Sugar

Sugar
Another Night


__ADS_3

-malam sebelumnya-


Drey tertawa Setelah melihatku yang baru ganti pakaian. Aku malas kembali ke hotel jadi meminjam baju pasien di sini.


"Kau benar-benar tidak ingin kembali ke hotel?" Tanya Drey memastikan.


"Tentu saja" jawabku sambil membetulkan selimut Drey.


Kekasihku sedang cedera dan dirawat, Mana mungkin aku Akan meninggalkannya. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak di Sana.


Sepertinya obat yang diberikan pada Drey mulai bekerja. Dia beberapa kali menguap dan matanya berubah sayu. Dia mungkin berusaha terjaga karena aku. Jadi aku duduk di sampingnya lalu bercerita hal tak jelas, seperti mendongeng. Benar saja. Tak sampai Lima belas menit Drey sudah jatuh tertidur. Ini adalah Cara tercepat membuatnya terlelap.


Aku menatap wajah damai Drey. Terbesit rasa iba. Hari ini dia pasti sudah mengalami hari yang sulit dan mengejutkan. Aku tidak yakin apakah sudah cukup menghiburnya.


Setelah Drey tidur, aku membereskan barangku yang masih berantakan. Aku juga belum mengantuk. Saat melipat gaun pestaku, rasanya Ada yang mengganjal. Sepertinya aku telah melupakan sesuatu.


Ah...Lucas!


Aku baru ingat jika tadi Lucas mengantarku kemari. Karena terlalu panik, aku lupa berterima kasih. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan dia tidak terlihat. Rasanya aku sudah menjadi orang tidak tahu balas budi. Padahal kalau bukan karena dia, aku juga tidak akan tahu di rumah sakit Mana Drey dirawat.


Aku melihat Drey, nampaknya tidur sangat pulas. Jadi diam-diam aku keluar. Setidaknya aku harus menelfon Lucas untuk berterima kasih.


Aku pergi ke meja jaga perawat. Di Sana biasanya Ada yang bertugas saat malam. Jadi aku bisa meminjam telfon untuk menghubungi hotel.


"Kau belum tidur?" Aku terjengit kaget saat ada yang tiba-tiba muncul dan bertanya padaku.


"Lucas? Kau masih di sini?" Tanyaku balik. Heran, melihat orang yang hendak ku telfon ternyata sedang berdiri di Sana.


"Aku berniat kembali setelah melihatmu" jawabnya.


Lucas menggaruk kepalanya, "Kau tahu Kan, aku tidak bisa masuk kesana. Drey mungkin marah saat melihatku" lanjutnya menjelaskan.


Benar juga. Drey mungkin juga tidak akan suka mengetahui bahwa Lucas adalah orang yang mengantarku kemari.


"Kau mau kemana?"


Kali ini gantian aku yang kikuk. Aku harus menjelaskan betapa malunya aku lupa mengucapkan terima kasih Dan hendak menelfon.


Lucas tertawa mendengar jawabanku.


"Kalau begitu, mungkin kau bisa menemaniku minum segelas kopi?"


Aku sebenarnya ragu untuk menerima tawarannya. Meski tidak ada niatan apapun, tetapi Drey bisa salah paham jika melihat kami. Namun setidaknya aku harus membalas kebaikan Lucas. Apalagi dia hanya minta balasan kecil.


Akhirnya aku setuju menraktir Lucas dan duduk di ruang tunggu untuk bicara. Suasana rumah sakit yang sudah sepi saat malam membuat aku tidak perlu khawatir Ada yang mengenaliku.


"Bagaimana keadaan Drey?" Tanya Lucas membuka obrolan.


"Hanya cedera ringan di pergelangan kaki. Menurut pemeriksaan, bagian tubuhnya juga tidak mengalami luka"


"Syukurlah kalau begitu"


Mendengar jawaban Lucas Aku jadi malu sendiri, mengingat kepanikanku tadi. Aku menangis seakan dunia akan berakhir.


"Lalu, apa kau sendiri juga sakit?" Tanya Lucas merujuk pada pakaian pasien yang ku kenakan.


"Aku meminjam ini karena tidak nyaman dengan gaunku" jawabku sambil meringis. Rasanya aku banyak melakukan hal memalukan di depan Lucas hari ini.


Lucas hanya tersenyum. Setelah itu kami mulai membicarakan hal Tak penting lain hingga waktu menunjuk tengah malam. Dan Lucas harus pamit pulang.


*****


Suara decit ranjang membangunkanku. Ternyata Drey sudah lebih dulu bangun.


"Kau sudah bangun?" Sapaku masih berusaha mengembalikan kesadaran. Karena semalam ngobrol dengan Lucas sampai tengah malam, tidurku jadi terasa singkat. Aku masih mengantuk.


Aku melihat Drey memijit kakinya dengan ekspresi tak nyaman. Sepertinya efek pereda sakitnya sudah hilang.


"Apa efek obatnya sudah habis? Mau ku panggilkan perawat?" Tanyaku lagi.


"Tidak perlu, ini hanya terasa nyeri sedikit," tolak Drey.


Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan tidurku, tapi aku tidak tega membiarkan Drey terjaga sendirian. Lagipula hari sudah pagi. Akhirnya aku memutuskan untuk mencuci muka.


Tidak banyak Hal bisa kami lakukan di sini. Namanya juga rumah sakit. Padahal di luar Sana kelihatannya sedang cerah. Pasti menyenangkan bisa pergi jalan-jalan. Tapi Tak mungkin juga kami lakukan.


Sebagai pengobat lara, aku hanya bisa bermain ponsel untuk melihat panduan wisata di Amsterdam. Terutama makanannya. Saat berkunjung kemari, ada beberapa makanan yang sempat ku coba dan rasanya lezat sekali. Kalau bisa aku ingin mencobanya lagi.


Mungkin keinginan itu tergambar jelas di wajahku hingga Drey menawariku untuk pergi. Aku memutuskan menutup ponselku. Mungkin aku harusnya mengalihkan perhatianku dengan hal lain.


Lagipula, lebih baik melalui hari ini dengan bersantai. Baru saja aku berpikir begitu saat gerombolan pengganggu itu datang merusaknya.


Tidak di London, tidak di Amsterdam, tidak di manapun mereka selalu saja muncul.


Aku bisa memahami jika memang Gracey beserta komplotannya datang kemari menjenguk Drey. Tapi mereka sepertinya datang untuk berpesta. Belum beberapa menit berlalu, Gracey sudah mengeluarkan alkohol dan menatanya di atas meja. Sedangkan yang lainnya juga berisik sekali.


"Kenapa Kalian datang kemari?" Tanyaku kesal. Belum pernah aku bersikap begitu tidak sopan pada tamu sebelumnya. Namun mereka sendiri juga mengabaikan nilai kesopanan di sini.


"Ini adalah solidaritas antar teman. Bagaimana mungkin kami tidak menjenguk saat Ada teman yang sakit"

__ADS_1


Entah Gracey serius atau sedang mengejek. Tangannya bahkan tidak berhenti menata makanannya saat mengatakan itu.


"Sejak kapan Drey menjadi teman kalian?"


"Tentu saja sejak lama. Sejak kami berbagi ranjang yang sama"


Kalau yang ini jelas jawaban untuk membuatku jengkel. Dan itu sukses sekali. Mereka harusnya tidak membawa hubungan Masa lalu Drey untuk berkelahi denganku. Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa tertawa sumbang.


Kemarin Richard, sekarang mereka. Kenapa orang-orang di sekitar Drey suka sekali membuatku tekanan darahku Naik?


Aku sedang tidak ingin ribut. Ini masih pagi Dan Drey sedang sakit. Jadi aku pamit keluar. Menggunakan alasan bahwa aku ingin membeli sesuatu di kantin.


Kantin belum terlalu ramai saat aku tiba. Kebanyakan hanyalah petugas rumah sakit. Mungkin karena kantin di lantai ini khusus pasien VIP.


Saat hendak mengambil minuman di lemari pendingin, aku melihat sosok familiar sedang memesan makanan. Tanpa pikir panjang aku menghampiri untuk menyapanya.


"Dokter Lily, kebetulan sekali bertemu di sini"


Dokter yang pernah ku bantu saat acara amal itu menoleh dengan wajah terkejut.


"Hai, kau ada di sini?"


Kami tertawa mendapati pertemuan tak sengaja kami. Karena jika dipikir lagi, ini Amsterdam, bukan London.


Aku malas kembali ke kamar karena harus menghadapi Gracey dan kawannya di Sana. Jadi aku memutuskan duduk sebentar di sini untuk menemani sarapan dr. Lily.


Aku mengamati pakaian wanita cantik di depanku. Dr. Lily masih mengenakan jas dokter, menandakan dia sedang bekerja di sini.


"Apa kau sedang sakit?"


Ternyata tidak hanya aku yang memperhatikan pakaiannya. Dokter itu juga mengamati pakaian pasien yang ku kenakan.


"Tidak, aku hanya menemani kekasihku yang cedera. Aku meminjam ini karena merepotkan harus kembali ke hotel"


"Ah... Benar juga. Bukankah kekasihmu adalah pemain sepak bola yang terkenal itu? Semua orang sedang membicarakannya sejak kemarin"


Aku hanya tertawa mendengar ucapan dr. Lily. Drey memang selalu menjadi pusat perhatian kemanapun dia pergi.


"Bagaimana keadaannya?"


Dr. Lily juga terlihat tertarik sekali membicarakan Drey. Dia mendengarkan dengan antusias ceritaku tentang dia.


"Oh ya. Aku tahu ini tidak etis dan terkesan ikut campur untuk ditanyakan. Tapi, kalau boleh tahu apa hubungan Priscilla dengan kalian?"


"Huh?"


Dr. Lily kemudian menjelaskan bahwa dia tidak sengaja mencuri dengar pembicaraanku dengan Priscilla di acara amal.


Rasanya malu Dan canggung sekali membicarakan ini. Tidak banyak orang yang tahu mengenai konflik di antara kami. Bahkan aku tidak bisa menceritakannya pada orang tuaku. Sebenarnya aku ingin mengelak dari pertanyaan yang terlalu personal ini.


Namun entah kenapa, seolah dihipnotis aku menceritakan semuanya pada dokter yang baru ku kenal ini. Dari mulai Richard hingga perjodohan.


Dr. Lily sepertinya merasa iba padaku. Dia langsung menggenggam tanganku begitu aku selesai bercerita.


"Pasti sulit bagimu. Padahal menurutku kalian pasangan yang serasi" hibur dr. Lily.


Suasana mendadak sedih dan suram. Ini memang sulit bagiku, tapi aku tidak pernah membaginya dengan siapapun. Pada Drey, pada orang tuaku, aku tidak bisa mengungkapkan semuanya. Jadi mendengar ucapan dr. Lily membuat perasaanku campur aduk. Hanya saja aku merasa sedikit lega bisa mengatakannya. Seolah Ada beban yang terangkat dari dadaku.


"Bisakah Anda merahasiakan semua ini?" Tanyaku. Aku tahu dr. Lily bukanlah tipe orang yang suka bergosip. Namun aku hanya ingin memastikan.


Dr. Lily menepuk bahuku sambil tersenyum.


"Aku selalu menjaga erat rahasia sahabatku"


Aku mengangguk senang.


"Meski psikologi bukan bidang utamaku, tapi aku pernah sedikit mempelajarinya. Jika kau butuh teman untuk bicara, hubungilah aku kapanpun"


*****


Aku membersihkan kekacauan yang sudah dibuat oleh Gracey dan kawan-kawannya. Setelah bertahan beberapa jam membuatku kesal akhirnya mereka pergi juga. Namun dengan meninggalkan banyak sampah. Sungguh cara yang sopan sekali untuk menjenguk orang sakit.


Aku juga tidak bisa meminta bantuan tukang bersih-bersih di sini. Gracey membawa banyak sekali minuman beralkohol. Jika ada yang melihat, mungkin akan jadi bahan gosip. Seperti tuduhan bahwa Drey berpura-pura cedera dan malah berpesta di kamar rumah sakit. Aku tidak mau itu terjadi dan reputasi Drey tercoreng. Jadi aku harus membersihkan semuanya sendirian.


"Perlu ku bantu?" Tawar Drey. Dia mungkin merasa sangat bersalah karena menjadi alasan mendatangkan para wanita itu.


"Sudah, beristirahatlah di situ" jawabku.


Tak butuh waktu lama, kamar sudah kembali bersih. Tugasku tinggal keluar untuk membuang sampah. Saat usai membuang, tanpa sengaja aku melihat seorang pria sedang membantu seorang pasien berjalan di lorong. Jika dilihat dari perbedaan usianya, mungkin mereka adalah ayah Dan anak.


Mendadak aku teringat Richard. Apakah dia sudah tahu jika Drey cedera? Tapi Lucas mungkin sudah memberitahunya. Lalu kenapa dia tidak menjenguknya?


Aku tahu hubungan mereka tidak sebaik itu. Apalagi Richard begitu membenci profesi Drey. Dia mungkin senang jika pekerjaan itu akhirnya melukai Drey. Namun, seorang ayah tetaplah ayah.


Dari pembicaraan terakhir kami, aku bisa melihat bahwa Richard sebenarnya sangat menyayangi Drey. Dia begitu cemburu dengan kedekatan kami. Meskipun caranya salah, dia berusaha memberikan yang terbaik untuk Drey.


Aku mencoba berpikir positif. Lucas pasti tidak memberitahunya, atau Richard sama sekali tidak melihat berita. Karena itu dia tidak tahu Drey dirawat di sini.


Dengan pikiran itu aku pergi meminjam telfon rumah sakit. Aku langsung menghubungi hotel dan minta disambungkan pada Richard. Awalnya permintaanku ditolak, karena Richard bukan tamu sembarangan di sana. Namun setelah perkenalan yang ku bumbui sedikit, akhirnya panggilanku tersambung padanya.

__ADS_1


"Siapa orang tak tahu malu yang sudah menyebut dirinya sebagai calon menantuku?!"


Richard langsung berteriak di seberang sana atas kebohonganku.


"Tentu saja aku, siapa lagi calon menantu Anda?" Jawabku sambil menahan tawa. Sepertinya sekarang aku sudah terbiasa dengan kemarahannya.


"Ada apa menelfonku?"


Tadinya ku pikir Richard bakal membantah ucapanku. Namun dia seolah mengakuinya, atau karena dia sedang malas berdebat.


"Aku hanya ingin memberitahu bahwa Drey sedang cedera. Dia dirawat di rumah sa--"


"Aku sudah tahu" potong Richard.


"Semua media sedang memberitakannya, kau pikir aku tidak akan mendengarnya?"


"Lalu kenapa Anda tidak menjenguknya?" tanyaku balik dengan cepat.


Aku mendengar suara tawa mengejek di seberang sana.


"Aku akan menjenguknya jika dia bilang akan berhenti bermain sepak bola"


Aku harusnya sudah menduga jawaban ini. Apa yang bisa ku harapkan darinya. Dia memang seorang ayah, tapi juga seorang pebisnis. Namun aku masih sebal juga. Sebenarnya apa yang membuat Richard begitu keukeuh meminta Drey mewarisi perusahaan jika masih ada Lucas.


"Anda tidak ingin disebut sebagai ayah yang tidak baik, tapi bahkan tidak datang ketika anak sedang sakit. Ironis sekali"


Itu adalah kalimat yang seharusnya kuucapkan di dalam hati saja, tetapi aku malah keceplosan mengucapkannya keras-keras.


"Maksudku, Drey pasti akan senang jika Anda menjenguk walau hanya sebentar" ralatku cepat.


Namun jawaban yang ku dapatkan malah nada sambung. Panggilannya ditutup begitu saja oleh Richard. Padahal aku ingin membujuknya untuk datang, tetapi mungkin malah membuatnya marah. Lain Kali aku harus menulis dulu kata-kata sebelum bicara dengannya. Dia benar-benar pria tua yang sensitif.


Aku kembali dengan langkah gontai. Pikiranku terasa penuh. Perjalanan ke Amsterdam ini mendadak berubah menjadi buruk. Tidak ada satupun hal baik yang terjadi. 


"Bagaimana jika malam ini Kita pergi jalan-jalan?"


Tanya Drey begitu aku membuka pintu. Dia mengejutkanku dengan hal lainnya.


*****


"Apa kau yakin ini akan baik-baik saja?"


Tanyaku tak yakin. Aku melihat sekeliling dengan gelisah. Sementara Drey hanya menanggapinya dengan tawa.


Kepalang tanggung untuk membatalkannya. Akhirnya aku mendorong kursi roda Drey dan berjalan ke lift. Seorang perawat sudah menunggu kami di Sana untuk mengantar ke lantai bawah tempat pintu keluar bagi karyawan rumah sakit berada.


Ini benar-benar ide gila Drey. Kami akan menikmati malam di luar. Kaki Drey belum boleh digunakan berjalan selama masih bengkak, jadi kami meminjam kursi roda. Bahkan meminta bantuan pada staff rumah sakit agar bisa keluar tanpa terlihat banyak orang. Tidak jaminan, para reporter yang memburu Drey sudah pergi dari rumah sakit.


Aku meragukan ide ini. Dengan keadaan Drey, kami juga tidak akan bisa pergi jauh. Mungkin hanya sekitar rumah sakit. Apalagi saat ini kami sama-sama mengenakan pakaian untuk pasien karena Tak ada baju ganti.


Namun begitu melihat pemandangan di luar, aku berubah pikiran. Malam di Amsterdam terlalu indah untuk dilewatkan.


Lampu-lampu yang dinyalakan menerangi malam tak kalah indah dengan London. Apalagi karena posisi rumah sakit berada di depan kanal, keindahannya jadi berlipat. Lampu yang didominasi cahaya warm white menyala di sepanjang kanal membuat suasana menjadi romantis. Bahkan meski hanya berjalan menyusuri tepiannya, cukup memanjakan mata.


Malam itu juga cukup sepi. Hampir tidak Ada pejalan kaki selain kami.


"Indah bukan?" Tanya Drey saat kami berhenti karena lelah berjalan. Juga untuk sejenak menikmati pemandangan malam itu.


Tidak perlu ditanya lagi, aku setuju dan sangat menyukainya. 


"Kalau kakiku tidak cedera, aku ingin membawamu kesana. Di sana pemandangannya lebih bagus, yang terbaik di Amsterdam"


Drey menunjuk sebuah tempat yang bersinar dengan warna mencolok. Hampir seperti sekumpulan lampu berwarna kemerahan.


Aku memandang Drey Tak simpatik.


"Tentu saja di sana adalah tempat dengan pemandangan terbaik. Ada banyak wanita cantik di red light district. Apa kau ingin berburu wanita di sana?"


Sindirku. Aku tidak bodoh, Dan mengenali tempat apa yang dimaksud Drey.


Di Kota ini prostitusi dianggap legal bahkan dilindungi. Pusatnya tentu saja red light district itu. Banyak hiburan malam ala orang dewasa di Sana.


Drey tertawa.


"Ternyata kau sudah tahu"


Entah dia sedang memuji atau meledekku.


"Jangan cemberut dan duduklah di sini" ujar Drey lagi. Dia menepuk pahanya. Memintaku duduk di Sana.


"Tidak, kau sedang sakit" tolakku.


"Yang sakit adalah pergelangan kakiku. Tapi bagian tubuhku yang lain masih sehat"


Akhirnya aku menurut dan duduk di pangkuan Drey. Aneh... Aku pernah melihat adegan ini dalam film sebelumnya. Tapi tidak tahu jika ini akan terasa sangat mendebarkan.


Drey melingkarkan lengannya di pinggangku. Memelukku. Bisa ku rasakan rasa hangat tubuhnya menghalau dingin angin yang menerpa kami.


Mungkin inilah batas kami, tidak mampu lagi berjalan lebih jauh. Lagipula kami juga akan menyusuri kanal yang sama. Jadi berhenti di sini adalah pilihan yang terbaik. Mengheningkan cipta, untuk menikmati waktu berdua.

__ADS_1


Aku dan Drey sama-sama diam. Hanya menatap keindahan di depan kami. Bersandar padanya juga terasa nyaman hingga aku tidak ingin melakukan yang lainnya lagi. Sepertinya ini adalah bagian terbaik dari perjalananku kemari.


__ADS_2