
Tanpa bertanya, aku langsung bergabung dengan para wanita itu. Bisa kulihat Drey sedikit salah tingkah. Dia menurunkan lengannya yang melingkar di bahu Gracey. Mungkin aku pantas mendapat sebutan sebagai perusak suasana. Karena kedatanganku mendadak mengubah suasana menjadi hening. Canda tawa mereka yang tadi kulihat lenyap seketika.
"Aku Luna"
Tanpa mempedulikan reaksi terkejut Drey, aku memperkenalkan diri. Aku Tak terlalu mengharapkan sambutan hangat. Namun rupanya Gracey sudah lebih dulu menjabat tanganku.
"Salam kenal. Aku Gracey. Kami sering mendengar cerita tentangmu"
Ujar Gracey. Aku hanya menanggapinya dengan senyum kecut, tidak memahami rumor apa yang mereka dengar tentangku. Lalu satu persatu wanita lain mengikuti Gracey mengenalkan dirinya.
"Wah.. aku tidak percaya masih ada selebriti memakai model pakaian seperti ini. Kau pasti konservatif?"
Komentar Melina setelah berkenalan denganku. Sejak aku datang, dia memang langsung memberikan pandangan penuh selidik.
Kata-kata Melina terdengar menghakimi dan meledek secara bersamaan. Menurutku merekalah yang pakaiannya terlalu terbuka. Seperti kekurangan bahan. Tetapi aku memilih tidak menanggapinya. Perhatianku justru lebih kepada sikap Melina. Dia menempelkan tubuhnya pada Drey. Mengenakan pakaian dengan belahan rendah, seolah sengaja menggoda.
Melina, 25 tahun. Dia salah satu model papan atas asal Prancis. Namanya populer sejak dia dikontrak oleh brand pakaian dalam terkenal. Dia cukup populer juga sebagai model majalah dewasa. Pernah digosipkan dengan Drey tentunya.
Sebenarnya aku ingin sekali menarik Melina menjauh dari Drey. Tetapi aku hanya bisa menahan diri. Apalagi Drey sepertinya tidak keberatan dengan sikap Melina.
"Ingin minum apa? Koktail di sini cukup populer lho"
Gracey memotong dan mengalihkan perhatianku. Dia sudah bersiap memesan pada bartender.
"Luna tidak minum alkohol"
Drey menjawab dengan cepat. Menyelamatkanku yang sempat kikuk sesaat.
"Kau tidak minum alkohol?"
Tanya Gracey sedikit terkejut. Belum sempat aku menjawab,
"Oh.. membosankan sekali"
Celetuk Melina dengan wajah mengejek. Disambut tawa yang lain. Hanya Gracey yang tidak ikut menertawakanku. hanya saja dia memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan maksudnya. Membuatku sama tak nyamannya.
Aku mendadak kaku dengan situasi ini. Tiba-tiba ciut juga. Rasanya wanita-wanita di depanku ini hendak mengeroyokku, dan mereka bukan tandinganku. Terpikir olehku bahwa di sini memang bukan tempatku. Ingin rasanya lari dari sini. Namun saat aku melihat Drey juga ikut tersenyum geli dengan mereka, rasanya kesal sekali.
"Menikmati pesta tidak harus dengan mabuk kan?"
Balasku atas ucapan Melina. Entah mendapat keberanian dari mana.
"Tapi di sini juga tidak menyediakan susu"
Sahut Melina tidak mau kalah.
"Tentu saja. Ini bukan pesta ulang tahun anak sekolah dasar"
Debatku. Tanpa sadar, aku sudah melemparkan tatapan tajam pada Melina. Sama sekali tidak terintimidasi, bahkan tidak mau kalah darinya.
Mendadak Gracey memotong perdebatan kami dengan tawanya.
"Ternyata dia sama dengan kami"
Gracey bicara pada Drey sambil merangkulku. Aku sama sekali tidak paham maksudnya. Bukan hanya Gracey, semua wanita yang tadinya menatapku tak nyaman ikut tersenyum puas.
"Pesta masih panjang. Kau harus menikmatinya"
Bisik Gracey. Aku hanya bisa menatap bingung. Yang jelas aku merasa seperti dijahili.
*****
Pesta semakin meriah seiring larutnya malam. Tanpa sadar aku juga larut di dalamnya. Lupa mengenai waktu. Hanya saja aku masih siaga. Setelah pertemuanku dengan para mantan wanitanya Drey, aku terus menempel padanya. Menggandengnya agar tidak dia diserbu lagi. Lagipula dengan Drey di sampingku, lebih mudah menolak tawaran untuk minum.
"Ingin pulang sekarang?"
Bisik Drey. Dia sudah menanyakan hal ini berulang kali padaku. Mungkin karena bisa membaca dengan jelas rasa tidak nyaman di wajahku.
Tentu saja aku ingin mengiyakan pertanyaan Drey. Kalau saja aku tidak mempedulikan ekspresi penuh antusias di wajahnya. Jelas sekali Drey menikmati pesta ini. Sudah cukup lama dia menahan diri sejak kemarahanku terakhir kali. Jadi aku hanya bisa mengalah dan menggelengkan kepala. Aku bisa bertahan di tempat ini lebih lama agar Drey bisa menikmatinya. Jawabanku itu membuat Drey mengulas senyum puas.
"Kau tidak minum?"
Tanyaku saat memperhatikan Drey yang malam ini sama sekali tidak menyentuh segelas pun minuman.
"Kau tidak suka bau alkohol Kan?"
Tanya Drey balik sambil mengerlingkan matanya. Kali ini aku yang tersenyum.
Well, sepertinya keputusanku datang ke pesta ini tidak salah.
Aku terus mengikuti Drey Dan harus menyerah saat dia bertemu dengan temannya yang sesama pemain bola. Aku tidak paham dengan obrolan mereka dan memutuskan menikmati pesta sendirian. Membiarkan Drey menikmati waktu dengan teman-temannya.
Sejujurnya aku ingin sekali pulang. Bau alkohol semakin kuat, membuatku pusing. Aku juga sudah tidak tahan memakai semua riasan ini. Tak nyaman.
"Kenapa kau di sini sendirian? Bergabung dengan kami saja"
__ADS_1
Kupikir menepi dari pesta akan memberiku waktu untuk sendirian. Ternyata hal itu hanya membuatku menjadi sasaran empuk. Dua orang pria yang harusnya juga dari kalangan selebriti namun tidak kukenali menghampiriku.
Perasaanku sedikit tidak enak. Dari ekspresi dan aroma mereka. Sepertinya sudah sedikit mabuk. Terpikir olehku memanggil Drey, tetapi dia dan teman-temannya sudah menghilang dari tempatnya.
"Maaf, aku harus pergi"
Ujarku gugup. Aku tidak pandai meladeni pria. Jadi satu-satunya yang harus kulakukan hanyalah kabur.
"Tidak perlu terburu-buru seperti itu"
Seseorang dari mereka sudah lebih dulu menghadangku.
Seketika tubuhku membeku, walaupun sebenarnya di dalam panik sekali. Di tempat seperti ini mustahil meminta tolong. Suasana gelap, dan musik yang berdentam keras. Sudah terpikir untuk memukul mereka, jika mereka mencoba mendekat. Persetan jika akan menimbulkan masalah buatku.
"Dia bersama kami. Jangan ganggu dia"
Seperti seorang malaikat, Gracey datang. Dia sudah menggandeng lenganku.
"Grace, kenapa kau mengganggu saja?"
Protes salah satu pria itu.
"Aku akan memberi kompensasi nanti"
Jawab Gracey sambil mengedipkan matanya. Sukses membuat Dua pria itu melepaskan kami. Sungguh wanita yang luar biasa.
Gracey membawaku ke tempatnya. Tentunya di mana ada para wanita tadi berkumpul. Tapi tidak memperhatikan kedatanganku. Mereka semua sudah dalam keadaan yang sama dengan dua pria tadi. Terlihat dari banyaknya botol di meja mereka.
"Kau ini seperti mainan mahal yang baru diproduksi di sini. Jadi harus berhati-hati atau diserbu seperti tadi"
Ujar Gracey sambil mempersilahkanku duduk. Aku tidak tahu harus senang atau kesal dengan ucapannya. Enak saja menyebutku mainan.
Meskipun awalnya menyambutku dengan rasa tak nyaman, entah bagaimana aku bisa berakhir akrab dengan Gracey. Dia wanita yang cukup menyenangkan. Tidak seperti tampilannya, sikapnya cukup sopan. Namun tanpa henti menginterogasiku mengenai hubungan dengan Drey. Sepertinya ada banyak hal tentang kami yang membuatnya penasaran.
"Bagaimana kalian bertemu?"
"Bagaimana kalian bersama?"
Pertanyaan-pertanyaan umum semacam itu dilontarkan Gracey. Hingga sebuah pertanyaan paling sensitif muncul.
"Sudah berapa kali kalian melakukannya?"
Aku tahu kemana pertanyaan itu mengarah. Tapi berpura-pura bodoh.
Tanyaku dengan tawa canggung. Gracey hanya tersenyum menatapku, seolah bisa membacanya.
"Tidak ada yang istimewa dari itu. Aku bahkan tahu berapa kali mereka melakukannya, atau siapa saja di sini yang pernah bersamanya. Hal seperti itu bukan rahasia di antara kami"
Gracey menunjuk para wanita di depan kami. Pernyataan Gracey benar-benar membuatku speechless. Vulgar sekali membicarakan hal semacam itu. Di saat bersamaan, Ada semacam sengatan sakit di hatiku.
Bohong jika aku bilang tidak cemburu. Aku masih cukup waras untuk tidak bisa menerima ucapan santai Gracey. Drey adalah pacarku saat ini.
"Kami tidak keberatan. Berbagi perasaan satu sama lain. Drey adalah pria yang terlalu hebat untuk dimiliki oleh satu wanita. Bukankah kau Akan seperti itu juga?"
Sambil berbicara, Gracey menyuruhku melihat ke salah satu sudut pesta. Beberapa meter dari tempat kami. Tepat di depan mataku, Drey yang tadi mendadak hilang terlihat di sana. Sedang bercengkerama dengan beberapa wanita lain yang tak kukenal. Melingkarkan tangannya ke pinggang mereka dengan santainya.
Setidaknya dengan apa yang kulihat, aku bisa memahami maksud Gracey. Entah hubungan seperti apa yang dimiliki Drey dengan semua wanita di masa lalunya. Namun dia bisa membuat mereka menerima bahwa akan selalu Ada wanita lain dalam hidupnya. Mungkin karena itu julukan cassanova melekat padanya.
Gracey sedang memperingatkanku. Agar aku bersiap, jika saja aku hanya menjadi salah satu wanita semacam itu dalam hidup Drey. Akan ditinggalkan saat dia menemukan wanita lain yang lebih menarik.
Sejujurnya rasa percaya diriku runtuh. Kenapa dari semua pria aku harus bertemu dengan Drey. Aku melepaskan pria sebaik Casey hanya untuk memberikan keyakinanku padanya. Sementara tidak Ada jaminan bahwa aku tidak Akan terluka nantinya.
"Sepertinya kau tidak perlu khawatir. Dia menghabiskan waktu cukup banyak denganmu saat ini. Dia pasti cukup menyukaimu. Meskipun Ada beberapa wanita baru, dia tidak Akan melupakanmu"
Lanjut Gracey. Mungkin ia berpikir itu adalah pujian. Namun bagiku itu penghinaan terhadap harga diriku sebagai wanita. Sama saja menyebutku sebagai mainan seperti tadi.
Aku mengepalkan tangaku menahan segala rasa kesal di hati.
"Kau salah. Hubungan kami tidak seperti itu. Aku juga tidak sama seperti kalian. Aku wanita yang cukup egois, tidak suka berbagi milikku dengan orang lain"
Jawabku sambil melangkah pergi meninggalkan Gracey.
Aku tidak peduli Drey seperti apa di Masa lalunya. Namun selama dia bersamaku, tidak akan kuijinkan disentuh yang lainnya. Aku juga tidak akan membiarkannya memakai julukan cassanova-nya lagi.
"Maaf mengganggu pembicaraan kalian yang menyenangkan. Tapi sepertinya kami harus pulang"
Ujarku sambil menarik lengan Drey yang memeluk wanita di sampingnya. Aku juga tidak memberi kesempatan pada Drey mengatasi keterkejutannya. Langsung membawanya keluar bar.
Begitu kami Naik Mobil aku segera mencubit pipinya cukup keras.
"Pasti menyenangkan kan bisa bermain-main dengan para wanita cantik itu?"
Tanyaku sarkas. Aku baru melepaskan cubitanku saat Drey mengaduh keras.
"Dasar Playboy!"
__ADS_1
Umpatku kesal. Lalu memukul tubuhnya yang sekeras batu itu. Kali ini Drey malah tertawa menerima kemarahanku.
"Apanya yang lucu?"
"Apa kau cemburu?"
"Tentu saja. Bisa-bisanya kau meninggalkanku dan melirik wanita lain padahal aku sudah berdandan cantik begini"
Protesku.
"Harusnya kau memakai yang lebih terbuka agar aku tidak berpaling"
Canda Drey dengan masih saja tertawa. Padahal aku sedang serius saat ini. Aku jadi Makin kesal. Bahkan saat ini aku masih gugup saat mengingat Dua pria yang mencoba mendekatiku tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padaku? Dan pria ini malah tertawa tanpa tahu pengalaman menakutkan yang kualami tadi.
"Maafkan aku"
Hanya itu yang diucapkan Drey, lalu mengecup lembut keningku.
*****
"Kita mau kemana?"
Tanyaku bingung. Mobil Drey tidak melaju ke arah jalan pulang. Dia mengambil jalan lain.
Drey tidak menjawab, dan terus menyetir dalam diam. Membuatku memutuskan menyerah untuk bertanya.
Pertanyaanku terjawab saat Mobil Drey akhirnya berhenti di pinggiran jalan yang sepi. Hampir tidak Ada yang lewat di sana. Bahkan cukup gelap dengan penerangan seadanya. Sebaliknya dari sini kami bisa melihat Tower bridge yang terkenal itu. Terlihat terang dengan lampu-lampunya yang indah.
"Apa yang akan Kita lakukan di sini?"
Tanyaku heran. Lagi-lagi Drey tidak menjawab. Malah mengambil sesuatu di jok belakang. Tingkahnya benar-benar mencurigakan.
"Kita pesta di sini"
Jawab Drey kemudian dengan wajah sumringah. Dia mengacungkan sekantong makanan dan minuman untukku lalu menatanya.
"Kau pasti tidak menikmati pesta tadi kan? Jadi sekarang saatnya Kita membuat pesta Kita sendiri"
Lanjut Drey menjelaskan. Dia menyodorkan sekaleng minuman untukku. Tanpa alkohol tentunya, hanya minuman berkarbonasi. Drey sepertinya sudah memikirkan detail rencananya ini.
Untuk melengkapi acara pesta kecil ini, Drey menyalakan musik. Meskipun hanya berdua, rasanya jadi heboh sekali. Ada rasa bahagia meremang di hatiku. Drey cukup menghargaiku.
****
Jam sudah hampir menunjuk angka 3 dini hari saat pesta kecil kami selesai. Makanan sudah habis dan suara musik telah berhenti. Sekarang kami duduk di atas kap mobil sambil menikmati pemandangan langit malam tanpa bintang. Ini memang masih musim dingin. Namun duduk sambil memeluk Drey di balik selimut tipis ternyata cukup hangat juga.
Kami berdua berdiam cukup lama seperti ini. Mungkin karena kantuk dan lelah. Setelah semalaman menukar waktu istirahat dengan pesta. Mungkin karena keheningan itu, akhirnya segala pikiran yang menggangguku itu muncul.
"Drey, apa Gracey itu cinta pertamamu?"
Tanyaku. Bahasan yang membosankan mengenai cinta pertama itu lagi. Aku sendiri sebenarnya bosan menanyakannya. Entah kenapa aku tetap menanyakannya. Kali ini bukan karena cemburu.
Gracey adalah wanita yang kutahu pertama Kali menjalin hubungan dengan Drey. Bahkan hingga sekarang mereka tetap berhubungan baik. Dan dari cara Gracey bicara padaku mengenai Drey, sepertinya wanita itu sangat memahami Drey.
"Apakah menurutmu begitu?"
Tanya Drey balik. Seolah ingin aku yang menjawab pertanyaan itu sendiri.
"Sepertinya bukan"
Drey tersenyum kecil mendengar jawabanku.
"Cinta pertamaku jauh lebih baik dari dia"
Ujar Drey. Kali ini aku yang tersenyum lega. Aku juga berharap begitu. Cinta pertama Drey yang ada dalam bayanganku juga seharusnya lebih baik dari Gracey. Bukan wanita yang bisa membiarkan tabiat buruk Drey begitu saja.
"Aku iri sekali pada cinta pertamamu. Aku berharap kalau saja itu aku"
Candaku. Drey hanya tergelak mendengarnya. Yah.. memang sudah tidak masalah lagi buatku.
"Apa menurutmu aku sama dengan semua wanita itu?"
Tanyaku lagi. Serta lagi-lagi pertanyaan bodoh. Semua karena kata-kata Gracey tadi. Di depan Drey, Gracey menyebutku sama dengan mereka, dan Drey menanggapinya dengan senyuman. Kupikir itu karena dia membenarkan kata Gracey. Aku tidak bisa menerima itu. Aku tidak ingin menjadi wanita yang sama dengan yang ada di masa lalu Drey.
"Tidak, kau berbeda"
Jantungku secara otomatis berdetak kencang mendengar jawaban Drey. Sebelum aku bisa bereaksi, Drey sudah mengangkat wajahku. Membuatku menatap matanya.
"Kau adalah wanita pertama yang pernah menjalin hubungan serius denganku. Selama ini aku belum pernah meminta wanita lain menjadi pacarku. Kau yang pertama, karena kau berbeda dari mereka"
Mata Drey menatapku intens. Membuatku lengah. Membuat jantungku berdetak kencang. Hatiku berdesir.
"Ya Tuhan, aku akan jatuh terlalu dalam pada pria ini"
Teriakku dalam hati.
__ADS_1