
Bocah delapan tahun itu berdecih kesal. Sudah setengah jam dia menunggu, dan hari ini orang tuanya terlambat lagi. Padahal harusnya dia sudah kembali ke sekolah sebelum istrirahat makan siang. Dia bahkan sampai harus mengambil sendiri hasil tes kesehatannya. Meskipun kekuasaan orang tuanya cukup membantu dalam mengatasi masalah seperti ini, tetapi membuatnya muak juga.
Dengan wajah cemberut, bocah itu menatap orang yang berlalu lalang di depannya. Hari ini banyak sekali pengunjung rumah sakit. Ekspresi mereka cukup menarik perhatian bocah itu. Meskipun dengan garis muka berbeda, semua memiliki kesamaan. Mereka memasang wajah sedih atau panik. Beberapa bahkan menubruk tubuh kecilnya karena tidak memperhatikan jalan dengan benar.
Bocah itu terkejut saat seseorang menyentuh bahunya. Dia menoleh untuk melihat seorang wanita yang mungkin seumuran dengan ibunya menatapnya sambil tersenyum. Bocah itu mendadak merasa bingung. Ia merasa tidak mengenal wanita itu.
Penculik?
Pikirnya. Ia sering mendengar tentang itu dari para pengasuhnya. Kadang ada orang yang memandangnya sebagai sasaran empuk. Tubuh kecil dengan pakaian mahal melekat di badan. Bocah itu segera beringsut mundur. Sesekali melemparkan tatapan waspada. Apalagi melihat wanita itu terlihat lusuh. Warna pakaian yang kusam dan sepatu butut. Ia menjadi takut.
"Nak, bisa aku minta tolong padamu?"
Tanya wanita itu. Di luar dugaan si bocah, wanita itu bicara dengan nada lembut. Namun tidak menyurutkan kewaspadaannya.
"Aku harus mencari dompetku yang jatuh di dalam. Bisakah kau menjaganya sebentar saja?"
Wanita itu segera mengutarakan maksudnya. Membuat bocah itu makin bingung. Dia menoleh ke sekitarnya.
Tidak adakah orang lain yang bisa dimintainya tolong?
Namun dia ingat bagaimana setiap orang yang datang kemari seolah tenggelam dalam pikiran mereka. Mungkin memang tidak akan ada yang peduli pada wanita itu.
Bocah itu menatap wanita di depannya sekali lagi. Terlihat pucat dan peluh berkilat di wajahnya. Mungkin wanita itu sedang sakit atau kelelahan. Sehingga mustahil baginya membawa keranjang di tangannya untuk kembali berlari ke dalam. Akhirnya, bocah itu mengangguk setuju.
Senyum bahagia langsung muncul di wajah wanita itu. Dia lalu meletakkan keranjang yang dibawanya di samping si bocah sebelum bergegas berlari ke dalam.
Bocah itu memperhatikan wanita yang meminta bantuannya hingga tak terlihat. Sebenarnya ia tak terlalu peduli dimintai tolong. Lagipula ia juga masih menunggu orang tuanya. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat ke arah keranjang di sampingnya. Ternyata isi keranjang itu bukan belanjaan seperti yang dipikirkannya.
Ada bayi di sana. Bayi yang sangat mungil. Pipinya masih sedikit kemerahan. Matanya pun belum sepenuhnya terbuka. Sungguh menarik. Bocah itu akhirnya berjongkok untuk melihat bayi itu lebih dekat.
Wanita itu pasti sangat miskin hingga harus membawa bayi ini dalam keranjang. Yang bocah itu tahu, bayi biasanya diletakkan di kereta yang tinggal didorong.
Sekilas, mata mereka saling beradu. Sungguh aneh menurut bocah itu. Bayi ini memiliki warna mata yang berbeda darinya, tetapi terlihat indah sekali manik kecoklatan itu. Ingin dia menyentuhnya.
Bocah itu takut-takut mengulurkan tangannya ke dalam keranjang, dan menyentuh pipi bayi yang telah menarik hatinya. Lembut. Dia belum pernah menyentuh sesuatu yang selembut ini. Sangat halus dan rapuh di tangannya.
Bayi itu memberikan respon pada sentuhannya. Wajahnya terlihat berkerut, entah karena menyukai sentuhan itu atau malah terganggu. Namun tangannya bergerak-gerak mencari asal sentuhan. Dan si bocah memberikan telunjuknya untuk digenggam jari-jari kecil itu. Hangat, itu yang dirasakan si bocah.
Bocah itu tidak tahu apakah itu bayi perempuan atau lelaki. Namun dia menyukainya. Dia langsung merasakan rasa sayang pada bayi itu. Ingin memilikinya.
"Drey, maaf ibu terlambat"
Suara panggilan membuat bocah itu menyadari jika yang ditunggunya telah datang. Dia menoleh dan melihat ibunya yang berlari padanya dengan tergopoh.
"Bayi siapa itu?"
Pekik si ibu histeris, melihat anaknya sedang memegang bayi yang tak dikenalnya.
"Seseorang menitipkannya padaku"
Jawab Drey, panggilan bocah itu santai. Telunjuknya belum dilepaskan oleh bayi itu.
"Manis sekali bayi ini"
Puji si ibu. Dia sudah ikut-ikutan membelai pipi si bayi, membuatnya kembali bergerak-gerak.
"Ibu, aku ingin adik seperti dia"
__ADS_1
Pinta Drey.
"Ibu sudah memutuskan bahwa kau anak terakhir. Ibu sudah tidak bisa melalui rasa sakit melahirkan lagi"
Tolak si ibu tanpa basa basi. Dia sudah membesarkan tiga anak lelaki, dan itu cukup baginya. Memiliki anak yang lain hanya akan menjadi mimpi buruk baginya.
Drey hanya mencebikkan bibirnya kecewa. Dia tidak suka menjadi anak bungsu. Semua kakaknya juga laki-laki dan sering membuatnya kesal. Terutama kakak keduanya yang setiap hari tak bosan mengganggu.
"Kenapa kalian lama sekali?"
Kali ini Drey terjengit kaget saat mendengar suara berat itu. Ada kengerian setiap kali dia mendengarnya. Drey bahkan tidak ingin menoleh untuk melihat siapa yang mengatakan itu. Ia tahu, bahwa suara itu milik ayahnya.
"Lihatlah kemari"
Si ibu malah menyuruh ayah Drey untuk mendekat pada mereka. Drey sempat mendengar decih kesal ayahnya.
"Bayi siapa ini?"
Si ayah mengajukan pertanyaan yang sama. Membuat Drey akhirnya memberanikan diri melihat ke arah wajah ayahnya. Sungguh mengejutkan. Ada binar lembut di mata ayahnya. Belum pernah Drey mendapatkannya selama ini. Ayahnya selalu terlihat keras dan kejam padanya.
Tahu-tahu ayah Drey sudah ikut bergabung, melingkari bayi itu. Dia mengikuti istrinya menyentuh pipi lembut bayi itu.
"Sungguh bayi perempuan yang manis"
Drey kembali heran. Ayahnya mengatakan itu sambil tersenyum.
"Bagaimana ayah tahu dia perempuan?"
Tanya Drey. Senyuman ayahnya mendorong Drey untuk berani berbicara pada ayahnya.
"Tentu saja tahu. Dia punya garis wajah yang lembut dan cantik"
"Ayah, aku ingin adik perempuan seperti dia"
Pinta Drey, persis seperti yang diucapkan pada ibunya tadi.
"Kau mau? Aku juga"
Di luar dugaan, si ayah langsung menyetujui membuat si ibu langsung memukul bahunya tanda protes. Dia tidak ingin suaminya menjanjikan sesuatu yang mustahil.
******
"Maafkan Saya..."
Wanita yang tadi menitipkan bayi pada Drey itu menunduk dalam-dalam. Dia merasa bersalah telah meminta anak orang kaya menjaga bayinya.
"Berhentilah meminta maaf. Aku tidak keberatan sama sekali"
Jawab ayah Drey. Meskipun begitu, wanita itu masih memandang sungkan.
"Apa dia putrimu?"
Tanya ayah Drey mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Bukan. Saya adalah seorang kepala panti asuhan. Bayi itu adalah salah satu anak yang saya asuh"
"Panti asuhan ya..."
__ADS_1
Gumam ayah Drey. Dia melihat ke arah Drey yang terus menatap bayi itu dengan wajah sumringah. Tidak pernah ia melihat Drey begitu bahagia. Dia sendiri juga menyukai bayi itu. Entah rasa sayang yang berasal dari mana. Mungkin karena rasa iba atau karena dia sudah lama menginginkan anak perempuan. Sementara istrinya sudah menolak untuk hamil lagi.
"Kalau begitu, bolehkah aku mengadopsinya?"
Tanya ayah Drey. Ini adalah cara terbaik mendapatkan bayi itu. Drey akan senang memiliki adik perempuan, begitupun dia bisa memiliki anak perempuan. Adopsi juga mungkin dilakukan pada anak panti asuhan.
Namun wanita di depannya justru terlihat bingung. Mengisyaratkan bahwa penawaran dari ayah Drey bukanlah hal yang diinginkannya.
"Ss..Saya sangat berterima kasih dengan perhatian Tuan. Hanya saja..."
Wanita itu gugup menyampaikan jawabannya. Dia memandang betapa menakutkannya pakaian mahal yang dipakai pria di depannya. Ia takut pria itu tersinggung dengan penolakannya.
"Apakah tidak bisa?"
Tanya Ayah Drey yang membaca ekspresi di wajah wanita itu.
"Maafkan Saya!"
Wanita itu kembali menunduk dalam. Ia takut sekali jika pria di depannya akan marah.
"Bayi itu adalah seseorang yang berharga bagi saya. Dia sudah seperti anak saya sendiri, dd..dan..dan.."
Peluh wanita itu berjatuhan. Di kening dan tengkuknya. Ia tidak tahu kata-kata apa yang mesti diucapkannya untuk membuat penolakannya tidak menjadi sebuah penghinaan bagi pria terhormat di depannya.
"Ya, aku mengerti. Sayang sekali jika aku tidak bisa mengadopsinya, tetapi aku yakin kau memiliki alasan yang baik"
Tanggapan ayah Drey sungguh di luar dugaan wanita itu. Dia tidak marah. Wanita itu sedikit lega, pria di depannya berbaik hati tidak memperpanjang penolakan itu sebagai masalah.
"Dia sungguh bayi yang manis. Di masa depan, aku yakin dia akan tumbuh menjadi wanita yang cantik. Aku berharap bisa bertemu lagi dengannya"
Ujar ayah Drey sambil menatap bayi yang masih menggenggam jari Drey itu.
"Siapa namanya?"
Tanya ayah Drey. Jika ingin bertemu lagi, dia harusnya tahu hal paling mendasar seperti nama.
"Saya belum memberikannya nama"
Jawab si wanita sedikit malu.
"Kalau begitu, bolehkah aku memberinya nama?"
Tanya ayah Drey penuh harap. Wanita itu melihatnya. Tanpa ragu, langsung mengangguk setuju. Dia bisa melihat, pria di depannya itu memandang bayi itu dengan binar sayang. Sebuah berkah bagi bayi itu.
"Luna. Tolong beri dia nama Luna. Itu adalah nama yang kusimpan untuk anak ketigaku jika saja dia terlahir sebagai perempuan"
Kenang ayah Drey sambil melihat putra bungsunya. Putra yang dipikirnya akan terlahir sebagai anak perempuan usai memiliki 2 anak laki-laki sebelumnya.
"Tapi nama itu juga punya arti yang bagus. Luna adalah burung laut. Aku berharap dia menjadi seperti itu, tumbuh menjadi gadis yang kuat mengarungi kerasnya kehidupan. Layaknya burung laut yang tak gentar menyusuri gejolak lautan"
Ayah Drey segera memperbaiki alasannya. Si wanita tertawa mendengarnya.
"Sungguh nama yang indah. Saya juga menyukainya. Karena nama keluarga saya adalah Helbram, maka dia akan menjadi Luna Helbram"
Jawab si wanita.
"Luna Helbram yah..."
__ADS_1
Ayah Drey mengangguk setuju. Dia suka nama itu.