Sugar

Sugar
Confession


__ADS_3

What a plot twist you were


(Faraway)




Aku melupakan semua rencana masak ataupun rambut yang masih basah. Tetap duduk di sofa depan TV. Dengan sabar menunggu semua iklan itu selesai. Hingga kemudian acaranya kembali ditayangkan.



Mereka melanjutkan pembahasan tentang aku dan Casey. Kali ini memberikan alasannya. Ada video interview  Casey yang mungkin berhubungan dengan promosi film barunya. Di sana dengan jelas dia menjawab pertanyaan reporter mengenai hubungan Casey denganku.



Jawaban Casey-lah yang membuat kami berada di separuh segmen infotainment ini. Secara jelas, dia mengatakan bahwa kami sudah putus.



Aku terhenyak. Ada rasa jengkel di hatiku. Bukan dengan alasan bahwa hubungan kami resmi berakhir setelah diumumkan pada publik. Tetapi sikap Casey yang baru mengatakannya sekarang. 2 bulan yang lalu, saat film ku dirilis Casey bersikukuh untuk merahasiakan masalah ini dengan berbagai alasan. Imbasnya, aku selalu bingung dan mati kutu saat dikejar reporter mengenai pertanyaan itu. dia bahkan mengatakan kalau tidak ingin ada berita tentang hubungan mereka karena tidak ingin dianggap menggunakan gosip pribadi untuk promosi film.



Lalu ini apa?



Aku tahu, Casey pasti tidak tahan dengan banyaknya pertanyaan mengenai diriku. dia mungkin lelah kalau harus terus-terusan mencari alasan. Bisa jadi juga pertanyaan tentang kami hanya memantik luka untuknya. Dengan sifat Casey, dia tidak akan mau dirugikan oleh hal semacam ini. maka dia membuat keputusan untuk membiarkan orang tahu kebenarannya.



Begitulah aku mencoba berpikir positif. Pikiran seperti itu lebih baik daripada jika Casey memang menggunakan ini untuk membantu promosi filmnya. Karena jika ini hanya demi film-nya, itu akan membuatnya semakin kejam di mataku.



Aku hanya bisa menggigit bibir. Apapun alasannya, Casey sudah berbuat curang. Dia membiarkanku merasakan kesulitan sejak putus 3 bulan yang lalu. Karena berusaha untuk move on di tengah padatnya pekerjaan sambil berbohong tentang pacar yang sudah putus. Dan dia malah memilih melarikan diri.



Sekarang aku bisa melihat bahwa hari-hari libur yang harusnya kuisi kegiatan menyenangkan akan mulai berantakan. Setelah dia membuat berita tentang kami, reporter akan kembali mengejarku. Mencoba menggali jawaban yang sebenarnya tidak ada. Paling tidak untuk 2 minggu ke depan atau sampai ada berita menghebohkan yang lain.



Benar saja, baru beberapa menit berita itu ditayangkan, sosmed ku langsung dibanjiri komentar atau pesan. Banyak dari fans kami mengidolakan hubungan itu. Tentu mereka kecewa dengan kabar perpisahan ini.



Ponsel yang tadinya sudah kuabaikan kini kumatikan.



**********************


Aku batal memasak dan akhirnya menikmati mie instan sambil menonton film sendirian. Sejak melihat berita tadi pagi, aku sudah kehilangan selera pada apapun. saat ini bagiku, yang penting makan, yang penting melakukan sesuatu. Mungkin seperti zombie di film yang sedang kutonton ini. padahal ratingnya bagus, tetapi tidak satupun ceritanya masuk ke dalam otakku yang sudah kehilangan fokus ini.



Seseorang menekan bel Dan menghentikan aktivitasku Kali ini. Sedikit malas aku beranjak. Daniel memberitahuku bahwa dia mungkin Akan mampir kemari. Ingin menghindar juga dari para wartawan yang datang. Jadi tanpa ragu kubuka pintuku.



Aku membeku untuk kedua Kali. Mungkin aku harus menghentikan kebiasaanku membuka pintu dengan mudah. Karena lagi-lagi Drey yang sedang berdiri di Sana. Dan lagi-lagi aku sedang dalam tampilan yang super berantakan.



"Ada apa?"



Tanyaku secara cepat. Kali ini aku harus bersikap dingin. Aku harus dengan tegas menolak kesayangannya.



"Aku ingin melihatmu sebelum kembali ke Madrid"



Ugh! Drey sungguh pintar membuat jantungku berdetak Tak karuan.



"Kau sudah Melihatku"



Meski mencoba mengusirnya, namun suaraku mulai terdengar penuh keraguan. Aku takut bersikap terlalu tidak sopan pada Tamu.



Di luar dugaan, Drey hanya menanggapinya dengan senyuman.



"Yah, sepertinya kau sudah lebih baik dari kemarin. Apa patah hatimu sudah sembuh?"



Hanya satu pertanyaan Dan aku langsung bungkam. Dia pasti sudah mendengar berita. Lalu menghubungkannya dengan tangisku kemarin. Rasa malu mendadak menyergapku. Mungkin wajahku cukup merah sekarang menahannya.



Drey benar-benar bukan orang yang bisa kulawan. Tanpa menunggu lebih lama, dia langsung ngeloyor masuk ke dalam.



"Harusnya aku membawakanmu makanan"



Komentar Drey begitu masuk. Aku langsung teringat mie instan yang kutinggal di atas meja.



Aku berlari, Dan membereskan selurug meja dengan terburu-buru. Hingga bisa mendengar Drey tertawa kecil.



Aku melarikan diri ke dapur, merutuk diriku di Sana. Aku tidak suka Cara Drey yang masuk ke dalam hidupku seenaknya, tetapi aku juga tidak suka kecerobohanku sendiri membiarkan dia melihat semua sisi burukku.



************************



Sudah setengah jam berlalu, baik aku maupun Drey hanya diam. Hanya Ada suara teriakan dari film zombie yang kutonton tadi.



Aku terlalu canggung memulai pembicaraan Dan berpura-pura terlarut dalam film itu. Entah dengan Drey. Tidak mungkin Kan dia datang kemari hanya menumpang untuk menonton film?



Sebenarnya Ada banyak Hal yang ingin kutanyakan pada Drey. Kenapa dia ada di LA? Kenapa dia datang ke rumahku? Atau aku ingin meminta dia melupakan Hal memalukan yang terjadi kemarin. Kalau perlu Hari ini Dan seterusnya. Aku tidak mau menjadi wanita paling memalukan yang pernah dia temui.



Tetapi seperti yang terjadi dengan semua pertanyaanku sebelumnya. Dia mungkin Akan menjawab sambil menggoda. Yang akhirnya aku hanya Akan lebih malu. Jadi lebih baik aku diam.



Tak lama, film yang kami tonton usai sudah. Drey masih belum bicara. Membuatku tidak tahan dengan kesunyian ini.



"Sebenarnya Ada urusan apa kau kemari?"

__ADS_1



Tanyaku Tanpa basa basi. Bukannya menjawab, Drey malah tersenyum. Seolah mengejek. Bahwa akhirnya aku yang lebih dulu bertanya.



Hatiku sebenarnya ciut. Namun aku sudah bertekad untuk terlihat tegas kali ini.



"Aku sudah menjawabnya, aku ingin melihatmu"



"Untuk apa Melihatku?"



"Apakah aku butuh alasan untuk melihat gadis yang membuatku tertarik?"



Damn him!



Drey benar-benar membuat perasaanku diaduk. Aku sampai harus memalingkan wajahku. Takut terjebak oleh tatapan matanya yang menawan itu.



"Aku tidak tahu bagaimana kau menilaiku. Tetapi aku tidak sama dengan semua wanita yang pernah kau kencani"



Ujarku sedikit kejam. Dalam otakku terbayang wajah para wanita yang  termakan oleh rayuannya. Dan aku tidak suka menjadi salah satu dari mereka.



Tanpa kusangka, dia menarik lenganku dengan cepat hingga aku jatuh dalam pelukannya. Kali ini lebih dekat daripada saat di Madrid. Hampir tidak Ada batas di antara kami.



Aku sebenarnya cukup punya kekuatan untuk melawan pria. Karena bermain di film action, aku pernah belajar Bela diri. Jadi aku mencoba melepaskan diri darinya. Tetapi bahkan kemampuanku tidak Ada gunanya. Aku lupa bahwa Drey adalah atlet. Cengkeraman Drey sangat kuat. Lengannya yang berotot mengurungku sempurna. Hingga aku Tak bisa melakukan apapun.



Di antara kepanikanku itu, Drey bicara sambil mengunci tatapanku padanya.



"Aku tidak pernah bilang bahwa kau sama dengan wanita manapun"



Suara Drey yang berat terdengar berbisik padaku. Bersama dengan tatapannya yang intens.



Aku bisa melihat jelas garis ketampanan Drey. Bahkan konyolnya mengaguminya. Namun, justru inilah perangkap yang sebenarnya.



"Lepaskan aku"



Ujarku setengah memohon. Drey hanya menanggapi dengan senyumannya.



"Oh God, kenapa dia diciptakan begitu sempurna?"



Rutukku dalam hati.




Tanya Drey lagi, yang Kali ini cukup mengganggu bagiku. Aku tidak suka dia mulai mencoba menginvasi privasiku. Layaknya para paparazzi di luar Sana.



"Bukan urusanmu!"



Jawabku sedikit ketus. Namun Drey masih saja menyunggingkan senyumnya. Jantungku juga Tak tahu diri, berdetak Tak karuan karenanya.



"Kalau begitu Kita Akan seperti ini sampai kau bicara"



Ancamnya. Drey seolah tidak kehabisan akal memojokkanku. Demi Tuhan, Drey adalah pria kedua yang pernah sedekat ini denganku. Meski menjadi aktris, sikap canggungku membuat aku tidak pernah menerima naskah yang mengharuskanku melakukan kontak fisik dengan pemain pria.



"Sudah tiga bulan"



Jawabku menyerah. Drey mengangkat alisnya tanda heran. Mungkin tidak menyangka bahwa aku sudah tidak lagi bersama Casey untuk waktu yang lama.



"Lepaskan aku"



Pintaku Tak lupa dengan janji Casey tadi. Tetapi dasar Drey, dia ingkar Dan malah mendekapku dengan erat.



"Kalau begitu jadilah pacarku"



Ujar Drey dengan entengnya. Kalau sedang berjalan, mungkin aku Akan tersandung. Kalau sedang makan mungkin aku Akan tersedak. Mendengar pernyataan yang begitu mudah dari Drey.



Tanpa pendahuluan, Tanpa kata cinta, dia langsung mengatakan apa yang dia mau. Seolah sedang membuat lelucon.



Otakku menyuruhku untuk menamparnya. Tetapi hatiku menahannya. Hingga aku hanya bisa menatap Mata biru Drey. Dan sungguh, aku berharap punya kemampuan super bisa membaca pikiranku orang. Hanya untuk melihat apa isi otak Drey.



Ini adalah situasi paling mengerikan Dan pernyataan cinta Paling tidak romantis. Namun sukses mempengaruhiku. Aku tidak tahu perasaan apa yang sedang bergejolak dalam diriku. Apakah aku takut pada perlakuannya yang memaksa atau justru takut pada pesonanya.



Untungnya aku bisa mengendalikan diri. Drey datang di saat Paling tidak tepat. Saat hatiku sedang mencoba menyembuhkan dirinya. Saat aku ingin menutup rapat pintu hatiku dari mahluk bernama pria.



"Apa ini lelucon? Apa kau sedang melecehkanku?"



Tanyaku sedikit dingin. Aku harus bisa melindungi diriku. Terutama setelah melihat Drey yang bicara dengan mudah padaku.


__ADS_1


Untuk beberapa lama Drey tidak bereaksi, tetapi sepertinya menyadari bahwa aku serius. Diapun akhirnya melepaskan pelukannya.



Aku segera menjauh dari Drey. Mencoba mengendalikan diri Dan detak jantungku. Sebelum dengan terang-terangan mengusirnya.



"Kalau sudah tidak Ada yang ingin kau sampaikan, sebaiknya kau pergi. Aku bukan gadis kesepian yang membutuhkan hiburan semacam ini"



Aku berharap Drey memahami maksud perkataanku. Aku menolaknya sekarang Dan di Masa depan. Tetapi si Cassanova itu justru memberikan tanggapan berbeda.



"Kau Akan segera mengatakan iya padaku"



****************************


I know I have a fickle heart and a bitterness


And a wandering eye, and a heaviness in my head


But don't you remember, don't you remember?


The reason you loved me before


Baby please remember me once more..



Lagu Adele mengalun keras memenuhi ruang kerjaku. Dengan volume speaker hampir maksimal, beat nya terasa menabuh jantungku. Akhir-akhir ini menjadi lagu favoritku. Dari pagi sampai malam selalu terdengar. Dan aku Akan ikut menyanyikannya seolah sedang mengatakannya langsung di depan Casey.



Mataku tak lepas dari layar laptop. Ada banyak e-mail yang dikirim oleh Daniel dan harus segera kuperiksa. Sudah 3 hari berlalu sejak pengumuman dari Casey heboh diberitakan. Seperti perkiraan, para pemburu berita mengejarku. Sehingga aku memilih tidak keluar apartemen, dan mematikan ponsel. Hal yang sama juga dialami Daniel. Dia tidak bisa mendatangiku, karena para reporter sudah mencegatnya di jalan-jalan menuju apartemenku. Praktis, sekarang kami menggunakan jasa surel untuk membicarakan pekerjaan.



Tidak hanya reporter, para fans juga ikut ribut di luar sana. Berita ini bahkan menjadi trending di salah satu media sosial. Sejak itu Tak henti fans menyerbu media sosialku. Patah hati bagi seorang selebriti sudah bukan menjadi urusan pribadi. Ini menjadi urusan semua orang yang peduli. Mendadak semua memposisikan diri menjadi aku Dan Casey.



Tidak mungkin bagiku menjawab semua itu. Sehingga Aku memilih fokus pada pekerjaan. Ada undangan pesta dari James Park. Sepertinya untuk merayakan ulang tahunnya. Yang jelas aku harus datang. Dia sudah banyak berjasa padaku.



Selain itu Ada tawaran film juga untukku. pemeran utama pula, walaupun harus melalui casting, tetapi itu ditawarkan langsung oleh sutradara-nya. Ini adalah tawaran film bergenre drama romantis pertamaku.



Aku membaca sedikit isi ringkasan naskah yang dikirim Daniel. Sejujurnya aku suka hal-hal berbau romantis. Ini adalah fantasi setiap wanita.



"Aku tidak pernah bilang bahwa kau sama dengan wanita manapun"



Mendadak kata-kata Drey beberapa Hari yang lalu itu terbayang di benakku.



Sejak kedatangannya di apartemenku, Drey selalu menggangguku. muncul di setiap pikiranku.



"Kalau begitu jadilah pacarku"



Damn him! Padahal aku sudah meyakinkan diriku, aku mungkin terbawa perasaan karena sedang patah hati. Sedang mencoba mencari pelarian. Tetapi hatiku tidak mampu mengabaikan dia.



Terkadang sempat Ada pemikiran, bagaimana seandainya aku menerimanya waktu itu? Saat kesadaranku kembali, berusaha kutepis pemikiran itu.



Seperti sekarang ini, tanganku sudah menutup email dari Daniel Dan bergerak membuka browser. Kuketik nama "Drey Charleville" disana. Berharap menemukan sesuatu.



Niatku hanya ingin mencari sesuatu tentang dia. Berbagai informasi yang mungkin membantuku mengenal Drey lebih jauh. Namun seharusnya aku menuruti akal sehatku. Tidak harusnya ingin tahu lebih banyak tentang pria Cassanova itu.



Aku tahu dia telah berkencan dengan banyak wanita. Semuanya adalah selebritis, sehingga beritanya mudah ditemukan. Tetapi yang membuat aku menyesali tindakanku Kali ini adalah berita terbaru tentang Drey. Terpampang Paling atas bersanding dengan berita perpisahanku dengan Casey.



"Drey Charleville Dan Sofia Vyalitsyna, berlibur bersama ke California"



Headline dari berita itu. Jelas Ada foto mereka berdua berjalan bersama di bandara. Tertinggal 3 Hari yang lalu, artinya saat Drey datang ke apartemenku.



Aku langsung menutup berita itu Tanpa membacanya. Hanya Akan membuatku semakin menyedihkan. Sekarang aku tahu alasan Drey datang ke LA. Dia mungkin sedang berkencan dengan model Rusia itu lalu menemuiku karena sedang mencari sesuatu untuk dipermainkan.



Segala pemikiran untuk menerima Drey langsung kuhapus. Aku benar. semua pria sama. Meski dengan kepribadian berbeda, merekapun bisa melukaiku dengan Cara yang berbeda Pula.



********************************



Berita tentang aku Dan Casey sudah mulai mereda setelah hampir 1 minggu berlalu. Baru-baru ini pembicaraan lebih banyak menyorot film Casey, yang mendapat banyak pujian. Sehingga aku bisa sedikit bergerak bebas sekarang.



Bersama Daniel, aku memenuhi undangan pesta James Park. Surutnya pemberitaan mengenai aku Dan Casey tentu sedikit melegakan, karena banyak reporter yang juga diundang ke pesta ini. Aku juga tidak perlu khawatir bertemu Casey. Dia sibuk dengan promosi filmnya Dan tidak bisa hadir. Begitu yang dikatakan Daniel saat kuminta mencari informasi lewat manajernya. Bayangkan betapa canggungnya aku jika bertemu dengan Casey nanti.



"Apa ekspresiku terlihat baik?"



Tanyaku cemas pada Daniel. Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama aku kembali muncul di depan publik setelah kabar buruk. Sehingga aku ingin terlihat bahagia.



"Perfect"



Jawab Daniel singkat.



Setelah memastikan aku terlihat baik-baik saja, kami menemui langsung James. Aku ingin mengucapkan selamat padanya.



James sudah melambaikan tangannya Melihatku dari kejauhan. Aku juga spontan menjawabnya. Dan bergegas menghampirinya. Tetapi senyum di wajahku langsung pupus bersamaan dengan langkah kakiku yang terhenti. Saat aku melihat si Cassanova sedang berdiri di samping James. Sedang tersenyum juga padaku.



Sudah tidak mungkin bagiku berjalan mundur.

__ADS_1



__ADS_2