Sugar

Sugar
Vella Charleville


__ADS_3

Luna mematut dirinya di depan cermin. Meneliti setiap inci garis wajahnya yang kini terlihat jelas. Hari ini entah mengapa dia meminta perawat menyanggul rambutnya ke atas. Mungkin risih, karena rambutnya sudah terlalu panjang. Atau karena dia rindu pada hari itu.


Hari di mana seorang pria yang baru saja ditemuinya memujinya cantik. Pria yang baru dikenalnya itu juga mengucapkan janji untuk bersamanya di kala senang maupun sedih. Pria pertama yang bisa membuatnya begitu terpesona.


Luna ingat bagaimana dia begitu percaya diri saat melangkah menuju tempat pria itu berada. Tanpa menyadari sedikitpun bahwa jalan itu membawanya masuk dalam dunia yang berbeda. Yang indah dan menyakitkan.


Ada desiran aneh di perutnya saat Luna mengingat kenangan itu. Seolah kehidupan baru di sana mencoba ikut menikmati kenangan itu. Luna mengusapnya. Kalau saja ia tahu lebih awal, mungkin cerita antara dia dan Drey akan berbeda.


"Anda cantik sekali hari ini"


Pujian perawat yang membantu menyanggul rambut memaksa putaran kenangan itu berhenti. Luna hanya menjawabnya dengan senyuman. Dalam hati sedikit malu. Ia berdandan cantik, padahal tidak tahu akan menunjukkannya pada siapa. Dia pun meletakkan cermin di tangannya.


Perawat itu segera membereskan sisir dan peralatan lainnya dari nakas. Namun matanya menemukan sesuatu di sana.


"Apakah Anda akan pergi ke Paris?"


Usil, perawat itu mengambil tiket penerbangan yang bertumpuk dengan berbagai macam brosur lalu membacanya.


Luna tidak langsung menjawab. Dia menatap tiket yang diantarkan oleh Calvin kemarin. Meskipun terasa mendadak, penerbangannya ke Paris dijadwalkan lusa. Padahal pelatihan aktingnya baru akan dimulai bulan depan. Menurut Oswald, akan lebih baik jika Luna beradaptasi dengan kehidupan di kota itu dulu.


"Apa menurutmu jarak antara Kanada dan Paris itu jauh?"


Bukannya memberikan jawaban, Luna justru balik memberikan pertanyaan yang membuat perawat itu heran.


"Tentu saja. Dua kota itu berada di benua yang berbeda"


Jawab perawat itu masih bingung. Lagipula kenapa harus membandingkan antara Kanada dan Paris, jika saat ini mereka sedang berada di New York.


"Benar juga ya"


Ujar Luna sambil tertawa kecil. Dia menyadari betapa bodohnya pertanyaannya itu. Si perawat ikut tertawa. Dia senang sekali melihat ekspresi Luna yang akhir-akhir ini membaik.


"Ada banyak panggung pertunjukan yang megah di Paris sana. Aku berharap suatu saat bisa berdiri di salah satu tempat itu. Memainkan peran dari sebuah lakon terkenal, bertemu banyak penonton"


Kali ini Luna baru menjawab pertanyaan si perawat. Menjelaskan impian yang ingin ia raih di Paris nanti.

__ADS_1


"Aku sudah pernah berkunjung ke salah satu gedung pertunjukan yang bernama Palais Garnier. Di sana..."


Cerita Luna terpotong. Saat tiba-tiba dia seolah mendengar suara Drey berbicara padanya.


"... I promise to embrace your smile and tears, to hold your hand through the good times and the bad times. This is my promise and I will live the rest of my life to make it true"


Drey seperti sedang berada di sana. Mengucapkan janji itu sambil menatap lekat matanya. Seperti melihat potongan adegan film, Luna juga melihat dirinya yang menjawab janji Drey.


"... And I vow to be the wife you want and deserve. I love you"


Jantung Luna berdetak sangat kencang, bersamaan dengan Rasa hangat yang menghambur di relung hatinya. Perasaan yang familiar namun telah hilang begitu lama dari dirinya.


Bagaimana dia bisa melupakannya?


Di Palais Garnier, di panggung nan megah itu Drey dan dia mengikat janji suci untuk kedua kalinya. Menjadikannya sebagai tokoh utama dari sebuah cerita. Meskipun tanpa penonton, tanpa juga tepuk tangan meriah.


Tidak hanya tempat itu. Setiap sudut Paris menyimpan kenangan tentang dirinya dan Drey. Di kota itu pula mereka pertama kali mereka memadu kasih. Bahkan pergi kesana pun, bukan impian, melainkan aroma Drey yang melekat padanya.


"Anda baik-baik saja?"


Hati Luna terasa kembali terkoyak. Antara merindukan Drey dan takut padanya. Antara ingin mendekat dan menjauh. Haruskah ia tetap pergi atau bertahan?


Saat itu, suara langkah kaki mendekat dan terdengar berhenti tepat di depan kamar rawat Luna.


******


Drey masih ingat kenangan saat dirinya berjalan menuju altar. Karpet merah yang terbentang dari pintu masuk hingga tempat mengucap janji. Para tamu yang memenuhi deretan kursi yang disediakan. Menatapnya dengan tatapan kagum bercampur kecewa. Namun jelas kebahagiaan menjadi rasa paling utama di sana. Bunga-bunga yang menghias setiap ujung deretan kursi, berjejer hingga ujung jalan. Lalu suara musik pengiring pernikahan yang umum diperdengarkan.


Kenangan paling istimewa tentu saat pengantin wanitanya akhirnya muncul. Menyusuri jalan yang sama dengan yang dilaluinya. Drey bisa jatuh cinta pada wanita yang baru ia lihat pertama kali. Begitu cantik, begitu anggun, dan begitu teduh.


Drey sempat berpikir bahwa hari itu adalah sebuah kesalahan. Namun kini, kalaupun memang ada yang salah hari itu, Drey akan tetap membenarkannya. Dia tidak menyesal naik ke altar hari itu, pun dengan menikahi Luna. Itu akan menjadi hari paling indah dalam kenangan Drey.


Kali ini dia juga berharap tidak akan memilih keputusan yang salah.


Menyusuri lantai putih yang tak dilapisi karpet. Pucat seperti warna dinding di sepanjang lorong yang dilaluinya. Meskipun banyak orang, tak ada yang sedang memperhatikannya. Tidak ada hiasan dan bunga di jalannya. Tidak pula ada suara musik menyambutnya, Drey tetap melangkah dengan mantap seperti hari itu.

__ADS_1


Berkali-kali dia menatap buket bunga di tangannya. Rangkaian mawar dan bunga lili yang nampak masih segar. Drey telah memilihnya untuk menunjukkan permintaan maafnya. Serta mengatakan lewat bunga itu bahwa dia telah memberikan kesetiaannya pada Luna, apapun keputusan yang istrinya pilih. Drey tidak akan memalingkan hatinya untuk yang lain. Itu janjinya.


Semakin jauh kakinya melangkah, jantung Drey berdetak makin keras. Dia sangat gugup. Lalu tanpa sadar ia harus berhenti karena tepat di depannya ada pintu itu. Yang selama berhari-hari telah menjadi pembatas antara dirinya dan Luna.


Hari ini Drey harus mengucapkan salam perpisahan. Dia berharap bisa masuk kesana dengan penuh percaya diri. Melihat wajah istrinya dan memeluknya. Namun, tangan Drey bahkan tak berani menyentuh pintu itu. Dia tidak ingin melihat Luna menangis hari ini.


"Ehem..."


Drey berdeham, mencoba menjernihkan suaranya. Lalu mengatur nafasnya dengan tenang.


"Ceryl..."


Rasanya lidah Drey bicara sambil membawa beban di dalamnya, terasa berat.


"Apa kau... Apa hari ini kau sudah merasa sehat?"


Drey ingin sekali menggigit bibirnya. Padahal sudah dia persiapkan semua kata-kata yang ingin ia ucapkan, semua buyar begitu saja. Belum lagi jika ditambahkan dengan rasa gugupnya.


"Maaf... Aku sungguh minta maaf padamu"


Akhirnya Drey hanya mengatakan isi hatinya.


"Aku sudah berjanji untuk menjagamu, tetapi pada akhirnya aku juga yang menyakitimu. Tidak ada pembelaan yang bisa kuberikan padamu"


Suara Drey mulai bergetar. Seluruh emosi yang berkecamuk mengganggu hari-harinya seolah tumpah di sana. Dia bahkan sudah tidak sadar dengan tatapan orang yang lewat di sana. Bingung mengapa seorang pria dewasa memegang buket bunga, berbicara pada pintu.


"Meskipun terkesan tidak tahu malu, aku harus mengatakan bahwa aku mencintaimu. Sampai kapanpun tidak akan berubah. Karena itu, pergilah kemana kau inginkan. Raih mimpi dan kebebasanmu. Aku akan menunggu, walau berapa tahun lamanya. Atau mungkin jika kau memutuskan tidak kembali. Aku akan menunggu, dan hanya kau wanita yang menjadi istriku"


Pahit sekali hati Drey. Dia ingin mengucapkan perpisahan, tetapi tidak satupun kata pamit bisa keluar dari mulutnya. Mengatakan bahwa dia akan pergi rasanya meremukkan hatinya.


"Sampai jumpa lagi"


Kalimat itu hanya bisa terucap di dalam hatinya.


Drey meletakkan bunga di lantai. Menatap pintu di depannya sekali lagi, lalu memaksa kakinya melangkah pergi.

__ADS_1


Setiap langkah, Drey berharap bahwa pintu di belakangnya akan terbuka. Luna muncul di sana. Meskipun tidak berlari padanya, setidaknya melihatnya dari kejauhan. Namun meski ia telah menempuh jalan yang panjang, itu hanyalah tinggal sebuah harapan. Pintu itu tidak bergeming.


__ADS_2