Sugar

Sugar
Off Screen


__ADS_3

"....kemenangan di pertandingan ini semakin menjauhkan selisih poin Tim Manchester United dengan posisi kedua.."



Suara berita olah raga pagi sudah meramaikan apartemenku. Sementara aku masih menguap dan mendekap bantal di sofa. Mataku masih berat tetapi aku takut keterusan jika tidur. Padahal aku harus pergi bekerja Setelah ini.



Entah kenapa aku memilih berita ini untuk membantuku tetap terjaga. Aku juga buka penggila olah raga. Biasanya aku lebih suka mendengarkan musik. Lalu menghabiskan waktu sambil berjemur di bawah matahari pagi.



Aku Mungkin mengubah kebiasaanku karena berharap wajah Drey muncul di layar kaca. Sebagai pesepak bola terkenal, wajahnya sudah langgganan muncul di berita pagi. Dan aku punya alasan kenapa ingin melihat Drey.



Drey. Seolah ditelan bumi. Dia hilang lagi. Aku tahu mungkin dia sedang sibuk karena sebelumnya mengatakan tidak Akan bisa menemuiku. Namun tidak ada sedikitpun kabar darinya. Aku sampai harus menonton berita tentang latihan Tim nya hanya untuk memastikan dia baik-baik saja. Bahwa dia tidak bohong mengenai pemeriksaan di rumah sakit.



Bagaimanapun aku gengsi jika harus menghubunginya lebih dulu. Hanya membuatku merasa kalah darinya. Agh! Aku benci Drey.



Drey seperti itu. Datang saat dia ingin Dan menghilang saat diinginkannya juga. Jika aku tahu dia hanya Akan membuatku selalu diliputi gelisah setiap Kali tidak melihatnya, tentu aku Akan memilih tidak mengenalnya.



Begitu berita tentang sepak bola berakhir, aku segera mematikan televisi. Sepertinya aku harus mencari Cara mengendalikan perasaanku ini.



**********************************


Pukul sepuluh tepat aku sudah pergi bekerja. Ada pertemuan di kantor agensi membahas jadwalku tahun depan. Beginilah pekerjaanku di belakang layar.



Aku juga cukup terkejut dengan keberanianku. Meski namaku masih ramai dibicarakan, aku bisa tampil di publik lagi. Aku bahkan bisa membalas sapaan orang-orang seolah tidak terjadi apapun. Sejak Drey meyakinkan bahwa aku harus menghadapi masalahku, aku bisa mendapatkan kepercayaan diriku kembali.



Kembali pada pekerjaan, Sebenarnya ini kegiatan Paling tidak kusukai. Karena harus duduk berjam-jam di depan tumpukan kertas. Mendengarkan orang bicara Dan kadang berdebat. Aku belum se-terkenal Angelina Jolie, pekerjaan yang kuambil masih ditentukan agensi.



Ada cukup banyak tawaran pekerjaan, sehingga cukup sulit membagi waktu kerjaku. Sudah kubayangkan betapa padatnya kegiatan tahun depan. Kelihatannya aku tidak Akan bisa lagi pulang ke Indonesia sampai pertengahan tahun. Otakku mendadak panas memikirkannya saja.



Hatiku bersorak gembira saat meeting itu selesai. Akhirnya waktu istirahat.



"Ayo Kita ke mejaku sekarang"



Ajak Daniel yang merusak momen bahagiaku.



"Untuk apa?"



"Barangmu untuk tahun lalu sudah waktunya dibereskan"



Jawab Daniel sambil melihatku tajam. Seolah berpikir bahwa aku sedang berpura-pura tidak tahu. Terpaksa aku mengikuti Daniel.



Setiap pekerjaanku selalu meninggalkan "residu" atau limbah. Seperti buku naskah, dokumen referensi, majalah, atau barang lainnya. Terkadang kubawa pulang ke rumah. Terkadang juga kutinggalkan di kantor. Tepatnya di ruangan milik Daniel. Setiap menjelang akhir tahun, aku dipaksa membantu bersih-bersih semua barang itu.



Daniel bukan orang yang rapi. Barang berceceran dimana-mana. Bercampur antara milikku Dan miliknya. Itu alasan kenapa dia tidak bisa menyuruh orang lain membersihkannya. Kami harus melakukan sortir manual. Nantinya sebagian barangku itu Ada yang kubawa pulang, Ada juga yang akan dibuang sebagai sampah.



Ada baiknya juga kegiatan ini. Dari barang-barang yang kutemukan, aku bisa mendapatkan kenanganku. Jadi aku bisa bernostalgia. Naskah yang sudah lusuh dan penuh coretan, di setiap lembarnya Ada tempelan sticky notes. Atau foto-fotoku yang digunakan untuk kegiatan promosi di Masa lalu. Semua terasa indah untukku.



Aku sempat terhenti saat tanganku menemukan sebuah recorder di bawah tumpukan naskah. Terlihat sedikit usang. Sudah lama sekali aku mencari benda ini. Tidak sadar jika tertinggal di sini.



Ada banyak kenangan di recorder itu.



Ini adalah hadiah Paling pertama yang diberikan oleh Casey padaku. Bahkan sebelum kami pacaran. Aku kesulitan menemukan intonasi suara yang pas saat memerankan karakterku di film. Casey lalu memberiku recorder ini sebagai alat Bantu latihan. Sedikit ketinggalan jaman memang. Tetapi recorder ini banyak membantuku.



Semakin berpengalaman dalam berakting, aku Makin tidak membutuhkan alat ini lagi untuk latihan. Mungkin karena itu aku mulai melupakannya. Lagipula lebih praktis menggunakan smartphone yang selalu kubawa kemanapun. Hingga aku tidak sadar bahwa recorder ini hilang.



Aku jadi teringat dengan pertemuanku Dan Casey saat casting baru-baru ini.



* Flashback on*



"Aku sudah mendengar beritanya. Selamat untuk hubunganmu Dan Drey"



Kata Casey usai kami saling menanyakan kabar.



"Ya, terima kasih"



Jawabku canggung. Meski kami sudah putus, kata selamat darinya itu masih terasa tidak nyaman untukku.


__ADS_1


"Aku tidak menyangka jika dia Akan menjadi pria yang Akan Kau pilih. Dia itu punya reputasi yang buruk"



Ujar Casey Tanpa basa basi. Sikap jujurnya itu cukup mengejutkanku. Casey bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Sehingga aku menjadi lengah Dan tidak menjawabnya.



"Tapi, aku tetap mendoakan yang terbaik untuk kalian"



Kata Casey lagi.



* Flashback off*



Sejujurnya aku senang dengan sedikit kepedulian yang Casey tunjukkan padaku. Aku merasa dia mengkhawatirkanku.



Casey memang benar, Drey bukan pria baik. Bukan cuma reputasinya yang buruk, Drey juga sudah mempermainkanku dengan kejam. Menjebakku dalam hubungan ini. Sesuka hatinya datang Dan pergi. Mempermainkanku.



Namun Casey juga tidak lebih baik dari Drey. Memutuskanku Tanpa alasan yang jelas. Membuatku menutupi patah hati dan menjadikan perpisahan kami sebagai bahan untuk mendompleng film nya.



Bahkan kata-katanya yang memberi selamat dan doa untuk Drey Dan aku Seolah memberitahuku bahwa dia juga sudah benar-benar selesai denganku. Dia tidak keberatan aku bersama pria lain. Hanya cemas jika Drey bukan pria yang terlalu baik saja. Selebihnya, terserah jika aku telah move on darinya.



Sedangkan Drey yang menemukanku saat jatuh. Membantuku berdiri. Menghapus kesedihanku. Serta Mendorongku menghadapi masalahku. Walaupun dengan reputasinya yang Casey bilang buruk itu.



Setelah memikirkan itu aku jadi kesal sendiri. Jadi kubuang recorder itu ke tempat sampah. Siapa lagi memangnya yang Akan peduli padanya? Aku telah selesai dengannya.



Casey adalah Masa lalu. Kuyakinkan itu. Dan aku telah move on darinya.



Namun beberapa menit kemudian kupungut lagi recorder itu. Tiga tahun sepertinya bukan waktu yang singkat bagiku. Hingga masih ada sedikit tempat tersisa untuk Casey Dan kenangannya di hatiku.



*********************************


Akhirnya waktu yang kutunggu telah Tiba. Waktunya istirahat sambil makan. Pura-pura bahagia itu butuh tenaga. Jadi aku harus selalu memastikan bahwa isi perutku tercukupi.



Makanan di cafeteria agensiku cukup lezat. Terutama sup Dan olahan dagingnya. Menu langgananku setiap datang kemari. Aromanya saja cukup membuatku menelan ludah. Apalagi sebagai Artis di sini, aku bisa makan sepuasnya Tanpa perlu membayar.



Sudah terbayang makan siang lezat. Hadiah atas kerja kerasku Hari ini. Tapi mataku langsung melotot melihat makanan yang dihidangkan di mejaku. Hasil pesanan Daniel.




Tunjukku pada semangkuk salad penuh sayur yang sama sekali tidak menggugah seleraku. Bahkan dari penampilannya sepertinya menggunakan minyak zaitun sebagai dressing.



"Makan siangmu"



Jawab Daniel santai. Dia mengatakan itu sambil menyantap sup favoritku.



"Kau pasti salah paham dengan pesananku. Aku ingin sup itu juga"



Protesku. Daniel tertawa mendengarnya.



"Apa kau sedang bercanda denganku?"



Ujarnya.



"Kau tidak bisa makan lebih dari itu. Nanti tubuhmu Akan semakin bergelambir. Orang Akan mengira kau memiliki sayap di paha Dan lenganmu"



Ugh! Rasanya ingin kujotos Daniel saat ini juga. Atau mengumpatnya dengan kasar, kalau saja kami tidak sedang berada di cafeteria yang ramai dengan orang ini.



Bisa-bisanya Daniel melakukan "body shaming" padaku. Walau ini sudah tidak lagi mengejutkanku. Daniel sering mengatakan Hal semacam itu padaku. Aku juga tidak bisa membantah. Karena sebagai Artis aku harus berada pada standar kecantikan yang sudah ditentukan.



"Jadi apa kau akan menonton pertandingan Drey besok?"



Tanpa rasa bersalah, Daniel sudah mengalihkan pembicaraan. Sepertinya aku harus ganti manajer wanita. Sedikit lebih berperasaan.



"Wah...kau beruntung sekali bisa mendukungnya secara Langsung"



Tiba-tiba Dua orang staff wanita yang baru duduk di meja sebelah menyahut. Mereka sudah nimbrung dengan pembicaraan kami.



Aku sebenarnya bertanya dalam hati siapa mereka. Namun takut terlihat tidak sopan, aku hanya bisa tersenyum pada mereka. Mungkin karena itu, mereka Makin berani bergabung denganku Dan Daniel.

__ADS_1



"Kami adalah fans beratmu, sudah lama sekali ingin bicara denganmu"



Ujar salah satu dari mereka malu-malu. Mendengar itu, aku semakin tidak bisa mengabaikan mereka. Kami akhirnya duduk berempat.



Sudah lama aku tidak bicara dengan orang baru. Jadi aku bersemangat sekali. Apalagi mereka mengaku sebagai fans ku. Tentu saja aku harus bersikap baik pada mereka.



Tetapi seharusnya aku tidak berharap lebih. Sejak aku datang pertama Kali ke kantor agensi ini, ini adalah pertama kalinya ada orang yang berusaha berbicara denganku. Biasanya hanya sebatas minta foto atau tanda tangan. Bagian ini saja sudah aneh.



"Ngomong-ngomong, apa kau tidak ingin mengajak Drey kemari. Aku sudah lama ingin bertemu langsung dengannya. Dia sangat tampan"



Akhirnya, Dua orang ini menunjukkan juga alasan sebenarnya mereka mendekatiku.



Setelah itu, mereka Tanpa henti membahas tentang Drey. Dari prestasinya sampai merk pakaiannya. Sambil histeris membayangkan bertemu langsung dengannya. Meski beberapa menit lalu mengaku sebagai fans ku. Meski sekarang mereka sedang bicara di depan pacarnya.



Aku ingin sekali membanting garpu. Salad rupanya bukan Hal terburuk di makan siangku. Dua orang ini menambah buruk suasana hatiku. Aku sendiri tidak yakin apa yang menyebabkan aku merasa kesal. Apakah karena mereka hanya mendekatiku dengan motif tersembunyi. Atau karena mereka membicarakan Drey dengan tatapan sangat memuja.



*********************************


Rasanya aku tidak ingin melakukan apapun sekarang. Bergerak saja tidak ingin. Tubuhku terasa berat Dan lelah. Orang-orang yang bisa begitu bersemangat Setelah keluar dari gym harusnya memberikan tips nya padaku. Karena aku tidak merasa lebih baik Sama sekali.



Usai dari kantor, Daniel memaksaku menghabiskan waktu di gym selama berjam-jam. Padahal aku baru bersih-bersih ruangannya. Padahal aku hanya diberi makan siang salad. Karena besok Akan Ada pemotretan, Daniel memintaku harus tampil sempurna. Dia terus mengomel selama berminggu-minggu sejak aku mulai malas pergi ke gym.



Jujur saja Aku adalah tipe orang yang lebih baik tiduran sambil main game di rumah daripada sibuk membentuk tubuh sempurna. Apalagi kalau sedang tidak Ada syuting. Sayangnya, itu bukan attitude yang baik untuk seorang Artis. Haters Akan "mengunyahku" jika melihatku lebih gemuk sedikit saja.



Daniel juga salah satu haters itu. Dia cepat sekali menyadari perubahan pada badanku. Dan jika aku ketahuan naik lebih dari 1 kg, aku bisa dikarantina di gym sampai tambahan berat badan itu hilang.



Itu belum seberapa. Masih Ada menu tambahan, yaitu diet. Aku hanya boleh makan makanan tertentu dengan jumlah tertentu pula. Terkadang makanan hambar Tanpa gula Dan garam. Untuk orang yang besar di Indonesia yang makanannya Kaya rempah, tentu saja aku tersiksa.



Setelah latihan berat di gym, malam ini aku hanya bisa menikmati 1 buah apel dan beberapa lembar kubis sebagai menu diet. aku Akan makan sambil menonton video mukbang atau seputar masakan. Lumayan, untuk mengganjal "lapar" di dalam pikiran.



Aku tidak bisa memungkiri jika badanku cukup lemas. Perutku terus protes karena tidak diisi dengan baik. Di saat itu aku malah menonton iklan tentang fast food. Ah....aku jadi ingat hamburger yang dibelikan Drey. Bukan makanan Mahal tapi cukup memuaskanku. Bahkan aku masih ingat seperti apa rasanya.



Aku langsung tersadar. Kenapa semua Hal sekarang selalu mengingatkanku tentang Drey? Dia seolah sudah mencuci otakku dengan kehadirannya. Semakin banyak kenangan yang kami miliki, semakin banyak Hal mulai mengingatkanku tentang Drey, Dan itu berbahaya.



Tidak. Aku menolaknya. Mungkin aku sedang berhalusinasi karena terlalu lapar. Begitu batinku, meyakinkan diri.



"Ting...."



Suara ponselku berbunyi. Mataku langsung terbelalak melihat nama pengirim di notifikasi.



Pria ini sudah menghilang sejak kemarin. Tidak menghubungiku sama sekali. Tetapi malam ini mengirimiku pesan. Ada perasaan aneh mengalir dalam diriku. Antara perasaan tidak percaya atau aku sangat menantikan isi pesannya.



Aku hampir saja menjatuhkan ponselku Setelah membuka isi pesan. Foto Drey dalam keadaan topless dengan pesan super narsis, "nice body in nice picture as a gift for you".



Gambar ini bagiku tidak Ada bedanya dengan gambar horor. Tidak, aku masih polos. Reaksiku masih berlebihan melihat pria tidak berpakaian lengkap. Antara geli dan ngeri. Aku bahkan tidak pernah melihat tubuh Casey selama 3 tahun berpacaran dengannya.



Kenapa Drey tidak mengirim pesan biasa saja? Tanya kabarku, atau tanya apa yang sedang kulakukan. Seperti pria normal lainnya. Pesannya ini hanya menyakiti Mata dan akal sehatku.



Aku otomatis menutup mataku. Tetapi didorong Rasa penasaran, aku mengintip sedikit. Dan hanya bisa terperangah. Tidak salah dia bersikap narsis mengatakan tubuhnya bagus atau indah. Aku memang mengakui dia sangat sempurna. Garis tubuhnya terlihat jelas, hasil dari latihannya sebagai atlet.



Dibandingkan dengan aku?



"Agar perutmu yang mulai chubby itu bisa kembali Langsing"



Aku langsung teringat pada kata-kata Drey sebelumnya. Saat aku bertanya kenapa dia membawaku ke batting cages.



Damn! I lose.



Seketika semangatku berkobar. Baiklah, sudah kuputuskan. Aku Akan menahan lapar. Aku Akan memberikan penampilanku yang terbaik besok di pemotretan. Akan kutunjukkan bahwa aku tidak punya perut chubby. Tubuhku tidak kalah bagus dari Drey.



Aku melihat foto Drey yang menjengkelkan itu lagi. Aku harusnya menghapusnya karena foto itu tidak pantas untuk dilihat gadis muda sepertiku. Namun Drey cukup menawan di foto itu. Bukan! Aku harus menyimpannya sebagai motivasi. Foto itupun berakhir duduk manis di galeri foto ponselku.



__ADS_1




__ADS_2