Sugar

Sugar
Another Path


__ADS_3

Dreymasih sakit hati dengan kata-kata karyawannya, yang mengatakan bahwa Luna tidak cantik dan dekil. Karena itu Dreyingin memperlihatkan istrinya itu pada semua orang di perusahaannya.


Setelah semalam mencoba berbagai gaya dan pakaian, Dreymerasa cukup puas saat melihat tampilan Luna pagi ini. gadis itu mengenakan dress off-shoulder selutut. Melihat Luna dengan gaya semacam itu saat pernikahan, Dreyselalu merasa jika Luna cukup cocok dengan atasan yang memperlihatkan bahunya.


Rambut Luna yang diikat ke atas juga sempurna memperlihatkan lekuk indah lehernya. Dreyjuga secara khusus meminta Luna memakai warna raspberry, kontras dengan kulit putihnya. Terlihat mencolok namun lembut.


"Apa aku harus pergi?"


Tanya Luna. Dia sudah menanyakannya pada Dreylima kali.


Luna gugup sekali membayangkan harus pergi ke perusahaan Ethan. Dia akan menarik perhatian di sana. Semua mata pasti tertuju padanya. Membayangkannya saja Luna tidak suka.


Dreybegitu menikmati ekspresi gugup Luna. Karena biasanya gadis itu selalu kuat dan pemberani. Penampilan rapuh seperti ini cukup langka bagi Ethan. Sehingga bukannya menenangkan, Dreymalah menggodanya. Menambah kegugupan Luna.


Luna benar-benar mengeratkan tautan tangannya di lengan Dreysaat mereka sudah sampai. Dia banyak menunduk ketika Dreymenggandengnya berjalan masuk.


"Nona Ethan, angkat kepalamu. You're first lady here"


Bisik Dreymengingatkan. Mau tak mau Luna mengangkat kepalanya.


Seperti yang Luna duga, banyak mata memandangnya. Rasanya tubuh Luna mulai berubah menjadi berat. Perasaan tidak nyaman menjalari hatinya.


Saat itu, dia merasakan Dreymenggenggam tangannya, dengan menautkan jari-jari mereka. Luna langsung melihat ke arah Dreyyang tersenyum padanya. Perlahan tubuh Luna menjadi ringan. Rasa gugupnya langsung hilang. Dia bisa mulai berjalan dengan percaya diri.


Semua orang di tempat itu seolah tersihir oleh pesona pasangan itu. Bukan hanya karena Luna begitu menawan. Tetapi ekspresi Dreyyang melihat Luna penuh cinta. Mereka melihat bagaimana pria angkuh itu tersenyum pada Luna. Dan bagaimana pria dingin itu memandang hangat Luna. Mereka tidak bisa berhenti melihat pasangan itu bahkan sampai mereka menghilang di lift.


********


"Wah...bagus sekali"


Puji Luna takjub saat melihat pemandangan dari ruang kerja Ethan. Dia belum pernah melihat kota New York dari atas gedung tinggi seperti ini.


"Kau menyukainya, hm?"


Tanya Dreysambil memeluk Luna dari belakang. Luna menjawabnya dengan anggukan antusias.


"Kalau begitu nikmati sepuasmu. Aku harus pergi untuk meeting"


Ujar Dreysambil memberi kecupan di bahu Luna.


"Siap!"


Begitu yang dijawab Luna, sambil melakukan gerakan salut. Dia merasa akan dibuat betah oleh pemandangan di depannya itu.


Namun ternyata pemikiran hal itu tidak bertahan lama. Setelah 30 menit, rasa bosan langsung menghinggapi Luna. Pemandangan indah itu lama kelamaan berubah menjadi biasa. Luna bahkan sampai berjalan mengelilingi seluruh ruangan. Memeriksa setiap detil dekorasi ruang kerja itu. Dan Dreybelum juga kembali.


Luna mulai berpikir bahwa tempat ini tidak ubahnya seperti mansion. Meskipun di luar, tidak ada yang bisa Luna lakukan di sana. Dia tetap saja terkurung.


Kebosanan Luna sampai pada puncaknya. Sudah dua jam berlalu sejak dia ditinggal sendirian di sini. Dia pun akhirnya membuat sebuah keputusan besar. Keluar dari ruangan ini.


Luna berpikir, selama dia masih berada di gedung ini, tidak akan jadi masalah. Sama seperti di mansion. Dia tidak boleh keluar mansion tetapi bisa menjelajahi seluruh isi bangunannya.


Katie yang biasanya ada di depan ruangan Dreysaat itu tidak ada. Dia juga menghadiri meeting. Luna pun dengan bebas pergi dan menaiki lift. Tujuan pertamanya adalah kantin. Tadi dia diberitahu jika tempat itu ada di lantai 30.


Kantin perusahaan Dreycukup luas, bahkan menurut Luna lebih besar dari Sella's Kitchen yang notabene adalah restoran.


Ruangan di cat warna putih bersih, dengan dekorasi yang didominasi warna turqoise dan hijau lembut, memberi kesan santai. Berbagai menu yang disediakan juga menggugah selera. Para karyawan disini bisa memenuhi keinginan mereka untuk makan sepuasnya.


Perusahaan masih terlihat hening dan tenang karena belum waktu makan siang. Di kantin juga masih kosong. Waktu yang tepat karena Luna tidak ingin menarik perhatian. Hanya para koki dan penjaga kantin, yang sudah berbaris siap melayani. Menyadari bahwa istri bos sedang berkunjung. Sehingga Luna bisa berlama-lama melihat menu.

__ADS_1


Menu camilan untuk hari ini adalah cheese potato, dan nachos. Membuat Luna ngiler hanya membayangkan rasanya. Dia ingin memesan itu dengan segelas caramel macchiato hangat. Tetapi baru saja Luna hendak memesan, terdengar suara segerombolan orang datang.


*******


Beberapa karyawan masuk ke dalam kantin dengan suara berisik karena sambil mengobrol. Langkah mereka otomatis terhenti saat melihat seorang gadis cantik berdiri di depan daftar menu. Mereka mengenalinya sebagai first lady perusahaan ini.


Berita mengenai karyawan yang dipecat karena ketahuan membicarakan istri Dreysudah beredar di tempat ini. Membuat karyawan lain tidak berani melakukan kesalahan yang sama. Menjadi penyebab mereka langsung salah tingkah ketika berhadapan langsung dengan Luna.


Takut-takut, mereka mencoba menyapa Luna. Namun seperti sudah menjadi insting, mereka juga menatap Luna. Melihat gadis itu dari atas sampai bawah. Sebenarnya dengan pandangan kagum. Meski sudah menjadi istri Ethan, penampilan Luna justru terlihat humble dan tetap cantik. Dan karena gadis ini sudah mampu menaklukan hati pria sekeras Ethan. Tetapi Luna justru mengartikan pandangan berbeda.


Saat ini dia merasa seperti sedang dihakimi. Semua mata tertuju padanya, seolah dia adalah kriminal. Mimpi itu kembali berputar di otaknya seolah menjadi nyata.


.....Di saat itu, jauh di balik kaca jendela, Luna bisa melihat sepasang mata, tidak, ada beberapa pasang mata memandangnya. Anak laki-laki dan perempuan. Ada yang seumuran dengannya. Ada yang masih kecil. Mereka menatapnya dingin, penuh dengan tatapan menghakimi. Tajam seolah mengulitinya.....


Dada Luna mendadak sesak. Sulit baginya untuk bernafas. Pandangannya menjadi kabur. Sebentar lagi dia mungkin jatuh.


"Sudah kuduga kau ada disini"


Suara berat itu mengembalikan kesadaran Luna dengan cepat. Ethan-nya sudah berdiri di depan pintu kantin.


Melihat si bos besar datang, para karyawan langsung mundur memberi jalan. Sehingga Dreybisa segera berjalan menghampiri Luna.


Tidak ada yang lebih melegakan bagi Luna selain melihat senyum Ethan. Pria itu langsung menarik pinggang Luna dan memeluknya. Membuat Luna bisa dengan bebas menghirup aromanya.


Mereka tidak menyadari bahwa para karyawan di belakang mereka sedang terpekik girang. Bisa menyaksikan peristiwa mesra dan manis itu. sesuatu yang langka dan tak terbayangkan dari pria semacam Ethan.


*******


Luna bisa bersantai meski harus kembali berdiam di ruang kerja Ethan. Karena ada Dreydi sana bersamanya. Luna bisa memuaskan dirinya memandangi suaminya yang bekerja. Nilai ketampanan Dreyseperti langsung naik berkali-kali lipat.


"Kau bisa membuatku gugup dengan tatapanmu itu"


Rasanya ada bunga tumbuh di hati Ethan. Dia tidak bisa menggambarkan kegembirannya untuk bisa bekerja sambil mendengar suara tawa itu. Mendadak suasana ruang kerjanya berubah menyenangkan. Sebagai gantinya, dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya.


"Kemarilah"


Ujar Dreymenyuruh Luna datang padanya. Luna segera berlari ke meja Ethan, dan dengan cepat duduk di pangkuan pria itu.


Dreymenyembunyikan wajahnya di ceruk leher Luna. Dia suka aroma segar dan manis parfum istrinya. Dia juga suka saat Luna tertawa geli akibat hembusan nafasnya.


"Apa kau tidak suka diperhatikan banyak orang?"


Tanya Ethan. Dia menyadari jika saat menemukan Luna di kantin, wajah gadis itu pucat. Tidak seperti biasa, sifat periangnya hilang.


Luna sedikit terkejut dengan pertanyaan Ethan. Dia selalu berusaha menyembunyikan hal itu. Menjadi istri Ethan, memang mau tak mau Luna harus mendapat perhatian. Lagipula saat bersama Ethan, kelemahannya itu perlahan mulai sembuh.


Luna mengangguk, lalu ganti menyembunyikan wajahnya di leher Ethan. Dia enggan membahasnya.


"Tapi tidak apa-apa selama ada kau"


Ucap Luna kemudian. Dia mencoba menyembunyikan perasaannya dengan tertawa. Dreypun batal bertanya lebih jauh. Namun sekarang Dreyharus berpikir dua kali untuk menempatkan Luna dalam situasi seperti ini.


Dreyterlalu terbawa emosi, dan mencoba memamerkan Luna pada semua karyawannya. Dia tidak memperhitungkan bagaimana perasaan Luna.


Padahal sebelumnya dia sudah paham bahwa rasa suka atau tidak suka yang diterima Luna adalah resiko pernikahan ini. Sesuatu yang tidak mereka hindari.


Dreyhanya bisa mengeratkan pelukannya. Sambil membelai lembut rambut Luna. Sambil berjanji di hatinya, akan selalu berusaha melindungi gadis itu dalam kuasanya.


*******

__ADS_1


Luna terbangun oleh suara tinggi Dreyyang seperti sedang membentak orang. Tadi dia tertidur, terlalu nyaman dalam pangkuan Ethan. Lalu Dreymembawanya ke ruang istirahat Dreyyang ada di balik ruang kerja.


Dengan setengah mengantuk, Luna mengintip apa yang sedang terjadi. Seperti dugaannya, Dreysedang marah-marah. Yang menjadi sasaran adalah sekretarisnya, Katie dan juga seorang pria yang belum pernah Luna lihat sebelumnya.


Cukup lama Luna harus menyaksikan pemandangan kurang mengenakkan itu. Dimanapun tempatnya, Dreycukup menakutkan saat marah. Luna bisa melihat wajah ketakutan Katie dan orang di sampingnya.


Begitu Katie dan orang itu keluar, Luna langsung mendekati Ethan. Dia langsung memeluk Dreydari belakang.


"Ah..kau sudah bangun?"


Tanya Dreydengan suara lembut, berbeda sekali dengan nada bicaranya barusan. Luna berharap suaminya akan selalu berbicara seperti ini.


"Aku mendengar suara kemarahanmu"


Dreytertawa mendengar jawaban jujur Luna. Terdengar penuh protes.


Dreymembalikkan badannya dan menatap mata sayu istrinya. Terlihat sekali memang dipaksa untuk bangun. Kantuknya masih terlihat jelas disana.


"Apa perlu kita pulang saja? Kau bisa melanjutkan tidurmu di rumah"


Tawar Ethan. Cukup menggiurkan, Luna sudah merindukan penjaranya itu. Namun ada hal lebih penting untuk mereka bahas.


"Apa kau selalu marah seperti ini pada karyawanmu?"


"Tentu saja, kalau mereka melakukan kesalahan"


"Tidak bisakah kau menguranginya?"


Dreymengangkat alisnya mendengar permintaan Luna itu. Dia sebenarnya tidak suka ada yang mengkritik cara kerjanya. Apalagi mencoba mengubahnya.


"Kenapa? Apa seorang bos tidak boleh marah?"


"Tentu saja boleh. Itu bisa saja terjadi, tapi... kau tahu kan kalau dulu aku juga bekerja. Aku sering sekali berganti pekerjaan, bertemu bermacam-macam tipe bos. Yang baik hati, yang kaku, yang acuh, dan yang pemarah. Di antara semua itu, yang paling tidak kusukai adalah tipe yang pemarah. Dia terus memarahiku, bahkan memakiku meski hanya untuk sebuah kesalahan kecil. Karena itu, walaupun aku sudah lama berhenti, aku tidak bisa melupakan setiap kata makian yang pernah dikeluarkannya padaku. Aku masih merasa sedih dan sakit hati saat mengingatnya. Padahal aku tidak punya banyak ingatan tentang bosku yang lain"


Dreymelihat raut sedih Luna saat bercerita. Kelihatan sekali bahwa gadis itu tidak sedang berbohong.


"Aku tidak mau kau menjadi seperti itu juga. Aku tidak suka karyawanmu mengingatmu hanya sebagai bos pemarah, yang meninggalkan kebencian dan sakit hati untuk mereka. Untuk itu, berilah toleransi untuk setiap kesalahan kecil mereka, dan menahan diri untuk tidak terlalu cepat marah"


Dreypaling tidak suka ada yang mencoba mempengaruhinya. Tetapi harus diakuinya, bahwa Luna sudah menjadi pengecualian. Semua yang dikatakan gadis itu terasa benar dan menggerakkan hatinya. Dia juga tidak akan rela jika membayangkan bahwa karyawan yang sedang dimaki itu adalah Luna.


"Aku akan berusaha melakukannya. Akan kucoba pelan-pelan"


Janji Ethan.


*******


Luna tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat pada akhirnya mereka pulang. Rasanya sehari di perusahaan ini terasa seperti bertahun-tahun. Dreyjuga sudah mencapai tujuannya. Kini para karyawan yang sebelumnya memandang remeh Luna mulai mengaguminya.


Di mobil, ponsel Luna tiba-tiba berbunyi. Membuat heran Luna dan Ethan. Seharusnya tidak ada yang tahu nomor Luna kecuali Dreydan Sella. Apalagi nomor itu tidak tersimpan di kontak Luna.


Dreytetap menyuruh Luna mengangkatnya. Lagipula kalau terjadi sesuatu ada Dreydisini.


"Halo"


Takut-takut Luna menyapa si penelpon.


"Ini Oswald"


Jantung Luna seolah berhenti berdetak, mendengar suara yang menjadi sumber ketakutannya. Harinya tidak pernah tenang oleh kejutan semacam ini.

__ADS_1


__ADS_2