Sugar

Sugar
Unfamiliar Relationship


__ADS_3

Aku langsung panik saat mendengar bahwa kami berdua ternyata hanya dipesankan satu kamar. Kami akan berada di sini selama tiga hari ke depan. Mustahil aku bisa tahan berbagi ruangan yang sama dengan Drey.


"Mungkin karena kita berpacaran, makanya dia berpikir jika kita hanya butuh satu kamar"


Ujar Drey sambil cengengesan. Kelihatan sekali dia menyukai situasi ini. Namun ini tidak lucu bagiku. Kami pernah sekamar sebelumnya dan itu adalah godaan yang besar bagi kami.


"Aku akan memesan kamar lain"


Tanpa berpikir panjang aku sudah keluar dari kamar. Lebih baik bagiku keluar biaya sendiri tetapi lebih aman.


"Tunggu, aku ikut"


Drey menyusulku. Kali ini dia tidak terlalu menggodaku. Mungkin paham juga jika hati kami berdua ini cukup lemah.


"Maaf, saat ini hotel sedang penuh. Kamar lainnya sudah dipesan"


Aku hanya bisa melongo mendengar jawaban resepsionis. Harusnya aku sudah mempersiapkan diri. Hotel ini adalah hotel terbaik di pulau ini. Bukan hal yang mengejutkan jika di libur akhir pekan yang panjang seperti ini kamarnya pasti penuh. Pada akhirnya aku dan Drey tetap harus tinggal di kamar yang sama.


"Ayo kita kembali"


Kupikir Drey sadar dengan situasi kami. Nyatanya dia menatapku dengan senyum penuh kemenangan. Seolah semua telah berjalan sesuai rencananya.


"Sudahlah, mungkin sudah takdir kita harus berbagi ranjang yang sama"


Bisik Drey enteng. Kata-katanya itu benar-benar mencurigakan.


"Kau yang memintanya?"


Tanyaku curiga. Langsung saja dibantahnya dengan cepat.


"Tentu saja tidak. Kau pikir pria macam apa aku ini?"


Pria mesum, kujawab dalam batinku.


*****


Aku menatap tidak tenang pada Drey yang tengah bersiap untuk mandi. Pria itu bersiul sambil tersenyum sendiri. Membuatku makin merasa cemas.


"Mau mandi bersama?"


Tanya Drey. Aku hanya menjawab dengan memalingkan muka tak sudi. Drey terkekeh melihatnya.


Aku menelusupkan kepalaku ke bantal. Mencoba menata pikiranku. Dalam situasi ini, bukan Drey yang kutakutkan, tetapi diriku sendiri. Aku baru menyadari betapa gilanya aku setelah berani mencium Drey di depan publik. Dalam diriku ternyata tersimpan sisi liar.


Bagaimanapun aku harus bisa menghindari Drey.


Suara pintu kamar mandi dibuka, dan Drey keluar. Dia hanya mengenakan bathrobe dengan rambut yang masih basah. Bahkan dari jarak sejauh ini aku bisa mencium bau sabunnya yang maskulin. Merayuku untuk berlari memeluknya.


Sebelum pikiranku makin macam-macam, aku berlari menuju kamar mandi. Melewati Drey begitu saja tanpa melihatnya. Bisa bahaya jika aku berputar arah.


Guyuran air segar cukup membersihkan isi otakku. Aku bisa sedikit rileks sekarang. Namun tak butuh waktu lama, ketenangan yang kudapatkan langsung musnah. Ketika aku keluar dari kamar mandi, Drey masih dalam tampilan sebelumnya. Memakai bathrobe dan dengan santainya duduk menonton televisi.


"Kau tidak ganti pakaian?"


Tanyaku.


"Apa aku perlu memakai baju?"


Dia malah bertanya balik sambil menyeringai. Aku benar-benar kehabisan kata-kata dengan tingkahnya. Pria ini sama sekali tidak peka. Dia tidak tahu bahwa otakku sedang menggambarkan seperti apa pemandangan yang tersembunyi di balik bathrobe-nya itu.


"Kau bisa kena flu nanti"


Jawabku sambil menelan ludan.


"Tenang saja, malam ini pasti akan menjadi malam yang panas"


Drey tertawa keras. Sialnya, aku sama sekali tidak bisa membalasnya. Hanya rasa kesal yang muncul dari hatiku. Dan dia pasti akan semakin menjadi jika aku membalasnya dengan kemarahan.


"Lara tadi kemari. Dia bilang besok pestanya akan diadakan di kolam renang"


"Kau menemui Lara dalam tampilan seperti itu?!"


Aku benar-benar masih sensitif dengan penampilan Drey yang hanya mengenakan bathrobe. Jadi tidak peduli dengan topik yang sedang ia bicarakan sebenarnya.


"Tentu saja. Aku kan baru selesai mandi"


Jawab Drey enteng. Rasanya aku sudah tidak bisa membendung amarahku lagi. Langsung kulempar bantal padanya.


"Dreeeyyyy!!!"


Teriakku keras.


"Tenanglah dulu. Lara sudah dewasa, kau tidak perlu mengkhawatirkannya"


Jawab Drey sambil tertawa. Dasar Drey. Justru karena Lara sudah dewasa itu yang jadi masalahnya.


Sepertinya aku tidak bisa menolerir perilaku Drey lebih jauh. Dia terus menggodaku seperti ini tanpa henti. Tanpa tahu bahwa rasanya hatiku ingin meledak.


"Ayo kita suit sekarang. Yang menang tidur di ranjang, yang kalah bisa tidur di sofa atau lantai sekalipun"


Tantangku percaya diri. Selama ini aku belum pernah kalah saat melakukan suit. Kali ini aku akan memberi Drey pelajaran. Agar dia kedinginan saat tidur meringkuk di sofa.


"Kau benar-benar tidak ingin seranjang denganku ya"


Meskipun terlihat enggan, Drey menerima tantanganku juga.

__ADS_1


"Batu, kertas, gunting!"


Aku selalu memenangkan permainan ini. Baik untuk pertaruhan serius atau sekedar main-main. Namun kali ini dewi fortuna tidak berpihak padaku. Aku mengalami kekalahan pertamaku dari Drey.


"Yosh, sepertinya kau tidur di lantai malam ini"


Ejek Drey sambil tertawa keras. Aku tidak pernah melihatnya tertawa sekeras itu. Sementara, aku sendiri tidak pernah merasa sekecewa ini. Padahal aku sudah berpikir akan menang.


"Ini bantalmu"


Dengan kejamnya, Drey melempar balik bantal yang kulemparkan padanya tadi. Lalu segera naik ke ranjang, masuk dalam selimut yang hangat.


"Karena selimut adalah bagian dari ranjang, kau tidak bisa memintanya. Selamat malam, have a nice dream"


Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itu yang kurasakan sekarang. Drey hanya memberikan satu bantal itu saja untukku tidur di sofa yang dingin. Masih sempat meledekku juga.


Meskipun pahit, karena aku yang mengusulkan, aku harus mematuhinya. Dengan berat hati aku berbaring di sofa, sambil memeluk satu-satunya bantal yang kumiliki.


Aku bisa merasakan hawa dingin menyapu kulitku, hingga merinding rasanya. Aku berusaha menghangatkannya dengan menelusupkan tubuhku ke dalam sofa dan bantal, tetapi tidak terlalu membantu. Membuatku kesulitan tidur. Karena aku juga memiliki kecenderungan butuh waktu lama beradaptasi, mataku makin susah terpejam.


Ah... Kenapa jadi seperti ini?


Batinku sambil mencoba memejamkan mata rapat-rapat.


Saat itu aku merasakan tubuhku terangkat. Mengayunkan diriku dengan mudahnya. Aroma maskulin itu kembali menggelitik hidungku. Dan saat aku membuka mata, bisa kulihat mata biru itu menatapku.


"Di sini dingin. Tidur di ranjang saja"


Ujarnya lembut. Aku ingin memberontak minta turun, tetapi tubuhnya terlalu hangat. Aku jadi


tidak ingin melepaskannya.


Drey menurunkanku di salah satu sisi ranjang. Lalu menyelimutiku. Dia mendekat padaku. Menatap dari jarak paling dekat.


"Jangan khawatir. Aku sudah mengatakan padamu, kan? Aku tidak akan sembarangan menyentuhmu"


Drey mengingatkanku pada janjinya sebelumnya. Sungguh pria yang kejam. Dia suka sekali menggodaku seperti ini.


Merasa aku hanya diam, Drey menganggapnya sebagai persetujuan. Tak ketinggalan dia menghantarkan kecupan di keningku lalu naik ke sisi lain dari ranjang. Rasanya lebih baik seperti ini. Lebih hangat dan nyaman.


Aku percaya Drey akan menepati kata-katanya. Namun rasanya aku masih malu mengingat rupa Drey yang tidur dalam balutan bathrobe nya. Sehingga aku menaruh guling dan bantal di antara kami. Menjaga jarak dengannya. Drey hanya melihatku sambil tersenyum. Kuanggap dia tak keberatan.


******


Sebelum acara pesta, kami menikmati sarapan yang dihidangkan oleh pihak hotel. Saat itu Lara bergabung bersama kami dengan pria yang memberi undangan. Sekaligus menggunakan kesempatan ini mengenalkannya pada kami. Tebakanku benar sekali. Archie Mc Sullivan, adalah anak pemilik perusahaan mobil mewah. Pantas saja bisa membiayai liburan ini.


Archie lebih banyak mengobrol dengan Drey yang sama-sama tertarik dengan dunia otomotif. Pembicaraan yang sulit bagi Lara dan aku ikuti.


"Bagaimana semalam?"


"Kenapa aku harus sekamar dengan Drey?!"


Lara tertawa.


"Kupikir kalian menginginkannya"


"Tentu saja tidak!"


Bantahku tanpa basa basi. Aku melihat ke arah Drey yang masih ngobrol dengan Archie. Untung saja Drey adalah pria dengan akal sehat.


"Hubungan kalian lambat sekali"


Bukannya merasa bersalah, Lara masih mengomentariku. Sejujurnya aku tidak menyalahkannya. Setiap orang memiliki prinsipnya masing-masing. Lara memiliki pandangannya sendiri tentang hubungan pria dan wanita. Begitupun dengan aku.


"Kami hanya ingin mendalami hubungan dengan cara kami"


Jawabku pelan. Masalah seperti ini tidak akan ada habisnya jika dijadikan perdebatan.


"Drey mengatakan hal yang sama"


"Huh?"


"Semalam saat aku pergi ke kamarmu, Drey marah padaku. Dia bilang aku tidak memikirkan perasaanmu. Dia benar-benar marah sekali"


Aku hanya tertegun mendengar pengakuan Lara. Karena semalam Drey tidak tampak kesal dan malah menggodaku habis-habisan.


"Drey tidak pernah seperti itu pada wanita lain sebelumnya"


Kali ini Lara mengatakannya sambil tersenyum penuh arti padaku.


"Kupikir hubungan wanita dan pria hanya akan menjadi lebih dalam melalui hubungan yang lebih intim. Karena itu menunjukkan keseriusan mereka. Jadi aku sangat penasaran, lalu ingin menguji kalian dengan tidur sekamar. Namun sepertinya tidak terjadi apa-apa. Sekarang, beritahu aku. Apa yang membuat hubungan kalian menjadi begitu dalam?"


Tanya Lara dalam suara yang cukup rendah. Mungkin takut terdengar oleh Drey dan Archie.


Aku hanya bisa bingung. Pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu jawabannya, tetapi kalau dipikirkan lagi, memang terdengar aneh bagi pria seperti Drey.


"Apa rahasianya?"


Desak Lara tak sabar. Aku kembali melirik Drey dengan bingung. Seharusnya pertanyaan ini diajukan pada Drey. Apa yang membuatnya bertahan denganku. Menuruti segala kemauanku. Mendadak ada keraguan muncul di hatiku.


******


Aku mengaduk isi koperku. Hendak mengeluarkan gaun pesta yang sudah kubawa untuk acara perayaan ulang tahun Archie.


"Kau akan memakai itu?"

__ADS_1


Tanya Drey heran.


"Kenapa? Kau tidak menyukainya?"


Tanyaku balik. Pertanyaan Drey tadi mengisyaratkan jika dia seolah tidak setuju dengan pilihan gaunku.


"Bukan begitu, tetapi kita hanya perlu memakai baju renang"


Aku tertegun dengan jawaban Drey.


"Bukankah ini pesta ulang tahun?"


Aku bisa melihat Drey menahan tawa. Seolah baru saja mendengar hal bodoh.


"Bukan berarti harus dilakukan dengan perayaan besar, kan?"


Aku diam menahan malu.


"Aku tidak bawa baju renang. Kupikir ini masih cukup dingin untuk liburan semacam itu"


Gumamku kecewa.


Drey mendekat padaku, meski dengan wajah yang masih menahan tawa, Drey menghiburku.


"Kau bisa meminjam milik hotel, tetapi pasti hanya ada model seksi di sini. Lebih baik tidak usah jika kau merasa tidak nyaman. Biar aku saja yang datang kesana. Aku akan menyapa sebentar lalu segera kembali"


Rasanya ide Drey cukup bagus. Lagipula aku akan kagok di pesta, tetapi entah kenapa ada perasaan tak nyaman di sana.


"Drey tidak pernah seperti itu pada wanita lain sebelumnya"


Aku jadi teringat kata-kata Lara sebelumnya. Jika dipikirkan lagi, Drey selalu memperlakukanku dengan lembut. Mengistimewakan diriku, seakan aku ini barang berharga yang rentan pecah. Selalu mengikuti keinginanku tanpa mempertanyakan apapun. Sebaliknya, aku tidak bisa menjadi kekasih yang "normal" baginya.


Aku membiarkan Drey pergi sendiri pada akhirnya. Aku yakin meskipun mengatakan hanya menyapa sebentar, Drey mungkin akan berada di pesta setidaknya hingga waktu makan siang lewat. Jadi daripada sendirian di kamar, aku bermaksud menghabiskan waktu di lounge hotel, yang justru membuatku bertemu dengan Lara.


"Kau tidak ikut pesta?"


Tanya Lara heran. Dia sepertinya sudah bersiap untuk pergi dengan bikini seksi yang ditutup kain dari bagian pinggang ke bawah.


"Aku tidak membawa pakaian renang"


Jawabku malu. Merasa tidak enak karena Lara yang sudah mengundang kemari.


"Hotel ini punya tempat peminjaman. Ayo, kuantarkan"


Lara sudah menggandeng tanganku.


"Lara, aku..."


Sebenarnya aku ingin menolak. Namun ucapanku menjadi tidak selesai. Saat aku akhirnya menyadari sesuatu. Kami berpapasan dengan para tamu pesta lain yang juga diundang Archie kemari. Kebanyakan datang berpasangan. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Sementara Drey pasti sedang sendirian di sana.


"Aku akan membantu memilih bikini yang bagus agar Drey terpesona padamu"


Ucapan Lara makin membuatku tidak bisa menolak. Mungkin kali ini aku harus menunjukkan sesuatu yang bisa kulakukan sebagai kekasih pada Drey. Aku harus berani melewati batasanku.


******


"Apa kau yakin dengan ini?"


Tanyaku khawatir.


Lara memilihkan bikini berjenis "string" berwarna merah. Dia terus mendorongku untuk memakainya, mengatakan bahwa aku mengeluarkan aura berbeda.


Namun melihat tampilanku yang terbuka di depan cermin, justru membuat nyaliku ciut. Ini memang bukan pertama kalinya aku mengenakan bikini. Hanya saja membayangkan Drey akan melihatku, rasanya cukup berbeda.


"Kau benar-benar memiliki tubuh yang indah. Kau harusnya lebih percaya diri memakainya"


Lara masih berusaha meyakinkanku. Karena sudah kepalang tanggung, akhirnya aku mengiyakan.


Lara tak sabar segera menarikku ke venue pesta. Rasanya jantungku berdetak cepat. Memikirkan bagaimana tanggapan Drey terhadap penampilanku. Ada semacam semangat di sana. Dengan sifatnya, Drey mungkin memujiku, atau malah menggodaku.


Ruang pesta telah ramai saat kami tiba. Aku menyerahkan tugas mencari keberadaan Drey pada Lara. Matanya sudah memindai tempat itu dengan cepat. Tak sampai lima menit, dia langsung menarikku ke salah satu sudut pesta. Selama berjalan, aku sibuk menundukkan kepala, mendapat siulan dari sekeliling kami. Aku sadar, kami sedang menjadi pusat perhatian.


"Maaf, kami terlambat"


Saat Lara mengatakan itu, barulah aku berani mengangkat kepalaku. Mataku langsung beradu dengan Drey. Ternyata dia sedang bersama host pesta ini, Archie.


Aku bisa merasakan jantungku berdentam makin keras, di setiap langkah yang kutempuh menuju tempat Drey berdiri.


"Tenang saja, aku tidak akan memulai pesta tanpamu"


Jawab Archie.


Lara langsung melepaskan tanganku dan berlari ke arah pria itu. Mereka berciuman dan Lara bergelayut manja. Sepertinya hubungan mereka sudah bukan semacam pendekatan lagi. Mereka juga berbagi kamar yang sama.


Sementara aku hanya berdiri malu-malu di samping mereka. Sibuk menantikan tanggapan Drey padaku.


"Maaf jika kami harus meninggalkan pesta sebelum dimulai. Aku pasti akan memberikan kompensasi untuk ini"


Di luar dugaan, Drey justru pamit pada Archie lalu meraih tanganku. Menarikku keluar dari sana. Aku benar-benar bingung dengan apa yang terjadi.


Drey membawaku menjauh dari kolam renang, menyusuri lorong hotel untuk pergi ke tempat yang sepi. Hingga suara bisingnya pesta tak lagi terdengar oleh kami. Begitu memastikan telah sampai di tempat yang kosong tanpa siapapun, Drey melepaskan tanganku. Berteriak sangat keras padaku.


"Siapa yang menyuruhmu memakai pakaian seperti itu?!"


Wajah Drey merah padam menandakan bahwa saat ini dia sedang marah besar.

__ADS_1


__ADS_2