Sugar

Sugar
Devil or The Deep Blue Sea


__ADS_3

Aku tidak pernah begitu tertarik dengan Hari valentine. Karena memang tidak pernah merayakannya. Casey bukan tipe pria yang romantis. Dia lebih sibuk dengan pekerjaan Dan urusan mendakinya ketimbang denganku. Tetapi perayaan di sini membuatku takjub.



Setiap sudut Kota Akan memiliki event khusus untuk Hari ini. Termasuk hotel tempatku tinggal. Ada reservasi khusus bagi pasangan yang ingin menghabiskan Hari ini bersama. Aku pun berharap Drey Akan mempertimbangkan untuk melakukan Hal yang sama. Bukan membawaku untuk keluar hanya demi bertemu orang lain.



"Kenapa kau masih cemberut?"



Tanya Drey yang sudah menstarter Mobilnya.



"Kau tidak benar-benar hendak menemui cinta pertamamu Kan?"



Tanyaku gelisah. Sejak aku menanyakannya kemarin, Drey belum memberiku jawaban.



"Kenapa? Kau tidak ingin bertemu dengannya? Tidak penasaran padanya?"



Aku semakin kesal saja karena Drey terus menggodaku begitu. Tentu saja aku tidak ingin tahu siapa dia. Bahkan kalau bisa, aku akan menghapus gadis itu dari ingatan Drey.



"Aku tidak pernah tahu jika kau ternyata adalah gadis pencemburu"



Gumam Drey masih dengan nada bercanda.



Aku sendiri juga tidak tahu. Sebelumnya aku tidak seperti ini. Meskipun Casey bertemu dengan banyak wanita, bahkan melakukan adegan mesra dengan aktris lainnya, aku tidak pernah merasa terganggu. Tapi dengan Drey, aku mencurigai siapa saja yang dekat dengannya. Mereka membuatku kesal Tanpa alasan. Even that damn first love!



Mungkin karena aku merasa Tak Aman dengan perasaan Drey. Setidaknya dengan Casey, aku tahu dia mencintaiku. Namun Drey, aku tidak tahu kapan dia Akan meninggalkanku.



********************************


Mobil Drey memasuki pelataran sebuah rumah, yang tidak terlalu besar namun Kelihatannya juga bukan milik orang biasa. Dari berjalan di halamannya, aku sudah merasa bahwa Akan Ada sesuatu yang besar terjadi di sini.



Benar saja, dari suara yang menyambut kami dapatkan, aku sudah tahu jika itu adalah masalah. Lara keluar dari rumah itu Dan langsung memeluk kami bergantian. Berbeda dengan dia yang senang sekali melihat kami, aku tidak. Tersenyum pun Tak mampu.



Jika Lara adalah orang yang ingin Drey temui, hanya Akan membuat dugaanku itu benar. Jika Lara adalah cinta pertamanya. Namun sebelum aku semakin kecewa,



"Mommy... Pacar Drey sudah datang"



Panggil Lara pada siapapun yang Ada di dalam rumah.



What?! Mommy?! Drey ingin aku bertemu ibu tirinya?



Saat aku masih tidak bisa menguasai keterkejutanku, Dua tubuh kecil yang kurindukan sudah muncul dari dalam rumah. Mereka langsung memelukku, Ella Dan Rilla. Di belakang mereka Ada para saudara laki-lakinya yang juga berlari ke Drey. Dan seorang perempuan paruh baya mengikuti mereka.



Wanita itu terlihat sangat cantik meski dengan keriput di wajahnya. Aku bisa melihat kemiripan antara dirinya Dan Lara. Namun dia duduk di atas kursi roda. Begitu Melihatku langsung tersenyum ramah.



"Kau pintar sekali memilih calon istri"



Goda ibu Lara, membuatku malu. Terlalu jauh sampai menyebutku calon istri. Sebagai kekasih saja hubungan kami belum jelas.



Ibu Lara ternyata mengundang Drey Dan aku untuk makan malam bersama. Karena Lara selalu bercerita tentang aku, ibunya jadi penasaran ingin bertemu. Kalau Drey memberitahuku, aku mungkin akan mencoba tampil lebih baik. Bukan berdandan seadanya seperti ini.



Si Lima bersaudara rupanya juga sudah dibawa untuk tinggal di sini. Mereka juga sepertinya sudah mendapat kehidupan lebih baik. Terlihat lebih gemuk dari terakhir Kali Aku melihat mereka. Terutama si bungsu, Rilla. Pipinya sudah bisa dicubit Dan perutnya lebih buncit. Lebih cocok dengan rambutnya yang ikal bergelombang. Aku harus menahan diri untuk tidak menggigitnya.



Seperti sebelumnya, Ella Dan Rilla terus menempel padaku. tidak lupa dengan panggilan "June". Mungkin mereka tidak Akan pernah tahu jika nama asliku adalah Luna.



"Mereka sangat menyukaimu ya, di rumah juga selalu bertanya dimana June"



Ujar Lara yang muncul dengan teh di tangannya. Dia langsung duduk di sampingku.



Sejujurnya aku masih canggung berada di dekat Lara. Aku masih tidak bisa menghapus prasangka burukku. Tetapi rasanya lebih tidak nyaman jika aku terus menghindari Lara. Jadi kuberanikan diri bertanya lagi pada Lara.



"Tentang video mallard itu, apa kau pernah menunjukkannya pada Drey?"



"Tidak. Aku pernah bertanya padanya tentang mallard, dia bahkan tidak tahu hewan Apa itu"



Kali ini jawaban Lara di luar dugaanku.



"Lalu siapa yang memberitahumu tentang nasehat yang kau berikan padaku?"



"Ibuku"



Aku hanya bisa melongo mendengar jawaban Lara. Jadi tidak Ada hubungannya antara Lara Dan cinta pertama Drey. Aku jadi semakin penasaran Dan tidak bisa menahan diri lagi untuk bertanya.



"Jadi, kau menyukai Drey atau tidak?"



Lara langsung menyemburkan teh nya Kali ini. Lalu menatapku heran.



"Kenapa kau bertanya seperti itu?"



"Kau bilang ingin pacar yang seperti dia"



Lara langsung tertawa keras mendengar jawabanku.


__ADS_1


"Aku bilang ingin yang seperti dia, bukan berarti aku ingin memacarinya. Pacar kakakku bertanya seperti apa dia, tidak mungkin Kan aku menjelek-jelekkan dia. Bisa-bisa nanti kau kabur"



Ujar Lara masih terbahak-bahak. Ah... Aku malu setengah mati. Kecemburuanku sudah keterlaluan sepertinya.



"Hm...jadi karena itu kau bersikap dingin padaku"



Goda Lara. Wajahku Makin merah. Ternyata selama ini Lara menyadarinya.



Kalau bukan Lara, lalu siapa?



"Apa itu ibu tirimu?"



Tanyaku pada Drey. Setelah dugaanku terhadap Lara salah, aku Makin ingin tahu siapa cinta pertama Drey. Dan kini secara terang-terangan membicarakannya pada Drey.



Mungkin tebakanku terlalu bodoh, hingga Drey langsung menoyor kepalaku.



"Kau masih penasaran juga?"



Canda Drey.



Aku tidak bisa memikirkan orang lain selain Lara atau ibunya. Dan berapa kalipun aku mencoba bertanya, Drey juga tidak Akan memberitahuku. Daripada aku Makin ngaco, akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi membahasnya.



**********************************


Sambil menunggu makan malam, aku bermain dengan para anak-anak. Mereka mengajak main petak umpet. Lagipula Lara Dan ibunya tidak memperbolehkan aku membantu di dapur. Lebih memilih menyuruh Drey.



Sepertinya meskipun hanya keluarga tiri, Drey sangat dekat dengan ibu Lara. Jika orang tidak paham dengan silsilah mereka, mungkin Akan menyangka bahwa Drey adalah anak kandung di keluarga ini. Tetapi aku heran, kenapa Drey tidak suka membicarakan keluarganya.



Rumah ini cukup luas, jadi meskipun sedang main petak umpet, tidak perlu bersembunyi. Hanya cukup berlarian dari satu ruangan ke ruang lainnya. Memang curang sekali, karena sebagai orang dewasa aku bisa dengan mudah mengelabui anak yang sedang berjaga. Namun justru di Sana serunya. Aku suka melihat ekspresi kesal Ella yang sedang kebagian tugas berjaga.



Aku hampir saja tertangkap saat di ruang tengah, jadi langsung berlari ke ruang Tamu. Dan tanpa sengaja menabrak seseorang saking asyiknya berlari.



"Apa kau baik-baik saja?"



Tanya seorang pria yang kutabrak itu.  Dia mengenakan setelan jas dengan rambut yang ditata rapi. Sepertinya sebaya dengan Drey.



"Tidak apa-apa, maaf tidak melihatmu"



Jawabku, padahal sekarang aku sedang mengelus-elus keningku yang rasanya nyeri.



"Bukankah kau Luna Eloise?"




"Ya, benar"



Pria itu langsung mengulurkan tangannya. Mengajak untuk berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.



Baru saja aku hendak meraih tangan pria itu, tanganku sudah ditarik lebih dulu oleh Drey yang ternyata sudah Ada di belakangku. Drey lalu menggenggam erat tanganku.



"Aku tidak tahu jika mommy mengundangmu juga"



Ujar Drey. Bisa kurasakan jika dia seperti geram, dari kencangnya dia meremas tanganku. Dan tatapan pria itu juga berubah saat melihat Drey.



"Itu juga pertanyaanku"



Balas pria itu tidak bersahabat. Aku hanya bingung menatap mereka berdua. Seakan sedang Ada di tengah perselisihan yang sama sekali tidak kuketahui.



"Kau sudah datang?"



Untungnya ibu Lara muncul di saat itu. Menghentikan aksi saling lempar pandangan Tajam antara Drey Dan pria itu.



"Ayo, makan malamnya sudah siap"



**********************************


Ini acara makan malam, tapi rasanya lebih mirip dengan pertemuan para anggota mafia. Tegang sekali suasananya. Aku tidak tahu harus melihat kemana.



Yang jelas, Drey terus muram sepanjang makan malam ini. Tidak banyak bicara Dan hanya menjawab seperlunya. Penyebabnya adalah pria itu, yang ternyata adalah Lucas, kakak kandung Lara. Entah apa yang terjadi di antara mereka, namun terang-terangan menunjukkan bahwa mereka tidak menyukai satu sama lain.



Usai makan malam, aku membantu mencuci piring. Selain tidak enak jika tidak membantu, aku juga tidak suka terjebak dalam suasana beku yang dipicu oleh Drey Dan Lucas. Apalagi mereka sedang berada dalam satu ruangan sekarang.



"Apa makanannya enak? Ini pertama kalinya aku mencoba memasak"



Tanya Lara yang juga membantu membersihkan meja makan.



"Enak sekali. Sepertinya kau punya bakat dalam memasak"



Lara tertawa mendengar pujianku.



"Apa Ada sesuatu yang terjadi antara Drey Dan Lucas?"


__ADS_1


Seperti biasa aku tidak bisa menyembunyikan Rasa penasaranku. Kalau aku bertanya langsung pada Drey, sudah pasti dia tidak Akan menjawabku.



"Sepertinya kau harus bertanya sendiri pada Drey. Aku juga tidak tahu persis kenapa mereka jadi begini. Sejak dulu mereka tidak cocok, namun semakin memburuk akhir-akhir ini"



Jawab Lara berteka-teki. Meski masih penasaran, aku tidak bertanya lebih jauh. Lara tetap tidak akan memberikan jawabannya. Mungkin untuk menghargai privasi Drey. Lagipula siapa aku? Bukan bagian dari keluarga ini.



Lamat-lamat aku mendengar suara teriakan dari ruang tengah. Awalnya tidak begitu jelas, namun saat terdengar bentakan Drey, aku langsung menaruh piring di tanganku Dan berlari ke ruang tengah. Diikuti oleh Lara.



Aku terkejut sekali melihat Drey Dan Lucas sudah menarik kerah satu sama lain. Wajah mereka sudah marah seolah sedang menahan amarah, siap melemparkan bogem mentah. Sementara ibu Lara berusaha keras memisahkan dengan tubuhnya yang berada di atas kursi roda.



Aku tidak berpikir panjang segera menarik tubuh Drey dengan memeluknya dari belakang. Sementara Lara menarik Lucas.



Aku jelas kalah kuat dengan Drey. Aku tidak sanggup menarik Badannya yang gempal. Sehingga aku menggunakan Cara lain meredam emosinya.



"Anak-anak melihat"



Saat ini mereka membuat para anak kecil ketakutan Dan bersembunyi di balik kursi. Mereka pasti teringat pada perbuatan ayah mereka.



Tindakanku tepat sekali. Seperti tersadarkan, Drey akhirnya mau melepaskan Lucas. Dan perlahan Lucas pun juga melakukan Hal yang sama.



Meski tidak jadi berkelahi, aku masih bisa melihat sisa amarah Drey. Sangat menakutkan, karena ini pertama kalinya aku tahu bahwa Drey bisa menggunakan tangannya saat marah.



********************************


Sungguh akhir makan malam yang sempurna. Kami akhirnya pergi Tanpa bisa menikmati teh Dan bercengkerama dulu. Sepanjang jalan Drey juga hanya diam. Seolah sedang melampiaskan emosinya, mencengkeram setir dengan kuat dan beberapa Kali mengebut di jalan. Aku sampai tidak sempat menegurnya karena lebih sibuk menenangkan jantungku yang berdetak Tak karuan.



Drey sepertinya menyadari ketakutanku, jadi dia menepikan Mobilnya saat menemukan jalan yang sepi. Dia langsung keluar tanpa mengatakan apapun dan melampiaskan emosinya di luar Sana. Untuk beberapa saat aku membiarkannya sendiri. Setelah dia kelihatan lebih tenang, aku baru menyusulnya keluar.



Drey menatap nanar ke arah jalanan. Seperti banyak yang ingin diungkapkannya. Kalau saja dia mau, mungkin aku bisa mendengarkan semuanya. Tetapi yang bisa kulakukan saat ini hanya duduk di sampingnya. Dan menemaninya menenangkan diri.



Mungkin sudah satu jam berlalu, saat Drey akhirnya bicara padaku.



"Kau tidak ingin bertanya tentang apa yang terjadi?"



Dia paham betul sifatku yang selalu ingin tahu.



"Jika aku bertanya, apa kau Akan menjawabnya?"



Tanyaku balik. Dan aku paham bahwa dia tidak Akan semudah itu bicara. Drey akhirnya tertawa.



"Terima kasih"



Hanya itu jawabannya. Sudah cukup menjelaskan bahwa dia lebih memilih jika aku tidak terlalu ingin tahu. Drey selalu begitu. Dia belum membiarkan aku masuk dalam kehidupannya.



"Jika kau sudah selesai, ayo pulang"



Ajakku. Ini masih musim dingin, jadi tubuhku sudah hampir beku berada di luar terlalu lama. Drey hanya mengangguk setuju.



"Biar aku yang menyetir"



Ujarku sambil meminta kunci Mobil dari Drey. Aku tidak mau Naik Mobil dengan supir yang ugal-ugalan seperti dia. Awalnya Drey menolak. Tetapi akhirnya kalah karena aku terus memaksa.



Aku percaya diri bisa membawa Mobil dengan lebih baik Dan tenang dibandingkan Drey. Nyatanya tidak. Justru beberapa Kali kami berada di situasi menegangkan saat aku mengambil alih kemudi mobil. Jalanan London ternyata tidak semudah itu.



Gara-gara itu, Drey jadi terus menggodaku. Mengataiku sebagai supir amatir. Tidak sepenuhnya salah. Sepertinya kemampuan Dan lisensiku patut dipertanyakan. Sudah lama aku tidak mengendarai Mobil sendiri, aku jadi kagok.



Yah.. setidaknya karena supir amatir ini, Drey bisa kembali tertawa.



********************************


Malam ini kami pulang ke hotel lagi. Padahal Daniel sudah menceramahiku panjang lebar tadi pagi karena sudah cukup banyak uang kuhabiskan untuk tinggal di sini. Tetapi entah kenapa aku masih ingin kembali kemari malam ini.



Begitu kami masuk, Drey langsung memelukku dari belakang.



"Ini masih Hari valentine lho.."



Bisiknya nakal. Aku sebenarnya tahu apa yang Ada di pikirannya, tetapi pura-pura tidak tahu.



"Memangnya kenapa dengan Hari valentine? Tidak Ada apapun yang terjadi"



"Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"



Drey masih belum menyerah. Aku benci ketika dia sudah menggodaku seperti ini. Pikiran Drey yang Kotor akan keluar, tapi aku juga Akan dengan mudah terpengaruh olehnya.



Drey kemudian membalik badanku menghadapnya. Lalu membiarkan Mata kami terkunci satu sama lain. Biru matanya Yang indah itu selalu sukses menghipnotisku. Tanpa sadar sudah mengalungkan kedua tanganku ke lehernya.



Drey tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia meraih tengkukku untuk semakin mendekatkanku padanya. Perlahan dia membiarkanku merasakan nafas hangatnya. Sebelum kemudian memagut bibirku. Dia sepertinya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Langsung memintaku menerima lidahnya. Dan kembali mendorong tengkukku agar lebih memperdalam ciumannya.



Drey selalu membuatku Gila seperti ini. Mengendalikan diriku sepenuhnya kapanpun dia mau. Dia membuatku harus memilih pilihan yang sulit. Tetap bersamanya, tetapi harus menerima semua keburukan Dan ketidakcocokan kami. Mungkin kami Akan terus berdebat. Atau melepaskannya, namun aku harus siap melihatnya dengan wanita lain, sementara hatiku tidak Akan rela.



He's a true Devil, who live in the deep blue sea....

__ADS_1




__ADS_2