
Pintu itu terhubung langsung dengan dapur di tempat Drey juga. Namun pemandangan di Sana membuatku takjub. Tidak Ada apapun di dapur Drey. Kosong. Bahkan kulkas atau peralatan makan sekalipun.
Aku melangkah pelan menyusuri rumah itu, Dan semakin ternganga. Hampir tidak Ada perabotan apapun di dalam rumah Drey. Kosong layaknya rumah yang baru dibangun. Bahkan lantainya terasa lebih dingin dari tempatku.
Mendadak aku merasa bersalah. Aku tahu kedua rumah ini adalah milik Drey. Dia lebih mendahulukan untuk mengisi rumah yang kutinggali. Kuingat betapa kerasnya aku berteriak padanya tadi.
Ruangan terakhir yang kukunjungi adalah ruang tengah. Hanya Ada sofa dan sebuah televisi di Sana. Ada siaran pertandingan sepak bola sedang berlangsung. Sementara Drey yang mestinya menonton pertandingan itu malah tertidur pulas di sofa.
Aku mendekati Drey pelan-pelan. Untuk pertama Kali aku bisa melihat gurat kelelahan di wajahnya. Drey selalu tertawa setiap kali bersamaku sehingga aku tidak menyadarinya. Drey pasti sama lelahnya denganku. Dia juga baru pindah kemari dari Madrid. Dia juga harus beradaptasi dengan tempat ini seperti diriku. Dan Drey masih sempat meladeni sikap manjaku.
Sebagai permintaan maaf, aku mengambil selimut kecil samping sofa-nya. Lalu pelan-pelan menyelimutkannya ke tubuh Drey.
"Hai sugar..."
Hampir saja aku jatuh mendengar suara sapaan Drey yang ternyata sudah bangun itu.
Aku langsung malu melihat senyumnya yang seolah sedang menggodaku.
"Apa kau sedang merindukanku?"
Goda Drey semakin menjadi.
"Sudah waktunya makan malam"
Ujarku Sebelum kepercayaan dirinya Makin meninggi. Aku bisa mendengar tawa renyah Drey.
"Wow...apa kau masak untukku?"
Drey masih belum berhenti. Sepertinya aku salah besar memberikan perhatian pada pria satu ini. Karena itu aku memilih untuk mengabaikannya.
Aku membiarkan diriku menyerah pada Drey sekarang. Setidaknya aku harus memberikan sesuatu sebagai balasan dari kebaikannya. Melihatnya begitu lahap menyantap sup buatanku, cukup menyenangkan juga. Sudah lama aku tidak menikmati Hal semacam ini. Aku selalu menghabiskan makan malamku sendirian. Memiliki seseorang yang makan di meja yang sama jadi terasa istimewa untukku.
"Kau tidak perlu pindah dari sini. Biar aku saja yang pergi. Aku Akan mencari tempat tinggal yang baru"
Ujar Drey tiba-tiba. Aku sangat tidak menduga pembahasan semacam ini darinya. Meskipun aku yang terus-terusan mengatakan Akan pindah.
"Pindah kemana?"
"Kemana saja. Aku juga bisa bertanya pada klub ku jika mereka menyediakan asrama. Lebih baik daripada membiarkanmu mencari di luar Sana"
Ada Rasa tidak menyenangkan timbul di hatiku saat mendengar kata-katanya. Padahal sebelumnya inilah yang kuinginkan. Bagiku tidak mungkin kami tinggal bersama. Walau sebenarnya kami Ada di rumah yang berbeda.
Luna adalah gadis yang realistis. Mengukur semuanya dengan logika. Tidak bisa menerima apapun yang bertentangan dengan keyakinannya selama ini. Itulah yang kutahu tentang diriku. Namun setiap Kali berurusan dengan Drey, rasanya akal sehatku tidak lagi bekerja dengan baik.
"Jangan pindah"
Meski kata-kata itu datang dari mulutku sendiri, aku tidak tahu kebodohan macam apa yang mendorongnya.
"Huh? Apa?"
Tanya Drey heran.
Sekarang sebenarnya adalah kesempatan bagiku untuk menarik semua kata-kata ku barusan. Aku harus kembali pada kesadaranku. Drey adalah pria yang berbahaya. Hanya berada di sekitarnya saja telah mengubah banyak Hal dalam hidupku. Apalagi jika tinggal bersamanya.
Namun saat aku menatap Mata biru itu, aku harus mengakui. Bahwa aku sangat membutuhkan Drey. Dia telah mengisi bagian sepi dalam hidupku Dan menghidupkannya lagi. Aku selalu menantikan hal-hal baru yang dibawanya dalam hidupku.
"Jangan pindah. Aku juga Akan tinggal"
Ujarku lagi. Kali ini dengan suara yang lebih keras Dan tegas. Aku mungkin akan menyesali keputusanku ini suatu saat. Tetapi hanya untuk saat ini, aku ingin memiliki lebih banyak waktu dengan Drey.
"Apa kau yakin?"
Tanya Drey, yang kujawab dengan anggukan.
Drey tersenyum. Dan benar saja, tidak perlu menunggu sampai nanti, aku langsung menyesali keputusanku secara instan.
__ADS_1
"Aku juga hanya bercanda. Aku tidak Akan pergi kemanapun"
Ujar Drey sambil tertawa keras. Ugh! Bisa kubayangkan betapa konyolnya keseriusanku tadi. Drey Akan selalu menjadi Drey. Dan aku tidak bisa menang darinya.
********************************
Menjadi tetangga Drey Akan menjadi Hal paling menyebalkan untukku. Karena di dalam rumahnya belum ada perabotan, secara otomatis dia berada di rumahku hampir 24 jam. Kecuali saat pergi tidur. Dan sepertinya dia tidak memiliki niat untuk membeli perabotan untuk menggangguku.
Dia juga mengatur semua jadwalku. Pagi ini adalah awalnya. Matahari bahkan belum terbit saat dia memaksaku bangun. Mengganti pakaian, melakukan peregangan, lalu jogging di jalanan yang dingin.
Aku sangat benci olahraga. Apalagi di musim dingin begini. Rasanya tubuhku beku dari atas sampai bawah. Aku bahkan lebih memilih menjatuhkan diri di jalan yang beku daripada terus berlari. Tapi Drey terus mengomel padaku. Terutama tentang rencanaku menurunkan berat badan. Padahal dia sendiri yang merusak diet-ku.
Kami berlari di luar sampai matahari mulai agak tinggi. Begitu kembali ke rumah, nafasku seperti mau habis. Dan tubuhku langsung ambruk di teras. Aku tidak bisa bergerak lagi. Kalau tubuhku patung, mungkin sudah terbelah menjadi beberapa bagian.
Namun Drey tidak membiarkanku beristirahat. Dia langsung mengajakku melakukan peregangan lagi. Hingga akhirnya aku tidak lagi bisa bergerak saat sarapan. Seumur hidup ini pertama kalinya aku berolahraga begitu keras di pagi Hari.
Tiba-tiba Ada aroma lezat mengembalikan semangatku. Perutku yang kosong terasa mulai bergejolak. Melihat sarapan yang disajikan oleh Drey. Dia memberikan makanan yang sebenarnya tampilannya tidak menggugah selera karena menu diet. Namun punya aroma lezat dan Ada bermacam isinya. Drey mengaturnya agar warnanya tetap terlihat cantik.
"Apa tidak masalah aku memakan semua ini?"
Tanyaku ragu. Meski aku melakukan olah raga dengan keras, Akan percuma jika makananku tidak ikut dikontrol.
"Aku sudah menghitung jumlah kalorinya. Menyesuaikan dengan kebutuhan diet mu"
Tanpa menunggu lagi, aku langsung menyantap makanan di depanku. Meski rasanya masih hambar, namun setidaknya aku tidak merasa lapar lagi. Menu diet ala Drey mengenyangkanku. Ternyata tidak buruk juga memiliki pacar seorang atlet.
Drey bahkan sudah menyiapkan menu makan siang Dan malamku. Serta menu latihan untuk siang ini. Yang semuanya lebih baik daripada Cara menurunkan berat badan yang ditentukan oleh Daniel.
Mulai Hari ini Drey sudah harus pergi latihan bersama klub barunya, sehingga dia tidak di rumah sampai nanti sore. Sambil menghabiskan waktu sendirian, aku memutuskan membongkar barangku.
Drey mengizinkanku untuk menata interior rumah ini seperti yang kuinginkan. Dan ini adalah salah satu kegiatan favoritku. Mengatur perabotan, menata pernak-pernik kecil serta memadu padankan warna agar setiap ruangan di rumah ini bisa membuatku merasa lebih nyaman.
Aku bisa menghabiskan waktu menata semua barang tanpa bosan. Dan berjam-jam Akan berlalu Tanpa terasa olehku.
"Sugar...I'm home"
Saat aku hendak mengintip apa yang dia lakukan, Drey sudah lebih dulu muncul di depanku.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang masih berantakan itu. Aku belum selesai menentukan Tata interior untuk ruangan ini, sehingga semua barang masih berserakan.
"Aku ingin menatanya, seperti...."
Tanpa sadar aku sudah bercerita panjang lebar tentang rencanaku. Ruangan tengah ini ingin kujadikan tempat istirahat yang nyaman. Sehingga aku mencurahkan seluruh perhatianku di sini.
"Sepertinya ide bagus, apa kau perlu rak tambahan di sini?"
Drey langsung memberikan tanggapannya. Terdengar remeh, namun bisa membuatku terharu. Biasanya orang merespon ceritaku dengan jawaban sekedarnya. Menganggapnya sebagai imajinasi yang berlebihan. Untuk apa mengurus sebuah ruangan dengan begitu serius? Namun Drey tidak.
Aku Makin antusias lagi. Bercerita lebih panjang. Aku memang berkeinginan menambah Rak untuk tempat buku. Sudah lama tidak Ada yang menanggapi passion-ku sebaik ini.
"Apa kau ingin mengganti warna cat nya?"
Tanya Drey lagi. Ruangan ini memang hanya di cat warna putih. Dan terasa kurang berwarna bagiku.
"Apa boleh?"
"Tentu saja. Kita bisa menggantinya seperti yang kau inginkan"
Aku tidak bisa menutupi kegembiraanku saat mendengar jawaban Drey.
Sebagai orang yang suka berdiam di rumah, aku sangat sensitif dengan bagaimana bentuk Dan isi rumah. Jadi apa yang dilakukan Drey untukku walau kecil sangat berarti besar.
Sudah kukatakan bahwa Drey berhasil mengisi bagian sepi dalam hatiku. Dia tidak hanya meramaikan meja makanku yang selalu sunyi, dia juga seorang pendengar yang baik. Meskipun aku terus menceritakan Hal yang sama, Dia tidak memasang wajah bosan atau menyuruhku berhenti. Dia memberiku ruang yang kuperlukan untuk bicara. Membuatku Merasa tidak hanya memiliki seorang kekasih, tapi juga sahabat.
__ADS_1
********************************
London masih dingin. Biasanya aku Akan memilih tinggal di rumah. Menghangatkan diri. Namun Hari ini berbeda. Aku akan melihat jalanan London untuk pertama kalinya sejak pindah kemari.
Hari ini Drey memenuhi janjinya. Dia bilang akan mengganti warna cat di rumah. Jadi kami pergi keluar untuk membeli bahannya. Sepulang dari latihan, dia langsung menjemputku di depan rumah. Aneh memang, padahal kami tinggal di tempat yang sama, tetapi kami membuka gerbang yang berbeda.
Jalanan London rupanya terlihat cukup berbeda sekarang saat kuperhatikan. Entah kapan terakhir Kali aku kemari. Mungkin karena aku tidak lagi kemari demi pekerjaan. Yang selalu diburu waktu hingga tidak memiliki waktu menikmati setiap jengkal pemandangannya.
Drey sengaja membawaku ke tempat perbelanjaan di pusat Kota. Lebih jauh dari tempat kami tinggal. Membuat kami bisa menikmati perjalanan lebih lama. Karena mungkin kami Akan kehilangan sedikit waktu tenang ini ketika sampai di toko nanti.
Banyak pasang Mata langsung memperhatikan kami begitu aku Dan Drey keluar dari mobil. Entah siapa yang mereka kenali. Apakah Drey ataukah aku. Yang jelas, kami tidak Akan bisa menikmati waktu tenang lagi.
Ketika perhatianku terfokus pada pandangan orang-orang, Drey meraih tanganku. Menggandengku saat kami berjalan. Karena saat bersama Casey, kami tidak pernah membiarkan orang melihat kedekatan kami, aku cukup kagok dengan sikap santai Drey. Dia sama sekali tidak terganggu dengan perhatian orang-orang. Seolah hanya Ada kami berdua di Sana.
Tangan Drey sangat hangat. Membuatku ingin lama-lama digengganmnya. Dan juga kokoh, membuatku lupa betapa phobia-nya aku diperhatikan banyak orang. Dan genggaman Drey, meyakinkan aku untuk tetap menjadi diriku sendiri meskipun saat ini kami sedang terekspose di depan publik.
Untungnya seolah memahami keinginanku, Drey sama sekali tidak melepaskan tanganku. Dia membawaku seperti anak kecil yang butuh dituntun. Menjagaku tetap di zona nyaman. Sepertinya aku juga jadi percaya diri. Merasa seperti Drey mengumumkan pada semua orang bahwa aku miliknya.
"Warna apa yang kau inginkan?"
Tanya Drey yang sudah memeriksa katalog warna cat. Aku akhirnya ikut mencari dengannya. Setelah menemukan warna yang kuinginkan, Drey segera memesannya.
Kami sempat belanja beberapa kebutuhan lain seperti bahan makanan, lalu Drey membawaku untuk makan malam di restoran. Dia benar-benar memperhatikan diet-ku dengan pergi ke tempat yang menyajikan menu sehat. Dia bahkan masih sempat menghitung jumlah kalori yang harus kumakan. Drey tidak ingin hasil olah raga-ku sia-sia.
Hal yang kusukai lagi dari Drey adalah dia tidak membiarkanku menjalani diet ini sendirian. Drey selalu memakan makanan yang sama denganku. Kecuali beberapa tambahan asupan protein untuk ototnya. Sehingga aku tidak terlalu tersiksa dengan makanan hambar di lidahku.
Aku baru saja berpikir kami akan melewatkan makan malam di luar kami yang indah,
"Hai, Drey..."
Sapa seseorang yang menghampiri meja kami.
Aku hanya bisa melongo melihatnya. Seorang gadis cantik, tinggi semampai. Dilihat dari posturnya sudah jelas dia seorang model. Namun kecantikannya itu.
"Hai..."
Sapa Drey balik. Yang semakin membuatku melongo mereka berpelukan di depanku. Drey bahkan mencium pipi wanita itu. Sepertinya Aku sudah terlalu lama bersembunyi di rumah hingga lupa jika beginilah cara pria Dan wanita bertegur sapa di budaya ini.
"Hai Luna. Apa kau masih ingat aku?"
Gadis itu gantian menyapaku. Dia bahkan sudah memelukku juga. Karena aku masih syok dengan yang barusan kulihat, aku sampai tidak bisa mengingat siapa dia.
"Aku Lara, Kita bertemu di komunitas Dan pernah kemah bersama"
Ujar gadis itu lagi. Secara cepat, aku langsung ingat seseorang yang pernah mengalami waktu sulit bersamaku di Masa lalu. Lara adalah salah satu orang yang diajak ke Redwood oleh Casey saat membawaku kesana pertama Kali. Itu sudah hampir tiga tahun yang lalu. Tentu saja aku lupa. Apalagi Lara jauh lebih cantik dari pertama kami bertemu.
"Ah.. maaf aku sempat lupa. Lama sekali Kita tidak bertemu. Kau semakin cantik"
Pujiku dengan Rasa bersalah. Lara hanya menanggapinya dengan tawa. Lalu mulai berbincang dengan kami, karena sepertinya dia orang yang easy going.
Awalnya aku senang dengan kehadirannya. Dia cukup bersahabat. Namun dia akhirnya bergabung di meja kami untuk makan bersama. Dan bicara begitu akrab dengan Drey.
Lara Dan Drey sepertinya telah saling mengenal sejak lama. Ada banyak Hal mereka bicarakan seperti Dua sahabat yang bernostalgia. Aku bahkan tidak bisa mengikuti pembicaraan mereka. Otakku lebih sibuk mencari ingatan tentang berita yang pernah kubaca. Apakah Lara pernah menjadi salah satu wanita yang digosipkan dengan Drey. Sayangnya karena terlalu banyak wanita di Masa lalu Drey, aku sama sekali tidak mengingatnya.
Drey juga sama sekali tidak menyadari ketidaknyamananku. Dia hanya bicara dengan Lara Tanpa sedikitpun memperhatikanku. Mereka bahkan beberapa Kali melakukan kontak fisik. Tepat di depan mataku. Beginilah tidak enaknya memiliki kekasih Cassanova sepertinya. Aku harus siap dengan situasi seperti ini.
Paling parah adalah kata terakhir yang sempat diucapkan Drey pada Lara sebelum kami berpisah.
"Datanglah ke rumahku. Kita bisa minum bersama"
Drey mengucapkannya dengan enteng. Dan itu membuatku sangat kesal.
Pertama, di rumahnya tidak Ada apapun selain sofa di ruang tengah Dan ranjang di kamar tidur. Dia berencana mengundang Lara kemana? Kedua, aku tidak bisa minum alkohol. Drey tahu itu. Artinya aku tidak Akan diundang untuk bergabung dengan mereka.
Berani sekali Drey mengatakan itu di depan kekasihnya. Aku tidak bisa menutupi kemarahanku lagi. Mungkin aku sedang cemburu, tetapi aku tidak terima Drey bersikap begitu ramah pada wanita lain di depanku.
Sehingga aku menolak untuk bicara dengan Drey di sepanjang jalan pulang. Jalanan London yang indah itupun berubah menjadi suram di mataku.
__ADS_1