Sugar

Sugar
A Long Day (Drey POV)


__ADS_3

Sudah hampir sejam sejak aku menekuri ponselku untuk memantau berita tentang Luna. Karena akhir-akhir ini sulit melihat wajahnya, hanya ini yang bisa ku lakukan saat ingin melepas rindu. Dia selalu pergi pagi buta dan pulang larut malam. Terkadang juga harus menginap di luar.


Film barunya sangat meledak, begitupun popularitasnya. Tidak sulit menemukan berita tentangnya. Dia sering muncul di kata kunci pencarian teratas. Dia membuatku ikut bangga dengan pencapaiannya. Banyak juga gosip baru tentangnya. Kebanyakan tentang hubungannya dengan Casey. Namun semua hanya berdasarkan asumsi mereka. Hingga aku merasa bahwa itu terlalu mengada-ada.


Akhirnya aku memutuskan menutup portal berita. Tidak akan Ada habisnya jika aku terus membaca beritanya. Aku malah menjadi semakin rindu padanya. Hanya bisa melihatnya lewat layar begini juga membuatku menyadari betapa jauh keberadaannya saat ini.


Aku menatap langit-langit rumah. Saat ini tempat ini terasa begitu kosong dan sunyi tanpa Luna. Meskipun aku menyalakan lagu keras-keras seperti biasa, masih saja terasa sepi. Aku sungguh merindukan suara Luna. Atau suara mesin cuci yang biasa dioperasikannya. Karena semua menjadi Tak sama tanpa dia.


Aku cepat-cepat memeriksa ponsel saat mendengar suara notifikasi pesan. Luna masih rutin mengirimkan pesan yang mengingatkan agar aku tidak terlambat makan meski tidak punya waktu. Namun kali ini pesan itu berasal dari ayahku. Dia membalas pesanku tadi pagi. Seperti biasa dengan singkat Dan dingin. Sepertinya ini juga jadi kebiasaan bagiku sekarang. Sejak Luna memintaku mendekati pak tua itu, aku tidak kelupaan menghubunginya setiap hari. Bahkan tanpa Luna yang mengawasi.


Segera ku lempar ponselku. Lalu kembali menatap langit-langit. Aku juga tidak punya banyak pekerjaan selain melamun seperti ini. Karena sekarang sedang libur kompetisi, aku tidak perlu pergi berlatih. Kebiasaan untuk pergi berpesta juga sudah ku tinggalkan. Aku lebih memilih melakukan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih, atau mencuci. Berdiam diri seperti ini juga terasa menyenangkan.


Akan lebih sempurna dengan Sugar...


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Hampir saja jantungku copot saat tiba-tiba kepala Lara muncul di atasku. Aku langsung bangkit dari tempatku.


"Kenapa kau ada di sini?" Tanyaku mencoba meredakan keterkejutanku.


"Ibu memintaku mampir dan mengirimkan ini"


Lara menunjukkan beberapa kotak makanan yang telah dibungkus rapi di tangannya. Mungkin Lucy baru saja memasak sesuatu.


"Bagaimana kau bisa masuk?" Tanyaku masih heran.


"Aku sudah membunyikan bel berkali-kali dan kau tidak mendengarnya. Ternyata kau tidak mengunci pintu jadi aku langsung masuk saja" jawab Lara santai. Dia sudah sibuk di dapur menurunkan semua bawaannya.


"Kenapa kau ceroboh sekali tidak mengunci pintu dengan benar?"


Baru saja aku memikirkan tentang kelupaanku, Lara sudah mengomel. Aku tidak bisa membantahnya. Memang kecerobohanku ini tidak seharusnya terjadi. Meskipun di dalam sini ada aku, tetapi di luar orang mengetahui bahwa ini rumah Luna.


"Apa kakak ipar tidak di rumah?" Tanya Lara. Akhir-akhir ini dia suka memanggil Luna begitu untuk menggodaku.


"Dia pergi bekerja" jawabku sekenanya, lalu kembali pada aktivitasku, bengong di atas sofa.


"Kalau begitu ini kesempatan bagus. Drey, ayo pergi denganku"


"Tidak mau" tolakku cepat. Aku sedang tidak ingin pergi kemanapun. Lebih menyenangkan tinggal di rumah.


"Ayolah... Ku Mohon temani aku. Archie membuat pesta dan aku tidak ingin pergi kesana sendiri" rajuk Lara.


Aku tetap tidak bergeming. Apalagi jika itu pesta, malah membuatku memiliki lebih banyak alasan untuk tidak pergi.


"Drey... Ku Mohon..."


****


Aku menata rambutku sambil mendengkus kesal. Pada akhirnya aku harus pergi juga. Lara terus merajuk selama setengah jam membuat telingaku pengang. Dia bahkan membuat berbagai macam ancaman hanya untuk membuatku setuju pergi dengannya. Lagipula dia adik perempuanku satu-satunya, aku tidak Akan tega melihat dia kecewa.


"Aku sudah membuat pesan untuk kakak ipar jika dia mencarimu"


Ujar Lara sambil menunjuk sticky notes yang ia tempelkan di kulkas. Lagipula aku tidak yakin Luna akan membacanya. Dia mungkin harus menginap di luar malam ini.


"Ayo pergi," ajakku.


Kami akhirnya meninggalkan rumah. Aku harus mengantar Lara untuk berganti pakaian lebih dulu sebelum mendatangi tempat pesta yang dimaksud oleh Lara. Karena Archie adalah orang yang sangat kaya, dia memilih menyewa bar terbaik di negeri ini.


Walaupun dulu akrab dengan tempat semacam ini, anehnya aku justru merasa asing sekarang. Suasananya, aromanya, dan orang di dalamnya. Sungguh berbeda dari rumah. Aku merasa ketenangan di tempat itu berkali-kali lipat lebih baik. Hingga aku heran apa yang telah membuatku kecanduan tempat semacam ini di Masa lalu.


Para teman lama yang dulu sering ku temui di acara pesta seperti ini langsung menyapaku. Mereka masih merasa aku bagian dari hal semacam ini. Sehingga kebanyakan bertanya kemana aku bisa absen begitu lama.


"Bukankah sudah lama aku tidak melihatmu di tempat seperti ini?" Gracey adalah salah satu yang menyapaku. Dia memang ratu pesta. Di manapun tempatnya aku pasti melihat wajahnya.

__ADS_1


"Apa Sugar tidak ikut?" Usil Gracey.


"Tidak perlu sok akrab memanggilnya begitu." Koreksiku. Sugar adalah panggilan istimewa dariku. Aku tidak suka orang lain menggunakannya untuk bercanda.


Gracey hanya memutar bola matanya, seolah ingin membuatku Makin kesal. Sedetik kemudian sudah menggandeng lenganku. Bergelayut manja seperti masa lampau, yang jujur saat ini membuatku risih. Aku tidak lagi suka disentuh wanita selain Luna.


"Ikut saja denganku," bujuk Gracey saat aku berusaha melepaskan tangannya.


Gracey menyeretku ke ruang atas. Meski dalam sebuah pesta yang dihadiri para selebriti dan pengusaha seperti ini tetap dibedakan dalam berbagai kelas. Ada tempat yang tidak bebas dikunjungi siapapun. Tempat khusus para VIP itulah yang dituju Gracey. Karena dulu aku adalah raja pesta dan menyandang nama Charleville, aku masuk dalam lingkaran itu. Gracey juga mendapatkannya setelah aku membawanya kesana.


Tempat itu tertutup, tetapi bisa menyaksikan seluruh lantai pesta.  Seakan sedang menjadikan semua orang di lantai bawah sebagai tontonan. Di sanalah para orang penting di pesta ini berkumpul. Termasuk si host pesta, Archie dan juga Lara.


Ingin aku memarahi adik kecilku itu. Dia yang membawaku kemari dan kini malah sedang asyik bergelayut manja pada Archie.


Aku menatap ke lantai bawah. Sepertinya aku juga pernah menikmati hal semacam ini. Banyak orang di bawah sana mengingatkan pada diriku. Mereka mungkin senang karena telah diundang dalam pesta besar seperti ini. Mereka pasti berpikir bahwa kelas mereka telah naik. Tanpa sadar bahwa mereka hanya menjadi tontonan dari atas sini. Lalu jadi bahan tertawaan, seperti betapa kampungannya cara mereka menggoda wanita. Atau buruknya selera pakaian mereka. Orang-orang itu ditipu oleh kemewahan yang hampa.


Ku akui juga pernah ikut menertawakan mereka. Tanpa ku sadari, aku justru jatuh dalam sebuah ironi. Aku yang seorang perayu ulung, menjadi kagok di depan wanita yang ku cintai. Aku yang selalu menyukai wanita dengan selera pakaian terbaik dan seksi, justru jatuh cinta pada wanita yang selalu memakai pakaian rumah yang kebesaran. Namun di sanalah aku menemukan hidup yang sebenarnya. Kehangatan dan ketenangan yang Tak bisa ku temukan di gemerlap pesta seperti ini.


Karena itu aku berhenti menertawakan mereka. Mereka sangat beruntung belum pernah Naik ke atas sini, atau akan mengalami hal sepertiku.


"Ini adalah minuman terbaik, aku membelinya saat berjalan-jalan ke Paris"


"Aku baru mendapat wanita baru. Wajahnya lumayan dan tubuhnya seksi sekali. Apa kau ingin mencobanya?"


Aku hanya memiliki teman-teman yang menawarkan hal semacam itu.


Sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunanku. Archie ternyata sudah duduk di sampingku.


"Ada apa?"


"Apa kau ada masalah? Kau sepertinya terus melamun sejak datang kemari"


Aku yakin Archie khawatir aku menganggap pestanya membosankan hingga memutuskan mengajakku berbicara.


Archie lalu mengambil segelas sampanye dan menawarkannya padaku. Aku hendak menolaknya.


"Aku ingin memberi selamat untuk kekasihmu. Aku dengar filmnya kali ini berjalan dengan sukses." Ucapan Archie membuatku menerima gelas itu.


Archie kemudian mengambil segelas lagi untuknya. Lalu dia berdiri dan berbicara untuk mengarahkan perhatian semua orang di ruangan itu padanya.


"Aku ingin mengajak kalian semua bersulang untuk kesuksesan kekasih Drey"


Suara tepuk tangan langsung memenuhi ruangan itu. Kemudian dengan dipandu Archie, kami bersulang.


Setelah itu, Luna langsung menjadi pusat perhatian. Semua orang mulai menanyakan dan membicarakan filmnya. Ku pikir hanya seputar itu yang mereka bicarakan. Sampai Luna sendiri yang menjadi bahan obrolan.


"Kenapa aku baru menyadari kalau dia begitu cantik"


"Betul juga, ku pikir dia adalah gadis berotot karena terus berkelahi di filmnya. Ternyata dia gadis yang sangat anggun"


Telingaku mendadak jadi panas walaupun yang sedang mereka bicarakan adalah Luna. Mungkin ini adalah sisa rasa cemburu yang belum padam di hatiku.


"Tapi Drey sudah mendahului Kita"


Edwin, salah satu orang dalam lingkaran ini sudah merangkulku. Tawa langsung pecah karena celetukannya. Hanya aku yang tidak tertarik dengan candaannya.


"Sejujurnya ku pikir kalian hanya akan bersama dalam waktu yang singkat. Jadi, apa yang dimiliki gadis itu hingga membuat petualang sepertimu menahannya begitu lama?"


Edwin kembali mengoceh. Entah masih bercanda atau tidak. Aku memilih mengabaikannya, meskipun ucapannya cukup menyinggung, aku tidak ingin membuat rusuh di sini.


Aku hanya melihat Edwin yang masih tertawa dengan orang lainnya. Karena kami sudah lama saling mengenal, dia pasti tahu tabiat lamaku. Aku memang petualang cinta, tidak Ada yang salah dengan itu. Tapi Aku juga tabiatnya. Dia adalah salah satu orang yang selalu mengambil wanita bekasku. Gracey, Melina atau siapapun mereka yang pernah dekat denganku pasti pernah memiliki hubungan juga dengannya. Jadi aku tidak heran jika dia mengusik Luna.  Mungkin ia berpikir akan mengambil kesempatan begitu Luna bukan milikku.


Sayangnya, aku tidak pernah berniat melepaskan Luna.

__ADS_1


"Aku yakin dia wanita yang hebat di ranjang, sampai kau tergila-gila padanya. Jadi, Jika kau sudah selesai dengannya, katakan saja padaku. Aku tidak keberatan menampungnya"


Dan sayang sekali, Setelah aku berusaha menahan emosiku, Edwin justru mengucapkan itu. Hal yang tidak seharusnya dia singgung atau jadikan bahan candaan.


Aku langsung membanting gelas di tanganku. Suaranya nyaring menghentikan suara di ruangan ini. Lalu tanpa menunggu, aku sudah menekan tubuh Edwin di sofa hingga tidak bergerak. Sementara tanganku yang memegang kerahnya juga menekan dadanya. Melampiaskan emosiku.


"Berhenti membicarakan dia seperti seorang *******. Dia juga bukan barang yang bisa dilempar kesana kemari, lalu Setelah selesai maka kau bisa memungutnya"


Aku bisa melihat bola Mata Edwin memerah saat menatapku. Mungkin sudah mulai merasakan sesak akibat tekanan tanganku. Edwin kalah tenaga, tentu saja dia tidak mampu mendorongku dengan tubuhnya yang ramping itu.


Selama ini, aku tidak pernah kelepasan diri. Aku hanya pria menyenangkan di pesta, Dan hanya menunjukkan tinjuku pada ayah atau Lucas. Tentu saja ini akan menjadi kejadian mengejutkan. Aku bisa mendengar kepanikan di sekitarku. Bahkan suara Lara yang menjerit mencoba menghentikanku. Namun aku tidak peduli. Saat ini aku ingin menghancurkan rahang Edwin yang sudah sembarangan mengucapkan nama Luna.


"Mm...mma..maaf...kan aku..." Edwin menjawab terbata. Meski suaranya mengiba, aku sama sekali tidak merasa bersalah. Emosiku belum tersalurkan sepenuhnya.


Tanganku yang lain sudah mengepal bersiap meluncurkan bogem mentah ke wajahnya. Namun aku merasakan Archie sudah menahan lenganku.


"Tenanglah, jangan memukulnya di sini. Biar aku yang menyelesaikannya," bisik Archie.


Sementara dadaku sudah menggelegak Tak karuan. Kalau hanya begini rasanya tidak cukup bagiku.


Kali ini Archie menepuk bahuku, Dan berusaha keras melepaskan tanganku dari leher Edwin.


"Lara sangat ketakutan sekarang" bisik Archie lagi.


Akal sehatku akhirnya kembali. Saat itu aku baru mendengar isakan Lara yang berdiri Tak jauh dariku. Dia pernah mengalami kekerasan dulu, karena itu aku selalu berusaha tidak berkelahi di depannya. Atau Lara akan sangat ketakutan. Tindakanku ini pasti sudah mengingatkannya pada kenangan buruk itu.


Aku mulai mengendurkan otot dan melepaskan cengkeramanku. Edwin terbatuk-batuk setelah itu.


"Luna adalah wanitaku. Jadi jangan sembarangan bicara tentangnya atau lain kali ku patahkan rahangmu." Ancamku sebelum meninggalkan tempat itu.


*****


Sepertinya aku Dan pesta tak lagi cocok. Tidak Ada Hal yang baik setiap Kali aku pergi berpesta. Mungkin sekarang aku telah berubah menjadi orang rumahan.


Aku berharap bisa segera meredakan emosiku. Rasanya tidak enak pulang dengan membawa kemarahan. Namun aku juga tidak bisa melampiaskannya selain mencengkeram erat kemudi seolah itu adalah leher Edwin. Aku tahu bukan hanya dia orang yang telah membuatku marah. Namun hanya wajah menyebalkannya yang kini terbayang olehku.


Popularitas Luna benar-benar membunuhku. Melihat Ada banyak orang yang memuja Dan menginginkannya membuatku takut. Dia jadi terasa jauh untukku. Apalagi aku kesulitan menemuinya akhir-akhir ini.


Aku membanting pintu Mobil dengan keras. Namun langsung tertegun ketika menyadari sepasang Mata itu telah memperhatikanku.


"Apa Ada yang membuatmu marah?"


Sudah lama rasanya aku tidak mendengar suara itu menyapaku. Begitupun dengan tubuh mungil yang terbungkus dalam pakaian kedodoran itu. Lama sekali tak pernah ku lihat.


Seketika amarahku menguap. Jantungku pun berdetak begitu cepat. Ada emosi lain yang muncul di hatiku. Sesuatu yang disebut rasa rindu.


"Bukankah kau pergi ke pesta? Tapi kenapa kau tidak kelihatan senang?" Tanyanya lagi.


Aku sungguh rela menukar dengan apapun asalkan bisa setiap saat mendengar suara itu.


"Bukankah kau harusnya tidak pulang hari ini?" Aku balik bertanya. Aku merasa suaraku gugup sekali.


"Aku menolaknya. Aku sudah melakukan banyak pekerjaan akhir-akhir ini dan tidak ingin menambahnya lagi. Aku lebih khawatir kau akan merasa kesepian di rumah. Jadi aku memilih pulang"


Dia mengucapkannya dengan enteng, seakan itu bukan apa-apa. Namun tanpa dia tahu, ucapannya itu berarti banyak bagiku.


Meskipun banyak orang menginginkannya di luar Sana, namun ke rumah inilah Luna akan pulang. Kepadakulah dia akan kembali. Maka tidak seharusnya aku merasa khawatir karena ucapan orang-orang di luar Sana.


Aku segera berlari dan memeluk Luna dengan erat. Menghirup dalam-dalam aroma ketenangan yang dimilikinya.


"Aku sangat merindukanmu, Sugar"


Dan ku rasakan sebuah kecupan hangat mendarat di leherku.

__ADS_1


__ADS_2