey pergi ke depan, tempat mobilnya terparkir. Sebenarnya ada banyak yang ingin kukatakan padanya. Aku hanya bingung memilahnya.
Haruskah aku menyuruhnya tutup mulut dan pura-pura tidak mendengar apapun hari ini? Namun itu sama saja dengan aku secara jelas mengakui bahwa Drey tinggal denganku.
Atau haruskah aku menjelaskan padanya bahwa Drey hanya bercanda dengan semua ucapannya? Namun aku tidak yakin Casey bisa dibodohi begitu saja.
"Maaf sudah mengganggumu..."
Ujar Casey memecah keheningan. Dia berhenti saat membuka pintu mobil dan menatapku.
"Huh? Tidak, kau tidak menggangguku"
Jawabku bingung.
"Tadinya aku hanya ingin iseng, tetapi sepertinya aku sudah kelewatan. Wajahmu pucat sekali sejak aku datang, kau jelas ketakutan"
Tanpa basa basi Casey mengatakan komentarnya. Aku langsung terkesiap. Apa ekspresi wajahku terlihat begitu jelas?
"Jangan khawatir. Aku tahu kalian tidak melakukan apapun. Meski sehebat apapun Drey dalam merayu wanita, aku tahu kau bisa menjaga dirimu baik-baik. Kau bukan gadis gampangan. Jadi tidak perlu cemas begitu"
Casey kembali mengejutkanku dengan pernyataannya. Seolah membaca isi pikiran dan kecemasanku. Hingga aku tidak bisa mengatakan apapun.
"Aku iri sekali.. melihat kalian begitu dekat. Sepertinya aku bisa sedikit memahami alasan kau lebih memilihnya"
Itu kata terakhir yang diucapkan oleh Casey sambil mengusap kepalaku lembut. Lalu masuk ke dalam mobilnya. Casey masih sempat tersenyum dan melambaikan tangannya. Namun aku masih tidak bisa mengatakan apapun padanya.
Sepertinya Casey pun tahu, betapa berbedanya hubunganku dulu dengannya dibandingkan aku bersama Drey sekarang. Drey mengubahku menjadi orang yang lebih ekspresif. Sehingga kami bisa menikmati hubungan dua arah. Saling memberi dan menerima. Serta, tentunya Drey lebih jujur daripada Casey. Dia pun mengungkapkan perasaannya lebih baik. Karena itu, aku bahkan tidak pernah berusaha membandingkan mereka berdua.
*****
"Apa dia sudah pergi?"
Drey sudah selesai mandi saat aku masuk ke dalam rumah. Bertanya dengan santainya, dia melihatku sambil meringis tanpa dosa.
Benar-benar seperti iblis.
"Kau sengaja kan?"
Aku mengabaikan pertanyaannya dan menatapnya sambil melotot. Menunjukkan bahwa aku marah dengan sikap kekanakannya tadi.
Namun lagi-lagi Drey tertawa.
"Wajahmu lucu sekali kalau sedang gugup"
Jika saja aku sedang memegang sesuatu, mungkin aku akan melemparkan padanya saat itu juga. Bagaimana bisa ada mahluk tidak berperasaan seperti dia.
"Apa kau masih cemburu pada Casey? Apa kau masih merasa bahwa dia akan merebutku lagi?"
"Tentu saja. Semua pria di dunia ini yang berhubungan denganmu pasti akan kucemburui. Mereka punya kesempatan mengambilmu dariku"
Damn him! Lancar sekali saat bicara tentang perasaannya.
Aku segera mendekat pada Drey. Berjinjit dan melingkarkan kedua tanganku di lehernya, lalu mendaratkan ciuman di bibirnya.
"Tetapi tidak ada pria yang kucintai selain dirimu"
Kali ini aku menatap tegas pada Drey. Meskipun rasanya jantungku sudah berdetak tak karuan akibat malu. Aku ingin Drey mulai merasa aman dengan perasaannya.
Drey tersenyum. Sekilas aku bisa melihat ada rona merah di pipinya. Dia hendak membalas ciumanku, tetapi dengan cepat aku menggigit bahunya hingga dia berteriak dengan keras. Drey harus mendapatkan pelajaran.
__ADS_1
"Jangan mempermainkanku lagi"
Ujarku sambil tersenyum jahat.