Sugar

Sugar
Fight


__ADS_3

Aku merapatkan kakiku dalam pelukanku,



"Maaf, kami butuh seseorang yang terlihat seksi Dan kelihatan menantang. Kau belum memenuhi kriteria itu"



Dalam keheningan ini, aku bisa mendengar dengan jelas kata-kata yang kuterima beberapa tahun yang lalu itu. Kata yang menyakitiku cukup dalam.



"Kalau kau mau sedikit memperlihatkan tubuhmu, mungkin kami bisa mempertimbangkannya"



Kata yang melecehkan harga diriku. Membuatku minder, kehilangan kepercayaan diri. Membuatku sadar betapa kejamnya industri ini. Aku bisa kehilangan peran pada orang lain karena bentuk tubuh Dan penampilan. Tidak peduli sebaik apapun bakatku.



Semua orang terus mengatakan bahwa Kita harus menjadi diri sendiri, itulah definisi kecantikan sebenarnya. Nyatanya tidak. Mereka mengukur ukuran pinggang, dada, bahkan Betis. Lalu membandingkan wajah satu orang dengan orang lainnya untuk melihat seberapa cantiknya seorang wanita.



Jika kalah bersaing dengan kriteria cantik, maka solusi lainnya adalah keberanian untuk mempertontonkan seluruh bagian tubuh. Melakukan adegan panas atau apapun itu. Jika tidak memiliki keduanya, maka bersiaplah menerima kegagalan.



Sepertiku.



Semua pengalaman itu mengajarkanku bahwa tidak Ada yang bisa kudapat dengan gratis. Harus Ada kerja keras kubayar sebagai imbalannya.



Ini bukan sekedar berat badan Naik, bukan sekedar jerawat yang muncul. Namun seluruh kepercayaan diriku yang ikut hilang. Bagaimana aku bisa kembali Syuting Dua Hari lagi?



Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Dan Drey yang hampir terlupakan olehku muncul dengan senyumnya yang seperti biasa. Aku lupa jika tadi berencana menyambutnya pulang dari berlatih. Malah dia sudah lebih dulu kemari.



"Hari ini mau makan malam apa?"



Tanya Drey.



"Buatkan menu diet yang baru. Yang bisa menurunkan berat badan dengan cepat. Juga mulai besok aku Akan kembali jogging Dan olah raga lagi"



Aku tidak menjawab pertanyaan Drey Dan langsung mencecarnya dengan keinginanku.



Drey menatapku heran,



"Kau masih proses penyembuhan"



Tolaknya secara tidak langsung.



"Aku harus menurunkan berat badanku sebelum kembali Syuting. Aku juga harus ke dermatologist. Aku harus..."



"Sugar, hentikan. Tidak ada diet atau olah raga sampai kau benar-benar sembuh"



Potong Drey. Sepertinya aku sangat was was, sehingga penolakan Drey itu malah membuatku kesal. Menurutku Drey sama saja dengan semua orang, tidak bisa memahamiku. Dia tidak tahu kesulitanku.



"Ini bukan urusanmu! Aku Akan melakukan apa yang aku inginkan. Kau tidak punya hak mengaturku"



Tanpa kusadari aku sudah bicara dengan nada tinggi pada Drey. Membicarakan berat badan, penampilan, pekerjaan, adalah Hal yang tidak bisa ditolerir hatiku. Emosiku pasti langsung naik.



Melihat Drey hanya diam Tak bergeming, membuatku Makin tidak bisa membendung emosi lagi.



"Kau tidak Akan pernah memahamiku.."



Ujarku dengan air Mata yang turun dengan deras. Rasanya mentalku benar-benar down. Aku butuh dukungan dari Drey, bukan penolakan.



"Aku memang tidak Akan pernah bisa memahamimu. Yang kutahu orang sakit harus beristirahat, bukan menyiksa dirinya. Jangan berpikir aku akan mendengarkanmu hanya karena kau menangis"



Ujar Drey dingin. Bahkan dengan tangisku yang Makin keras, dia sama sekali tidak goyah. Dan Kata-katanya itu terasa keras memukulku. Hingga aku benar-benar tidak bisa menghentikan tangisku.



Drey melangkah mendekat padaku. Kupikir dia Akan mencoba memelukku untuk menenangkanku seperti biasanya. Namun ternyata dia malah mengangkat tubuhku, membopongku di bahunya seperti membawa karung beras.



Aku yang terkejut karena tindakan Drey langsung meronta minta diturunkan. Drey tidak menggubris Dan membawaku turun ke lantai bawah. Dan baru menurunkan aku di ruang makan.



Begitu diturunkan, Hal pertama yang kulakukan adalah memukuli Drey dengan tangis yang Makin keras. Tindakannya ini membuatku takut sekali. Namun Drey masih diam menerima semua pukulanku.



Pada akhirnya aku berhenti dengan sendirinya. Tanganku sendiri yang sakit melawan tubuh kokoh Drey. Tubuhku juga mulai lemas akibat terlalu syok dan lelah. Sehingga aku sampai harus melanjutkan tangisku sambil berjongkok. Sekarang situasi kami berdua layaknya seorang ayah dengan anak perempuannya yang sedang merajuk.



"Kalau kau sudah selesai menangis, segera duduk. Aku Akan memesan makan malam"



Itu kata pertama yang diucapkan Drey. Terdengar dingin Dan memerintah. Dia bahkan tidak berusaha membantuku berdiri atau sekedar membujuk. Drey benar-benar meninggalkanku menangis sendirian di ruang makan untuk menelfon delivery makanan.



Lama kelamaan aku lelah sendiri menangis. Dari yang tadi keras hingga sekarang tinggal isakan. Kakiku juga kesemutan karena terlalu lama jongkok. Akhirnya mau Tak mau duduk di kursi juga, seperti yang disuruh Drey tadi.



Drey meninggalkanku sendirian di Sana cukup lama. Ketika kembali dia sudah selesai ganti pakaian dan mengambil makanan yang sudah dipesannya. Lalu dengan santai menata semua makanan itu di meja makan, di Mana aku masih terisak dengan sisa-sisa tangisku.



Sudah begitu Drey masih sempat-sempatnya bicara sesuatu yang tidak membantu memperbaiki suasana ini.



"Sup daging di restoran ini sangat lezat sekali. Aku selalu mampir setiap Kali mengunjungi London"


__ADS_1


Tentu saja aku tidak menanggapinya. Bagiku Drey menyebalkan dan semua makanan di meja seperti dipesannya untuk mengejekku. Melihatnya saja aku sudah tahu berapa banyak kalori yang dikandung semua makanan berlemak ini.



Aku tidak mau menyentuh bahkan sendokku.



"Ayo, makanlah"



"Aku tidak mau makan!"



Teriakku marah. Air mataku yang sudah berhenti hendak keluar lagi saking emosinya.



Lagi-lagi Drey hanya menatapku datar.



"Pilihlah. Makan sendiri atau aku bantu. Tapi jika aku yang membantu, Kau harus tahu jika aku tidak Akan menggunakan sendok, Tapi mulutku. Lebih buruk dari yang kau bayangkan. Kau pasti Akan menyesalinya"



Ujar Drey dengan ekspresi serius Dan dingin. Bisa kubayangkan apa arti ancaman itu Dan dia tidak kelihatan main-main. Membuatku keder.



Akhirnya aku makan juga. Memakan sesendok demi sesendok sup daging kesukaan Drey. Aku tidak tahu seperti apa rasanya. karena ketika aku ingat angka timbangan badanku, bagiku setiap sendok itu terasa seperti menelan jarum. Menghujam hatiku Dan menyakitinya.



Drey yang keras Dan dingin ini, Aku juga tidak menyukainya.



**********************************


Aku ingin pulang, aku ingin kabur, aku ingin menjauh dari Drey. Semua pikiran itu membuatku terjaga semalaman. Aku begitu terluka dengan sikap dingin Drey kemarin. Saat aku berharap Drey Akan berada di pihakku seperti biasanya.



Aku tidak suka pria kasar. Karena ayahku tidak seperti itu. Bahkan Casey, tidak pernah sekalipun begitu. Karenanya, ancaman Drey kemarin terasa sebagai sikap kasar bagiku, Dan membuatku takut padanya.



"Sugar, apa kau sudah bangun?"



Drey sudah masuk ke kamarku. Tanpa mengetuk pintu juga.



Aku memilih tidak menjawab Dan pura-pura tidur. Sejak tadi kusembunyikan diriku dalam selimut. Sudah kuputuskan, aku tidak mau bertemu atau bicara dengan Drey. Dia tidak peduli saat aku menangis kemarin. Bahkan sekarang mataku jadi bengkak akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata.



"Sugar...?"



Panggil Drey lagi.



"Kalau kau tidak menjawab, aku akan Naik ke tempat tidurmu"



Drey kembali mengancamku. Dan kali ini aku mengabaikannya. Tetap berpendirian teguh pada rencanaku. Aku yakin Drey hanya mengancam. Mungkin Setelah merasa bahwa ancaman cukup efektif, dia jadi menggunakannya setiap Kali aku tidak mendengarkannya.



Sebenarnya jantungku sekarang berdegup cukup cepat. Khawatir Drey Akan benar-benar melakukan ucapannya. Namun sudah kepalang tanggung menjalankan rencanaku ini.




Otomatis aku langsung berteriak saking kagetnya. Hampir saja aku jatuh terguling ke bawah ranjang kalau saja tangan Drey tidak memelukku dengan kuat.



Aku kembali berontak minta dilepaskan. Aku masih kesal pada Drey. Dan aku Makin marah karena dia tidak sekedar mengancam, Drey benar-benar Naik ke ranjangku.



"Lepaskan! Dasar pria brengsek!"



Umpatku. Segala kata kasar yang kutahu langsung keluar begitu saja. Namun aku kalah kuat dengan Drey yang memelukku erat.



"Kau harusnya menjawab saat kutanya"



Bisik Drey. Membuatku makin keras berusaha untuk melepaskan diri. Tanganku Dan kakiku sudah memukul serta menendang Tak karuan.



Drey tidak pernah seperti ini. Dia tidak pernah bersikap begitu arogan meskipun dari awal memang seorang pemaksa. Dan dia benar-benar membuatku takut. Hingga rasa nyeri dari jatuhku kemarin kuabaikan hanya untuk meronta.



"Sampai kapan kau Akan terus menyakiti diri sendiri?"



Tanya Drey kemudian saat aku tidak kunjung berhenti. Dan mendengar kata-kata itu bukannya membuatku tenang, justru aku semakin ingin menantangnya. Persetan dengan Rasa takut.



Sepertinya ini Akan menjadi pertarungan panjang antara aku Dan Drey. Hingga sebuah kecupan di bahuku yang diberikan secara tiba-tiba, sukses membuatku berhenti. Aku langsung tidak tahu harus melakukan apa. Tindakan inilah yang kutunggu. Saat Drey menunjukkan kelembutannya.



Kami kemudian hanya diam. Hanya Ada deru nafasku yang masih Tak beraturan akibat mengamuk. Padahal begini mudahnya meredakan kemarahanku, dan butuh waktu lama bagi Drey melakukannya. Karena kami sudah mulai tenang, perlahan aku bisa bicara jujur padanya.



"Kau membuatku takut"



Bisa kudengar Drey menghela nafas berat mendengar pengakuanku.



"Justru kau yang membuatku takut. Terus menangis Dan mengamuk sejak kemarin"



Jawab Drey. Karena terdengar seperti dia menyalahkanku, egoku mulai beraksi lagi.



"Kau yang memulainya, memaksaku untuk makan!"



Protesku mencoba mendebat Drey.


__ADS_1


"Kau tidak mau mendengarkanku. Terus bicara tentang diet padahal sedang sakit. Kau tidak Akan makan jika aku tidak memaksamu"



Balas Drey Tak mau kalah. Dia seperti sedang mencoba menjelaskan sikap dinginnya kemarin. Namun itu tidak membuatku puas. Justru aku merasa seperti diprovokasi.



"Kau tidak Akan pernah memahamiku Drey!"



Rasanya air mataku Akan kembali keluar jika ini diteruskan.



"Baiklah..baiklah...aku yang salah"



Ujar Drey kemudian mengalah. Dia menepuk-nepuk lenganku mencoba menenangkanku.



"Sekarang tenanglah. Mandilah Dan bersiap-siap, Kita pergi Setelah ini"



"Pergi kemana?"



"Untuk menuruti keinginanmu itu. Kau ingin tetap diet Kan?"



Kata Drey sebelum melepaskanku Dan keluar. Dia tidak menjawab dengan jelas tujuan kami. Meninggalkanku dalam tanda Tanya.



**********************************


Mobil Drey melaju cepat menembus jalanan London. Kami tidak melaju di jalanan utama menuju pusat Kota sehingga jalan cukup lengang. Drey adalah sopir yang handal, terutama di balik kemudi mobil sport. Pelan-pelan dia selalu menambah kecepatan, hingga aku tidak bisa memperhatikan dengan jelas pemandangan di luar sana.



Meskipun otakku dipenuhi rasa penasaran, aku tidak bisa bertanya pada Drey. Kami belum bicara sekalipun sejak Naik Mobil. Sama-sama memilih diam. Karena aku belum sepenuhnya menerima perlakuan Drey. Aku masih merasa dipaksa olehnya. Suasana hatiku sedang buruk, Drey malah membawaku keluar.



Padahal aku tidak sedang dalam kondisi terbaikku. Mataku bengkak akibat menangis, membuatku harus mengenakan kaca Mata hitam. Aku juga menghabiskan waktu yang lama untuk menutupi Jerawat yang baru muncul di wajahku. Belum lagi memilih pakaian yang tidak Akan membuatku terlihat gemuk.



Mobil Drey melaju ke wilayah yang terlihat Makin asing bagiku. Entah masih di wilayah London atau bukan. Ada perkebunan berderet di sepanjang jalan. Dan sepertinya sepi dari orang.



"Drey tidak Akan menyuruhku berlari seharian di sana Kan?"



Batinku curiga, saat aku melihat tanah lapang yang luas. Di mana biasanya domba digembalakan. Saat ini tempat itu terlihat dingin.



Belum sempat aku memperhatikan lebih jauh, Mobil Drey sudah berbelok ke jalan yang lebih sempit. Lalu berhenti di depan sebuah gedung tua yang Kelihatannya hampir roboh.



Aku mengikuti Drey keluar dari mobil. Masih menatap bingung ke sekitarku. Di sini udaranya lebih dingin dari tempat tinggalku. Membuatku ingin kembali ke mobil.



Tetapi kemudian suara gaduh mencuri perhatianku. Ada beberapa anak kecil keluar dari gedung tua itu, berlari ke arah Drey. Dua anak perempuan Dan tiga anak laki-laki. Salah seorang di antaranya berjalan menggunakan tongkat. Mereka mengenakan pakaian lusuh yang hampir pudar warnanya. Meskipun begitu tetap ceria menyambut Drey.



"Wah..kau semakin cantik saja"



"Hai jagoan, bagaimana kabarmu"



Begitu Drey menyapa satu persatu anak-anak itu. Dia kelihatan begitu akrab bicara dengan mereka.



"Aku sudah membawakan yang aku janjikan"



Ujar Drey sambil merangkulku yang sedari tadi hanya diam karena bingung.



"Cantik Kan pelayan yang kubawa"



Ujar Drey lagi. Anak-anak itu otomatis memperhatikanku. Aku yang tidak siap, jadi salah tingkah.



"H..hai.."



Sapaku gugup. Tanpa kusangka, mereka langsung merubungku.



"Wah...aku tahu siapa kau. Kau pasti June. Kau sangat cantik"



Puji anak-anak itu. Dibandingkan dengan Luna, mereka mengenaliku sebagai June, karakterku di film Breakthrough. Aku hanya mengiyakan.



Sebelum aku sempat menguasai diri, mereka sudah menarikku masuk ke dalam gedung tua itu. Mereka mempersilahkan aku duduk. Di kursi kayu yang di atasnya telah dilapisi Kain agar aku tidak merasa keras.



Di dalam gedung itu, jauh lebih miris. Sangat berantakan Dan Kotor. Ada banyak barang Dan kardus bertumpuk menjadi satu. Gedung ini terlihat besar dari luar, namun ternyata sempit sekali, Dan gelap. Beberapa Kali aku bergidik ngeri melihat hewan berlarian di lantai atau dinding. Seperti kecoa Dan tikus.



Di sini juga tidak Ada perabotan. Kursi yang kududuki adalah satu-satunya barang Paling mewah di sini. Serta beberapa lembar tikar yang digelar di lantai, sepertinya pengganti ranjang. Karena Ada gumpalan Kain berfungsi sebagai bantal di atasnya. Bahkan meja di samping kursiku saja seperti mau rubuh jika ditekan terlalu kuat.



Karena tidak Ada lemari juga, baju-baju bergantungan di hampir seluruh ruangan. Sebagian dimasukkan dalam kantong plastik yang digantung juga.



Bagaimana bisa Ada orang hidup di tempat seperti ini?



Pertanyaan itu benar-benar berkelebatan dalam pikiranku. Bahkan hanya melihatnya saja aku sudah sesak. Sedangkan lima anak itu bisa bertahan tinggal di sini. Dari yang tertua, Mario, Andrew, Ella, Terri, dan Rilla.



Sementara para anak laki-laki merubung Drey, yang anak perempuan sepertinya sudah lengket padaku. Si Ella terus berdiri di depanku sambil tersenyum malu-malu, sedangkan SI kecil Rilla bahkan menarik-narik bajuku.



Aku tidak tahu kenapa Drey membawaku kemari, Dan apa hubungannya semua ini dengan dietku.

__ADS_1




__ADS_2