Sugar

Sugar
Night's Off


__ADS_3

Luna berpikir bahwa ini adalah iklan Blockbuster. Dekorasi mewah, ratusan tamu undangan, belasan kamera, semua menyambut kedatangan Luna. Kakinya yang melangkah dengan mantap sebelumnya kini berubah lemas. Luna belum pernah menjadi pusat perhatian seheboh ini. Dia mungkin jatuh jika saja tidak menemukan sepasang mata biru itu.


Luna menemukan pahatan Tuhan yang sempurna di depan sana menunggunya. Hidungnya mancung dengan rahang tegas. Tubuhnya yang tinggi tegap juga berisi dengan cara yang tepat. Menunjukkan aura dominasinya yang kuat. Namun tetap terlihat kelembutan di sinar matanya. Luna tidak bisa menyembunyikan senyumannya.


"Inikah orang yang akan menjadi suamiku selama satu hari ini?" batin Luna.


Ketika tangannya diserahkan oleh Oswald pada pria itu, Luna merasakan ada setruman terasa dari ujung jarinya. Melihat pria itu dari dekat, sukses menerbangkan kupu-kupu di dadanya. Apalagi saat dia mendapatkan senyuman dari balik wajah arogannya.


Sementara pria itu yang adalah Drey juga merasakan hal yang sama. Melihat dari dekat, dia menyadari betapa manis dan menggemaskannya Luna di matanya. Drey ingin merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya. Tubuh mungil? Drey sedikit merasa aneh untuk yang satu itu. Seingatnya putri Emmet Helbram punya tubuh tinggi menjulang bak model. Meskipun Drey hanya pernah melihatnya dari belakang, itupun dari kejauhan. Tetapi mungkin hanya perasaannya.


Mereka berdua telah berdiri di depan altar. Maka upacara mengikat janji itupun dimulai.


*****


"oh... bukankah dia sangat cantik?"


Puji Larya saat melihat calon menantunya digandeng oleh suaminya. Larya tidak punya anak perempuan, sehingga bayangan kehadiran seorang menantu cukup membahagiakan baginya. Apalagi menurutnya Luna terlihat seperti gadis manis dan baik.


"yah..aku tidak pernah melihat dia sebelumnya"


Sahut Ares. Hal yang mengganggu baginya adalah putri siapa yang dinikahi Drey ini. Seingat Ares, dari semua pebisnis atau pejabat yang dikenalnya tidak ada yang memiliki putri seperti Luna. Walaupun harus Ares akui, jantungnya sedikit berdebar melihat kecantikan adik iparnya itu.


Dibandingkan Larya dan Ares, mungkin Calvin-lah yang paling terkejut. Dia merasa kecut di hatinya. Tadinya dia berharap tertawa menyaksikan adiknya yang sombong dipermalukan di atas altar sana. Dia sudah memastikan bahwa Emmet Helbram dan putrinya membatalkan pernikahan ini. Karena itu, tidak satupun keluarga Helbram terlihat di sini. Tetapi Drey masih tersenyum di atas altar dan Siapa gadis ini? Calvin belum pernah melihat Luna sebelumnya.


Percakapan mereka terhenti saat upacara mengikat janji dimulai.


"Do you Drey Alderio Everdeen take Luna Helbram to be your wife, promise to be true to her in a good times and in bad, in sickness and health. Will you love her and honor her all the days of your life?"


Luna sempat terkejut ketika namanya disebut sampai nama belakangnya "Helbram".

__ADS_1


"Darimana mereka tahu nama itu?" batin Luna.


"Yes, I do" jawab Drey mantap. Mata birunya tak lepas menatap warna coklat keemasan yang indah di mata Luna. Tidak ada waktu bagi Luna untuk memikirkan apa yang terjadi. Dia harus mengikuti jalannya upacara yang menurutnya hanya syuting iklan ini.


"Do you Luna Helbram take Drey Alderio Everdeen to be your husband, promise to be true to him in a good times and in bad, in sickness and health. Will you love him and honor him all the days of your life?"


"Yes, I do" jawab Luna.


Mereka kemudian saling menyematkan cincin di jari pasangannya.


"From this moment, i pronounce both of you husband and wife. Now you may kiss your bride"


Tanpa ragu, Drey memagut bibir tipis Luna dengan lembut. Merasakan sekilas rasa manisnya sebelum melepaskannya. Semburat merah memenuhi pipi Luna. Dia menatap mata Drey sambil tersenyum malu-malu. Mengirim pesan kelegaan ke seluruh tubuh Drey, mengatakan bahwa Gadis mungil itu telah menjadi istrinya kini.


Sedangkan Luna hanya bisa terpaku. Dia tidak tahu bahwa akan ada adegan ciuman. Ini adalah ciuman pertamanya, dan diambil di atas altar oleh pria bernama Drey yang baru saja ditemuinya. Namun entah kenapa dia tidak menyesalinya.


Luna bernafas lega saat semua proses upacara telah selesai. Dia ingin segera turun dan menanyakan bagaimana aktingnya. Apalagi saat melihat semua hadirin di ruang itu, dia tidak melihat adanya yang dia kenal. Seperti orang yang menjemputnya di lobi tadi atau yang menawarinya pekerjaan ini. Kalau Luna perhatikan lagi, tidak ada sutradara juga.


Luna ingin beranjak dari sana, namun Drey menggenggam tangannya cukup erat. Sehingga dia merasa tidak enak melepaskannya. Mungkin saja syuting belum usai.


"you're so beautiful"


Bisik Drey tiba-tiba. Sukses membuat Luna terkejut. Dia merasakan bulu di sekitar lehernya meremang. Menghantarkan perasaan aneh yang memacu jantungnya berdetak kencang. Menyemburatkan warna merah di pipinya sekali lagi.


"Anda juga terlihat sangat menawan Mr. Everdeen"


Balas Luna sangat sopan. Drey sungguh gemas dengan gadis di sampingnya ini. dia harus menahan hasratnya untuk tidak sekali lagi mencium gadis itu. Bagaimana bisa dia merasa getaran hanya karena pujian yang biasa didapatnya itu.


"Kau terlalu formal. Mulai sekarang panggil saja aku Drey"

__ADS_1


Drey mengoreksi cara Luna memanggilnya. Dan hanya dijawab anggukan oleh gadis itu.


"Kau benar-benar mengejutkanku Drey, dia cantik sekali!"


Pekik Larya yang muncul mendekat bersama suami dan anak-anaknya. Drey tersenyum bangga mendengarnya. Sementara Luna yang melihat Oswald juga mendekat menjadi kaku. Dia merasa pria itu tidak menyukainya saat berperan sebagai ayahnya tadi.


"Luna, mereka adalah keluargaku. Ibuku, Larya, Ayahku, Oswald Everdeen, kakakku Ares dan Calvin"


Drey memperkenalkan semua keluarganya pada Luna. yang harusnya wajar karena mereka telah menikah. Namun tidak bagi Luna yang mash berpikir bahwa ini hanya syuting. Dia cukup heran seluruh keluarga Drey hadir dalam syuting ini. Dan, pria tidak bersahabat itu ternyata ayahnya. Memang jika dilihat lagi, mereka memiliki kemiripan. Terutama pada poin binar arogan di mata mereka.


"Saya Luna, senang bisa bertemu dengan kalian"


Luna menjawab dengan memperkenalkan dirinya. Tidak ada respon yang berarti dari keluarga Everdeen. Oswald hanya menatapnya dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Ares hanya tersenyum, dan Calvin juga tersenyum, tapi dengan ekspresi menyelidik.


Luna tidak tahu harus bagaimana meluluhkan kecanggungan itu. Hingga Larya mendekat padanya. Menyentuh wajah Luna dengan kedua tangannya.


"Aku senang Drey menemukanmu. Kau memiliki cinta di dalam kedua matamu"


Ucapan Larya terdengar sangat teduh dan sejuk bagi Luna. Walaupun tidak paham dengan maksud perkataan Drey menemukannya. Luna yang tidak pernah memiliki seorang ibu di hidupnya, bisa trenyuh melihat tatapan penuh sayang Larya padanya. Oh..sejujurnya Luna iri pada Drey yang memiliki keluarga utuh. Melihatnya saat dia sedang bekerja seperti ini.


******


Pesta pernikahan belum selesai. Ketika suara musik dilantunkan, Drey menarik Luna ke dalam pelukannya. Membawanya ke tengah ruangan untuk berdansa. Luna bisa merasakan lututnya gemetar. Dia tidak pernah menjadi pusat perhatian. Dan kini semua pasang mata sedang melihat ke arah mereka, ke arahnya. Yang paling mematikan adalah tatapan mata Drey padanya.


Mereka benar-benar sedang berada dalam jarak terdekat. Hingga mereka bisa saling mengagumi setiap lekuk wajah masing-masing. Garis tegas di wajah Drey sedangkan garis kelembutan di wajah Luna. Sesaat, mereka lupa bahwa mereka sedang berdansa sekarang. Atau kenyataan bahwa banyak orang sedang memperhatikan mereka. baik Drey maupun Luna tidak bisa mendengar suara di sekeliling mereka.


Luna menghirup dalam-dalam aroma Drey. Entah aroma parfum atau aftershave yang dirasanya. Yang jelas Luna terbius oleh wangi amber wood dan musk Drey yang maskulin. Luna belum pernah sedekat ini dengan seorang pria. Atau mungkin pria lain yang pernah berada di dekatnya tidak terasa se-menawan ini bagi Luna. Tetapi, bagi Luna, ini adalah pertama kalinya ada seorang pria menggenggam tangannya, menciumnya, dan memeluknya begitu erat. Membuat Luna kesulitan bernafas.


Drey merasa kecanduan dengan Luna. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya pada wanita manapun. Menurutnya Luna beraroma segar namun manis, perpaduan yellow freesia dan white iris. Membuat jantungnya berdebar kencang hanya dengan menghirup wanginya. Bagi Drey, Luna yang pertama membuatnya merasa seperti ini. Atau mungkin karena dia tidak pernah menjalin hubungan serius sebelumnya dengan wanita lain. Yang jelas, Drey ingin terus menyimpan Luna dalam pelukannya. Merasa yakin bahwa dia bisa melalui pernikahan ini dengan gadis itu. Tanpa tahu bahwa saat ini dia tengah memeluk gadis yang salah.

__ADS_1


__ADS_2