
Aku gelisah sekali. Sebentar-sebentar memeriksa baju. Lalu melirik jam, kadang juga melihat ke luar jendela. Padahal cuaca sedang bagus sekarang. Warna musim gugur juga terlihat, tetapi aku malah merasa gugup sekarang.
"Apa kau sudah menunggu lama?" Tanya Drey yang baru datang.
"Baru beberapa menit"
Sebelum duduk, dia merapikan kemejanya. Untuk Hari ini, dia tampil begitu rapi. Padahal baru saja pulang dari latihan.
"Apa kau sudah memesan sesuatu?" Tanyanya lagi. Dia melirik ke arah meja yang masih kosong.
"Haruskah memesan sekarang? Atau sebaiknya menunggu dia datang?" Tanyaku balik karena Tak yakin. Sebenarnya bisa minum di saat ini Akan lebih baik. Aku haus sekali.
"Kalau begitu Kita sebaiknya menunggu saja. Hanya Lima menit dari janji" jawab Drey Setelah melihat arloji tangannya.
Aku hanya bisa mendesah kecewa. Namun hanya untuk sebentar karena ingat dengan kegugupanku.
Kami berdua hanya terdiam setelahnya. Terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Meksipun tahu hanya untuk Lima menit, tetapi terasa lama juga.
Tak lama, aku mendengar suara langkah kaki memasuki ruangan. Hentakan hak tinggi dengan lantai kayu menimbulkan irama yang khas. Tidak sulit menilai kepribadian seseorang dari suaranya. Dan aku tahu, pemilik langkah itu adalah seseorang yang anggun.
Jantungku berdegup cepat saat menoleh. Lalu mendapati rambut brunette yang familiar, serta sebuah senyuman tak lepas menyapaku.
Priscilla langsung duduk di seberang meja, berhadapan dengan aku dan Drey. Kali ini, aku benar-benar berusaha meredakan debaran jantungku, agar tidak terlihat gugup dan minder.
Setelah diberitahu oleh Richard untuk membujuknya, kami segera mencari Cara bertemu dengan Priscilla. Tidak mudah mengundang dia untuk makan siang dengan kami. Aku rasa, sebagai seorang bangsawan, dia punya banyak kesibukan. Mengesampingkan Hal itu, aku tidak menduga dia juga langsung setuju untuk bertemu dengan kami. Ku pikir dia akan menolaknya.
"Restoran ini punya aura yang bagus," ujar Priscilla membuka pembicaraan.
"Aku sengaja memilihnya. Ku dengar chef restoran ini baru saja mendapatkan bintang tiga Michelin. Saat memeriksanya, aku cukup tertarik dengan desain interiornya" aku berusaha terlihat seantusias mungkin saat memberi penjelasan pada Priscilla.
"Ternyata Kita memiliki selera yang sama," puji Priscilla.
Ada perasaan aneh saat dia berbicara begitu akrab denganku. Tidak Ada tanda-tanda bahwa ia kesal aku kemari dengan pria yang semestinya akan ditunangkan dengannya. Walaupun sejak awal, pria itu adalah kekasihku.
Setelah itu kami bisa mengobrol dengan sendirinya. Aku berusaha menjaga perbincangan kami. Membawakan topik tentang makanan yang kami pesan, atau tentang bagusnya cuaca akhir-akhir ini, Apapun itu. Aku tidak ingin suasana dingin di meja ini.
Drey sepertinya tidak terlalu tertarik untuk mengobrol. Dia jarang turut serta dalam pembicaraan kami. Hanya sesekali saat ditanya.
Sejauh ini, semua berjalan dengan lancar. Hingga hidangan utama kami habis, dan menikmati dessert serta secangkir teh. Priscilla tidak memperlihatkan tanda-tanda memiliki niat buruk pada pertemuan ini.
Aku merasa bahwa ini mulai saatnya kami membicarakan tujuan awal mengajak Priscilla bertemu. dengan sikapnya, aku merasa bahwa Priscilla pasti mau bekerja sama. Karena tidak enak jika aku yang meminta, aku memberi sinyal pada Drey agar mulai bicara.
Drey berdeham agar mendapat perhatian. Lalu mulai bicara saat Priscilla sudah melihat ke arahnya,
"Sebenarnya, maksud kami bertemu denganmu adalah untuk membicarakan perjodohan antara aku Dan dirimu. Seperti yang kau tahu, aku telah memiliki Luna, tetapi tidak pantas juga rasanya jika aku sendirian menemui orang tuamu untuk membatalkannya. Jadi, aku berharap kau akan membantuku"
Selama Drey bicara, aku tidak lepas mengamati Priscilla. Dia terlihat tenang saat mendengar ucapan Drey, sama sekali tidak terkejut. Lalu ia tersenyum.
"Saat kalian mengajakku bertemu, aku sudah menduga bahwa kalian ingin membicarakan tentang hal itu," ujar Priscilla. Aku benar-benar tidak bisa menebak isi pikirannya. Apakah dia setuju dengan kami, atau malah menentangnya.
"Apa kau ingat hal penting yang terjadi saat makan malam itu?" Tanya Priscilla berteka-teki. Dia menanyakan itu pada Drey.
"Kejadian apa?" Tanya Drey balik dengan bingung. Aku juga tidak paham dengan yang mereka bicarakan.
Kemudian, tiba-tiba Tatapan mata Priscilla berubah. Begitupun suasana di antara kami. Ku pikir kami merasa nyaman, nyatanya tidak.
__ADS_1
"Kau meninggalkan meja bahkan sebelum dessert di hidangkan. Padahal orang tuaku juga masih di sana," suara Priscilla sangat tenang, tetapi dengan jelas sedang menghakimi.
Akhirnya, aku ingat cerita Drey sebelumnya. Saat makan malam dengan orang tua Priscilla, dia pergi sebelum makan malam berakhir. Sebelum bertikai dengan ayahnya. Jadi, Priscilla ternyata menyimpan dendam atas kejadian itu.
"Aku tahu kau tidak menyukai perjodohan ini, tetapi apakah Kau tidak merasa bahwa tindakanmu itu tidak sopan?"
Aku menelan ludah pahit. Rasanya saat ini kami yang sedang diinterogasi. Dan kami sudah tahu, bahwa pertemuan ini tidak berjalan dengan lancar. Priscilla telah menyembunyikan perasaannya dengan baik hingga aku berpikir semua berjalan sesuai dengan keinginanku.
Di sebelahku, Drey sepertinya juga kewalahan dengan cecaran Priscilla.
"Aku tidak terlalu peduli dengan pertunangan ini pada awalnya. Bahkan aku bisa membatalkannya jika Kalian memohon padaku. tetapi Setelah kejadian itu, aku berubah pikiran. Aku akan mempertahankan ini sebagai gantinya harga diriku yang sudah kau remehkan hari itu"
Tatapan Priscilla benar-benar berubah. Bahkan Rona senyum di wajahnya. Seolah yang makan siang dengan kami tadi adalah orang lain.
Tidak Ada yang bisa ku ucapkan balik padanya.
Priscilla langsung undur diri Setelah itu. Setelah meminta kami tidak lagi mengundangnya untuk bertemu seperti ini, karena tidak Ada gunanya. Drey marah sekali, dia bahkan bangun dari kursinya. Aku tahu, dia hendak berteriak pada Priscilla. Namun dengan cepat, aku menahannya dengan menarik tangannya. Saat ini, tidak Ada gunanya merasa marah pada Priscilla. Hanya Akan memperburuk keadaan. Kami harus mencari Cara lain.
******
Aku dan Drey tidak banyak bicara saat perjalanan pulang. Kami sama-sama tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Penolakan Priscilla tadi memang bukan yang pertama. Drey pernah bicara langsung dengannya dan ia memberikan jawaban yang sama. Namun yang Kali ini punya feeling yang berbeda. Dari caranya melihat kami, aku tahu Priscilla menyimpan dendam pada kami. Ini mungkin akan lebih sulit dari sebelumnya.
"Aku akan mencoba bicara sekali lagi dengannya"
Drey membuka pembicaraan. Dia mungkin juga tahu aku sedang mengkhawatirkan ucapan Priscilla.
"Sebaiknya jangan menemuinya dulu"
"Atau apa aku perlu bicara dengan ayahku? Mereka cukup dekat, mungkin saja ayahku bisa membujuknya dan membuat Priscilla menyerah" ujar Drey masih tetap kekeh.
"Ayahmu sudah bilang tidak akan membantu. Sudahlah, untuk sementara waktu jangan mencoba bertemu atau bicara dengan Priscilla," tolakku.
"Kita tidak pada posisi untuk memaksanya" jawabku sedikit keras.
"Tapi--"
"Kau sudah mempermalukannya malam itu. Setidaknya pikirkanlah perasaannya!" Debatku dengan nada tinggi. Sebenarnya aku tidak bermaksud bertengkar dengan Drey. Aku hanya tidak ingin membuat masalah ini semakin besar dengan kami yang terus memojokkan Priscilla.
Aku khawatir Priscilla akan membuat keributan. Seperti yang sudah pernah dipesankan oleh Richard, keluarganya bukan orang sembarangan dan reputasi Drey sedang dipertaruhkan. Masalah ini runyam sekali.
Drey akhirnya diam dan tidak membantah. Aku merasa sebaiknya kami membiarkan Priscilla dulu. Kepalaku sudah sakit sekali memikirkan bagaimana cara bagi kami membujuknya.
Apakah memang Ada Cara?
Ponselku berbunyi dan membuyarkan lamunanku. Sebuah pesan di sosial media. Awalnya aku tidak ingin memeriksanya, tetapi tiba-tiba sebuah ide langsung terlintas begitu melihat pengirimnya.
Aku segera mengetik balasan. Tidak pernah aku secepat ini membalas pesan dari orang itu.
"Sepertinya aku tahu jalan keluarnya" ujarku pada Drey dengan senyum lebar.
*****
"Kenapa tiba-tiba ingin ikut dalam acara seperti ini?" Tanya Dr. Lily heran.
Aku segera menaruh pamflet di tanganku untuk melihat ke arah dr. Lily. Sebenarnya aku lupa menyiapkan alasan untuk itu. Jadi ku jawab sekenanya.
__ADS_1
"Kegiatan waktu itu meninggalkan kesan yang cukup dalam, jadi aku ingin mengulanginya lagi"
"Dan itu harus acara yang dihadiri Lady Priscilla?" Pancing Dr. Lily, seakan tahu yang tersembunyi dengan maksudku.
Aku melihat senyum di wajah Dr. Lily Dan menjadi merasa tidak enak. Hingga memilih menatap pamflet-pamflet yang tadi ku lihat. Semuanya adalah untuk acara kemanusiaan. Saat ini, hanya ini Cara yang bisa ku pikirkan untuk bertemu Priscilla. Jadi aku meminta bantuan Dr. Lily untuk mengajakku menjadi sukarelawan. Memang aku menyebutkan hanya untuk acara yang akan dihadiri oleh Priscilla.
Dr. Lily tahu masalahku dengan wanita itu, tidak akan sulit baginya menebak tujuanku.
"Aku hanya bercanda, kau tidak perlu mengatakan alasanmu jika enggan" ujar Dr. Lily kemudian.
"Maafkan aku memanfaatkan acara seperti ini, tetapi aku benar-benar harus bertemu dengan Priscilla"
Dr. Lily hanya tersenyum, dia menunjukkan bahwa tidak keberatan dengan Alasanku.
"Ah, dan aku ingin minta tolong satu hal lagi" ujarku kemudian.
*****
Aku rasa Cara konvensional tidak Akan berhasil pada Priscilla. Sehingga aku membuat rencana agar bisa membujuknya. Setelah meminta bantuan Dr. Lily, Kali ini aku harus meminta bantuan pada satu orang lagi.
Tidak pernah aku merasa sesenang ini saat melihatnya. Wanita yang tentunya seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Priscilla. Suara ketukan langkahnya lebih dipenuhi antusias Dan percaya diri. Lekuk tubuhnya yang seksi berlenggak lenggok menarik perhatian setiap orang yang di sekitarnya.
Yap! Dia Gracey.
Saat dia mengirimiku pesan sebelumnya, sebuah ide gila terlintas untuk melibatkannya dalam operasi menaklukkan Priscilla. Aku yakin ini akan menjadi menarik. Dulu, aku sudah mengalami kesulitan gara-gara dia Dan skuadnya. Sekarang giliran Priscilla merasakannya. Ini adalah resikonya mencoba menjadi wanita Drey.
"Hai, Sugar" Sapa Gracey dengan penuh semangat.
Aku segera memeluknya dan mempersilakan duduk.
"Tumben sekali kau ingin bertemu denganku. Kau butuh bantuan apa?" Tanyanya.
"Ikutlah aku dalam acara ini"
Aku menyodorkan pamflet yang tadi ku dapat dari Dr. Lily. Gracey segera membacanya.
"Kau ingin aku menjadi sukarelawan? Apa tidak salah?" Tanya Gracey sambil meringis.
"Ku Mohon, bantulah aku. Tidak ada ruginya Kan melakukan Hal sosial?" Bujukku.
"Tapi aku tidak pernah melakukannya. Kalau dipikir-pikir, bukankah itu terlihat baik jika aku mempostingnya di media sosial?"
"Tentu saja!"
Gracey sepertinya mulai tertarik dengan tawaranku. Namun beberapa detik kemudian, dia menaruh pamflet dan menatapku dengan senyumnya yang penuh arti.
"Kalau begitu, kau juga harus membantuku. Kau hanya perlu membuat Lucas tertarik padaku saja. Tidak lebih"
Kali ini gantian Gracey yang merajuk. Sudah ku duga dia tidak Akan membantu dengan cuma-cuma, tetapi tidak ku sangka dia belum menyerah pada Lucas. Padahal aku bisa menebak bahwa itu tidak Akan berhasil. Gracey sepertinya bukan tipe Lucas.
"Kan sudah ku bilang, aku tidak sedekat itu dengannya"
Gracey langsung cemberut mendengar penolakanku. Jadi ku keluarkan senjata terakhirku.
"Padahal jika kau datang ke acara itu, kau mungkin bisa bertemu calon istri Drey"
__ADS_1
Ekspresi Gracey langsung berubah. Dia menatap penuh antusias padaku.
"Kalau begitu, kau tidak perlu membayarku. Aku Akan datang ke acara itu" ujar Gracey mantap.