Sugar

Sugar
Look at Me!


__ADS_3

Tanganku gemetar saat memandangi isi layar ponselku. Seolah merasakan sakit yang teramat setelah ditampar keras. Aku akhirnya sadar saat melihat jejak kegilaanku kemarin.


Mencium Drey di jalanan.


Hal tergila yang pernah kulakukan dalam hidupku. Hal yang mungkin hanya akan kulakukan jika aku mabuk atau sudah menyerah pada kehidupan. Nyatanya, kulakukan itu dengan penuh kesadaran. Entah berkat dorongan setan mana aku melakukannya. Aku bahkan bisa melihat diriku tersenyum di foto itu.


*Katakan ini bohong,


Katakan ini mimpi,


Katakan ini hanya khayalanku*,


Tentu saja jawabannya tidak. Meski aku melihatnya selama seratus kali pun, gambarnya tidak berubah. Artikel tentang ciuman itu juga tersebar di seluruh media. Bahkan platform media sosial juga ikut terbakar oleh berita. Tidak ada yang tidak membicarakan nama Luna dan Drey hari ini.


Namun itu bukan bagian terburuk dari pagi hari ku.


"Siapa yang mengajarimu menjadi gadis liar seperti itu?!!"


Teriakan ibuku pun terdengar nyata. Nyaris memecahkan gendang telingaku. Padahal volume telfon sudah kukecilkan ke tingkat paling rendah. Aku tetap bisa mendengar omelan ibuku berdengung di telinga.


Setelah melihat foto dan membaca artikel tentang diriku dan Drey, ibu tidak bisa tinggal diam. Ibuku menyimpulkan bahwa kesalahan terletak padaku. Karena dari video yang dilihatnya, jelas saja aku yang berlari pada Drey. Ibu jadi malu sendiri. Apalagi orang-orang yang mengenal ibu membagikan video itu di grup chat mereka. Lalu menyerangnya dengan pertanyaan sarkas.


"Anak perempuanmu berani sekali ternyata. Apa mereka sudah berencana untuk menikah?"


Semua itu karena tindakanku masih tergolong tabu di sana. Masalah semakin besar karena pemberitaan yang berlebihan di infotainment sana.


Butuh waktu hampir setengah jam bagiku mendengarkan kemarahan ibu. Untung saja kami menggunakan panggilan internasional. Sehingga ibuku harus menahan sisa kemarahannya. Untuk sementara aku terselamatkan.


******


"...Tetapi denganmu, aku ingin seluruh dunia tahu dan melihatnya..."


Aku rasa kata-kata itu yang menjadi pemicunya. Hingga aku kelepasan dan ingin membalasnya. Jika aku merasakan hal yang sama dengan Drey.


Ingin dunia melihat kami.


Hubunganku dengan Casey sebelumnya berjalan secara rahasia. Kami menjaga privasi dengan kuat, sehingga aku tidak pernah tahu rasanya kencan seperti orang normal. Terkadang aku seperti merasa bahwa Casey malu denganku. Sedangkan Drey bisa mewujudkan keinginanku itu. Menyebabkan aku juga tidak bisa menahan diri lagi.


Hanya saja sekarang aku harus menghadapi konsekuensi kegilaanku itu. Pasangan selebritis berciuman di depan publik memang bukan hal aneh di industri ini. Dulu berita awal kami juga ditulis setelah aku dicium oleh Drey secara tiba-tiba di pesta.


Yang membedakan pemberitaan dulu dan sekarang, foto ciuman di pesta tak pernah tersebar luas. Hanya didokumentasikan dalam bentuk kata-kata di artikel. Namun sekarang, tak hanya foto, videonya juga ada. Belum lagi yang berinisiatif mencium adalah aku. Seorang aktris dengan imej baik-baik. Secara instan berubah menjadi seorang yang liar dan bebas. Berkat hal itu popularitasku meroket tajam. Bukan hanya dalam hal baik tentunya.


"Dia mungkin melakukannya untuk popularitas"


Kesal sekali aku saat membaca komentar semacam itu. Para haters tidak pernah tinggal diam saat ada hal semacam ini menimpaku. Mereka pasti berusaha menggiring opini ke arah yang negatif.


"Kalau saja aku tahu ada cara seperti ini untuk meningkatkan popularitasmu secara cepat, aku tidak akan perlu bekerja terlalu keras"


Salah satu orang yang mendengungkan hal sama dengan para haters itu tentu saja Daniel. Dia tak henti membahas berita ciuman itu. Entah dia sedang memujiku atau mengejekku. Mengaitkan berita itu dengan popularitasku yang meningkat.


"Hentikan!"


Ujarku sebal.


"Kalian harus sering-sering melakukannya. Bisa meringankan pekerjaanku dan bisa mendatangkan banyak uang untukmu"


Dasar Daniel. Penolakanku selalu menjadi bahan bakar untuk mulutnya yang suka menggosip. Sekarang aku sedang bersiap melemparkan ponsel di tanganku padanya.


"Jadwalmu penuh dengan undangan acara talk show"


Tanganku berhenti.


"Talk show apa?"


Tanyaku terkejut.


"Hanya bercanda, hahaha... Kau tidak mungkin pergi kemana-mana sebelum syutingmu di sini selesai"


Tawa Daniel keras sekali meledekku. Aku mendengus kesal. Kubatalkan lemparanku. Aku berubah pikiran. Ternyata sayang juga ponsel mahalku digunakan untuk menghantamnya.


"Ada tawaran pekerjaan untukmu"


Ujar Daniel yang terlihat masih dengan gurauannya. Aku menatap ragu padanya. Tidak yakin dia serius atau kembali berbohong.


"Aku serius. Ini tawaran film, walaupun harus kasting dulu"


Ujar Daniel yang tahu arti tatapanku. Daniel kemudian membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah naskah untuk diserahkan padaku.

__ADS_1


Aku mengernyitkan kening saat membaca judul film itu, "Passionate Lover". Terdengar intim sekali. Perasaanku sedikit tidak enak, tetapi memutuskan membaca isinya. Sementara aku sibuk mencerna isi naskah, Daniel menceritakan tentang Tim produksi film itu. Ada beberapa orang hebat yang kukenali, hanya saja tidak dengan sutradaranya. Belum pernah kudengar namanya. Lebih mencurigakan saat Daniel berbicara melebih-lebihkan kepribadian sutradara itu, tanda jika dia sendiri tidak terlalu mengenalnya.


Mataku terbelalak saat melihat salah satu adegan dalam naskah. Tanpa perlu kulihat lebih jauh, kukembalikan naskah itu pada Daniel.


"Aku tidak akan mengikutinya"


"Kenapa? Kudengar film ini cukup besar dan mereka sedang bernegoisasi dengan Andrew Jr. untuk menjadi aktor utamanya"


"Drey akan membunuhku jika aku terlibat dalam film itu"


Jawabku sambil bergidik ngeri membayangkan reaksi Drey. Dia menggila hanya dengan adegan ciuman, apalagi jika di dalamnya ada adegan ranjang. Dia mungkin akan mengobrak abrik lokasi syuting dan mengamuk seperti Hulk. Tidak, aku tidak akan membiarkan bencana macam itu terjadi. Lagipula akal sehatku juga menolak memainkan adegan semacam itu dalam karirku. Meskipun Daniel menyebutkan nama aktor yang sedang sangat terkenal saat ini untuk merayuku.


"Benarkah seperti itu? Bagaimana ini?"


Tiba-tiba Daniel melihatku dengan ekspresi khawatir. Perasaanku langsung tidak enak. Masalah apa lagi yang ia buat?


"Ada apa? Kenapa?"


Cecarku ikut cemas.


Daniel langsung membuat pengakuan jika dia sudah menerima pekerjaan di luar sepengetahuanku. Menjadi model dari sebuah merk fashion terkenal bersama dengan seorang selebriti pria. Kami akan menjalani pemotretan bersama layaknya seorang kekasih.


"Ah, kalau itu tidak perlu khawatir. Pose berbahaya apa yang bisa kulakukan. Kalau hanya bersikap layaknya kekasih, cukup berdekatan saja bisa kan?"


Jawabku enteng. Aku sudah memiliki banyak pengalaman berpose sebagai model dengan pria sebelumnya. Tidak akan ada yang bisa lebih buruk daripada naskah film yang barusan kubaca.


"Tetapi, aku dapat kabar kalau Morrino D. yang akan menjadi fotografernya"


"Huh? Siapa?!"


Kali ini aku bisa memahami kecemasan Daniel.


******


"Tik..tik.."


Aku bisa mendengar suara detak jam di tanganku. Padahal biasanya tidak bisa. Mungkin karena saking gugupnya aku, inderaku menjadi lebih peka dari biasanya. Berkali-kali aku juga merasakan sedang menelan ludah pahit.


"Daniel memang kejam".


Umpatku dalam hati berkali-kali. Semua ini salahnya, aku berusaha mengingat hal itu. Dia yang menerima pekerjaan tanpa mendiskusikan denganku lebih dulu.


Seorang pria dengan rambut panjang Dan memakai kaca mata menyapaku.


"Terima kasih, senang bertemu denganmu Mr. Morrino"


Balasku sambil menjabat tanganku. Pria yang sedianya menjadi fotografernya itu tersenyum. Dia berbasa basi sebentar denganku sebelum kembali ke tempatnya bekerja.


Aku langsung melepaskan nafas besar begitu Morrino pergi. Memandanginya dia dari jauh. Dia lebih ramah dari yang kubayangkan. Namun di balik senyuman ramahnya itu, Morrino dikenal seperti iblis kalau sudah memegang kamera. Dia sebenarnya adalah orang yang Paling ingin kuhindari dalam karirku.


Morrino cukup dikenal kalau urusan mengambil foto pasangan. Beberapa foto yang diambilnya dari pasangan selebritis paling terkenal di industri hiburan dianggap sebagai masterpiece. Menampilkan nilai estetika yang tinggi adalah keahliannya. Hanya saja dari sudut pandangku, dia mengeluarkan nilai estetika dari "intimnya" hubungan pasangan tersebut. Pose-pose yang tidak akan bisa aku lakukan.


Secara pribadi, aku memang tidak ingin terlibat dalam pemotretan ini. Namun yang lebih kutakutkan adalah reaksi Drey nanti. Kalau Morrino memintaku melakukan pose tertentu, lalu Drey melihatnya, aku tidak bisa membayangkan reaksinya. Saking takutnya aku bahkan tidak memberitahunya mengenai pemotretan ini.


Kalau bisa aku akan membatalkan pekerjaan ini, tetapi aku akan terkenal penalti jika membatalkan kontrak yang sudah diteken. Bukan hanya secara materiil, ada dampak kerugian pada reputasi juga. Intinya aku sudah tidak punya pilihan mundur sekarang.


"Wajahmu pucat sekali sejak tadi. Sepertinya kau benar-benar ketakutan"


Daniel memberikan komentarnya setelah memperhatikan wajahku dari dekat.


Bukannya sudah terlambat dia mengatakan itu. Rasanya aku sudah pucat selama beberapa hari ini. Rasanya aku tidak memiliki ketenangan sejak berita ciuman itu keluar.


"Tenang saja, aku pasti akan membantumu bicara dengan Drey nanti"


Daniel mencoba menghiburku, tetapi sama sekali tidak menenangkanku. Dia bicara begitu sambil meringis.


"Sepertinya sebentar lagi pasanganmu akan datang"


Ujar Daniel lagi. Aku hanya melengos tak peduli. Aku tidak tertarik dengan siapapun pasanganku nanti. Meskipun Daniel mengatakan dia termasuk selebriti yang terkenal. Di pikiranku hanya ada Drey sekarang.


"Dia sudah datang"


Daniel mengumumkan padaku setelah mengintip keluar ruang ganti.


"Sebaiknya kau segera pergi sana"


Usirku pada Daniel. Dia bicara tanpa henti membuat kepalaku pusing.

__ADS_1


"Dia datang kesini, lho"


Daniel mengabaikanku dan malah kelihatan bersemangat.


"Huh? Kenapa?"


Tanyaku panik. Aku belum selesai dengan persiapan. Malu sekali jika dilihat seperti ini oleh orang lain.


Sebelum aku memberitahu Daniel agar melarang orang itu datang kemari, dia ternyata sudah lebih dulu muncul. Aku langsung membeku saat dia menyapaku.


"Hai, Sugar..."


******


Beberapa kali aku mencuri pandang ke kursi di sampingku. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Drey di sini. Dia duduk di sampingku dan melakukan persiapan yang sama denganku.


Setelah Daniel menakutiku seperti itu, ternyata pasanganku dalam pemotretan ini adalah Drey. Mereka bekerja sama untuk tidak memberitahuku. Daniel bilang pemilihan Drey sebagai model pria dilakukan di detik-detik terakhir, tepatnya setelah berita kami keluar. Perusahaan pakaian ini sepertinya ingin menjual kisah cinta kami dalam iklan mereka.


Aku melihat Daniel yang tak henti menunjukkan senyumnya di belakang Drey. Dia benar-benar menjahiliku habis-habisan kali ini. Daniel mengatakan hendak bicara sejujurnya padaku sebelum pemotretan dimulai. Namun dia berubah pikiran saat melihat reaksiku yang sangat ketakutan. Ingin sekali aku membalasnya suatu saat.


"Kau cantik sekali hari ini"


Puji Drey membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya datar. Pria ini tidak ada bedanya dengan Daniel. Kami bertemu di rumah beberapa kali dan dia tidak mengatakan apapun. Malah membiarkanku diliputi kecemasan di depannya.


Asisten Morrino memanggil kami untuk segera memulai pemotretan. Kami pun beranjak dari tempat kami duduk dan pergi menuju set pemotretan.


Morrino memberikan instruksinya sebentar sebelum mulai membidikkan kameranya. Saat Drey mendadak meletakkan tangannya di pinggangku sesuai arahan Morrino, baru terpikir olehku saat itu.


Aku tidak bisa berbohong jika saat ini jantungku berdebar kencang oleh rasa bahagia. Tidak akan terbayangkan olehku bisa bekerja dengan Drey. Aku jadi teringat ucapanku pada Drey beberapa waktu yang lalu.


"Kau saja yang berhenti jadi pemain sepak bola dan menjadi aktor agar aku tidak perlu beradu peran dengan pria lain"


Tak kusangka kata-kata itu menjadi kenyataan. Aku bisa berada dalam satu frame dengan Drey meskipun tidak sedang beradu akting. Aku juga tidak perlu canggung bersikap mesra dengannya.


Drey juga sudah terbiasa berada di depan kamera. Dia luwes bergerak tanpa canggung. Terkadang menerjemahkan instruksi Morrino lebih baik daripada aku. Bisa dibilang pengalamannya sebagai cassanova juga cukup membantunya.


Setelah puas mengambil gamba, Morrino memberikan break untuk kami. Drey memonitor hasil foto dengan Morrino. Sedangkan aku harus tetap berada di set. Seorang stylist menahanku di sana untuk mengganti aksesoris.


"Kalian serasi sekali. Kami sama sekali tidak bisa melepaskan pandangan dari kalian"


Bisik stylist itu secara tiba-tiba. Sebuah pujian yang berakibat buruk. Fokusku jadi buyar dan aku mulai menyadari posisiku sekarang.


Saat Drey kembali bergabung di set, akhirnya aku melihat ke sekeliling. Di mana tatapan para staf terpusat pada kami. Hal itu menyentuh titik kelemahanku.


Saat bekerja atau syuting, aku memerlukan konsentrasi tinggi. Saking fokusnya tidak akan menyadari kondisi sekelilingku. Seakan hanya ada aku di sana. Maka aku bisa mengeluarkan emosi dengan baik. Hanya saja konsentrasi itu juga mudah buyar, terutama ketika aku gugup atau memikirkan sesuatu yang lain. Jika sudah buyar di tengah syuting, sulit bagiku mengembalikannya lagi kecuali dengan beristirahat. Namun waktu break kami telah usai. Sebelum aku mengungkapkan masalahku, Drey dan sorotan kamera sudah siap. Mau tak mau aku harus menahan diri.


Ckrek,


Ckrek,


Ckrek,


Kamera terus memotret tanpa henti. Aku juga semakin jelas melihat tatapan orang padaku. Biasanya tidak separah ini, tetapi baru-baru ini ada kejadian foto ciuman yang tersebar. Aku masih minder dengan tatapan orang karena itu.


"Ekspresimu terlalu kaku"


Tunjuk Morrino yang akhirnya berhenti mengambil gambar. Tanpa perlu melihat monitor, fotografer berpengalaman seperti dia pasti bisa mengetahui hal itu dari jepretannya.


"Maaf"


Jawabku. Aku segera berusaha menenangkan diri. Namun seperti efek spiral, semakin aku berusaha untuk tenang, rasa gugup justru semakin besar.


"Kau kenapa? Tegang sekali"


Tanya Drey. Dia pasti menyadarinya saat memegang tubuhku.


"Tidak apa-apa"


Jawabku lagi menyembuyikan perasaanku.


Aku menghembuskan nafas pelan berulang kali, berharap konsentrasiku bisa segera kembali. Saat itu, Drey meraihku.


"Lihat aku, Sugar"


"Huh?"


"Cukup lihat aku dan sekitar kita"

__ADS_1


Ujar Drey lagi. Dia seolah tahu bahwa saat ini aku gugup karena pandangan sekitarku.


Sekali lagi aku mencoba menghembuskan nafas, sambil memejamkan mata. Memberi tahu diriku bahwa aku harus rileks. Saat aku membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah senyuman Drey yang sangat lembut. Sukses menghipnotisku. Membuatku tidak lagi merasakan sekitarku. Lihat Drey, cukup hanya melihatnya. Dan itu yang kulakukan di sisa pemotretan.


__ADS_2