Sugar

Sugar
News


__ADS_3

"Plok...plok..plok"


Suara tepuk tangan menyambut kemunculanku dan Drey. Aku bisa menatap wajah penonton yang telah memenuhi seluruh studio. Rasa percaya diri yang sudah ku bangun tadi mau tak mau berubah menjadi kegugupan. Aku hanya bisa mengeratkan peganganku pada tangan Drey yang sedang menggandengku.


Ini adalah kali pertama aku dan Drey menghadiri undangan acara talk show yang disiarkan secara langsung. Aku tidak ingin membuat kesalahan. Untungnya Drey tidak terpengaruh olehku. Jadi aku bisa sedikit merasa tenang.


Sepanjang acara, Drey yang juga lebih banyak bicara. Menjawab pertanyaan seputar hubungan kami. Drey memang lebih pandai membumbui cerita. Ini terpaksa kami lakukan, karena ekspektasi tinggi orang-orang. Menganggap kami sebagai "relationship goals", tentu mereka berharap kisah romantis bak adegan film. Hal itu cukup, membuat kami mendapat tepuk tangan kagum dari orang-orang.


Namun dari dalam dasar hatiku, malah aku yang mulai merasa asing dengan hubungan kami.


*****


Aku membaca satu persatu artikel yang baru dirilis. Semua yang membahas mengenai aku dan Drey. Sepertinya belum berhenti beredar. Semua masih demam dengan cerita kami.


Tanpa sadar aku menghembuskan nafas berat. Memang menyenangkan hubungan kami banyak dikagumi. Namun juga melelahkan. Akhir-akhir ini semua tentang kami dibicarakan. Dari unggahan di media sosial sampai pekerjaan. Foto yang kami tidak tahu kapan diambil juga beredar tanpa batas di internet.


Makin banyak yang mengikuti kegiatanku dan Drey. Parahnya, seringkali juga ada paparazzi yang lolos dari pengawasan bagian keamanan. Menunggu di depan gerbang rumahku atau Drey. Hingga Drey sudah tidak leluasa lagi memarkir mobilnya di halaman rumahku.


"Bahan makanan kita hampir habis"


Suara Drey memaksaku menaruh ponsel, lalu pergi ke dapur bergabung dengannya memeriksa kulkas.


Sepertinya sudah waktunya belanja.


"Aku tidak ingin pergi ke supermarket"


Keluhku. Barusan aku mengintip lewat jendela di lantai atas. Ada seorang wanita yang berjalan mondar mandir di depan gerbang rumah. Dia adalah paparazzi yang menyamar sebagai penghuni di perumahan ini. Menggunakan anjing sebagai kamuflase. Padahal minggu lalu Daniel sudah menghardiknya. Dia masih berhasil kembali hari ini.


"Aku akan meminta Lara untuk membelikannya"


Ujar Drey yang memahami perasaanku. Akhir-akhir ini dia sendiri juga merasa cukup terganggu.


"Kau tampak lesu akhir-akhir ini. Apa kau sakit?"


Drey memeriksa keningku.


"Sepertinya bukan sakit"


Drey menjawab pertanyaannya sendiri. Lalu memelukku.


"Kau butuh ganti suasana. Haruskah kita pergi berlibur?"


Kali ini aku tersenyum mendengar pertanyaan Drey. Lalu memeluknya. Tentu saja aku ingin mengatakan ya, tetapi sulit menemukan tempat berlibur yang memungkinkan penggemar tidak dapat menemukan kami. Jika salah, bukannya liburan, kami malah akan kejar-kejaran dengan pemburu berita.


Bagiku cukup begini saja. Tidak masalah aku terkunci di dalam rumah ini jika ada Drey di dalamnya. Aku bisa mengisi kembali energiku dengan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya.


"Triing...triing..."


Suara dering ponselku memaksaku melepaskan pelukan Drey. Aku harus segera mengangkatnya saat melihat nama yang keluar di layar ponsel.


"Bagaimana kabarmu Laluna Gempita Eloise?"


Di dunia ini hanya ada satu orang yang selalu memanggilku dengan nama lengkap. Dieja sampai pada nama tengahku.


"Baik-baik aja, kakakku yang paling lebay sedunia, Ramona Gempita Eloise"


Balasku. Bisa ku dengar tawa Mona pecah di seberang sana.


"Ada apa? Bukan cuma mau bilang kangen saja kan?"


Tanyaku setengah bercanda.


"Ya enggaklah, sayang pulsaku. Aku mau bilang, kosongkan semua jadwalmu minggu depan, pesan tiket juga untuk pulang, sekalian Cari kado mahal untuk kakakmu tercinta ini"


"Buat apa?"


"Kakak mau nikah"


"Huh?! Nggak salah?!"


Sergahku kaget. Mona mengatakan akan menikah dengan entengnya. Bukankah ibuku bilang mereka masih mau proses lamaran? Kenapa kabar yang datang malah menikah?


"Tanyanya secara langsung Aja di sini. Pulsaku mau habis. Pokoknya, kamu harus pulang! Ibu juga titip pesan, calon menantunya dibawa sekalian ya?"


Belum sempat aku menjawab, Mona langsung mematikan sambungan telfon. Dia memang selalu seperti ini. Orangnya pendiam dan pemalu, tetapi seperti kilat. Datang dan perginya tidak bisa diajak kompromi. Saat aku mencoba menghubunginya lagi, nomornya sudah di luar jangkauan, alias tidak aktif. Dia pasti mematikannya karena malas menerima panggilanku.


"Ada apa?"


Tanya Drey penasaran. Dia mungkin tidak menangkap pembicaraanku yang menggunakan bahasa Indonesia.


"Kakakku akan menikah dan memintaku pulang"


"Kakakmu, Mona?"


"Kau kenal dengan Mona?"


Tanyaku heran. Seingatku aku tidak pernah menyebut namanya. Bahkan aku lupa sudah cerita memiliki kakak atau belum.


"Ibumu yang menceritakannya"


Aku hanya ber "o" ria dengan jawaban Drey. Sepertinya ibuku sudah bicara banyak tentang keluargaku pada Drey.


Membicarakan ibu, tiba-tiba aku teringat pada pesan Mona barusan,


"...Ibu juga titip pesan, calon menantunya dibawa sekalian ya?"


Aku segera melihat ke arah Drey. Apa itu artinya aku harus membawa dia pulang ke rumah?

__ADS_1


******


Mona tidak suka statusnya sebagai kakakku dibuka pada publik. Dia terlalu pemalu, dan ingin menjalani kehidupan normal yang tenang. Tidak ingin juga memanfaatkan popularitasku. Karena itu aku yakin, kedatanganku di pernikahannya akan mengejutkan banyak orang. Ini malah ibuku meminta Drey juga ikut. Orang-orang mungkin pingsan melihatnya. Drey cukup populer di Indonesia. Ada banyak fans seperti ayahku di sana.


Aku sudah berkali-kali mencoba menghubungi keluargaku, melakukan negoisasi agar membatalkan rencana ini. Namun mereka sepertinya kompak menolak panggilan atau pesan dariku. Mau tak mau aku harus betulan membawa Drey pulang.


Masalahnya, apa Drey mau ikut?


Aku tidak ingin dia pergi dengan terpaksa karena tidak bisa menolak permintaan ibuku.


Aku menatap Drey yang sedang sibuk melihat klasemen liga. Minggu ini adalah yang tersibuk baginya karena menjadi minggu terakhir musim pertandingan. Artinya juara musim akan ditentukan pada minggu ini. Tim Drey adalah salah satu yang berpeluang menjadi pemenang, tergantung pada hasil pertandingan terakhir mereka.


Kalau saja pertandingan dilangsungkan sampai minggu depan, aku bisa memiliki alasan tidak mengajak Drey.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?"


Aku gelagapan saat Drey bertanya padaku.


"Huh? Tidak"


Kelitku.


"Kau melihatku dengan sangat tajam, seperti ada laser keluar dari sana"


Ledek Drey.


"Bagaimana peluang timmu menjadi juara?"


Aku segera mengalihkan topik pembicaraan. Saat ini, aku belum berani membicarakan pernikahan kakakku dengan Drey. Khawatir dengan reaksinya nanti. Bagaimana kalau dia langsung menolak?


"Hm... Bagus, walau kami punya lawan yang sulit di pertandingan terakhir, tetapi berakhir seri..."


Aku tidak terlalu mendengarkan sisa jawaban Drey. Dia kalau sudah melakukan analisa pertandingan, pasti jadi panjang lebar.


Sepertinya aku harus segera mencari waktu untuk membicarakan kepulangan ke Indonesia dengan Drey.


******


"Hm... Yah, tidak masalah. Asal kau tidak libur terlalu lama"


Jawab Daniel. Aku memintanya mengosongkan semua jadwalku minggu depan agar bisa menghadiri pernikahan kakakku dengan tenang.


"Apa aku perlu ikut?"


Tanya Daniel.


"Untuk apa? Kau juga tidak kenal kakakku"


Tolakku cepat.


"Tapi dia kan kakakmu. Jika dia keluargamu, maka artinya dia adalah keluargaku. Sudah seharusnya aku datang melihat pernikahannya"


Aku sudah berpengalaman dengan tingkah Daniel. Kali ini tidak mau jatuh dua kali dalam rayuannya.


"Apa kau akan mengajak Drey juga. Minggu depan kompetisinya sudah selesai bukan?"


Daniel mengingatkanku lagi pada hal itu.


"Apa dia mau ikut denganku?"


Tanyaku ragu. Daniel menatapku lama.


"Ya, terima saja kalau dia menolakmu"


Jawab Daniel enteng. Bukannya menghiburku, dia malah menjatuhkan harapanku. Manajer macam apa sebenarnya dia?


"Kenapa dengan wajahmu? Kau seperti orang yang akan menghadiri pemakaman"


Komentar Daniel setengah meledek. Dia bicara dengan begitu mudah meskipun baru saja membuatku pesimis. Daniel sepertinya harus belajar mengerem kata-katanya. Kalau sudah bicara, rasanya sepedas jalapeno.


"Maaf, aku terlambat"


Kedatangan Lara memotong pembicaraanku dengan Drey. Dia tampak ngos ngosan. Hari ini kami bertiga berjanji untuk pergi bersama ke pertandingan Drey.


"Mau istirahat dulu atau langsung pergi?"


Tanyaku. Lara memberi kode agar kami langsung berangkat. Jadi tanpa membuang waktu, kami segera menuju ke mobil.


Di perjalanan, tanpa bertanya padaku Daniel menceritakan mengenai keraguanku. Mengundang Drey atau tidak. Entah aku harus berterima kasih pada mulut ember Daniel atau tidak. Berkat dia, aku jadi memiliki kesempatan untuk mendengarkan pendapat pesimis lainnya.


"Setahuku Drey selalu menolak ajakan setiap wanita yang dikencaninya untuk datang ke rumah bertemu keluarga"


Aku terhenyak dengan jawaban Lara. Drey memang sudah bertemu keluargaku, tetapi itu karena keluarga ku mendadak datang kemari. Mungkin berbeda cerita kalau aku yang mengajaknya.


"Sudah, menyerah saja"


Celetuk Daniel. Aku bisa melihat senyum mengejek di wajahnya.


"Bicarakan lebih dulu saja"


Sergah Lara sambil menyikut Daniel.


"Drey tidak pernah serius dengan wanita-wanita itu. Bertemu keluarga hanya akan membuat hubungan menjadi rumit. Tapi kan Drey serius denganmu. Dia mungkin akan senang sekali saat kau mengundangnya"


"Ah...benar juga! Kan aku tidak ikut, artinya tidak ada yang menjagamu. Bilang saja kau butuh seseorang sebagai penjaga"


Kali ini Daniel malah ikut-ikutan menyemangatiku. Aku hanya bisa diam, belum terlalu yakin akan mengikuti saran siapa.

__ADS_1


*****


Hari berlalu dan aku belum memiliki kesempatan menanyai Drey. Dia sibuk dengan pertandingan, sedangkan aku harus menyelesaikan pekerjaan yang akan ku tinggalkan minggu depan. Kami jadi jarang bertemu. Mungkin juga karena aku yang terlalu lama merangkai kata.


Aku memeriksa isi tasku, meneliti jenis barang yang terlihat di sana untuk memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal. Daniel sudah duluan turun dari mobil, dan membuka pintu untukku.


Aku langsung terburu-buru untuk masuk ke studio saat Daniel mengatakan bahwa tiga puluh menit lagi pemotretan akan dimulai. Seorang staff bahkan sudah menungguku dan langsung mengarahkan ke set.


Saat aku sampai di ruang ganti, Drey sudah di sana bermain ponselnya. Dia sudah dalam keadaan siap. Kami hanya sempat bertukar senyum karena aku harus segera dirias. Setelah aku siap, kami juga langsung digiring menuju lokasi pemotretan.


Hari ini kami akan melakukan pemotretan untuk baju koleksi musim panas. Setelah kesuksesan kerja sama musim semi, brand ini memutuskan mengontrak kami lagi. Tidak seperti pemotretan pertama, kali ini aku sudah tidak gugup dan canggung berpose dengan Drey.


"Aku merindukanmu"


Bisik Drey di sela pose pemotretan. Rasanya memang sudah lama sejak kami bertemu dan berdekatan seperti ini. Namun Drey ternyata punya nyali juga bicara begitu di saat bekerja. Dia niat menggodaku atau bagaimana?


"Selamat untuk timmu sebagai juara musim ini"


Aku tak mau kalah dengannya. Bisa ku lihat seulas senyum di wajahnya.


"Terlalu cepat. Aku masih punya sisa satu pertandingan lagi"


"Tim rival hanya bermain imbang kan? Meskipun kalah, poin kalian masih lebih banyak"


"Hm... Kau sudah banyak belajar ternyata"


Aku meringis dengan pujian Drey.


"Good, next item!"


Kami mendapat instruksi untuk segera berganti pakaian selanjutnya. Drey dan aku langsung berpisah menemui stylist kami masing-masing.


"Apa kau makan dan tidur dengan baik?"


Tanya Drey. Kami melanjutkan obrolan kami lagi saat kembali ke depan kamera.


"Kenapa? Apa aku kelihatan tidak sehat? Apa kantung mataku terlihat?"


Tanyaku balik dengan khawatir.


"Bukan. Aku hanya khawatir kau tidak bisa makan dan tidur dengan baik hanya karena jarang melihatku"


Dasar Drey! Dia masih punya waktu menggombal. Pasti sekarang wajahku sedang tersipu. Namun membicarakan tentang itu, aku memang banyak pikiran akhir-akhir ini. Terutama tentang pernikahan kakakku dan bagaimana cara mengatakan pada Drey untuk ikut denganku.


"Aku bingung harus membelikan hadiah apa untuk Mona"


Aku memancing Drey untuk membicarakan acara itu. Kami tidak punya banyak waktu bertemu, jadi aku harus memanfaatkan momen ini dengan baik.


"Aku juga perlu memberi hadiah ya? Apa Kita iuran saja?"


Gumam Drey. Aku tertawa mendengar kata iuran dari Drey. Ternyata dia punya pikiran ekonomis juga.


"Kita belikan rumah atau mobil"


Tambah Drey. Aku langsung menggelengkan kepala dengan cepat. Itu sih tidak ekonomis. Orang tuaku akan sangat marah jika Drey sampai membelikan hadiah semahal itu. Bisa-bisa aku dianggap melakukan pemerasan.


Kalau untuk kakakku cukup belikan barang kecil, tetapi ber-merk. Orang tuaku juga tidak akan protes.


"Back hug pose, sambil menampilkan sideline kalian"


Pembicaraan kami disela lagi. Saat fotografer memberikan instruksinya untuk pose kami. Dengan cepat, Drey bergerak ke belakangku untuk memeluk dari sana.


Aku sudah siap dengan ekspresiku,


"Jadi kapan Kita akan berangkat? Apa kau sudah membeli tiketnya?"


Bisik Drey, tepat di telingaku. Tak ayal aku langsung menoleh padanya.


Kita?


Menyadari bahwa kami masih di set, dan barusan kamera menjepret kami ketika aku menoleh, aku langsung  minta maaf. Sudah mengacaukan satu jepretan itu.


"Apa maksudmu? Kita? Kau akan pergi denganku?"


Tanyaku setelah keadaan memungkinkan untuk kami bicara.


"Tentu saja. Kenapa? Kau tidak ingin aku ikut?"


"Bukan begitu. Ku pikir malah kau yang akan keberatan jika aku memintamu menemaniku pulang"


Drey tersenyum. Saat itu kami harus berpose saling menatap satu sama lain.


"Tentu aku ingin melihat tempat di mana wanita yang kucintai lahir dan dibesarkan"


Sebuah senyum malu keluar dari bibirku tanpa bisa ku tahan. Sepertinya aku terlalu banyak berpikir. Ternyata Drey semudah itu mengatakan akan pergi denganku.


******


Aku menatap malu pada layar monitor. Kami sedang memeriksa hasil jepretan Hari ini. Paling membuatku malu adalah saat aku tiba-tiba menoleh. Si fotografer menyebutnya sebagai foto paling "epic" hari ini. Wajahku kelihatan natural sekali saat terkejut campur bingung. Membuat siapapun yang melihatnya tertawa.


Kalau aku tahu ibuku sudah mengundang Drey secara pribadi, aku tidak akan kepikiran sampai seperti ini.


"Boleh aku memintanya?"


Ujar Drey menunjuk pada foto "epic" itu. Kelihatan senyum lebar dan puas di wajahnya. Dia pasti berniat menyimpannya untuk menggodaku nanti.


"Dreeyyy...!!!"

__ADS_1


Dasar pria ini. Dia harusnya bicara padaku lebih awal kalau akan ikut ke Indonesia.


__ADS_2