Sugar

Sugar
Sincerity (Drey POV)


__ADS_3

Seorang staff hotel yang diutus ayahku langsung mengantar ke ruangan tempat makan malam. Di sini ada tempat makan malam yang terkenal. Ayahku sudah menyewa seluruh ruangannya untuk acara Hari ini.


Aku langsung mengenali wajah menyebalkan ayahku. Sementara di depannya sudah duduk sepasang suami istri yang wajahnya sering ku lihat di tv. Juga Priscilla yang sepertinya telah berusaha keras untuk tampil cantik malam ini.


Selain menyapa, aku Tak banyak bicara. Ku biarkan ayahku memimpin obrolan, sementara aku hanya menjawab pertanyaan sekedarnya.


Aku sudah banyak berbohong demi acara ini. Aku Tidak bisa melakukannya lagi. Jadi ku biarkan ketidaknyamanan tampak di wajahku. Aku juga lebih banyak menunduk agar tidak perlu bersitatap dengan mereka terlalu lama.


Selain itu aku sedikit tak terima dengan ucapan ayahku. Dia mengatakan Lucy sedang sakit sehingga tidak bisa menemaninya di sini. Padahal Lucy baik-baik saja dan mungkin tidak mengetahui makan malam ini. Harusnya dia katakan saja bahwa dia malu berjalan dengan seorang wanita yang duduk di kursi roda.


"Selamat atas kemenangan timmu. Tinggal selangkah lagi untuk menjadi juara"


Aku menatap jengah pada senyum Priscilla. Itu senyum yang canggung, yang biasanya orang perlihatkan hanya untuk terlihat peduli. Aku berani bertaruh, bahwa menonton sepak bola bukan hobinya. Ia mungkin tidak paham kompetisi apa yang ku jalani.


Harusnya dia bersikap tidak tahu seperti Luna saat kami pertama bertemu. Tanpa perlu menjadi palsu.


"Terima kasih" jawabku tanpa ingin memperpanjang obrolan ini.


"Aku pasti akan datang mendukungmu akhir pekan ini"


Akhirnya aku tidak tahan lagi. Aku bukan penyabar yang bisa melanjutkan basa basi yang bahkan tidak menarik buatku.


Ku letakkan garpu dan pisau di tanganku. Lalu menatap Priscilla. Sebenarnya ingin ku ucapkan keras agar dia tidak repot-repot melakukan sesuatu untuk menarik perhatianku. Dia juga tahu aku menjalin hubungan dengan orang lain. Namun mengingat orang tuanya masih duduk dengan kami, aku berusaha menahan diri.


Wajahku jelas mengucapkan itu padanya. Meminta Priscilla untuk berhenti berbicara, menunjukkan bahwa dia cukup membuatku tak nyaman. Untungnya itu tersampaikan. Priscilla akhirnya diam. Meski dengan wajah kecewa dan sebal, dia tidak melanjutkan obrolan satu arah ini.


Akhirnya aku sadar, keputusanku datang kemari sepertinya memang salah besar. Saat aku melihat ke depanku, tidak bisa ku pungkiri bahwa aku menyakiti Priscilla. Menolak segala keramahannya padahal dengan sukarela duduk untuk makan bersama dengannya.


Ketika aku melihat ke sampingku, aku juga menyadari bahwa kehadiranku hanya membuat hubungan orang tua kami menjadi semakin akrab. Mereka bicara seakan-akan sudah resmi menjadi besan.


Kebohonganku pada Luna langsung berputar cepat di otakku. Dan aku merasa bodoh karenanya.


"Ini adalah makan malam yang menyenangkan. Namun Saya minta maaf harus undur diri lebih dulu karena Ada urusan yang mendesak"


Tanpa menunggu lebih lama, aku menyela obrolan para orang tua. Meskipun dessert belum disajikan, aku merasa tidak Ada gunanya berada lebih lama di sini.


Aku tidak menunggu jawaban dari mereka. Kelihatan sekali jika mereka menatapku bingung dan heran. aku tiba-tiba saja pamit.


Belum sampai beberapa aku keluar dari ruangan itu, ayah sudah menyusul. Dia segera menarik lenganku keras untuk membuatku berhenti.

__ADS_1


"Tidak sopan sekali kau!" Bentaknya.


Aku bisa melihat kemarahan tergambar jelas di wajahnya. Namun aku merasa ia pantas mendapatkannya.


Aku melepaskan lengan ayah, lalu mengambil sesuatu yang sudah ku persiapkan di balik jasku.


Ayah terkejut melihat amplop merah hati itu. Dia mungkin bertanya-tanya darimana aku mendapatkannya. Tanpa tahu aku harus mencurinya dari meja Luna agar bisa membawanya kemari.


Wajah geram ayahku Makin jelas saat aku merobek amplop itu di depannya. Aku mencabik undangan itu dengan kejam, lalu membiarkannya tercecer di lantai.


"Lain Kali aku Akan merobeknya di depan orang tua Priscilla jika ayah mengganggu Luna," ancamku.


Aku tahu ayahku tidak Akan berkutik. Dia tahu jelas akibat dari ancamanku. Itu adalah Hal terakhir yang tak boleh terjadi karena akan menghancurkan reputasi Dan kepercayaan yang susah payah ia bangun.


Untung saja ide gila ini akhirnya terpikir olehku. Dengan begini, aku tahu ia akan mundur dengan sukarela.


Selagi ayahku masih mematung tanpa suara, aku segera melangkah pergi. Rasanya lega sekali, seakan beban telah terlepas dariku.


*****


Aku bersiul kecil di perjalanan pulang. Seolah jenderal yang baru saja memenangkan perang. Mungkin aku harus merayakan ini dengan Luna.


Aku segera panik mencari pakaian ganti, tetapi terlambat, Luna sudah melihat mobilku. Meski dengan kaca Mobil berwarna hitam, aku bisa melihat matanya menatapku.


Aku pasti dihukum karena membohonginya. Sekarang Tuhan memintaku berkata jujur padanya tanpa bisa berkelit. Akhirnya aku mematikan mesin Mobil dan memberanikan diri untuk turun melihatnya.


Malam itu sangat sepi. Rumah-rumah lain telah tertutup rapat membiarkan hanya kami berdua yang Ada di jalanan ini. Bahkan aku bisa mendengar setiap derap langkahku sendiri.


Rasanya jantungku berdetak Makin kencang seiring dengan dekatnya Luna dari tempatku. Apalagi saat aku tidak dapat mengartikan tatapan matanya padaku.


"Setelan jas yang bagus"


Hampir saja aku berhenti saat Luna mengatakan itu. Ucapannya terdengar seperti sarkasme untuk menyindir. Dia pasti menyadarinya sebagai hal yang aneh. Untuk apa aku berganti pakaian serapi ini hanya untuk menonton pertandingan ice hockey.


Dia tersenyum, Dan itulah yang menghentikanku. Aku membiarkan ada Dua meter di antara kami. Rasanya aku tidak pantas menempuhnya.


"Kenapa kau berbohong padaku?" tanya Luna. Ia bahkan tidak menutupi rasa penasarannya.


"Maaf.... Aku--"

__ADS_1


Hampir saja aku membuat alasan lagi. Seakan tidak ingin mengakui bahwa kebohongan adalah sebuah kesalahan. Terlepas dari alasan aku melakukannya.


"Tidak ada alasan bagus yang bisa ku katakan. Aku telah berbohong dan memang bersalah atas itu. Aku minta maaf atas itu," jawabku.


*Luna pasti marah.


Luna pasti kecewa.


Luna mungkin akan membenciku.


Luna mungkin tidak ingin memaafkanku*.


Itulah yang ku pikirkan. Terakhir kali, dia pergi dari rumah saat aku ketahuan bohong. Kali ini aku juga berbohong karena orang yang sama, Priscilla. Aku yakin reaksinya tidak Akan bagus. Tapi aku sudah pasrah pada apapun yang terjadi. Aku merasa pantas menerimanya.


Di luar dugaanku Luna berjalan cepat ke arahku lalu memelukku. Erat sekali, sambil menepuk-nepuk punggungku.


Terasa aneh,


"Apa kau tidak marah padaku?" Tanyaku heran.


"Aku memang bertanya-tanya kenapa kau terus berbohong beberapa Hari ini. Tapi saat melihat wajahmu yang selalu tersiksa, aku menjadi khawatir"


Luna melepaskan pelukannya lalu menatapku dalam-dalam dengan matanya yang teduh Dan senyuman yang hangat.


"Aku tahu kau pasti memiliki alasan untuk itu"


Aku merasakan nyeri di hatiku. Menatap matanya yang terlihat tulus itu, rasanya kebohongan adalah hal kejam yang bisa ku berikan padanya. Meskipun ia memaafkanku, namun it tak akan menghapus rasa bersalahku padanya.


Akhirnya ku ceritakan semuanya. Aku mengatakan dengan jujur kemana aku pergi sebenarnya dan untuk tujuan apa.


"Maafkan aku. Hanya saja melihatmu begitu terpukul terakhir Kali, aku takut untuk mengatakannya," ujarku memelas. Aku berharap, Luna akan memahaminya. Setidaknya dia tidak akan berpikir meninggalkanku karena kecewa.


Benar saja, Luna menggenggam tanganku dengan hangat.


"Setelah ku pikirkan, tidak Ada gunanya aku menangis atau bersedih. Masalah ini tidak Akan selesai jika aku tidak bertindak. Jadi... Percayalah padaku, aku akan berusaha keras untuk mengambil hati ayahmu, dan berhentilah mengkhawatirkanku"


Aku bisa melihat ketulusan di matanya. Setelah mengangguk, aku langsung memeluk Luna.


"Mari hadapi ini bersama"

__ADS_1


Janji kami.


__ADS_2