
Aku mendengarkan dengan senang cerita ibuku. Sejak tadi dia tidak berhenti membicarakan perjalanannya dengan Drey hari ini. Drey benar-benar berhasil mengambil hati ibuku.
"Jadi, sebenarnya kau memang selingkuh dengan Drey saat masih bersama Casey?"
Tanya ibuku setelah ceritanya yang diulang sampai tiga kali itu sampai pada batasnya. Ibuku rupanya masih termakan gosip yang beredar saat aku pertama kali ketahuan pacaran dengan Drey.
"Tidak!"
Bantahku cepat.
"Aku sudah putus dengan Casey saat itu. Tetapi Casey meminta kami menunda pengumuman putus. Ternyata tak lama dari itu, aku dan Drey ketahuan"
Aku segera menambahkan dengan penjelasan. Ibuku tersenyum mendengarnya.
"Baguslah kalau begitu. Sebaik apapun Drey, ibu akan marah jika kau menyakiti Casey"
Di luar dugaan, ternyata ibuku peduli juga pada Casey. Padahal saat aku dengannya dulu, kami hampir tidak pernah membicarakan Casey seperti ketika membahas Drey.
"Drey sendiri bagaimana? Aku mendengar banyak rumor tentangnya"
Aku tahu jika saat ini ibuku sedang menyinggung masalah reputasi Drey sebagai Cassanova. Sebagai wanita, dia pasti sensitif pada rumor semacam itu.
"Aku sudah bertemu dengan mereka. Drey tidak pernah menjalin hubungan serius dengan mereka"
Rasanya sedikit malu juga menyebut kata "mereka". Menunjukkan betapa banyaknya mantan wanita Drey.
"Aku juga sudah menegaskan jika Drey itu pacarku"
Imbuhku mencoba menutupi rasa malu. Kali ini ibuku tertawa.
"Kau mirip sekali denganku"
Komentarnya. Mungkin ibuku juga tipe pencemburu.
Obrolan kami berlanjut mengenai Drey. Ini pertama kalinya aku bicara banyak tentang hubungan cintaku pada ibu. Semua karena pria itu adalah Drey.
******
Setelah pembicaraan mendebarkan mengenai Drey, aku jadi tidak bisa tidur. Aku melihat ke samping, dan ibuku telah terlelap. Akhirnya pelan-pelan aku turun dari ranjang.
Kudengar televisi masih menyala di ruang tengah. Jadi aku mengintip. Ayahku juga sudah ngorok di sofa. Namun aku tidak melihat Drey yang sebenarnya diajak begadang oleh ayahku.
Aku melangkahkan kakiku menuju dapur. Dugaanku tepat. Drey sedang di sana sibuk mengembalikan botol air ke dalam kulkas. Lalu debaran itu muncul saat melihat punggung Drey yang kokoh.
Drey kaget sekali saat aku memeluknya dari belakang.
"Nanti ayahmu melihat kita"
Ujar Drey dengan wajah gugup. Aku tertawa kecil melihat ekspresinya. Aku juga khawatir, tetapi hasratku sudah tak bisa dibendung. Justru ada sensasi aneh saat melakukan sesuatu yang tak seharusnya kulakukan. Mendebarkan.
Aku tidak mempedulikan peringatan dari Drey dan bergelayut manja padanya. Lagipula Drey tidak menolak. Dia menyambutku dengan melingkarkan lengannya di pinggangku.
"Bagaimana orang tuaku?"
Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Kau beruntung sekali memiliki orang tua seperti mereka"
Sebuah jawaban yang berbeda dari bayanganku. Orang lain pasti hanya akan menanggapinya dengan kata "baik" atau "buruk". Belum lagi Ada ketulusan di mata Drey saat mengatakannya. Sungguh tidak adil dia membuatku berdebar seperti ini.
"Aku juga beruntung memilikimu"
Ujarku sambil mendaratkan ciuman di pipi Drey. Dia menatapku.
"Kau ini benar-benar gadis yang nakal"
Drey mengatakannya dengan setengah berbisik di telingaku. Lalu mengangkat tubuhku dan menaruhnya di meja dapur.
__ADS_1
Ayah atau ibuku bisa saja terbangun. Mereka bisa saja melihat kami. Namun kami tidak bisa berhenti.
Drey menatapku intens. Pandangan paling seksi yang pernah kulihat. Kilatan mengintimidasi dari mata birunya yang indah. Seakan melihat laut yang sedang berjolak hebat. Gelombang ombaknya akan segera menghantam, tetapi aku justru menantikannya.
Tangannya yang besar bergerak menyusur perlahan. Dari pinggang, naik semakin ke atas. Rasanya tubuhku seperti disetrum. Tangan itu mengusap perlahan hingga akhirnya sampai di bahuku. Namun tidak berhenti di sana, tangan itu kembali bergerak. Perlahan mengitari leherku. Kali ini rasa geli yang kurasakan. Aku harus menahan diri untuk tidak mendorongnya.
Puas dengan leher, tangan itu kembali naik. Kali ini menelusuri wajahku. Bergerak mengikuti garis wajahku. Gerakannya terasa begitu lembut dan penuh rasa sayang. Mengabadikan setiap inci wajahku dengan tangannya. Hingga akhirnya Drey mengakhiri petualangannya dengan menelusupkan jari-jarinya di rambutku. Perlahan mendekatkan kepalaku padanya.
Aku sungguh menikmati setiap detik yang berlalu di antara kami. Tidak perlu terburu-buru. Biarkan semua berjalan dengan alami. Meskipun hanya beberapa meter dari tempat kami, hanya dibatasi dinding ada ayahku.
Aku bisa merasakan nafas hangat Drey menerpaku saat dia membawa kepala kami mendekat. Drey menyatukan kening kami. Hingga aku benar-benar tenggelam dalam tatapan matanya. Terasa dingin namun juga hangat di saat bersamaan.
Seakan Drey ingin menggodaku, dia tidak segera mengakhiri tindakannya. Dia juga menikmati ekspresiku dengan baik. Padahal aku yakin wajahku sudah merah sampai ke telinga. Aku hanya bisa merasakan panasnya, yang terbakar oleh rasa malu dan gairah.
Drey menjawab penantianku dengan menempelkan bibirnya perlahan. Sebuah kecupan singkat yang terasa tak cukup. Namun itu hanya awalan baginya. Drey kemudian mencium lembut keningku. Seperti halnya tangannya yang tadi menyusuri diriku, kini bibirnya juga menghujaniku wajahku dengan kecupan kecil agar terakumulasi sebesar harapanku.
Aku rasa senyuman yang tanpa sadar terlukis di wajahku menjadi tanda baginya. Bahwa ini saatnya bagi Drey melumat bibirku. Seperti Drey biasanya. Yang melakukan itu seolah itu yang terakhir. Liar dan menuntut. Seakan dia sedang mencoba menaklukanku. Padahal harusnya dia tahu, bahwa aku sudah sepenuhnya jatuh dalam dirinya.
Sungguh waktu yang lama tetapi terasa singkat. Tidak akan pernah cukup bagi kami. Semakin kami mendekat, semakin pula hati terasa seolah meledak oleh rasa rindu. Seperti itu Drey membawaku ke awang. Hanya Drey yang bisa.
******
"Ayo kita berangkat. Tunggu apa lagi? Lama sekali kalian"
Ayahku menyuarakan perintah, protes dan keluhan dalam satu kalimat. Seolah aku dan ibuku telah terlambat berjam-jam lamanya. Padahal ini masih kurang sepuluh menit dari waktu yang kami janjikan.
Terpaksa aku dan ibuku terburu-buru menyusul ayah yang sudah berdiri di samping mobil. Ayahku sudah kelihatan tak sabar sekali.
Hari ini kami akan menonton pertandingan tim Drey. Ayahku yang merupakan penggemar berat Drey tentu tidak ingin melewatkannya. Dia bahkan sudah mengenakan pakaian terbaiknya untuk pergi. Padahal dulu aku harus memohon padanya hampir selama tiga hari saat acara kelulusan SMA ku. Ayah bilang tidak ingin membuat Drey malu saat orang melihat calon mertuanya. Harusnya ayahku sedikit sadar jika dia justru membuatku malu telah percaya diri menyebut dirinya calon mertua Drey. Tidak seperti Drey sudah melamarku.
Sepanjang jalan, yang dibicarakan ayahku tidak jauh dari Drey. Entah sudah diracuni apa oleh pria itu. Ayahku bisa begitu menyukainya. Berbeda dengan sikapnya padaku.
"Caramu menyetir membuatku tidak tenang. Kau harusnya bisa menyetir lebih halus seperti Drey"
Aku hanya bisa memasang wajah cemberut dengan komentar ayahku. Namun juga tidak bisa membalasnya karena sadar dengan kemampuanku. Selama ini aku selalu menggantungkan diri pada Daniel dan Drey untuk urusan kendaraan. Pantas saja aku tidak terlalu terampil. Mobil ini juga kupinjam dari Daniel, karena kami membutuhkan mobil besar.
Sindirku. Aku mungkin tidak bisa membantah ucapannya tentang kemampuan menyetir, tetapi aku harus membalasnya.
"Aku mengatakan hal baik tentangnya. Pasti bersin yang dirasakannya akan membawa rasa lega"
Balas ayahku. Rasanya ayahku sedang sengaja membuatku kesal.
"Ayah sebaiknya berhenti membuatnya tidak nyaman. Sejak hari pertama terus saja membicarakan Drey, mengikuti Drey. Ayah mirip sekali dengan penguntit"
Kritikku kekanakan. Sebenarnya aku tidak terlalu serius mengatakannya. Hanya bermaksud membuat ayahku berhenti. Namun seperti biasa, kalau sudah berdebat kami akan sama-sama kekanakan.
"Kenapa seorang ayah tidak boleh berbicara atau mengikuti anak lelakinya? Tentu saja itu wajar. Kau tidak akan bisa memahami ikatan kami, jadi diam saja"
Jawab ayahku dengan nada sengak. Membawa kami pada perdebatan yang makin panas.
"Tentu saja aku tidak paham, karena itu tidak wajar. Lagipula dia juga bukan anak ayah. Dia pacarku!"
"Dia anakku!"
"Pacarku!"
"Anakku!"
"Aku tidak peduli dia anak siapa atau pacar siapa. Yang penting, Luna! Fokus saja pada jalan di depan. Ibu bisa kena serangan jantung dengan caramu menyetir"
Ibuku segera menengahi dan sukses menutup perdebatan tidak penting kami.
******
Mobilku memasuki perlahan kompleks perumahan yang sepi. Sebelum menuju stadion, aku harus menjemput Lara lebih dulu. Dia juga ingin menonton pertandingan Drey, dan kami memutuskan pergi bersama.
Sebelumnya, aku sudah menjelaskan mengenai Lara pada orang tuaku. Karena kami tidak punya banyak waktu, aku juga tidak akan bisa mengenalkan Lucy pada mereka. Selain itu, aku sudah memperingatkan ayahku agar tidak terlalu banyak bicara pada Lara. Mungkin saja itu akan membuatnya tidak nyaman jika sudah terlibat obrolan tanpa henti dengan ayahku.
__ADS_1
Sepuluh menit dari jalan utama, kami akhirnya sampai di depan pagar rumah Lucy. Aku sengaja memarkirnya di sana. Lara sudah menunggu di depan rumah dengan ibunya dan para anak kecil. Orang tuaku ikut saat aku keluar dari mobil. Meskipun tidak bisa berjabat tangan, orang tuaku menyapa Lucy dari kejauhan.
Kami segera pergi setelah Lara, Andrew, Ella dan Rilla masuk. Mario dan Terri tidak ikut karena menemani Lucy. Perkenalan orang tuaku dengan mereka berjalan lancar. Untungnya ayahku menahan diri untuk tidak mencecar Lara. Ibuku sendiri sangat menyukai anak kecil, sehingga cepat akrab dengan Andrew dan adik-adiknya.
Kami langsung memasuki stadion begitu sampai. Para penonton VIP memiliki jalur berbeda dengan penonton lain sehingga tidak perlu menunggu dalam antrian, dan segera mendapatkan kursi.
Stadion telah hampir terisi penuh. Sehingga atmosfir pertandingan sepak bola cukup terasa. Ayahku jadi bersemangat sekali karenanya. Terutama ketika para pemain telah memasuki lapangan. Ayahku heboh sekali menunjuk di mana Drey berdiri.
Aku sedikit malu dengan tingkah berlebihan ayahku, tetapi bisa memahaminya. Ada perasaan bangga yang sulit dijelaskan saat melihat Drey berdiri di lapangan dengan jersey-nya. Karena dia keren. Matanya yang menatap fokus pada sekeliling cukup menghipnotis. Dan karena kami mengenalnya tentunya. Perasaan yang tidak bisa dirasakan sembarang orang.
Peluit tanda dimulainya pertandingan berbunyi. Aku bersama ayahku melebur dengan penonton lain memberikan dukungan. Sepanjang pertandingan jantungku dibuat berdetak kencang. Drey bermain sangat ganas. Bahkan ibuku yang tidak paham tentang sepak bola saja sampai bersorak keras saat Drey berhasil mencetak gol.
Aku, Lara, dan ibuku berpelukan. Drey membuatnya makin istimewa saat dia menunjuk ke arah kami dengan senyum lebar usai mencetak gol. Seolah mengatakan bahwa gol itu dipersembahkan untuk kami.
"Drey keren sekali"
Puji ibu dan Lara kompak.
"Tentu saja"
Jawabku bangga. Drey memang keren. Itu tidak perlu diragukan lagi. Bukan hanya kami, rasanya seluruh stadion juga memujinya.
******
Kami menyambut Drey bak pahlawan yang pulang dari medan perang. Memberikannya applause panjang sebagai penghargaan bisa memenangkan pertandingan sekaligus mencetak gol hari ini. Meskipun dengan makanan dan minuman seadanya karena dibeli secara dadakan, kami mengadakan perayaan untuk Drey.
Pertandingan hari ini cukup penting karena kemenangan tadi menambah poin tim Drey di klasemen liga. Klub Drey berhasil membalik keadaan menjadi posisi satu dengan tambahan poin, apalagi tim rival hanya bermain imbang hari ini. Jadi menurut kami, ini patut dirayakan.
Aku membiarkan ayahku berkomentar sepuasnya tentang pertandingan hari ini. Pasti akan jadi pengalaman menyenangkan baginya bisa mengutarakan perasaannya langsung di depan idolanya. Drey juga tampak tidak keberatan.
"Drey tampak senang sekali"
Bisik Lara yang malam ini menginap di sini untuk ikut perayaan. Aku mengangguk setuju.
"Aku hanya berharap dia tidak jengah dengan ayahku"
Candaku.
"Aku rasa itu tidak akan terjadi"
Jawab Lara serius. Aku baru sadar jika dia menatap Drey dengan wajah sedih.
"Aku selalu berharap Drey bisa akrab dengan daddy seperti itu. Tetapi aku lega paman Sullivan memperlakukannya dengan baik"
Kata-kata Lara itu membuatku penasaran, seburuk apa sebenarnya hubungan Drey dan ayah kandungnya. Sampai-sampai pemandangan di depan kami itu membuat Lara terharu.
Hubungan keluarga adalah hubungan paling rumit menurutku. Tidak cukup hanya diartikan dengan benci atau cinta. Terkadang sesuatu yang kelihatan buruk sebenarnya mengandung maksud yang baik. Begitupun sebaliknya. Misalnya saja aku dan ayahku. Kami sering berdebat. Karena kami terbiasa hidup di dunia yang berbeda, pandangan kami juga akhirnya tidak sama. Namun semua perdebatan itu tidak terasa menyakitkan buatku.
Aku juga belajar bahwa Drey seperti itu. Saat dia membicarakan perselisihannya dengan Lucas, aku tidak merasakan kebencian. Justru sebagian besar karena Drey peduli pada Lucas. Jadi menurutku hubungan Drey dengan ayahnya pasti seperti itu. Sehingga aku semakin ingin tahu alasan mereka tidak akur. Mungkin aku harus mencari kesempatan untuk menanyakannya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Aku memeriksa ke samping. Ibuku dan Lara sudah tidur. Tentu saja. Ini sudah hampir pukul dua pagi. Namun siapa yang mengetuk pintu kamarku selarut ini?
Pertanyaanku langsung terjawab saat si pengetuk pintu masuk bahkan sebelum aku mempersilahkan. Meskipun gelap, aku bisa menebak dari siluetnya jika itu Drey. Sontak aku langsung bangkit dan turun dari ranjang.
"Apa yang kau lakukan di sini?!"
Tanyaku dengan nada seolah berteriak dalam bisikan.
"Aku tahu kau belum tidur"
Drey sudah menarikku keluar dari kamar. Dia menuntunku menuruni tangga.
Rasanya jantungku berdetak cepat. Bertanya-tanya kemana Drey akan membawaku. Kami melewati ruang tengah, di mana ayahku sedang tidur dengan Andrew. Hatiku makin berdesir, mengingat kejadian malam kemarin.
Kali ini bukan dapur, Drey menuntunku menuju ruang laundry. Seperti sudah menyiapkan semuanya, di sana tergelar matras untuk duduk. Aku merasakan kegugupan saat Drey menutup pintu dan menguncinya.
Drey lebih dulu duduk di matras dan mengulurkan tangannya padaku. Dia menatapku dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Intens dan mengintimidasi. Membuat tubuhku kaku dan langsung membeku.
__ADS_1
Drey, apa yang dia inginkan?