Sugar

Sugar
Blessing in Disguise


__ADS_3

"Jangan melakukan apapun Dan istirahat"



Ujar Drey serius. Seolah sedang memberi peringatan. Aku hanya mengangguk Dan membentuk tanda "ok" dengan tanganku untuk menyenangkannya. Drey akhirnya pamit Dan pergi keluar.



Drey sudah mulai masuk latihan lagi, sehingga tidak bisa menjagaku. Dan sepertinya dia khawatir aku Akan melakukan Hal bodoh selama dia tidak memperhatikanku. Apalagi Daniel yang harusnya menggantikan Drey tidak mengangkat telfonnya sejak tadi. Mungkin masih ketiduran.



Badanku masih nyeri di Sana sini, jadi aku sendiri juga tidak ingin banyak bergerak. Aku hanya bisa berbaring di ranjang Dan memainkan ponselku mencari hiburan.



Sudah lama aku tidak memeriksa sosmedku. Aku memilih menghabiskan waktu dengan membaca pesan Dan komentar dari fans ku. Lupakan haters yang Akan selalu mengirim komentar jahat, aku suka pesan yang dikirim fans ku. Selalu berisi kata dukungan yang hangat.



Akhir-akhir ini, daripada karirku, mereka lebih banyak berkomentar tentang hubunganku dengan Drey. Banyak yang selalu memintaku mengunggah sesuatu yang berhubungan dengannya. Bahkan Ada di antara mereka yang tahu bahwa kami sekarang sama-sama tinggal di Inggris. Rasanya aku Akan keluar keringat dingin. Takut mereka tahu kami tinggal di tempat yang sama.



Namun saat ini hal itu tidak terlalu penting bagiku. Aku sedang bahagia karena Drey sudah kembali seperti biasa. Dia bahkan menjagaku di sini. Aku masih ingat betapa hangatnya tangan Drey yang kugenggam semalam. Hanya dengan merasakan bahwa dia Ada di sampingku sudah cukup menjadi obat bagiku.



Aku tidak munafik untuk mengakui bahwa aku suka diperhatikan Drey. Ingin dimanjakan olehnya. Karena aku sudah terlalu lama hidup sendiri dan kesepian. Kasih sayang Drey menjadi terasa berarti bagiku.



Cukup lama aku membaca hampir seluruh komentar yang dikirim fans ku. Akhirnya berhenti karena merasa lelah Dan bosan. Lalu celingak celinguk mencari sesuatu. Sejak tinggal dengan Drey, aku Makin asing dengan Rasa kesepian. Jadi aku tidak nyaman hanya sendirian begini.



Aku berharap Akan Ada yang datang kemari. Suster sekalipun tak masalah. Aku Akan bisa mengajaknya bicara. Seperti mendengar doaku, secara ekspress Tuhan mengirimkannya padaku. Orang yang Paling tidak kusangka akan menjengukku sepagi ini.



"Hai...hai...hai..."



Suara ceria itu memenuhi ruanganku. Bersama dengan senyumnya yang lebar. Milik sahabat baruku, Lara.



"Kau pasti kesepian Tanpa aku Kan?"



Tanya Lara dengan penuh percaya diri. Dia sudah mengedipkan matanya untukku. Persis seperti Drey. Sepertinya sifat itu sudah mendarah daging di keluarga Charleville. Tetapi aku suka dengan sifat itu.



Lara datang kemari seperti orang pindahan. Dia membawa tas ransel, tas jinjing yang entah isinya apa. Belum lagi tas belanjaan yang berisi berbagai jenis makanan. Lara langsung menata makanannya di kulkas. Padahal sudah penuh sesak karena makanan yang dibawanya kemarin. Karena memang tidak Ada yang memakannya selain Lara.



"Aku iri sekali denganmu. Sepertinya kau bisa makan apapun Tanpa mengkhawatirkan berat badanmu"



Komentarku. Lara berprofesi sebagai model. Dia pasti juga dituntut untuk berpenampilan sempurna. Namun dia bisa memakan semua camilan yang dibawanya itu dan Badannya tetap bagus.



Bukannya menjawab, Lara malah duduk di sampingku. Sambil memperlihatkan video di ponselnya yang tidak Ada hubungannya dengan komentarku. Isinya adalah mallard yang sedang mengapung di atas air sungai.



"Cantik Kan?"



Tanya Lara. Aku tidak paham bagian Mana yang ditanyakan Lara. Apakah tentang Mallard-nya atau tentang pemandangan di belakangnya. Mallard memang salah satu jenis itik yang cantik. Warnanya bagus Dan tampak anggun berenang di atas permukaan air. Namun latar belakang video itu juga bagus. Seperti yang biasa dilihat dari film-film Jepang. Ada sungai Dan pohon Sakura di sekelilingnya.



Sebelum aku bertanya, Lara sudah lebih dulu menjelaskan maksud video itu. Meski kelihatannya mallard itu mengapung dengan anggun di atas permulaan air, namun ketika dilihat di bawah permukaan, kakinya sedang bekerja keras mendayung, untuk menjaga tubuhnya tetap mengapung. Keindahan yang dilihat dari atas, ternyata tidak sama dengan yang terlihat di bawah air.



"Aku hanya ingin menampakkan diriku seperti mallard itu. Aku ingin orang melihat seolah aku bisa menikmati makananku tanpa mengkhawatirkan penampilan. Padahal sebenarnya aku harus mengeluarkan sebanyak yang kumasukkan"



Aku langsung bisa memahami maksud Lara. Karena aku Ada di situasi yang sama dengannya. Kami para selebritis wanita tidak bisa menampakkan kerja keras saat di belakang kamera.



Lara kemudian banyak menasehatiku. Agar aku tidak memaksakan diri Dan sekali-sekali menikmati hidupku. Seperti yang dilakukan Lara sekarang ini. Supaya dia tidak tersiksa dengan diet, Lara menjadikan musim dingin sebagai off-season. Di Mana dia tidak mengambil pekerjaan yang menuntutnya memperlihatkan tubuhnya. Lalu memakan apapun yang dia inginkan. Memulai latihan lagi di musim semi dan all-out dengan pekerjaan di musim panas.



Lara berbeda sekali denganku yang harus menjalani diet hampir sepanjang tahun karena bekerja terlalu keras.



"Jangan biarkan pekerjaan mengambil kehidupanmu"



Pesan Lara tepat mengenai diriku yang terus terbenam dalam pekerjaan sepanjang hidupku.



********************************


Berbicara dengan Lara sungguh menyenangkan. Meski dia seumuran denganku, dia lebih dewasa. Kelihatannya karena dia sangat pandai dalam menikmati hidupnya. Pembicaraan kami terputus saat Daniel yang harusnya menjagaku baru saja datang.



"Kupikir kau sedang dalam perjalanan keliling dunia"



Sindirku. Ini sudah lewat hampir 6 jam dari janjinya untuk datang. Untung saja Lara datang kemari. Aku bisa mati kebosanan di sini. Dan Daniel cuma nyengir kuda. Sudah begitu Tanpa rasa bersalah langsung mengambil makanan yang dibawakan Lara, lalu menyalakan TV Dan duduk manis.

__ADS_1



"Kau tidak ingin bertanya bagaimana keadaanku?"



Tanyaku Tak percaya. Aku sedang sakit, terbaring di sini diinfus Dan Daniel sama sekali tidak khawatir padaku.



"Kau sudah mengomel, artinya kau sudah sembuh"



Hanya itu jawaban Daniel. Dia memang Paling paham Cara membuatku sebal.



"Wah... Ada buah. Boleh kubuka? Dari siapa ini?"



Daniel bahkan sudah mengalihkan pembicaraan Setelah matanya menangkap parcel buah. Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah mengobrak abriknya.



Aku tidak menjawab. Tidak Ada yang memberitahuku mengenai parcel itu. Atau siapa yang datang menjengukku dengan membawakannya. Begitu aku bangun, sudah Ada di Sana. Namun dari jenis buah yang Ada di Sana, bisa kutebak bahwa itu dari Casey. Hanya saja aku tahu Drey mungkin tidak ingin membicarakannya Dan aku pura-pura tidak tahu.



"Dari mantan pacar Luna"



Jawab Lara, tepat seperti yang kupikirkan.



"Wah...masih Ada perhatian ternyata"



Sahut Daniel sambil melihatku dengan senyum menggoda. Lalu pecahlah tawa antara dia Dan Lara. Sementara aku hanya bisa mendengus kesal.



Aku harap mereka tidak Akan bicara begitu di depan Drey. Dia mungkin Akan ngambek lagi. Aku masih tidak tahu Cara meluluhkan kemarahannya. Tidak mungkin aku harus melukai diriku seperti ini terus saat Drey marah.



Sejujurnya aku memang penasaran dengan kedatangan Casey. Apa yang Akan dikatakannya padaku, atau adakah kekhawatiran di wajahnya Melihatku sakit. Dan yang Paling ingin kuketahui adalah seperti apa reaksi Drey Dan Casey saat bertemu.



"Jam berapa pertandingan Drey dimulai?"



Celetukan Lara membuyarkan lamunanku.



"Jam tiga"




"Tunggu...pertandingan apa?"



Tanyaku bingung. Drey hanya pamit untuk pergi latihan tadi. Tidak menyebutkan tentang pertandingan sama sekali. Kalau dia bertanding, ini Akan jadi pertandingan resmi pertama Drey di liga Inggris. Aku akan merasa sangat bersalah jika sampai tidak tahu Hari bersejarah untuk Drey.



"Tentu saja pertandingan sepak bola. Tidak mungkin Kan Drey mendadak bermain basket"



Jawab Daniel sengak. Lalu tertawa. Dia selalu menjawab dengan Cara yang menyebalkan. Padahal aku sedang serius. Ingin rasanya kulemparkan sesuatu untuk membetulkan isi kepalanya itu.



"Pertandingan uji coba. Kudengar melawan Tim dari liga di bawahnya"



Jawab Daniel dengan benar akhirnya yang membuatku lega. Bukan pertandingan resmi.



"Hanya pemain cadangan yang diturunkan, tapi Drey Akan ikut bermain"



Timpal Lara. Setelah itu mendadak obrolan berubah arah menjadi seputar sepak bola. Hanya antara Lara Dan Daniel. Aku tidak bisa mengikutinya karena mereka menggunakan istilah-istilah profesional.



Aku kesal sekali tersisihkan dari pembicaraan. Aku bukan penggemar sepak bola. Ataupun jenis olah raga lainnya. Bahasa mereka jadi terdengar seperti bahasa alien bagiku. Dan itu membuatku kesal karena aku tidak mampu memahami obrolan tentang pekerjaan kekasihku.



Itu terus berlanjut saat kami mendengarkan jalannya pertandingan. Karena ini hanya pertandingan uji coba, kami hanya bisa mendengarkan siaran dari radio lokal. Aku sama sekali tidak memahami apa yang terjadi. Hanya suara Daniel Dan Lara terdengar di ruangan. Kadang bersorak heboh. Kadang juga berteriak frustasi. Sementara aku cuma bisa bengong. Kalau Daniel tidak memberitahuku, aku tidak Akan tahu jika Tim Drey menang 7-0 Dan Drey mencetak 4 gol di antaranya.



********************************


Lara Dan Daniel pulang usai makan malam. Saat itu Drey juga sudah kembali. Walaupun dia kelelahan karena baru menjalani pertandingan uji coba, Drey langsung kemari Tanpa pulang ke rumah dulu. Padahal Lara sudah menawarinya menggantikan untuk menjagaku di sini jika Drey mau.



Banyak Hal baik terjadi Hari ini. Drey menang, mencetak banyak gol. Dan menurut dokter aku bisa pulang besok. Artinya aku Akan bisa beristirahat di rumah yang sudah amat kurindukan.



"Selamat untuk kemenangan Dan golnya"

__ADS_1



Ujarku sambil bertepuk tangan. Tadi aku tidak bisa mengucapkannya karena Daniel Dan Lara sudah heboh sendiri membicarakan pertandingan dengan bahasa yang sulit kupahami.



Biar saja, aku pura-pura paham dengan apa yang terjadi. Yang penting aku tahu Drey menang dengan baik. Drey hanya tertawa Dan mengecup keningku. Wah...rasanya hatiku melayang entah kemana. Aku Paling suka saat keningku dicium seperti itu.



"Kau juga sudah kelihatan lebih baik sekarang"



Gantian Drey memujiku. Aku memang sudah tidak merasa lemas Dan nyeri di tubuhku sudah mulai berkurang. Walaupun harusnya ini karena kerja keras dokter Dan obat yang kuminum. Tetapi aku merasa bahwa kata-kata Drey itu ditujukan untuk memujiku yang bisa memaksa diriku untuk cepat pulih.



"Baiklah, sekarang tidurlah"



Kata Drey kemudian. Merusak kebahagiaanku. Dia masih saja terus menyuruhku tidur. Padahal aku masih ingin berbicara lebih banyak dengannya. Sudah seharian aku tidak melihatnya. Lagipula karena Dua Hari ini hanya tidur, aku merasa Makin lelah dan mataku sudah tidak ingin terpejam lagi.



"Aku tidak mau"



Tolakku. Membuat Drey Melihatku dengan tatapan heran.



"Lalu apa yang mau kau lakukan? Ini sudah malam"



Tanya Drey. Aku segera memutar otak untuk membuat alasan. Tidak mungkin aku mengatakan padanya bahwa aku ingin bicara dengannya lebih lama. Aku tidak sepercaya diri itu. Lalu terlintaslah sebuah ide.



"Ajari aku tentang sepak bola"



Aku ingin bisa ikut berbicara tentang pekerjaan Drey di obrolan dengan Daniel maupun Lara selanjutnya. Aku tidak mau menjadi satu-satunya orang yang tertinggal oleh mereka.



Drey tidak bertanya lebih jauh Dan langsung menuruti keinginanku. Drey membawaku duduk di sofa bersamanya. Lalu mencari rekaman siaran pertandingan sepak bola di internet. Sambil menonton jalannya pertandingan, Drey menjelaskan satu persatu istilah dengan sabar.



Drey adalah guru yang baik. Berusaha dengan baik menjelaskan padaku. Namun Sepertinya aku murid yang nakal. Aku tidak terlalu fokus mendengarkannya. Karena aku lebih sibuk mencuri pandang padanya. Di mataku, Drey sungguh mempesona saat membicarakan pekerjaannya. Keseriusannya, semangatnya, semua terpancar di matanya. Berbeda dengan kesehariannya yang "goofy".



Aku tidak pernah sangat menikmati pembicaraan dengan orang lain sebanyak dengan Drey. Mungkin karena aku tidak pernah bisa menebak apa yang dipikirkannya. Namun dia selalu membawakan hal-hal yang baru untuk dibicarakan denganku.



Saat aku sedang sibuk tenggelam dalam imajinasiku tentang Drey, mendadak aku merasakan sebuah kecupan kecil mendarat di bibirku. Drey mencuri kesempatan saat aku lengah.



"Beraninya kau"



Omelku sambil melotot. Pura-pura kesal. Padahal jantungku berdebar senang menerimanya. Drey selalu berhasil mengejutkanku seperti ini.



"Kau sama sekali tidak mendengarkanku dari tadi"



Jawab Drey sambil meringis. Aku hanya bisa memonyongkan bibirku. Malu sekali dia menangkap basah tidak fokusanku.



"Kenapa kau mematikannya?"



Protesku saat Drey menutup siaran pertandingan yang sedang kami tonton.



"Kita lihat yang lain saja. Sepertinya kau bosan. Tenang saja, Kita bisa belajar lagi lain Kali"



Ujar Drey. Dia sepertinya tidak ingin memaksakanku memahami dunianya secara instan.



Kami akhirnya menonton film. Drey tidak tahu banyak mengenai film jadi kami menonton film rekomendasiku. Ada film berjudul "Marriage Mistake" yang sangat kusukai. Bercerita mengenai pria Dan wanita yang menikah secara tidak sengaja. Pernikahan itu awalnya seperti bencana bagi mereka. Namun akhirnya mereka mencoba untuk menemukan makna di dalam pernikahan mereka.



Aku suka bagaimana cinta datang secara alami di antara mereka. Saking sukanya aku dengan film itu, aku mungkin sudah belasan Kali menontonnya. Tapi aku masih bisa tertawa, menangis Dan kesal tiap Kali menontonnya. Dan aku ingin Drey menontonnya juga.



Tetapi baru setengah film, Drey ternyata sudah jatuh tertidur. Aku memang kesal sekali karena dia melewatkan film. Namun aku tidak bisa marah padanya. Aku bisa melihat bahwa dia sangat lelah. Latihan pagi, bertanding secara full selama 90 menit, masih menjagaku. Dan dia menuruti keinginanku untuk memberi penjelasan tentang sepak bola. Drey sama sekali tidak mengeluh.



Wajah Drey yang pulas Dan dengkuran halus yang dikeluarkannya membuatku tidak tega membangunkannya. Jadi pelan-pelan, sangat pelan sekali aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya Dan bersandar di bahunya. Untung saking lelahnya, Drey tidak terbangun.



Sejujurnya aku sangat bersyukur bisa sakit sekarang. Drey jadi tidak lagi marah padaku. Dan aku bisa menikmati seluruh perhatiannya. Terutama Malam ini, aku menemukan hadiah terbaik atas sakitku. Aku bisa tidur dalam pelukan Drey. Aku bisa beralasan bahwa aku tidak bisa kembali ke ranjangku Dan ketiduran di sini. Hal yang tidak Akan berani kulakukan saat situasi normal.



Pelukan Drey selalu hangat. Dengan badannya yang lebih besar dariku, aku selalu merasa terlindungi di dalamnya. Lalu untuk alasan lainnya yang tidak ingin kuakui, aku sudah mulai merasakan ketergantungan padanya. Aku selalu berharap Drey tidak akan pernah membuatku membenci pelukannya ini.

__ADS_1




__ADS_2