Sugar

Sugar
One Quiet Day


__ADS_3

Aku segera memakai earphone di telingaku dan menyalakan musiknya keras-keras. Tidak tahan dengan ocehan Daniel. Dia sudah mengomel selama sejam karena aku menolak beberapa tawaran interview. Bagaimana lagi, semua pekerjaan itu mengharuskan aku pergi ke luar Kota. Sementara aku tidak ingin berjauhan lebih lama dengan Drey. Kompetisi Drey sedang libur, jadi ini adalah waktu terbaik agar kami bisa bersama. Pekerjaan itu hanya akan mengganggu.


Daniel menyayangkan jumlah uang yang ku lewatkan. Tapi buatku, semua itu tidak Ada artinya. Lagipula sebentar lagi syuting film terbaru ku akan di mulai. Waktuku dan Drey akan semakin terbatas.


"Apa kau sengaja melakukan ini padaku?" Tanya Daniel keras-keras di telingaku agar aku mendengarnya.


"Segeralah mencari pacar, agar kau bisa pergi berkencan saat memiliki waktu luang," jawabku sambil tersenyum.


Daniel akhirnya menyerah dan berhenti juga. Aku tahu dia begitu bawel karena hubungannya dengan gadis Amerika itu tidak berjalan lancar. Kalau tidak, dia pasti akan senang mendapat libur.


Aku kembali membaca naskah setelah itu. Suasana menjadi tenang begitu Daniel diam. Namun sebenarnya pikiranku sedang terbang jauh entah kemana.


Tadi pagi Lara menelfonku. Dia menanyakan keadaan Drey. Dari sanalah aku mendengar jika semalam di pesta, Drey mengamuk. Dari suaranya, Lara sepertinya merasa takut. Mungkin ini pertama kalinya dia melihat Drey marah.


Sebaliknya, Lara justru merasa khawatir padaku. Dia takut Drey akan melakukan kekerasan lalu membuatku takut padanya. Padahal sudah sejak lama aku tahu sisi itu dari Drey. Saat dia melawan ayahnya, atau saat berkelahi dengan Lucas.


Aku juga tahu, Drey bukan orang yang marah semudah itu. Kecuali itu Hal yang benar-benar menyinggungnya. Jadi aku lebih penasaran alasan Drey marah. Apalagi di pesta yang ia sukai. Sayangnya Lara tidak mau memberitahuku.


"Kalau kau sudah tidak Ada urusan, sebaiknya kau pergi saja," ujarku pada Daniel yang sedang sibuk menatap layar ponselnya.


"Apa kau mengusirku?"


"Ya. Lagipula untuk apa kau berlama-lama di rumah orang?"


Tanpa perlu diberitahu Dua kali, Daniel akhirnya pergi juga. Dia sengaja datang kemari sepagi ini, pasti sangat kesepian sekali. Tapi aku tidak ingin dia merusak Hari ini.


Setelah Daniel pergi, aku ke ruang tengah. Di sana Drey sedang tidur di sofa. Televisi yang ditontonnya sampai larut malam juga masih menyala. Semalam aku sudah menyuruhnya tidur di kamar, namun dia menolak.


Aku memperbaiki selimut di tubuhnya. Lalu duduk di samping untuk menatap wajahnya. Bahkan dalam keadaan tidurpun dia masih terlihat tampan dan menarik. Namun aku tahu, Ada Hal yang sedang mengganggunya. Sejak Hari pemutaran filmku, aku merasa bahwa Drey terus terlihat gelisah.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Gumamku sambil menyisir rambutnya hati-hati.


Drey menggeliat, terganggu oleh sentuhanku. Sehingga aku memilih segera pergi untuk membiarkan ia kembali tidur dengan tenang.


*****


Aku memilah-milah cucian. Hari ini hanya ini yang perlu ku kerjakan. Itupun karena Banyaknya pakaian Kotor yang ku bawa saat bekerja. Selama aku sibuk, Drey membersihkan Dan mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Jadi aku tidak perlu bekerja keras.

__ADS_1


Sebenarnya akan lebih mudah bagi kami menyewa orang untuk bekerja. Tetapi karena kondisi kami yang tidak boleh diketahui orang luar tinggal bersama, itu mustahil dilakukan. Kecuali kami siap membayar resiko agar orang yang kami sewa mau tutup mulut.


Aku terjingkat kaget saat tiba-tiba ada lengan melingkari pinggangku.


"Selamat pagi," bisik Drey meskipun saat ini matahari sudah tinggi.


"Apa aku membangunkanmu?" Tanyaku.


"Suaranya," jawab Drey sambil menunjuk mesin cuci. Suaranya memang cukup nyaring di rumah yang sunyi ini.


Aku hampir saja minta maaf saat ia kembali berkata, "aku rindu sekali suara ini"


Aku mengernyitkan kening dengan heran. Drey memang sedikit aneh. Memangnya apa yang istimewa dari suara mesin cuci? Lagipula dia juga menggunakannya saat aku sedang tidak di rumah.


Namun aku tidak menanyakannya. Drey sedang bergelayut manja sekali padaku. Jadi aku berpikir bahwa mungkin saja dia memang sedang merindukanku.


"Mau minum kopi?" Tawarku.


*****


Drey memberikan laporan bahwa dia telah secara rutin menghubungi ayahnya meski tidak Ada aku. Lalu memperlihatkan pesan-pesan yang saling mereka tukar.


"Bukankah dia pria yang dingin sekali?"


Aku hanya tertawa atas pertanyaan Drey. Dia memang benar. Richard sungguh pria yang dingin. Bahkan meskipun Drey menyapanya dengan bahasa yang sopan, Richard tidak melakukan hal yang sama. Bahkan terkadang tidak dijawabnya. Namun aku bisa melihat jika akhir-akhir ini jawaban Richard mulai berubah. Dia tidak lagi menjawab dengan singkat atau acuh tak acuh.


Aku yakin, Richard sudah mulai luluh dengan perhatian Drey. Bagaimanapun dia adalah seorang ayah. Di hatinya pasti memiliki tempat istimewa bagi anaknya.


Jadi, apa yang membuat Drey gelisah?


"Tumben sekali kau pergi ke pesta dengan Lara semalam?" tanyaku mencoba memancing. Jika Drey tidak ingin cerita, setidaknya aku bisa membuatnya kecolongan bicara.


Seperti dugaanku, ekspresi Drey langsung berubah. Senyumnya tadi tiba-tiba saja hilang. Dia juga menggaruk kepalanya. Jelas sekali Drey sedang mencoba mencari alasan.


"Hm.. yah, itu pesta Archie. Aku hanya menemaninya," jawab Drey setelah terdiam cukup lama.


"Kau tidak pulang dengannya?"

__ADS_1


Lagi-lagi Drey tidak langsung menjawab.


"Apa Lara memergokimu bermain dengan wanita lain, lalu kau kesal dan meninggalkannya?" Pancingku lagi.


"Tidak. Aku tidak pernah bertemu wanita lain!" Kali ini Drey menjawab dengan secepat kilat. Dia menampakkan wajah yang tidak terima dituduh. Aku hampir saja menertawakan kepanikannya.


"Hanya... Aku merasa tidak nyaman di pesta." Lanjut Drey.


Dia memang orang Paling cerdik dalam Hal menyembunyikan sesuatu. Untuk membuatnya menceritakan sebuah masalah saja butuh waktu yang lama. Aku yakin dia tidak ingin membahas tentang pertengkarannya di pesta kemarin. Jadi aku mencoba mengabaikannya. Lagipula aku tidak ingin merusak suasana ini.


Aku menatap Drey yang sedang menikmati kopinya. Walaupun tidak bisa ikut minum dengannya, aku suka dengan aromanya.


Sepertinya aku mulai bisa memahami maksud ucapan Drey sebelumnya tentang mesin cuci. Saat kami duduk berdua seperti ini. Dengan dia yang sedang menyesap kopinya, ditambah dengan obrolan kecil kami. Ada Rasa nyaman Dan nostalgia. Aku selalu merindukan waktu seperti ini. Rasanya tidak akan sama jika aku melakukannya di tempat lain atau dengan orang lain. Mungkin inilah maksudnya.


Kami berdua tidak perlu pergi ke tempat yang baru atau jauh untuk menghabiskan waktu bersama. Cukup di sini. Di rumah ini adalah tempat terbaik bagi kami.


*****


Aku membaca dengan gugup naskah di tanganku. Sebuah penyakit lama kalau aku sedang memulai syuting hari pertama. Ugh! Perutku mulai merasa mulas.


"Kau tidak ingin menyapa James?" Tanya Daniel.


Dia mengingatkanku pada hal penting itu. Gara-gara Aku terlalu gugup sampai lupa menyapa sutradara.


"Ya, aku kesana"


Aku segera menaruh naskahku lalu berjalan ke arah set yang sedang ditata. Syuting baru dimulai tiga puluh menit lagi, jadi belum semuanya siap. Apalagi James terkenal sebagai orang yang suka berubah pikiran di detik-detik terakhir.


Entah kenapa hari ini aku tidak terlalu bersemangat. Syuting film memang menyenangkan. Namun aku lebih suka menghabiskan waktu dengan Drey. Beberapa hari saja rasanya tidak cukup. Aku ingin lebih.


Tetapi menyenangkan juga mendapat perhatian lebih. Hari ini Drey rela bangun lebih pagi dan membuatkan sarapan untukku. Lalu mengantarku kemari.


Sepertinya aku harus hiatus Setelah film ini.


Lamunanku buyar saat sudah sampai di set yang masih dirombak itu. James terlihat di Sana. Hanya saja dia tidak sendiri.


Aku hanya bisa mematung di tempat. Ku pikir akhir-akhir ini semuanya sudah menjadi lebih baik. Tidak Ada lagi yang perlu ku khawatirkan. Nyatanya, masalah baru justru datang kepadaku. Itu yang ku sadari saat melihat wajah tua dengan ekspresi dingin itu di sini.

__ADS_1


__ADS_2