
She finally moved on
but still with a pinch of hope
stored in her soul for his comeback.
(Roshni chandramohan)
------
Badanku terasa remuk. Pegal mungkin sudah tidak bisa menggambarkan dengan tepat kondisi tubuhku saat ini. Terlalu lelah bahkan hanya untuk bangun.
Sejak pulang dari Spanyol, pekerjaan seperti tidak Ada hentinya. Dari menyelesaikan promosi film, hingga interview Dan pemotretan. Dari pagi sampai malam, jadwalnya berjejal setiap Hari.
Dan semuanya sudah selesai kemarin. Aku akhirnya bisa menikmati Hari libur. Tidak Ada rencana yang kusiapkan. Aku hanya ingin tidur Hari ini. Bahkan Daniel sudah kularang mencariku. Aku tidak ingin bertemu siapapun atau melakukan apapun. Titik.
Ponsel yang biasanya harus menyala selama 24 jam juga kumatikan. Kuletakkan entah dimana. Bukan cuma karena alasan Aku ingin beristirahat sepanjang Hari ini, namun juga untuk menghindar dari seseorang.
Mahluk bernama Drey.
Sejak pertemuanku dengannya di Madrid, pria itu selalu datang dalam pikiranku. Membuat perasaanku Tak karuan. Dia orang yang Tak bisa kuhadapi. Apapun yang dia pikirkan atau tindakannya tidak bisa kutebak.
Drey terus menghubungiku. Baik kubalas atau tidak. Baik kujawab atau tidak. Dia tidak menyerah. Padahal beberapa Hari yang lalu, aku melihat berita bahwa dia pergi berkencan dengan seorang model. Mereka bahkan masuk ke dalam hotel yang sama.
Tentu saja. Drey si Cassanova.
Pertemuannya denganku maupun semua Hal manis yang dia lakukan padaku adalah Hal yang Akan dia lakukan pada semua wanita. Tetapi aku tidak mau menjadi salah satu pialanya.
Aku hanya harus memikirkan Casey. Ya, Casey adalah pria terbaik untukku. Meski sifatnya mengekangku, Casey selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Aku bertekad untuk memperbaiki hubunganku dengannya.
Saat ini Casey Ada di Australia. Mungkin sama sepertiku, Casey butuh waktu menyembuhkan dirinya. Karena itu aku harus menemuinya. Berbicara dengannya. Meluruskan segalanya.
Memanfaatkan liburanku ini, aku berencana pergi ke Australia. Aku bahkan sudah mencari tiket pesawat dan segala akomodasi selama disana. Tanpa sepengetahuan Daniel tentunya.
Tiba-tiba suara bel apartemenku berbunyi, membuyarkan lamunanku. Dengan cepat aku bangkit dari sofa. Daniel bilang tidak akan menemuiku hari ini, lagipula dia bisa langsung masuk. Aku langsung panik. Rambutku masih acak-acakan dengan piyama seadanya. Wajah Tanpa polesan apapun. Keadaanku saat ini mungkin akan langsung jadi berita besar jika sampai dilihat reporter.
Aku mencomot pita panjang yang menjadi hiasan vas bunga di ruang tengah agar rambutku terlihat sedikit rapi. Sambil berjalan, aku merapikan piyama dan mengusap wajahku, kalau-kalau ada kotoran. Aku membuka pintu dengan tergesa sampai lupa untuk melihat dulu siapa yang datang. Karena tamuku terus memencet bel seperti tak sabar.
Aku hanya bisa membeku begitu melihat orang yang sedang berdiri di depan pintuku. Baru saja aku memikirkannya. Entah kapan terakhir kali aku melihatnya. Pria yang sudah meremukkan hatiku, Casey. Meskipun aku berantakan begini, dia terlihat baik-baik saja. Seperti biasa menggunakan kaus polo putih dengan tactical pants pendek dan topi.
“Aku ingin mengambil barangku”
Itulah sapan pertama yang diucapkan Casey setelah sekian lama tidak bertemu. Aku tidak bisa menolak kedatangannya dan membiarkannya masuk.
Casey lebih sering menetap di Australia. Sementara banyak peralatan hiking yang lebih suka dibelinya di sini. Karena itu, Casey selalu menggunakan alamat apartemenku untuk mengirim barang yang dibelinya sebelum membawanya pulang.
Beberapa hari sebelum putus, dia masih sempat memesan sleeping bag dan tas carrier yang dikirim kemari. Paketnya masih terbungkus rapi dalam kardus diselotip besar berwarna kuning. Tergeletak di sudut ruang tamu. Aku tidak ingat kapan dan kenapa barang itu bisa ada di sana.
Meski tadi aku sempat berpikir Akan bicara dengan Casey, meluruskan masalah kami, nyatanya aku sadar kami sudah tak lagi sama. Tak ada obrolan atau canda tawa lagi di antara kami. Meski kami berada di ruangan yang sama, aku hanya bisa melihat dari kejauhan saat dia memeriksa semua barangnya.
Ada rasa mendesak untuk berlari kesana memeluknya, berkeluh kesah atau bahkan menangis di sana. Bertanya kenapa kami bisa berakhir seperti ini. aku masih belum memahami alasan perpisahan itu. namun aku tidak mampu melakukannya. hanya bisa diam mematung sampai dia yang melihat ke arahku.
“Aku sudah nonton film nya. Sangat bagus sekali”
Ujar Casey saat menatapku. Entah kenapa pujian itu tidak terasa menyentuh buatku. Aku lebih berharap dia menanyakan kabarku ketimbang pekerjaanku. Kata-katanya hanya membuatku serasa berada di acara interview, dan aku tidak suka itu.
“Kau mau minum apa?”
Tawarku mengabaikan pujiannya. Aku tidak tahu apa dia menyadarinya.
*******************
Langit cukup biru dan cerah hari ini. panasnya sampai terasa menyengat meskipun tak menyentuh secara langsung. Namun pemandangan indah di luar sana jadi terlihat jelas melalui balkonku.
Aku dan Casey hanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Tangan kami menggenggam jus kalengan yang masih dingin. Dibandingkan dengan saat bertengkar dulu, kali ini situasi di antara kami jauh lebih beku.
“Apa kau sudah memiliki proyek baru?”
__ADS_1
Tanya Casey memecahkan kesunyian.
“belum”
“Aku mendengar Ada beberapa naskah yang menarik. Mungkin kau bisa meminta Daniel mencarikan informasi tentang itu. Bukankah tidak enak hanya menghabiskan waktu di rumah seperti sekarang ini?”
Aku mulai merasa lelah dengan pertanyaan Casey. Seakan menilai bahwa aku sedang bermalas-malasan. Padahal dia yang punta profesi sama harusnya tahu bahwa aku tidak mendapatkan liburan ini secara gratis.
Aku tidak mau membuat perdebatan lagi dengan Casey, sehingga mulai bicara to the point padanya.
“Aku rasa kita harus mulai bicara tentang hubungan kita”
Ujarku tak sabar.
“Bagian mana yang belum kita bahas?”
Tanya Casey sambil menatapku lekat. Aku balik menatapnya. Melihat ada rasa dingin di sana yang membuat nyaliku ciut. Aku segera mengalihkan pandangan ke arah kaleng di tanganku yang masih penuh.
"Apakah Kita tidak bisa memperbaiki semua ini?"
Tanyaku ragu-ragu. Casey terdiam cukup lama setelah mendengar pertanyaanku.
"Ini yang terbaik untuk Kita"
Aku memejamkan mata menahan perih di hatiku mendengar jawaban Casey.
“Lalu sampai kapan kita akan berpura-pura masih bersama?”
Tanyaku kecut. Masih ada harapan terselip di sana agar kami bisa kembali.
“Kita bisa membiarkan semuanya tetap seperti ini”
Casey juga mengalihkan pandangannya. Dia bicara dengan nada penuh ketidakpedulian. Ada rasa sakit baru yang muncul dari dalam hatiku. Berdenyut seolah akan meledakkannya. Harusnya Casey berhenti sampai di situ. Aku jengah dengan rasa sakit baru yang terus bermunculan tiap kali bicara dengannya. Tetapi dia malah melanjutkannya.
“apa kamu tidak bisa berhenti membicarakan tentang pekerjaan? Ini tentang kita. TENTANG KITA Cas..!”
Akhirnya aku tidak bisa menahan amarahku. Bagiku sudah cukup membiarkannya terus mengeluarkan kata yang mengiris hatiku.
Casey menatapku. Sedikit terkejut dengan intonasi suaraku yang terkesan membentak. Untuk pertama kali aku membalas tatapannya, dengan tajam.
“kapan sih kamu bisa dewasa? Kita adalah artis! Tentu saja ada hubungan antara pekerjaan dan hubungan kita. Kamu tidak peduli dengan image-mu?”
Casey mulai mengeluarkan kebiasaannya. Bicara dengan suara tenang namun menusuk tepat pada kelemahan orang lain. Menunjukkan bahwa dia-lah orang paling benar. Beginilah aku selalu kalah berargumen dengannya. Hingga perpisahan kami-pun semuanya menjadi salahku.
“tidak. Aku mencintaimu dan aku tidak peduli tentang yang lain”
Jawabku lugas. Casey yang sedari tadi begitu tenang akhirnya terlihat goyah. Dadanya naik turun menahan amarah. Matanya tak berani melihatku langsung.
“aku pulang dulu”
Pamit Casey memotong begitu saja pembicaraan kami. Jelas sekali kalau dia menghindar dari kata-kataku. Dia tidak mau melanjutkan perdebatan yang sulit dimenangkannya. Seperti inilah yang terjadi saat kami bertengkar hingga kami putus tanpa ada kejelasan.
“kita belum selesai bicara Cas..”
Dengan cepat aku menarik lengan Casey, saat dia sudah beranjak dari kursinya. Aku ingin menahannya kali ini. setidaknya sampai semua di antara kami benar-benar menjadi jelas. Aku bersikap sok tenang meskipun kedua kakiku sudah gemetar. takut melihatnya pergi.
“Luna.. kenapa kamu jadi susah diatur? Padahal aku selalu berusaha memberi yang terbaik untuk kamu”
Casey sekali lagi menekankan bahwa aku salah. Kata-kata yang sama persis dengan yang diucapkannya saat kami putus. Kata-kata yang hingga sekarang tidak bisa kupahami. Bagian mana yang aku susah diatur? Padahal menurutku hanya melakukan yang sedikit berbeda dari yang biasa kami lakukan.
Pasangan lain putus karena perselingkuhan, bosan atau perbedaan status. Tetapi kami? Hanya karena aku minta diajak jalan ke tempat baru, hanya karena aku minta perlakuan sedikit romantis, dan memberinya hadiah liburan saat ulang tahunnya. Terdengar konyol bagiku.
“kenapa kamu tidak bisa menerima jika kita mulai berubah? ada hal-hal yang ingin aku lakukan, dan aku ingin melakukannya dengan kamu Cas...”
Ujarku melunak. Nadaku terdengar seperti memohon.
__ADS_1
“ini sudah menjadi hubungan yang buruk di antara kita. Cinta yang aku mau dari kamu bukan begini. Saat kamu berubah, itu hanya membuat aku semakin lelah menghadapi kamu”
Casey kembali menghujaniku dengan kata-kata yang tajam. Air mata yang sudah kutahan sejak tadi langsung jatuh. Aku merasa tertampar dan baru sadar. Ketakutanku itu benar.
Aku yang selama ini salah mengartikan cinta Casey padaku. dia hanya mencintai Luna yang penurut, bukan Luna yang mungkin berubah karena sedang beranjak dewasa. Dia tidak bisa mencintai semua tentang diriku. Benar kata Danie, Perpisahan ini adalah yang terbaik buat kami. Bodoh sekali aku tidak bisa melepaskannya. Sekejap, rasa ingin merajut kembali kisah cinta kami mulai pudar dari hatiku.
“benar. Kita memang sudah tidak bisa bersama”
Ujarku dengan mata sembab. Lalu melepaskan tangannya. Casey menatapku heran. Tidak mengerti kenapa aku mengatakan sesuatu di luar pembicaraan kami. Dan seperti itulah akhirnya aku mengakhiri ini. benar-benar mengakhirinya.
**********************
Hari libur yang berharga ini telah menjadi bencana. Untuk kesekian kalinya, aku menangis sekeras-kerasnya dengan membenamkan kepala ke dalam bantal untuk meredam suaranya. Hatiku remuk. Kami sudah putus sebelumnya, tetapi sepertinya baru sekarang aku merasa patah hati. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.
Sosok Casey yang baik, yang hangat, yang tempatku bergantung kini menjadi sosok dingin dan kejam. Kenangan indah selama 3 tahun berubah menjadi menyakitkan. Cinta yang selalu kubanggakan berubah menjadi menyedihkan.
Saat sedang menangis, suara bel terdengar lagi. Mungkin Casey. Hatiku melarangku membukanya. Mungkin Casey Akan melemparkan bom selanjutnya padaku. Tetapi tidak dengan pikiranku. Mendorong untuk menyambutnya. Mengira bahwa Casey mungkin menyesali perpisahan ini juga Dan ingin kembali.
Jadi meskipun dengan tangis yang mengalir deras, aku membuka pintu. Namun tangis itu seketika berhenti melihat siapa yang mengetuk pintuku Kali ini.
Bukan Casey, tetapi Drey yang sedang berdiri di Sana. Aku hanya bisa membeku. Mengingat penampilanku yang luar biasa tidak karuan ini. Bahkan Drey sendiri tampak terkejut. Dan tubuhku terlalu Kaku untuk melakukan sesuatu pada situasi kami.
"Apa aku datang di saat yang tidak tepat?"
Tanya Drey. Aku harusnya mengiyakan pertanyaan itu. Aku harusnya menutup pintu Dan membiarkan dia pergi. Tetapi malah tangisku yang tumpah.
Melihat Ada seseorang yang datang saat Kita sangat rapuh, ego sesaatku itu membiarkan Drey masuk Dan memelukku.
Kutumpahkan kesedihanku dalam pelukan asing yang hangat milik Drey. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi tampilan macam apa yang kuperlihatkan saat ini. Air mataku terus mengalir sampai kepalaku pusing, hidungku tersumbat dan nafasku tak beraturan. Terus hingga berjam-jam lamanya. Membasahi pakaian Drey, Dan membuat hari libur yang berharga ini pun berlalu sia-sia.
*******************************
Aku tidak bisa tidur. Rasa malu sepertinya sampai ke ubun-ubun Saat mengingat apa yang terjadi tadi siang. Aku sudah melakukan hal memalukan di depan Drey.
Tanpa menjamunya sebagai tamu dengan baik, aku malah menangis berjam-jam di depan Drey. Bahkan dia tidak mengatakan sepatah katapun sampai pergi. Hanya menerima tumpahan air mataku.
Kenapa harus Drey?
Ada banyak orang yang kukenal. Misalnya saja Daniel yang sudah tahu semua keburukanku. Atau James yang seperti ayah bagiku. Tetapi malah Drey yang mengetuk pintuku. Kami bahkan tidak terlalu dekat untuk berbagi pemandangan buruk itu.
Aku membenturkan kepalaku ke bantal berkali-kali. Sambil terus merutuk kebodohanku. Hanya saja semua sudah terjadi. sisi positifnya, setelah melihat rupaku yang buruk tadi, mungkin Drey Akan mulai menghindariku. Baguslah.
Semua pria itu sama. Bahkan yang sebaik Dan semanis Casey sekalipun. Mereka mungkin punya sifat yang berbeda, tetapi bisa melukaiku dengan Cara yang berbeda juga. Aku tidak perlu berurusan dengan mereka. Kuputuskan bahwa aku tidak Akan lagi menjalin hubungan dengan pria manapun. Tak terkecuali Drey. Itu tekadku.
***************************
Ponselku terus berdering sejak pagi. Aku sengaja tidak melihatnya. Karena itu pasti dari Drey. Sejak semalam Dia terus mengirim pesan padaku. Aku memilih mengabaikan karena aku sudah malu sekaligus sudah bertekad menutup diri dari pria manapun.
Karena rencana istirahatku kemarin berantakan, aku berencana melakukannya Hari ini. Mandi di pagi hari sehabis tidur nyenyak semalaman memang segar sekali. Terdengar klise, tetapi begitulah kenyataannya bagiku. Karena ini sebuah kesempatan langka untuk kujalani. Biasanya aku selesai bekerja larut malam bahkan menjelang dini hari, sehingga bangun pagi adalah hal mustahil. Kalau ada jadwal pagi mungkin aku bisa, namun aku pasti tidak tidur nyenyak. Inderaku dibuat terjaga oleh perasaan bahwa jam weker akan berdering sebentar lagi.
Sambil mengeringkan rambut yang masih basah, aku memeriksa isi kulkas. Aku akan berada di rumah seharian, dan ada banyak waktu senggang. Mungkin sudah saatnya menguji kembali kemampuan memasakku. Dulu saat masih pelajar dan tinggal dengan ibu, aku sering membantu di dapur. masakanku juga dapat pujian baik. dan semenjak aku sibuk dengan pekerjaan, lalu ibu juga tidak lagi di sini, kegiatan itu terhapus begitu saja dari hidupku. aku khawatir kemampuan yang masih amatir itu menjadi tumpul bahkan mungkin harus mulai dari nol lagi.
Aku berhenti saat mendengar ponselku berdering. Bukan panggilan biasa, itu nada dering yang kuatur untuk panggilan dari Daniel. Sehingga aku segera berlari ke ruang tengah tempat ponselku berada. Baru saja aku ingin bilang “halo”,
“lihat berita di channel 24 sekarang!”
Daniel langsung mengeluarkan perintah tanpa lebih dulu menjawab sapaanku. Dia terdengar buru-buru sekali, membuatku heran.
“kenapa?”
“lihat saja”
Jawab Daniel singkat seperti sudah tidak sabar lagi. Setelah itu begitu saja menutup telpon. Aku jadi menyesal mengangkatnya. Dengan malas kuambil remot dan menyalakan TV mencari channel 24.
Mataku langsung terbelalak saat layar TV sudah pada channel yang disebut Daniel. Pasalnya ada gambarku dan Casey di sana. itu acara infotainment dan host nya jelas-jelas sedang membicarakan kami. Namun aku masih tidak mengerti alasan kami dibicarakan. Karena 2 menit setelah aku menonton, acaranya dipotong oleh iklan. Meskipun begitu, jantungku jadi berdegup kencang. Ada apa?
__ADS_1
*********************