
Aku tersenyum sendiri membaca komentar para fans di unggahanku. Banyak mereka yang merasa gemas pada hubunganku Dan Drey. Terlalu manis menurut mereka. Ini memang pertama kalinya aku menggunakan sosmed untuk menunjukkan begitu banyak kehidupan pribadiku.
Sebenarnya bukan bertujuan untuk mendapat simpati. Hanya saja aku masih tidak bisa mengungkapkan perasaanku secara Langsung pada Drey. Sebagian hatiku masih merasa takut.
Kenapa?
Aku belum yakin apakah aku sudah jatuh cinta pada Drey atau aku hanya merasa tertarik karena dia memberikan banyak Hal yang tidak pernah kudapatkan. Dia mengakui segala sifat burukku, membanjiriku dengan perhatian, menjadi sosok kakak Dan teman. Semua yang tidak pernah kudapatkan saat bersama Casey. Aku takut ini semua hanya disebabkan oleh diriku yang Haus Akan kasih sayang saja.
Alasan lainnya, karena aku tidak tahu bagaimana perasaan Drey padaku. Hingga detik ini, Drey tidak pernah mengatakan dia mencintaiku. Hanya Rasa ketertarikan karena dia butuh gadis menantang sepertiku untuk ditaklukkan. Dia bahkan tidak membiarkan aku masuk dalam kehidupannya.
Jika aku mengakui perasaanku padanya, aku takut Drey Akan selesai denganku. Dia mungkin Akan merasa aku tidak lagi menantang lalu meninggalkanku. Karena itu aku tidak bisa jatuh cinta padanya atau aku akan merasakan patah hati lagi. Lebih buruk dari yang diberikan Casey.
Setelah memikirkan semua itu, kegembiraanku langsung musnah. Aku akhirnya mengakhiri acara membacaku, lalu menutup ponsel.
Aku menatap langit-langit kamar. Biasanya saat suasana hatiku sedang buruk, begini caraku menenangkan hatiku. Karena tidak mungkin memandang langit luar. Ini musim dingin, yang Ada aku bisa beku.
Tapi langit-langit kamar ini masih kosong. Hanya berwarna putih Tanpa apapun. Berbeda dengan yang Ada di kamar apartemenku yang sudah kumodifikasi. Jadi, aku cepat bosan menatapnya. Akhirnya Aku turun dari ranjang, berharap Ada sesuatu yang menarik di luar Sana. Lagipula Lara Dan Daniel belum pulang. Mungkin aku bisa bicara pada mereka.
"Cklek...cklek.."
Pintuku tidak bisa dibuka. Kucoba lagi. Beberapa kalipun aku mencoba untuk menarik pegangannya, sama sekali tidak bergeming. Padahal tadi tidak apa-apa saat Drey masuk.
Aku langsung panik. Segera kucari kunci pintu. Seingatku kuletakkan di Laci nakas. Tetapi kunci itupun tidak Ada. Tidak lucu jika aku terkunci di sini.
Akhirnya aku menggedor pintu sambil berteriak. Berharap Lara atau Daniel yang Ada di bawah bisa mendengarku. Hingga beberapa lama, tidak Ada jawaban. Dari tadi memang anehnya aku tidak mendengar suara mereka. Biasanya Dua orang itu berisik.
Rasanya seperti aku sedang Syuting film horor bagian kedua. Hanya saja setelah yang kemarin, aku sudah tidak terlalu merasa takut. Paling Ada yang iseng.
Karena gedoranku tidak bekerja, aku mencoba lewat balkon. Aku berteriak memanggil Lara Dan Daniel. Namun baru beberapa Kali, terpaan angin membuatku membeku, jadi aku memutuskan menyerah Dan masuk ke dalam.
Aku curiga Daniel yang sedang menjahiliku. Dia selalu seperti itu. Daniel punya sifat kekanakan yang luar biasa. Aku pernah seharian tidak bisa masuk kamar hotelku karena Daniel menyembunyikan kunciku. Jadi aku memutuskan untuk menunggu.
1 jam..
2 jam..
4 jam berlalu,
Tidak Ada yang datang. Sekedar memeriksaku atau mengetuk pintu. Padahal lamat-lamat aku sempat mendengar suara Daniel Dan Lara di bawah Sana.
Aku juga baru sadar, Setelah Drey pergi, Lara sempat masuk. Dia membawakan banyak makanan agar aku tidak perlu turun. Karena aku sempat mengeluh tubuhku kembali nyeri. Jadi semua yang kubutuhkan mulai dari makanan, camilan, minuman, dan obatku sudah tersedia. Seakan memang sengaja diletakkan di sana.
Maka barulah aku betulan panik. Ini tidak lagi lucu walaupun sekedar iseng. Aku sedang sakit.
Sepertinya percuma menggedor pintu, jadi aku mencoba menghubungi nomor Daniel dan Lara. Sepertinya mereka sepakat untuk tidak menjawabnya. Jadi hanya Ada satu cara tersisa untuk kulakukan.
Mengirim pesan SOS pada Drey.
*********************************
Aku bosan menunggu Ada yang membuka pintu. Sepertinya aku sudah tidak lagi tertarik pada kesendirian. Drey benar-benar sudah mengubah duniaku. Padahal biasanya aku malah memilih tidak Akan keluar dari kamarku.
Waktu makan siang sudah lewat Dan aku mulai merasa lapar. Untungnya Lara sudah menyiapkan makanan di mejaku. Daripada bosan lebih baik aku bersantap ria saja.
Rasanya dunia ini menjadi indah karena sakitku. Aku bisa merasakan lezatnya makanan lagi. Aku tidak perlu pusing dengan yang namanya diet atau timbangan. Makan semua yang aku inginkan. Se-kenyangku. Karena sedang tidak Ada siapa-siapa, aku bahkan makan dengan tanganku. Kebiasaan dulu saat di Indonesia.
"Brakk..."
Suara pintuku dibuka dengan keras membuatku hampir tersedak ayam yang sedang kugigit.
"Sugar, kau kenapa?"
__ADS_1
Tanya Drey dengan wajah cemas. Kelihatan sekali dia habis berlari. Keringat mengucur di dahinya. Dan nafasnya terengah-engah.
Sebaliknya aku hanya terbengong menatapnya. Duduk dengan satu kaki diangkat ke atas. Tangan kanan Dan Kiri memegang paha ayam. Kami berdua kemudian bertatapan cukup lama. Sama-sama bingung. Awalnya aku lupa kenapa Drey datang dengan begitu panik.
Ah... Pesan SOS ku. Baru aku ingat.
Aku yang tersadar duluan, segera menaruh ayam di tanganku lalu berlari ke kamar mandi. Maksudku adalah mencuci tanganku, ternyata saat aku bercermin bibirku juga cemong oleh saus dari ayam.
Ah... Malu sekali rasanya. Aku tidak tahu jika Drey Akan datang dengan begitu dramatis.
Usai memastikan bahwa wajah Dan tanganku bersih, aku keluar malu-malu dari kamar Mandi. Saat itu Drey sedang duduk di ranjangku. Dengan tatapan serius. Aku takut jika dia marah.
"Kau membuatku takut sekali dengan isi pesanmu. Apa kau baik-baik saja?"
Drey justru bertanya dengan nada lembut Dan penuh Rasa cemas di dalamnya.
Aku jadi merasa bersalah sekali. Drey pasti secepat kilat kemari. Dia bahkan pulang masih dengan pakaian latihannya.
"Maaf.."
Ujarku sambil tertunduk lesu. Aku bahkan tidak berani menatap Drey. Aku merasa seperti sudah membohonginya dengan pesan lebay ku. Saat dia panik aku malah asyik makan di sini.
Drey melangkah ke arahku. Langsung memelukku Dan mengecup puncak kepalaku.
"Yang penting kau baik-baik saja"
Ujarnya. Saat itu aku ingin sekali melihat seperti apa ekspresi Drey saat mengatakannya. Tetapi aku lebih memilih menyembunyikan wajahku dalam pelukannya. Takut wajahku yang merona bahagia ini ketahuan olehnya.
Menyadari bahwa Drey secepat kilat datang padaku saat aku butuh bantuan, kembali membuaiku. Hatiku berdesir Tanpa bisa kutahan. Semakin banyak aku mendengar kata-kata manis Drey, perlahan aku Akan semakin menyukainya.
Namun kemudian Drey tiba-tiba melepaskan pelukannya Dan berdiri sedikit menjauh dariku. Hanya memegang kedua bahuku. Membuatku kecewa. Aku belum puas dipeluknya.
Tanpa perlu aku bertanya, Drey sudah menjelaskan alasannya. Sebenarnya aku ini orang yang sensitif pada bau kurang sedap, tetapi aku sama sekali tidak merasa begitu dengan Drey. Dia memang berkeringat, tetapi tidak sebau itu.
Hanya saja aku jadi mendapatkan momen yang paling langka. Drey malu. Wajahnya merona saat bicara. Sebelumnya dia tidak pernah seperti itu. Jantungku jadi berdetak Makin Tak karuan. Dasar Drey, memang godaan besar untukku.
Aku ingin sekali menikmati momen ini lebih lama. Atau mungkin menggoda Drey seperti yang biasa dia lakukan padaku saat aku malu. Tetapi aku takut malah aku yang tidak kuat sendiri.
"Tapi...kenapa pintuku dikunci?"
Tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan. Drey tidak langsung menjawab. Dia berpikir cukup lama sambil menggaruk kepalanya. Kebiasaan Drey saat dia gugup.
"Kenapa?"
Tanyaku Tak sabar. Karena dari kemarin dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Dan akhirnya Drey menyerah juga.
"Sebenarnya aku ingin membuat ini sebagai kejutan untukmu. Tapi sepertinya kau sudah penasaran.
Jawab Drey memulai ceritanya.
Daniel Dan Lara memang sengaja mengunci pintuku agar aku tidak keluar dari kamar. Mereka membantu Drey mempersiapkan kejutan itu. Karena terlalu sibuk sampai tidak mendengar saat aku meminta tolong. Drey rencananya menunjukkan kejutan itu malam ini saat Hari sudah benar-benar gelap, agar kejutannya bisa terlihat bagus.
Aku menyesal juga Setelah mendengar jawaban Drey. Rencana kejutannya gagal, Dan aku tidak Akan merasa terkejut lagi. Karena sudah ketahuan Drey pun sekalian saja menunjukkannya.
"Apa semua sudah siap?"
Tanya Drey pada Lara dan Daniel di luar. Setelah memastikan semua siap, Drey menuntunku keluar kamar.
__ADS_1
Saat aku baru keluar, tidak terlihat apa-apa. Semua gelap karena lampu dimatikan. Namun begitu aku melangkah mengikuti Drey, perlahan dari atas kepalaku mulai menyala lampu bermacam warna. Dari putih, kuning, biru Dan lainnya. satu persatu seiring dengan langkah kakiku. Terus hingga aku menuruni tangga dan berhenti di lantai bawah. Hampir seluruh ruangan bersinar seperti itu.
Kupikir aku tidak Akan terkejut lagi Saat sudah mendengar rencana Drey. Nyatanya tidak. Aku masih dibuat takjub. Ruang tengah adalah yang Paling indah. Lampu berbagai warna Dan bentuk, sebagian juga berkelap-kelip. Sangat indah karena sekarang sedang gelap. Pemandangan ini mengingatkanku pada sesuatu.
"Lara bilang kau sedih tidak bisa melihat festival Lumiere. Sekarang kau Akan bisa menikmatinya setiap Hari"
Ujar Drey. Ada sesuatu yang hangat menyeruak dalam dadaku. Sesuatu yang membuatku berdebar dan bahagia di saat yang bersamaan. Rasanya kata terima kasih saja tidak Akan cukup untuk kuberikan pada Drey.
Aku baru ingin mengatakan sesuatu pada Drey,
"Kau harus membayarku atas kerja kerasku ini. Memasang semua ini butuh kerja keras tahu"
Suara Daniel yang menyebalkan merusak momen mengharukan itu. Membuatku bungkam seketika. Sementara Drey hanya menanggapinya dengan tawa.
Saat ini Daniel sedang selonjoran di sofa ruang tengah sambil bermain ponsel. Sedangkan di sisi lainnya Lara sudah tertidur, mungkin saking lelahnya.
Aku berharap bahwa semua orang tidak Ada saat ini. Mereka membuat semua ini jadi tidak terasa romantis sama sekali. Terutama Daniel. Bayangkan saja sedang berwisata, lalu menemukan landmark bagus, ketika ingin selfie di Sana, tiba-tiba Ada orang berdiri di belakang membuat pose. Seperti itu rasanya.
Aku sudah sangat kesal. Lalu tiba-tiba Drey menarik tubuhku mendekat padanya Dan menciumku. Menghapuskan Rasa frustasiku. Awalnya aku sempat ingin berontak karena Ada Daniel di sana. Tetapi karena sofa itu membelakangi kami, dia sepertinya tidak menyadarinya. Malahan aku merasa Ada debaran aneh dalam hatiku karena Ada orang di sekitar kami. Seolah merasa tertantang. Aku makin mengeratkan pelukanku pada Drey.
Pria mesum ini sepertinya perlahan telah mengubahku menjadi gadis nakal.
*********************************
Aku mengembangkan hidungku bahagia. Aroma pizza membangkitkan rasa lapar di perutku. Lara baru saja mengeluarkannya dari microwave. Pizza sisa kemarin malam.
Sebenarnya ini tidak sehat. Sudah makanan kemarin, Memakannya untuk sarapan Pula. Tetapi Daniel punya Cara ajaib menyulapnya jadi menggiurkan. Menambahkan keju dan entah apa saja. Melihatnya saja mampu membuatku menelan ludah. Lagipula Drey sedang tidak di rumah. Dia sudah pergi tadi pagi.
Kami bertiga langsung melahap seluruh pizza itu. Ditambah dengan kentang goreng dan egg Benedict yang dibelikan Drey sebelum berangkat tadi. Kemudian mengakhirinya dengan milkshake. Sempurna.
Kami bertiga sampai tidak bisa bergerak karena kenyang. Memilih tetap duduk sambil bersantai. Lalu ngobrol tentang ini Dan itu.
Meskipun hanya hal-hal kecil, aku senang sekali. Entah kapan terakhir Kali aku bisa menikmati waktu seperti ini. Makan bersama, ngobrol santai, atau mungkin aku bahkan tidak pernah punya teman yang bisa kuajak untuk melakukannya. Aku baru tahu bahwa untuk merasa bahagia ternyata hanya membutuhkan Hal sederhana semacam ini.
Biasanya aku Akan sibuk dengan pekerjaan. Berangkat pagi, sibuk menghafalkan naskah, berlarian kesana kemari berganti adegan yang disyuting, pulang larut malam, begitu terus setiap Hari. Namun beberapa Hari ini aku bisa sedikit belajar menikmati hidupku.
Pukul sembilan tepat, Lara pamit untuk pulang. Sudah Dua hari dia menginap di sini. Hari ini Lara memiliki pekerjaan. Sedangkan Daniel yang Paling kuharapkan untuk pergi akhirnya pergi juga. Sok pamit Ada kegiatan meeting. Padahal aku tahu, dia Ada rencana kencan buta dengan teman yang dikenalkan Lara.
Setelah mereka pergi, tinggallah aku sendiri. Rumahpun berubah sepi kembali. Dan tidak bisa kupungkiri, aku tidak menyukainya lagi.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Bosan berada di kamar, dan tubuhku terkadang masih lemas jika dipakai banyak bergerak. Akhirnya aku memilih menonton film. Kebetulan Daniel membawakan banyak koleksi film baru.
Tetapi begitu kuperiksa film yang dibawakan Daniel, semuanya memiliki judul yang mencurigakan. "Warm your bed", "Frozen Leaf", "Meet Me at A.M". Bahkan semua memiliki label untuk rate usia tertentu. Sehingga aku batal menontonnya. Apapun itu, pasti tidak baik untuk gadis muda sepertiku.
Menonton acara televisi juga Akan membosankan untukku. Sampai sekarang aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan nonton dengan subtitle. Walaupun sudah fasih berbahasa inggris, aku lebih suka yang menyediakan terjemahan bahasa di dalamnya. Sedangkan tidak Ada acara televisi yang memberikan subtitle di bawahnya.
Ide terakhir yang muncul di otakku adalah menonton pertandingan sepak bola. Sebelumnya aku sudah melihat dengan Drey. Dia juga mengajariku banyak istilah professional di dalamnya. Namun aku tidak bisa fokus Dan malah memperhatikan Drey. Jadi sekarang mumpung sendirian, aku berniat untuk belajar.
Dua Hari lagi Drey Akan menjalani pertandingan resmi pertama di klub barunya. Aku sudah berniat menonton dengan Lara Dan Daniel. Tidak ingin mengulang kejadian sebelumnya, di Mana aku tersisihkan dari pembicaraan. Kali ini aku pasti bisa ngobrol dengan benar.
Begitu niatku. Tetapi layaknya siswa yang Akan belajar saat ujian, niat itu terkadang sulit mengalahkan rasa malas. Baru 20 menit pertandingan aku sudah ketiduran. Efek tidak paham isi pertandingan. Aku bahkan tidak bisa menebak di Mana posisi bola atau siapa yang sedang menendangnya.
Ketika bangun, Hari sudah sore dan siaran pertandingan itu sudah berganti acara lain. Begitu melihat jam aku langsung bangun. Sebentar lagi Drey Akan pulang, jadi aku harus tampil baik. Tidak lucu jika dia Melihat ada bekas iler di wajahku.
Aku hendak membasuh mukaku saat menemukan sebuah titik merah yang asing di dahiku. Sehingga aku mencoba melihatnya lebih jelas di cermin. Dan aku hanya bisa histeris Setelah tahu apa itu. Musuh terbesarku Setelah berat badan, jerawat.
Terdengar lebay, tetapi aku benar-benar syok luar biasa. Pikiranku langsung berkelebat cepat mencoba mengingat apa saja yang kumakan beberapa Hari ini hingga jerawat imut itu muncul. Tetapi mengingat semua makanan itu membuatku mencemaskan Hal lainnya lagi.
Dengan cepat aku mengambil timbangan untuk melihat berapa berat badanku saat ini. Dan, harusnya sudah kuperkirakan, dengan makan yang tidak terkontrol, digit belakang di timbangan itu sudah berbeda dari terakhir kali aku memeriksanya. Aku Naik Dua kilo!
Saat ini, Rasanya dunia berakhir sudah untukku.
__ADS_1