Sugar

Sugar
Mother (Drey POV)


__ADS_3

Suara sorakan terdengar meriah saat kami mulai memasuki lapangan. Karena tinggal empat Tim tersisa, animo penggemar menjadi semakin tinggi. Aku merasakan adrenalinku mulai terpacu saat melihat barisan penonton yang sedang meneriakkan dukungan. Ini memang bukan pertandingan kandang bagi timku, tetapi ternyata banyak juga pendukung kami yang datang menonton.


Namun rasanya Ada sedikit kekecewaan. Aku berharap di antara ribuan orang itu ada Sugar. Dia seharusnya ada untuk menyaksikan pertandingan penting ini.


Aku menepis pikiran bodohku. Saat ini, di tempat lain Luna juga sedang berjuang. Dia harus bertemu investor untuk filmnya. Aku harusnya berdoa agar dia diberi kelancaran.


Aku juga harus menyelesaikan pertandingan ini dan memberi kabar baik untuknya.


*****


Aku berlari mengikuti garis lapangan sambil berteriak. Lalu memeluk Joaquim yang juga berteriak. Suara kami melebur di antara riuhnya sorakan penonton. Gol yang kulesakkan barusan membawa tim kami memimpin 2-1. Tinggal beberapa menit lagi pertandingan berakhir, artinya sama saja kami memastikan kemenangan.


Peluit dari wasit menyela selebrasi kami. Mengingatkan agar kami segera bersiap melanjutkan pertandingan. Aku kembali ke posisiku masih dengan perasaan gembira. Aku menatap sepatu pemberian Luna. Mungkin saja dia telah membawa keberuntungan, hingga aku bisa membuat dua gol Hari ini.


Aku mendengar suara peluit tanda pertandingan dimulai. Tak lama bola sudah kembali ke kakiku. Tanpa menunggu, aku segera menggiringnya menuju gawang lawan. Namun untuk sekian detik, semua mendadak berubah.


Hanya untuk beberapa detik, aku melihat ke arah gawang, Tak sengaja mataku menangkap wajah familiar di antara penonton. Wajah yang membuat jantungku berdebar kencang. Meskipun dari jarak yang jauh, aku tidak mungkin salah mengenali saat kami sempat bertatap mata.


Ibu.


Aku mendadak merasa sesak, dan secara cepat konsentrasiku bubar. Rasanya pikiranku langsung blank. Tahu-tahu aku merasakan tubuhku diterjang hingga jatuh.


Aku masih tak merasakan apapun meskipun tubuhku telah ambruk ke tanah.


Suara peluit mengembalikan kesadaranku. Saat itu aku merasakan sakit di sekujur tubuh, terutama bagian kaki. Aku hanya bisa mengerang tanpa bisa berpikir jernih. Hanya sepasang mata itu yang masih tergambar jelas di otakku. Aku berharap memiliki kesempatan melihatnya sekali lagi untuk memastikan. Sayangnya, aku tak berdaya saat tubuhku digotong keluar lapangan.


*****


"Hanya cedera ringan, ini tidak akan mempengaruhi pertandingan selanjutnya. Kau masih bisa turun ke lapangan"


Suara asisten pelatih terdengar dekat namun jauh. Seolah kami tidak berada di tempat yang sama. Karena aku masih memikirkan yang lain.


Asisten pelatihku menepuk bahuku untuk pamit pergi setelah itu. Dia memberiku waktu sendiri.


Aku menatap perban di kaki. Masih terasa sakit di Sana, namun terasa lebih baik sekarang. Jika ini harga yang harus ku bayar untuk melihat ibuku lagi, aku tidak keberatan. Aku bahkan tidak lagi peduli jika harus mengalami yang lebih parah. Aku yakin Tidak akan lebih sakit daripada Luka yang ditinggalkan ibuku.


Suara pintu yang dibuka tergesa membuyarkan lamunanku.


Sugar?


Aku terkejut dia datang. Namun sebelum aku bicara, dia sudah menangis. Sangat keras seperti anak kecil.


Tangisnya seperti menyadarkanku. Betapa bodohnya aku berpikir bahwa tidak masalah terluka. Padahal ada orang yang selalu mencemaskanku, yang lebih terluka melihatku sakit.


Apakah ibuku juga akan menangis seperti ini melihatku jatuh?


Ku rasa tidak. Luna adalah satu-satunya yang Paling peduli padaku. Dia selalu memberikan air matanya tiap Kali aku terluka.


"Aku baik-baik saja. Ini hanya cedera ringan" ujarku menenangkan Luna.


Aku berusaha memasang senyum selebar mungkin untuk meyakinkannya. Tetapi sepertinya itu tidak cukup untuk menenangkannya. Luna masih berdiri mematung di tempatnya sambil sesenggukan.


"Mereka membawaku kemari hanya untuk memeriksa apakah ada bagian tubuh lain yang terluka. Dan ternyata hanya pergelangan kakiku. Sungguh" lanjutku. Aku bahkan membuat tawa seperti orang bodoh.


Luna perlahan berjalan mendekat padaku.


"Aku masih se--"


Aku tak sempat melanjutkan ucapanku, saat Luna memelukku. Aku bisa merasakan tubuhnya terguncang.


"Pasti sakit sekali rasanya" bisik Luna.


Aku tidak tahu jika kalimat sederhana itu mampu membuatku terdiam. Rasanya ada rasa sakit yang entah darimana muncul.


Ah... Benar juga.


Bukan kaki atau tubuhku yang terluka. Tetapi hatiku. Aku tidak menyadarinya. Saat melihat ibuku, ku pikir kebahagiaan yang ku dapatkan. Nyatanya Ada rasa sakitnya juga. Belasan tahun yang ku habiskan untuk merindukannya. Waktu yang terbuang sia-sia bagiku menipu diri sendiri bahwa aku baik-baik saja tanpanya.


Aku segera merengkuh Luna. Memeluknya erat sekali. Melampiaskan gejolak perasaan asing yang saat ini ku rasakan. Aku mencoba mengalihkannya agar bukan air mata yang jatuh saat ini.


*****


"Wajahku terlihat mengerikan sekali" keluh Luna sambil membersihkan sisa riasannya. Gara-gara dia menangis tadi, dandanannya jadi berantakan. Noda hitam berceceran di wajahnya.


Aku hanya bisa menahan tawa melihatnya.


"Bagaimana pestanya?" Tanyaku.


Aku sadar Luna langsung berlari kemari dari tempat pesta. Dia masih memakai gaunnya yang cantik. Bahkan heels yang terlihat menyiksa kakinya.


"Buruk sekali" jawab Luna tanpa basa basi. Aku tertawa mendengarnya. Bukan hal aneh jika Luna membenci pesta.


"Kenapa? Bukankah kau bisa bertemu dengan investor film itu?"


"Justru dia yang terburuk. Dia itu--"

__ADS_1


Luna tidak melanjutkan ucapannya setelah melihatku. Seolah dia teringat sesuatu. Padahal tadi terlihat menggebu-gebu ingin bercerita.


"Kenapa?"


Luna menghela nafas besar, lalu kembali melihatku.


"Investornya adalah ayahmu" jawab Luna mengejutkanku.


"Ayah?!"


"Ya, dia sedang mengadakan pesta untuk hotelnya"


Amarahku langsung naik. Sudah bisa ku bayangkan, bahwa ayah pasti sengaja mengundang Luna.


"Apa dia melakukan sesuatu padamu? Apa dia berkata kejam padamu?"


Jika semua itu benar terjadi, aku akan mendatangi ayah malam ini juga. Aku bisa terima sikap buruknya padaku, tapi tidak pada Luna.


Luna menatapku sebelum menjawab, "Tidak, dia tidak bersikap buruk padaku"


"Tidak perlu berbohong"


Luna tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya dengan membela orang tua itu. Aku sudah lama mengenal Richard Charleville. Aku tahu semua isi pikirannya.


"Aku tidak bohong. Kecuali bagian dia pura-pura baru pertama Kali bertemu denganku di depan James"


Kelakar Luna sambil tertawa. Dia lalu meletakkan pembersih di wajahnya dan melihatku dengan tatapan serius.


"Lihat sisi positifnya. Dia telah membuka diri padaku. Dia bahkan mengundangku, bukankah artinya dia tidak keberatan bertemu denganku? Jadi anggap saja ini langkah awal bagiku untuk meluluhkannya"


Aku suka senyum dan binar positif di Mata Luna. Tidak ada ketakutan atau keraguan di sana. Ayah pasti akan menyesal jika melewatkannya. Kami tidak akan bertemu gadis lain sepertinya.


Aku rasa sudah waktunya juga bagiku untuk mengumpulkan keberanian menghadapi kenyataan di depanku.


"Sugar... Aku, sepertinya tadi aku melihat ibuku"


Luna yang tadinya fokus pada riasannya kembali menoleh padaku dengan wajah ternganga.


"Di Mana?"


"Aku melihatnya di antara penonton, tapi aku juga tidak yakin, apakah aku hanya salah lihat"


"Karena itu kau jatuh?"


Aku mengangguk.


"Aku berharap itu benar ibumu. Bukankah itu impianmu selama ini?"


Sahut Luna cepat.


"Aku hanya takut"


Rasanya ada yang salah denganku. Aku tidak bisa sepenuhnya bahagia dengan kemunculan ibuku. Setelah penelantaran yang dilakukan ibuku, mungkin Ada kemarahan tersisa di lubuk hati. Walaupun aku juga sangat merindukannya.


Tanpa ku sadari, Luna sudah berdiri di sampingku. Dia menggenggam tanganku, lalu berkata sambil tersenyum.


"Baik itu kemarahan, kerinduan, kebencian atau cinta, bukankah akan lebih baik untuk mengatakannya secara langsung daripada memendamnya? Kau hanya akan menderita sendiri"


Ada rasa hangat yang memeluk ketakutan di hatiku saat itu.


*****


Aku terjaga menatap wajah damai Luna yang sedang terlelap. Semalam dia memutuskan untuk menginap dan menemaniku di sini. Dia bahkan sampai meminjam baju rumah sakit untuk ganti.


Karena obat pereda sakit yang diberikan semalam sudah habis efeknya, aku tidak bisa kembali tidur. Aku juga mengalami mimpi buruk. Aku ingin sekali membangunkannya, lalu mengajaknya bicara. Namun melihat gurat lelah di wajahnya, aku jadi tidak tega. Lagipula semalam dia sudah menungguku hingga tidur.


Aku mendesah kesal. Padahal kami sedang di kota yang indah, tetapi tidak bisa menikmatinya. Aku merasa bersalah pada Luna karena sejak datang kemari tidak bisa membawanya pergi kemana pun. Malah sekarang harus menghabiskan waktu di rumah sakit.


"Kau sudah bangun?" Tanya Luna sambil mengerjapkan matanya. Terlihat kantuk masih menggantung di pelupuk matanya.


"Apa efek obatnya sudah habis? Mau ku panggilkan perawat?" Tanya Luna lagi.


"Tidak perlu, ini hanya terasa nyeri sedikit," tolakku. Aku berharap Luna bisa melanjutkan tidurnya lagi.


Namun sepertinya Luna memutuskan untuk bangun. Dia merenggangkan tubuhnya lalu pergi ke kamar Mandi untuk mencuci muka.


Aku tersenyum geli memperhatikan Luna. Dengan pakaian rumah sakit, dia terlihat seperti salah satu pasien di sini. Kecuali badannya yang sehat Dan masih bisa berjalan kesana kemari meskipun ini masih pagi.


"Ini sepertinya enak, aku harus mencobanya"


Dia bahkan sudah duduk manis sambil berselancar di ponselnya mencari makanan-makanan lezat di Kota Amsterdam. Sulit dipercaya dia menangis begitu keras saat baru datang kemari. Sekarang sudah bersikap seakan menjadi turis yang sedang darma wisata.


Yah, lagipula bersama dengan Luna di sini aku jadi tidak merasa seperti pasien. Banyak hal yang ia lakukan untuk menghiburku. Aku bersyukur ada dia di sini.


Sepertinya cederaku cukup membuat heboh media. Mungkin karena aku baru saja membuat dua gol kemenangan dan sedang berada di tengah kompetisi Eropa. Di babak semifinal Pula. Ada satu pertandinga tersisa sebagai penentu tim Mana yang lolos ke final.

__ADS_1


Sehingga imbasnya, banyak reporter memburu berita tentang cederaku. Meskipun ringan, namun pemberitaan besar dan berlebihan biasanya akan berpengaruh pada performa tim di pertandingan selanjutnya. Karena itu Tim memutuskan agar aku pulang secara terpisah besok. Sementara rombongan Tim yang pulang Hari ini akan mengalihkan perhatian media. Artinya, Ada semalam lagi yang harus ku habiskan di kamar rumah sakit. Jika tidak ada Luna, aku mungkin akan mati kesepian.


"Apa kau ingin pergi jalan-jalan keluar?" Tanyaku karena Luna terus bicara tentang panduan wisata di Amsterdam. Dia mungkin ingin pergi berwisata betulan.


"Tidak. Di luar banyak sekali reporter" sahut Luna cepat.


"Lagipula, tidak akan menyenangkan jika pergi sendirian tanpamu" gombal Luna sambil memasang tampang imut.


Aku bersumpah, Tuhan telah menciptakan dia begitu menggemaskan. Semua hal yang dilakukannya terlihat menarik di mataku. Aku ingin memeluknya. Menyimpannya dalam dekapanku.


Karena aku sedang tidak bisa berlari sekarang, aku hanya bisa membuka lenganku. Memberikan isyarat pada Luna untuk memelukku.


Luna langsung paham maksudku dan berlari dalam pelukanku. Baru saja aku merasakan debaran kebahagiaan.


"Bukankah ini masih terlalu pagi untuk bermesraan?"


*****


Luna menatap tak simpatik pada gerombolan berandal yang kini sedang mengobrak abrik kamar rawatku.


"Kenapa Kalian datang kemari?" Tanya Luna tanpa basa basi. Dia tidak pernah bersikap begitu tidak sopan pada tamu sebelumnya. Tapi aku sependapat dengannya.


"Ini adalah solidaritas antar teman. Bagaimana mungkin kami tidak menjenguk saat Ada teman yang sakit"


Gracey yang sibuk menata sesajian di atas meja menjawab. Itu adalah alasan utama Luna begitu kesal. Sudah tahu ini di rumah sakit, Gracey malah mengeluarkan kaleng bir.


"Sejak kapan Drey menjadi teman kalian?" Tanya Luna sengak.


"Tentu saja sejak lama. Sejak kami berbagi ranjang yang sama"


Kali ini Melina yang menjawab sambil meringis lebar. Luna langsung tertawa mendengarnya. Tawa kecut tentunya, karena wajahnya justru terlihat merah padam oleh amarah.


Aku hanya menelan ludah. Tidak ku sangka wanita-wanita ini akan merusak Hari dengan datang kemari. Mereka beralasan menonton pertandingan kemarin. Tapi tidak seharusnya juga datang kemari. Lalu menyulut api pada Luna.


Luna sampai memutuskan untuk keluar karena tidak tahan. Aku sendiri juga pusing melihat wanita-wanita ini. Bisa-bisanya berpesta di depan orang sakit. Aku juga heran kenapa dulu mengencani mereka.


"Sebaiknya kalian cepat pulang" pintaku.


"Kau sekarang jadi dingin sekali" ejek Gracey yang mendekat padaku. Dia menawarkan kaleng minuman di tangannya. Hampir saja aku menampiknya karena kesal. Tidakkah dia lihat bahwa aku sedang menjadi pasien sekarang.


Gracey tertawa melihat ekspresiku.


"Kau benar-benar sudah berubah sekarang. Sulit sekali mengajakmu bercanda" godanya.


Aku hanya menatap tajam padanya. Bagiku dia sudah keterlaluan, tidak bisa membedakan Mana bahan candaan dan bukan.


"Kalian benar-benar mirip?" Lanjut Gracey kemudian.


"Siapa yang mirip?"


"Kau dan adikmu"


"Lara?"


"Bukan, yang ku maksud adalah Lucas"


Tanganku langsung mengepal mendengar nama itu disebut. Apalagi karena kami di samakan. Aku sama sekali tidak Ada hubungannya dengan dia.


"Kalian sama-sama orang yang sulit"


Aku ingin langsung membungkam mulut Gracey saat itu. Aku tidak ingin mendengar lebih jauh apapun tentang Lucas. Tidak mau tahu. Namun ucapan Gracey selanjutnya membuatku diliputi amarah yang teramat sangat.


"Sama-sama menyukai Luna"


Aku segera mencengkeram lengan Gracey.


"Apa maksudmu?"


Gracey lalu bercerita usahanya untuk mendekati Lucas. Namun Lucas bersikap dingin dan tidak menanggapinya. Saat mencari informasi tentang Lucas, Dia mendengar dari seseorang bahwa Lucas adalah fans berat Luna. Bahkan saat menceritakan wanita yang diimpikannya, semua cirinya mendekati Luna.


Aku tahu ini bisa saja hanya kebetulan. Luna adalah seorang aktris, wajar jika orang menjadi penggemarnya. Lalu wanita seperti Luna juga Ada banyak di dunia ini. Mungkin Lucas hanya mendambakan sifat-sifat yang dimilikinya. Tapi entah kenapa aku tidak memungkiri bahwa itu membuatku cemburu.


"Maksudku bukan berarti dia jatuh cinta pada Luna. Dia mungkin hanya menyukai wanita seperti dia"


Ralat Gracey.


"Aku hanya sedang ingin bilang, kalau semua pria menyukai yang seperti Luna. Bagaimana dengan wanita sepertiku? Apa aku tidak boleh mendapat pasangan?" Kelakar Gracey sambil tertawa keras.


Aku tidak terlalu peduli. Pikiranku sedang kesal menemukan fakta bahwa Lucas mungkin menginginkan Luna.


"Karena itu sebagai teman, apa kau tidak ingin membantuku mendekatinya? Aku Rasa aku menyukai Lucas" Tiba-tiba Gracey melontarkan idenya.


"Tentu. Aku akan membantumu menaklukannya"


Jawabku tanpa pikir panjang. Jika Gracey berhasil mendapatkan Lucas, bukankah itu artinya hubunganku dengan Luna akan Aman.

__ADS_1


Obrolan kami terpotong saat Luna sudah kembali ke kamar. Dia meletakkan minuman biasa yang dibelinya di kantin.


Aku memperhatikan setiap langkahnya. Rasanya aku menanggapi ucapan Gracey tadi secara berlebihan.  Meskipun Lucas menyukai Luna, apa masalahnya? Meragukan Luna adalah salah. Aku yakin, Luna tidak akan pernah mengkhianatiku. Dia hanya mencintaiku.


__ADS_2