
Rasanya rumah kembali sepi setelah Sullivan dan Mutia pergi. Tidak kusangka jika aku akan merindukan suara Sullivan yang bicara tanpa henti dan senyum lembut dari Mutia secepat ini. Padahal baru tiga jam yang lalu kami berpisah. Mereka pasti sudah tidur di pesawat saat ini.
"Mau menonton film apa?"
Tanya Luna. Dia sibuk mengaduk tempat kaset film disimpan.
"Terserah"
Aku memperhatikan Luna yang kelihatan asyik sendiri. Dia lebih santai daripada aku setelah berpisah dengan orang tuanya. Mungkin karena sudah terbiasa. Dikunjungi lalu harus mengantar pergi. Sehingga Luna bisa bersikap seperti biasa.
Aku juga ingat bahwa belum mengatakan padanya soal Sullivan yang mengetahui tentang pintu. Tidak berniat menceritakannya juga. Kebahagiaan Luna bisa pupus dan mungkin akan menggila jika mengetahuinya. Luna akan diliputi rasa bersalah lebih besar dari yang kurasakan.
Luna segera memutar film setelah menemukan yang diinginkannya. Lalu segera duduk di sampingku sambil memangku beberapa kantong snack yang sudah disiapkannya. Padahal ini sudah malam. Sejak mengikuti menu dietku, Luna sudah berhenti mengerem makanannya.
Film yang diputar Luna sepertinya genre romantis. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik. Bisa saja tidur di tengah film. Romansa di dunia nyata jauh lebih menyenangkan daripada yang dilihat di film. Hanya saja, malam ini kami sedang tidak punya kerjaan dan sudah lama juga tidak menghabiskan waktu bersama.
Aku tidak terlalu fokus pada cerita film. Garis besarnya hanya tentang pria dan wanita yang dipertemukan oleh takdir, lalu rintangan menghadang, tipe film romansa pada umumnya. Beberapa Kali aku diam-diam menguap akibat bosan.
Aku hanya suka memandang Luna. Dia begitu serius memperhatikan tiap adegan. Sesekali menghela nafas, lalu memasang wajah terharu. Kadang juga tersenyum sendiri. Ekspresi dan tindakan Luna berubah dengan cepat sepanjang waktu.
Sebenarnya aku gemas sekali ingin meraihnya. Mengungkungnya dalam pelukanku. Menggelitiknya, hingga ia menangis mohon ampun. Atau cukup hanya dengan merasakan lembut kulitnya. Namun aku tidak ingin merusak kesenangannya.
Saat menonton film, Luna tidak hanya menikmatinya, tetapi juga mempelajarinya. Mengambil apapun yang bisa ia gunakan untuk mengembangkan karirnya. Sama saja seperti saat aku menonton pertandingan sepak bola.
Karena terlalu banyak berpikir, aku tidak sadar jika film telah sampai pada bagian tengah. Luna tiba-tiba menaruh jajanan di pangkuannya dan menggandeng lenganku. Ia merapatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya pada bahuku. Aku bisa melihat rona merah di pipinya.
Mataku segera bergeser ke arah layar televisi yang menjadi penyebab tingkah aneh Luna. Dua pemain utama film itu sedang memainkan adegan mesra sebagai sepasang kekasih yang di mabuk cinta. Namun terlalu panas, bahkan aku tak melakukannya dengan Luna. Refleks, kututup kedua mata Luna.
"Agh... Kenapa sih?"
Protes Luna berusaha menyingkirkan tanganku.
"Kau belum cukup umur untuk itu"
Ujarku tak mau mengalah. Kami jadi beradu kekuatan, dan tentu saja tanganku terlalu kokoh bagi Luna.
"Aku harus tahu cara mereka melakukannya. Aku mungkin akan memiliki adegan yang sama di masa depan"
Tiba-tiba ucapan Luna menyentakku. Dia benar sekali. Sebagai aktris, Luna mungkin akan melakukan adegan yang sama. Saat menyadari itu, ada api yang menyala di hatiku.
Memang kedua pemain film itu hanya bercumbu, bukannya bercinta. Namun bayangan bahwa akan ada pria lain menyentuh Luna selain aku tidak bisa kuterima. Sekarang ini bukan lagi masalah Luna boleh melihat adegan itu atau tidak.
"Aku tidak mengijinkanmu melakukan adegan semacam itu"
Ucapku tegas.
"Bagaimana bisa kau melarang? Itu sudah pekerjaanku"
"Kalau begitu berhenti saja dari pekerjaanmu"
Jawabku kesal.
"Kau saja yang berhenti jadi pemain sepak bola dan menjadi aktor agar aku tidak perlu beradu peran dengan pria lain"
Dasar Luna. Dia selalu saja membantah kata-kataku. Tanpa menyadari betapa gelisahnya hatiku.
Aku tidak ingin melanjutkan perdebatan. Mood ku menonton film juga sudah hilang. Aku segera beranjak dari dudukku. Belum sampai aku berdiri sepenuhnya, Luna sudah menarikku untuk kembali duduk.
"Kenapa lagi?"
Tanyaku masih sengit.
"Kau pasti sangat cemburu ya?"
Goda Luna sambil meringis. Dia mungkin ingin mengubah perdebatan tadi menjadi candaan. Namun aku tidak begitu. Aku serius sekali dengan ucapanku. Tidak boleh dia bermesraan dengan pria lain. Titik. Sehingga aku hanya menanggapi Luna dengan ekspresi datar.
"Drey..."
Bahkan panggilan dengan nada manja Luna tidak mempan.
"Baiklah, kalau begitu sebelum dengan orang lain, aku Akan melakukannya denganmu lebih dulu"
"Huh?! Apa ma-"
__ADS_1
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Luna sudah naik ke pangkuanku. Menghadap langsung padaku. Seperti me-reka ulang adegan yang barusan kami lihat.
Sosok Luna yang seksi terpampang jelas di depanku. Kaos pendek memperlihatkan kulit leher dan lengan yang bak porselen. Celana panjang yang telah tersingkap hingga lututnya. Serta wajah yang diliputi oleh keinginan besar. Membuatku dadaku bergemuruh tak karuan. Untung akal sehatku tidak hilang.
"Apa yang kau lakukan? Turunlah!"
Sergahku panik. Namun Luna malah melipat kedua tangannya dan menatapku penuh percaya diri.
"Kenapa? Kau tidak mau?"
Tanyanya lantang. Suara dan tatapannya sungguh mengintimidasi.
Tentu saja aku mau. Sangat menantikannya malah. Berapa lama aku harus menahan diri tidak menerkamnya? Rasanya otakku pusing dipenuhi oleh gairah. Ingin aku langsung mendekapnya. Namun akal sehatku melarangnya. Aku tahu, sekali memulainya sulit bagiku berhenti. Luna mungkin harus bermain sampai akhir.
Bukan seperti itu yang aku mau. Wanita lain tak masalah bersikap nakal begini, asal jangan Luna. Gadis ini terlalu berharga buatku. Dan lagi, orang tuanya telah menitipkan padaku agar menjaganya. Aku tidak bisa mengkhianati kepercayaan mereka.
Kutangkup kedua pipi Luna dengan tanganku. Hingga wajahnya membuat ekspresi lucu.
"Kemana perginya Luna yang gemetar saat aku mendorongnya?"
Tanyaku dengan nada menggoda. Ada semu merah terpulas di wajah Luna.
Aku tidak bisa mengatakan penolakanku dengan jelas pada Luna. Itu akan melukai harga dirinya. Yang bisa kulakukan hanya membuatnya melupakan ini dengan sukarela.
Tatapan menantang dari Luna sudah mulai memudar. Berganti dengan tatapan lembut yang malu-malu, seperti dia yang biasa.
"Aku hanya sedang bosan, sepertinya tidak ada hal mendebarkan yang baru di antara kita"
Damn her! Mengatakan kalimat nakal itu dengan wajahnya yang polos. Jika aku tidak bisa mengendalikan diri, sudah kudorong dan kukuasai dia. Namun masih kupegang erat akal sehatku.
"Kalau begitu, aku akan membuatmu merasakan pengalaman mendebarkan setelah ini"
Ujarku sekenanya. Otakku sudah tidak bisa berpikir dengan baik. Luna kemudian tersenyum dan memelukku. Merapatkan tubuhnya padaku.
"Aku menantikannya"
Bisiknya. Akhirnya aku malah menjanjikan sesuatu yang sulit padanya. Memangnya pengalaman mendebarkan apa yang bisa kuberikan padanya selain sentuhan? Namun setidaknya untuk saat ini Luna tidak melanjutkan aksinya, dan aku berhasil menyelamatkan letupan dari gairahku.
Karena terlalu fokus pada serangan mendadak Luna, aku lupa melanjutkan pembahasan mengenai pekerjaan Luna.
Setelah pemikiran panjang dan Luna yang tak henti menagih, akhirnya hari ini aku memenuhi janjiku. Menunjukkan hal mendebarkan pada Luna yang sudah sangat dinantikannya. Lagipula sebentar lagi aku harus pergi ke Spanyol untuk menjalani pertandingan. Saat ini adalah waktu yang tepat.
"Kita akan kemana? Apa yang akan Kita lakukan?"
Aku bisa melihat mata Luna berbinar-binar saat bertanya. Aku jadi khawatir tidak bisa menjawab harapannya yang setinggi langit itu.
"Nanti kau akan tahu"
Jawabku berteka-teki. Luna memonyongkan bibirnya kecewa. Namun akhirnya mengekor untuk masuk ke mobil.
Aku melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Menikmati perjalanan musim semi kami di London. Waktu berjalan terlalu cepat bagiku. Dari awal kedatangan kami di London, sudah tidak lagi terlihat tumpukan salju. Digantikan oleh kuncup bunga yang hendak mekar. Menunggu seminggu lagi, kami pasti bisa melihat indahnya London dibalut oleh warna warni bunga.
Aku mulai mengurangi kecepatan saat mobil kami memasuki salah satu jalanan terpadat di London. Bisa kuperhatikan jika Luna masih tidak tahu kemana aku Akan membawanya. Dia menatap bahagia dari balik kaca mobil.
Jejeran cafe mulai terlihat juga dan aku segera mencari tempat untuk memarkir mobil. Barulah ekspresi bahagia Luna berubah. Dia seperti terheran.
"Kenapa berhenti di sini?"
Pertanyaan yang sudah ku duga.
"Kita belum sarapan kan?"
Luna dengan cepat memegang lenganku dengan tangannya yang tegang.
"Di sini banyak sekali orang. Kita cari tempat lain saja"
Ujarnya ketar ketir.
Luna benar. Tempat yang kudatangi cukup populer untuk sarapan. Sehingga di jam segini, cukup ramai dikunjungi orang lokal maupun wisatawan. Aku tahu, bahwa ini bukan tempat yang sebaiknya didatangi selebritis seperti kami.
"Ayo turun"
Ajakku mengabaikan kata-kata Luna. Dengan cepat aku sudah membuka sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Drey, orang-orang akan melihat kita"
Tolak Luna panik. Namun aku sudah lebih dulu keluar dari mobil. Mau tak mau Luna mengikutiku.
Tak butuh waktu lama, orang-orang telah mengenali aku dan Luna. Mereka semua memperhatikan kami dengan takjub. Saat kulirik, Luna hanya menundukkan wajahnya. Sudah sedikit pucat. Berhadapan langsung dengan orang sebanyak ini saat kencan pasti membuatnya gugup. Bahkan saat aku menggenggam tangannya, aku bisa merasakan tubuh Luna kaku akibat tegang. Reaksi yang sudah kuperkirakan juga.
Aku menarik Luna untuk berjalan melewati orang-orang yang memperhatikan kami. Tak kupedulikan mereka yang sudah heboh, atau beberapa jepretan kamera ponsel yang diarahkan pada kami.
Meskipun sudah duduk di salah satu meja bagi pengunjung, Luna masih tegang. Dia tidak mengatakan sepatah katapun. Hanya menunduk melihat meja. Ia mungkin tidak nyaman dengan tatapan orang-orang.
Sudah sering kami kencan, tetapi ini yang pertama kalinya di depan publik. Jika kejadian menariknya ke batting cage tidak dihitung. Atau kencan kami di depan para rekan juga tidak dianggap. Pengalaman mendebarkan ini yang ingin kuberikan pada Luna. Mengalami kencan normal seperti orang lainnya.
Aku tahu, bahkan Casey tidak pernah memberikannya.
"Kau tegang sekali"
Tunjukku sambil meraih tangannya yang ada di atas meja. Saking gugupnya, ia kaget dengan sentuhan dariku dan hampir menarik tangannya. Namun saat akhirnya melihat mataku, Luna membiarkan tangannya berada di sana.
"Apa-apaan ini?"
Bisiknya.
"Kau ingin sesuatu yang mendebarkan, bukan?"
"Ini sih terlalu mendebarkan. Mereka tak henti mengambil foto"
Protesnya dengan wajah tidak nyaman.
"Biarkan mereka mengambil foto. Bertemu artis juga kejadian langka. Sekali-sekali kita bisa menyenangkan hati orang juga hal bagus Kan?"
Candaku. Luna hanya memutar bola matanya. Aku tahu, dia masih memiliki ketakutan pada Cara publik memandang kami. Terutama setelah tuduhan perselingkuhan di awal. Mungkin dia takut rumor Tak berdasar lain akan muncul.
Luna menjadi lebih santai setelah percakapan kami. Dia sudah mulai bisa menerima pandangan orang. Walaupun masih tegang.
Petualangan kami berlanjut. Aku meninggalkan mobil dan membawa Luna menyusuri jalanan dengan kaki. Membaur dengan pejalan kaki lainnya. Melihat pemandangan yang sulit sekali kami dapatkan dalam kehidupan sehari-hari kami.
Luna sudah bisa tersenyum pada orang-orang yang menyapanya. Walaupun masih malu-malu saat menyadari ada kamera diarahkan pada kami. Aku tahu, mereka pasti terpesona juga. Luna kelihatan jauh lebih cantik di dunia nyata.
Masalahnya Luna sedikit menjaga jarak dariku. Dia berjalan seolah aku adalah orang asing. Sehingga kupikir dia mungkin akan terpisah dariku. Jika aku berhasil menggandeng tangannya, ia pasti akan mencari alasan melepasnya. Tangannya licin sekali seperti belut.
Lama-lama aku menyerah dan berjalan sedikit di belakang agar bisa menjaganya. Sebenarnya ada banyak tempat ingin kukunjungi, tetapi mungkin tidak nyaman bagi mereka. Karena banyaknya orang mengikuti jalan kami.
Aku dan Luna terus berjalan dan akhirnya berhenti di depan beberapa pemusik jalanan yang melakukan pertunjukan bersama. Sepertinya mereka berhasil menarik perhatian Luna.
Perlahan, orang mulai berdatangan satu persatu dan ikut berkerumun menonton pertunjukan di depan kami. Hingga di akhir lagu yang dibawakannya, salah satu musisi itu berhenti dan mendekat ke arah kami. Wajahnya terlihat terharu sekali.
Dia menyapa dan mengucapkan terima kasih karena kami datang menonton mereka. Lalu melontarkan beberapa kalimat pujian. Bahkan akhirnya memberi kami hadiah.
Para pemusik jalanan itu mempersembahkan lagu untuk kami. Mereka memainkan lagu cinta yang sedang populer. Kulihat Luna bisa menikmati itu. Dia sedikit menggoyangkan kepalanya mengikuti irama musik.
Aku juga mulai menikmati alunan indah perpaduan biola, cello dan kontrabass itu. Namun kemudian aku merasakan dekapan hangat di tubuhku. Luna melingkarkan tangannya di pinggangku lalu menyandarkan tubuhnya.
Aku hanya bisa tercengang. Kulihat gadis itu sedang tersenyum masih menikmati suara musik. Hanya saja sudah tidak mempedulikan orang-orang yang sedang melihat kami. Tak hanya aku, orang-orang juga takjub dengan tindakan Luna. Ada suara sorakan riuh di belakang kami. Untuk pertama kalinya Luna mengabaikan sekelilingnya.
Aku hanya bisa merangkulnya. Semakin membawa tubuhnya merapat padaku. Ya, kuharap orang-orang melihat kami. Bahwa kami adalah sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.
Luna tak melepaskanku hingga pertunjukan berakhir. Setelah memberi uang, kami memberi uang dan bersalaman dengan para pemusik itu. Lalu pamit pada orang-orang yang sudah mengikuti kami sejak tadi.
Kerumunan makin padat dan tidak memungkinkan bagi kami untuk melanjutkan kencan di sini. Kami segera kembali ke tempat mobil diparkir dan pulang.
Saat di jalan, Luna akhirnya menyuarakan pertanyaan yang paling kutunggu.
"Kenapa kau memilih ini sebagai kencan yang mendebarkan?"
Aku menggenggam erat tangan gadisku.
"Inilah definisi mendebarkan versi dirimu buatku. Jika wanita lain, akan lebih menyenangkan membawa mereka ke tempat sepi dan gelap hanya berdua. Tetapi denganmu, aku ingin seluruh dunia tahu dan melihatnya. Luna Eloise adalah milik Drey Charleville. Lebih mendebarkan membawamu ke depan dunia. Aku tidak ingin menyembunyikanmu"
Jawabku. Entah seperti apa ekspresi Luna saat ini. Aku tidak bisa melihatnya karena harus melihat jalan. Luna hanya diam saja tidak mengatakan apapun lagi. Mungkin dia sudah menduga jawabanku itu.
Aku melepaskan tangan Luna untuk mengambil kunci mobil di sakuku. Saat itu,
Cup.
__ADS_1
Luna benar-benar memberikan debaran tak terkira, menciumku di depan puluhan pasang mata yang memperhatikan kami.