
Aku hanya bisa menatap bingung pada Drey. Tidak terbayangkan olehku dia akan marah. Jadi lidahku langsung kaku tak bisa menjawabnya.
"Sudah kubilang kau tidak perlu datang. Apalagi dengan keadaan setengah telanjang begini!"
Drey masih menumpahkan kemarahannya.
"Apa kau lihat bagaimana Cara orang melihatmu? Meskipun itu menyenangkan saat orang menyebutmu cantik atau seksi, aku tidak menyukainya! Aku tidak suka orang lain menilai kekasihku. Kau itu bukan barang"
Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti penyebab kekesalan Drey. Aku juga tidak bermaksud membela diri. Namun cara Drey yang berteriak kasar cukup membuatku sedih.
"Segera kembali ke kamar dan ganti pakaianmu!"
Hanya itu yang diucapkan Drey sebelum pergi begitu saja. Aku menurut dan kembali ke kamar dengan langkah gontai.
*****
Aku menatap senja yang makin lama makin hilang. Warnanya hampir berubah menjadi gelap, tanda malam akan segera datang. Setelah kemarahan Drey tadi, aku hanya menghabiskan waktu mengurung diri di kamar seperti ini. Aku takut membuat kesalahan lagi.
Namun berjam-jam berlalu, Drey tidak kunjung kembali ke kamar.
Apa dia masih marah padaku?
Tadi dia pergi begitu saja sebelum aku sempat meminta maaf. Seharusnya itu juga tidak menjadi alasan baginya untuk menghindariku.
Aku merasa bodoh. Melakukan sesuatu yang bukan diriku dan mengecewakan Drey. Tidak ada yang kudapatkan dari semua ini selain rasa malu. Berkali-kali aku meninju kecil lututku, mencoba menyalurkan rasa malu itu. Berharap bisa mengulang waktu.
Kulihat jam, sudah hampir waktu makan malam. Sebaiknya segera kucari Drey. Aku harus minta maaf dan bicara dengannya. Ini harusnya menjadi liburan yang menyenangkan, tetapi kami malah bertengkar.
Sambil mengembalikan bikini yang tadi kupinjam, aku sekalian menyusuri tiap sudut hotel untuk mencari Drey. Sialnya, bukan dia yang kutemukan, aku malah bertemu Lara di tempat peminjaman bikini. Setelah lari begitu saja dari pesta kekasihnya, aku jadi merasa tidak enak.
"Hai..."
Sapaku canggung. Mata kami sudah terlanjur bertemu. Tidak mungkin aku pura-pura tidak melihatnya.
"H..hai.."
Ternyata Lara malah tampak terkejut melihatku. Entah kenapa, dia seolah berusaha menghindari tatapanku.
Ini buruk. Apa dia juga marah padaku?
"Bagaimana pestanya? Maaf tidak bisa bergabung dengan kalian"
Tanyaku mencari topik.
"Hm, baik"
Jawab Lara terlihat tidak nyaman. Aku yakin sekali ada yang tidak beres.
"Apa Archie tersinggung?"
Tanyaku lagi. Kali ini tanpa basa basi. Mungkin saja sebagai host pesta, Archie merasa kurang dihargai saat aku dan Drey meninggalkan pesta bahkan sebelum mengucapkan selamat padanya.
"Tidak! Kami tidak marah kok. Hanya saja..."
"Kenapa?"
Desakku.
"Aku tadi mengikuti kalian saat keluar dari pesta. Kupikir Drey bersemangat setelah melihatmu. Jadi aku tidak sengaja mendengar ucapannya..."
Aku bisa membayangkan keterkejutan Lara. Aku saja langsung membeku saat Drey marah tadi, saking kagetnya.
"Apa kau baik-baik saja? Aku rasa kakakku sudah keterlaluan berteriak padamu seperti itu"
Lara sudah mengusap lenganku dengan wajah khawatir.
Ah...aku malu sekali. Aku berharap pacar Lara tidak melihat kami tadi.
"Aku akan bicara pada Drey. Ini salahku karena langsung mengajakmu dan memilihkan bikini itu"
Lanjut Lara.
"Tidak perlu"
Tolakku cepat.
"Ini adalah salahku. Aku yang tidak mematuhi pesan Drey. Jadi biar aku saja yang menyelesaikan masalah ini"
Lara akhirnya bisa sedikit tersenyum. Sebelum berpisah dia masih sempat memberiku semangat.
Meskipun bisa mengatakan penuh percaya diri, sebenarnya aku juga bingung bagaimana harus meminta maaf pada Drey. Setiap langkah yang kuambil untuk mencari Drey jadi terasa berat dan penuh kekhawatiran.
*****
Rasanya aku sudah memasuki hampir semua fasilitas hotel, tetapi Drey tidak di manapun. Kakiku rasanya sudah menebal 2 cm. Tinggal satu tempat lagi yang tersisa. Tempat itu adalah bar yang terletak di lantai teratas hotel ini. Tadinya aku berharap Drey tidak datang kesana. Tidak ada hal baik terjadi di dalam bar. Pasti tidak jauh dari alkohol.
Alunan musik jazz langsung menyapa begitu aku masuk. Tempat itu sepi, mungkin karena sebagian besar tamu hotel ini adalah tamu Archie. Mereka pasti masih melanjutkan pesta di kolam renang.
Namun suasana sunyi ini malah memberiku rasa tidak nyaman. Situasi dan tempat yang mendukung. Pasti tidak lucu jika aku memergoki Drey sedang bersama wanita di sini.
__ADS_1
Aku mendekat ke meja bartender, tempat satu-satunya aku melihat ada orang di sini.
"Ingin memesan sesuatu, Nona?"
Sebelum aku bertanya, bartender itu sudah lebih dulu menyapa.
"Aku ingin bertanya, apa kau melihat Drey Charleville datang kemari?"
Aku balik bertanya. Berharap bartender itu bisa mengenali wajah Drey. Meskipun dia pemain sepak bola terkenal, terkadang orang tidak akan sadar saat bertemu dengannya secara langsung di dunia nyata.
Aku bisa melihat ekspresi terkejut di wajah bartender itu. Sepertinya dia juga baru saja mengenaliku.
"Di tempat paling ujung"
Bartender itu segera menunjuk sebuah pintu yang menghubungkan dengan ruangan lain. Dia masih melihatku dengan sedikit bengong. Senyum ramah yang ditunjukkannya saat pertama menyapaku juga tidak tampak.
"Terima kasih"
Aku bergegas pergi dari sana. Menuju pintu yang ditunjuk bartender itu.
Seperti memasuki dunia yang berbeda, ruangan itu terlihat berbeda dengan suasana bar di depan. Setiap tempat duduk di sana diberi sekat, dan terlihat kaku. Seolah memberi privasi lebih bagi siapapun yang menghabiskan waktu di sini. Musik jazz yang diperdengarkan jadi terasa kurang cocok.
Aku akhirnya sampai di tempat paling ujung. Sambil menepis semua pikirannya negatifku tentang alasan Drey memilih tempat paling tersembunyi di bar ini. Padahal seluruh kursi yang kulalui juga kosong. Namun langkahku terhenti di bibir sekat saat mendengar suara familiar itu.
"Plakk...!"
Suara itu benar-benar sukses membuatku sesak nafas diliputi kecemasan.
Apa Drey bertemu Lucas?
Hanya itu yang kupikirkan. Karena yang kutahu, Lucas adalah alasan adanya kekerasan dalam hidup Drey.
Namun perkiraanku salah. Yang saat ini di depan Drey menarik kerah bajunya dengan kuat adalah seorang pria tua. Mungkin sebaya dengan ayahku. Pria yang belum pernah kulihat wajahnya.
Aku langsung panik melihat ada darah di ujung bibir Drey. Entah sudah berapa kali dia kena pukul sebelum aku kemari. Drey bahkan tidak ada keinginan melawan. Dia hanya diam. Sementara sepertinya itu tidak membuat si pria tua puas. Tangannya sudah bersiap melayangkan pukulan lainnya.
Rasanya aku ingin berteriak saat itu. Memanggil bantuan untuk menghentikan orang itu. Meski dengan keriput di wajahnya, pria tua itu punya lengan kekar yang hampir sama dengan milik Drey. Pukulan yang dilayangkannya pasti menyakitkan. Aku pun tidak akan bisa menahannya. Aku membutuhkan kekuatan pria dewasa yang sepadan.
Namun sekali lagi, Drey bukan orang sembarangan. Dia seorang pemain sepak bola dengan karir cemerlang. Jika ada orang lain yang melihat kejadian ini, hanya akan membuat Drey terlibat skandal. Tidak peduli dia salah atau tidak. Mau tak mau harus aku yang menghentikannya.
Untung saja manusia di era ini telah hidup dengan teknologi. Jadi segera kuambil ponselku dan mengarahkannya pada mereka.
"He...hentikan!"
Leraiku dengan suara sok lantang. Padahal rasanya lidahku kelu. Bahkan tanganku yang sedang memegang ponsel juga gemetar hebat.
Suaraku sukses menghentikan gerakan pria tua itu. Dia dan Drey lalu melihatku.
Kataku bohong. Padahal aku tidak sempat menggunakan fungsi kamera di ponselku walaupun saat ini mengarahkannya pada mereka.
Pria tua itu melepaskan cengkeramannya di kerah pakaian Drey. Kini mengarahkan tatapan tajam padaku. Sangat tajam seperti ada laser keluar dari matanya dan hendak menembakku.
"Sugar, dia ayahku"
Ujar Drey mengejutkanku.
Huh? Ayahnya? Maksud Drey, ayah kandungnya?
Aku menatap tak percaya pada pria tua yang masih melotot padaku.
Mana kutahu kalau dia ayah Drey. Kami belum pernah bertemu.
Pikiranku langsung blank saat itu. Rasanya malu bercampur bingung. Namun kepalang tanggung juga kalau aku berhenti di sini. Lagipula itu tidak merubah pemikiranku bahwa aku tidak suka Drey dipukul.
"Tidak peduli dia adalah ayahmu atau bukan. Itu tidak memberinya hak untuk memukulmu. Ja..jadi, kalau Anda melanjutkannya, aku akan membawa video ini ke kantor polisi dan menuntut atas tuduhan kekerasan"
Aku bahkan tidak tahu keberanian dari mana aku bisa berkata seperti itu. Padahal rasanya sekujur tubuhku sudah gemetar tak karuan. Aku juga mungkin mendapat masalah jika ayah Drey merebut ponselku dan melihat bahwa aku hanya melakukan bluffing.
Pria tua itu menatapku untuk beberapa saat. Sepertinya mempercayaiku dan akhirnya memutuskan meninggalkan aku dan Drey. Begitu ayah Drey pergi, aku langsung ambruk, ponsel di tanganku juga langsung jatuh.
Aku mengambil udara sebanyak-banyaknya karena rasa sesak di dadaku. Saat itu, aku merasakan Drey telah mendekapku dalam pelukannya.
*****
"Apa kau sudah merasa baikan?"
Tanya Drey khawatir.
Aku tidak langsung menjawab dan memeriksa tanganku yang sedang memegan gelas, gemetarku sudah hilang. Baru menganggukkan kepala. Sepertinya air putih yang ku minum telah cukup efektif menenangkanku.
Aku mendengar Drey tertawa.
"Apanya yang lucu?"
Tanyaku kesal. Dia tidak tahu betapa paniknya aku tadi. Untung tidak langsung pingsan. Meskipun pernah bermain film action, tetapi aku tidak terbiasa melihat adegan kekerasan di dunia nyata.
"Terima kasih sudah menolongku"
Ujar Drey kemudian. Kata-kata yang justru memicu emosiku yang berhasil kutenangkan itu kembali bergejolak.
__ADS_1
"Apa keluargamu itu gangster? Kenapa kalian dengan mudahnya baku hantam setiap kali bertemu?"
Air mataku rasanya mendesak ingin tumpah. Melihat ujung bibir Drey yang terlihat masih merah akibat sobek rasanya mengiris hatiku. Apalagi setelah semua kejadian tadi, Drey masih bisa tertawa. Aku benci Drey yang begini, seolah menikmati setiap bahaya yang dihadapinya.
Drey cepat-cepat memelukku.
"Maaf sudah membuatmu takut. Wajahmu sampai pucat begitu, dan memegang ponsel sambil gemetaran"
Aku langsung mendorong tubuh Drey menjauh. Di saat seperti ini masih sempat saja menggodaku. Aku bisa melihat dia meringis.
"Boleh kulihat videonya?"
"Apa kau pikir di saat seperti itu aku masih sempat merekam? Aku bahkan terlalu panik untuk mengingat kode untuk membuka kunci layar ponselku!"
Lagi-lagi Drey tertawa keras. Aku sudah seperti orang yang melawak untuk menghiburnya. Padahal aku sedang serius sekali. Tidak akan mau lagi aku melalui kejadian seperti tadi. Namun melihat dia bisa tertawa lagi cukup membuatku lega. Kebanyakan orang tidak akan bisa bercanda setelah dihajar seperti itu.
"Kau juga membuatku heran, selalu muncul di saat yang tepat. Kalau ayahku sampai memukulku sekali lagi, mungkin hidung dan rahangku bisa patah"
Entah Drey serius atau bercanda saat mengatakan itu.
"Aku mencarimu untuk minta maaf"
"Minta maaf untuk apa?"
"Aku tidak mematuhimu tadi siang, dan membuatmu marah. Aku ingin minta maaf untuk tadi"
Kali ini Drey baru menatapku serius.
"Well, untuk itu, aku juga berlebihan"
Drey mendadak salah tingkah. Dia menghindari mataku sambil menggaruk kepalanya.
"Aku terlalu panik, sampai lupa mengatakan bahwa kau terlihat cantik dan seksi, membuatku terpesona"
Ucapan Drey sukses membuatku berdebar-debar. Bahkan dalam situasi seperti ini dia masih sempat-sempatnya merayu. Jadi ku pikir, sedikit jual mahalpun tak masalah. Untuk menunjukkan bahwa aku tidak bisa dengan mudah dirayunya.
"Bukankah semua mantanmu sudah biasa berpenampilan seperti itu? Mereka bahkan berjalan di atas catwalk hanya dengan pakaian dalam. Namun kau begitu marah padaku"
Protesku. Tidak sampai sedetik aku bicara, tubuhku sudah terangkat. Mendarat tepat di pangkuan Drey. Mendekatkanku padanya. Aku sampai harus menahan nafas saking dekatnya.
Mata biru Drey berkilat-kilat menatapku. Seolah sedang mengintimidasi.
"Itu karena mereka tidak sama denganmu. Kau milikku, dan aku tidak ingin ada orang melihatmu dengan cara yang sama seperti saat melihat semua wanita itu"
Aku tahu Drey tidak main-main saat mengatakan semua itu. Rasanya ia mengenakan ekspresi yang sama seperti saat marah padaku tadi siang.
"Pria jarang berpikir baik tentang wanita yang memamerkan tubuh mereka. Itu hanya membuatmu menjadi objek fantasi mereka. Aku tidak suka itu. Luna yang kukenal juga pasti tidak menyukainya"
Namun kali ini aku tidak membenci ekspresi itu. Dia seperti seorang ayah yang sedang memarahi anak gadisnya.
"Lebih penting lagi, kekaguman yang kau dapat hanya akan membuatku cemburu. Itu membuatku takut kehilangan dirimu, orang paling berharga bagiku"
Damn him!
Dia adalah mahluk paling jujur yang pernah kutemui dalam hidupku. Saking jujurnya sampai tidak memiliki rem sedikitpun untuk ucapannya. Padahal menurutku, aku ini tidak terlalu populer juga. Bahkan bartender tadi tidak langsung mengenaliku. Drey terlalu berlebihan.
Setelah bicara seperti itu, bagaimana bisa aku menghindar untuk mencintainya semakin dalam?
"Meski untuk pekerjaan?"
Tanyaku sedikit usil menggodanya.
"Jika kau sampai berjalan di atas catwalk dengan penampilan seperti itu, aku akan langsung membawamu turun dari sana. Kalau kau melakukannya di depan kamera, akan kubakar semua hasil rekamannya"
Aku tertawa mendengar ancaman Drey. Kalau dia, pasti tidak akan segan melakukannya.
"Baiklah, aku tidak akan memakai bikini lagi"
"Tidak, kau masih harus memakainya. Tetapi hanya di depanku saja"
Drey sudah mengeluarkan seringai nakalnya.
"Dasar mesum!"
*****
Aku merenggangkan tubuhku. Melakukan gerakan ringan untuk melemaskannya. Sejak berada di tempat ini, kegiatan olah raga rutinku tidak bisa kulakukan dan tubuhku jadi kaku semua.
Aku melihat Drey yang masih tertidur pulas. Aku sudah membangunkannya untuk sarapan dan dia menolak. Jadi aku terpaksa pergi sendiri. Sebenarnya lebih mudah meminta sarapan diantar ke kamar, tetapi tidak ada salahnya melihat dunia luar.
Sarapan disajikan di hall. Ketika aku sampai di sana, sudah sangat ramai. Untung saja, jadi tidak ada yang memperhatikanku. Dengan penuh suka cita aku bergegas menuju tempat yang khusus menghidangkan masakan Perancis. Roti dari sana terkenal enak sekali.
Keputusan yang langsung aku sesali karena akhirnya malah bertemu dengan orang itu. Pria tua yang memukul Drey semalam. Aku ingin sekali pura-pura tidak tahu, tetapi mata kami sudah bertemu. Jelas sekali dia mengenaliku. Rasanya akan kurang ajar sekali jika aku tiba-tiba lari. Jadi, aku memberanikan diri menyapanya.
"Selamat pagi"
Aku berusaha memasang senyum terbaikku. Yang sama sekali tidak dibalasnya.
"Kau, ikut denganku"
__ADS_1
Rasanya aku sedang melompat ke kandang singa yang siap menerkamku.