Sugar

Sugar
Dinner


__ADS_3

Daniel tertawa terpingkal-pingkal. Padahal sudah sepuluh menit berlalu dan reaksinya masih tetap sama. Dia seperti orang yang sudah kehilangan akal. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya. Jika aku jadi dia, mungkin reaksiku akan sama.


Semua ini, karena foto-foto yang beredar di internet. Aku sudah memiliki firasat bahwa semuanya akan jadi seperti ini saat Ada yang memotretku diam-diam di rumah sakit tempo Hari. Pakaianku sangat lebai Dan norak, lalu berdiri dengan minder di rumah sakit.


Artikel yang ditulis untuk foto itu jauh lebih aneh lagi. Mereka menjulukiku seperti tokoh dalam film. Ada yang menyebut Black widow, Wonder woman, Tomb Rider, dan julukan-julukan lainnya. Mungkin karena kostum ku berkesan seperti itu. Entah dari mana juga mereka bisa tahu aku kesana sedang menolong orang. Semacam superhero saja.


"Aku rasa, Kita tidak perlu bekerja keras untuk promosi film ini," goda Daniel.


Aku juga sudah pasrah. Artikel dan foto yang sudah terpampang di banyak tempat itu tidak mungkin diturunkan. Sudah banyak yang melihat juga, jadi percuma berusaha menghapusnya. Yang Paling penting, hari itu Richard bisa selamat.


Menjadi selebriti itu memang sulit.


Entah Karena terbiasa dengan gangguan Richard atau bukan, akhir-akhir ini aku merasa jika lokasi syuting juga menjadi sepi. Tidak ada yang harus ku ambil perhatiannya, Dan tidak Ada yang repot mengomentariku. Kebiasaan memang sesuatu yang menakutkan. Bahkan rasa sakit pun bisa membuat hati merasa kosong jika tiba-tiba berubah.


Mungkin karena itulah, aku diam-diam menyelipkan Surat di bawah bantal Richard saat menjenguknya. Karena sepertinya dia salah paham, aku hanya ingin mengungkapkan kata-kata yang tidak sempat ku ucapkan saat dia bertanya.


Apa aku mendekatinya hanya demi membatalkan perjodohan Drey?


Salah paham itu mengangguku. Awalnya itu tujuanku, tetapi sudah berubah. Richard adalah teman yang menyenangkan. Bahkan meskipun dia bukan ayah Drey, aku Akan tetap menghormatinya, Dan mencoba berbicara dengannya. Aku harap hubungan antara aku Dan Richard bukan sekedar Drey di tengahnya. Jika bisa, biarkan ini menjadi hubungan yang baik antar manusia.


Kalau dipikir-pikir sekarang, itu sangat memalukan. Kenapa aku harus menulis Surat padanya? Agh! Kadang aku membenci sikap spontanku ini.


"Miss Eloise..."


Suara seseorang membuyarkan lamunanku. Ternyata assisten Richard yang biasa menemaninya saat kemari.


Aku segera membalas sapaannya, sambil celingukan melihat ke sekitar. Apa Richard datang kemari? Dia harusnya sudah pulang dari rumah sakit kemarin, tetapi rasanya terlalu cepat jika bepergian kemari.


"Saya ingin menyampaikan undangan Tuan Charleville" si assiten itu menyodorkan sebuah amplop berwarna putih padaku.


Rasanya jantungku langsung berdetak lebih cepat. Undangan apa lagi ini? Setelah menerima undangan pertunangan dengan nama Drey Dan Priscilla sebelumnya, aku jadi trauma jika melihat amplop.


Jangan-jangan ini undangan pernikahan. Richard mungkin berpikir bahwa aku terlalu keras kepala Dan tidak mau menyerah. Lalu akhirnya melupakan pertunangan Dan langsung memajukan pernikahan. Aku bisa gila hanya dengan memikirnya.


"Miss.. " panggil assisten Richard karena aku tak kunjung menerima amplop di tangannya.


Dengan ragu-ragu, aku akhirnya mengambilnya. Lalu dengan penuh rasa takut, aku membukanya. Jika bisa memilih, aku hanya ingin menyimpannya. Namun si asissten seperti menantikan aku membuka Dan membaca isinya.


Aku membukanya perlahan-lahan sambil berdoa di dalam hati, tetapi ternyata hanya ada tulisan tangan yang singkat di dalamnya.


"Tuan Charleville ingin mengundang Anda untuk makan malam di mansionnya. Ini sebagai ucapan terima kasih karena telah menolongnya tempo Hari"


Dari penjelasan itu, jelas sekali aku tidak boleh menolaknya. Richard ingin memastikan bahwa aku datang. Walaupun saat aku menjenguknya dia terlihat tidak senang aku sudah menolongnya, sekarang ia malah mengucapkan terima kasih. Sehingga akhirnya aku hanya bisa mengangguk. Setidaknya, ini bukan undangan dengan nama Drey di dalamnya.


*****


Mataku terbelalak saat Mobil kami masuk melewati gerbang. Saat orang membicarakan bahwa Charleville adalah keluarga yang Kaya, aku bahkan tidak menduga akan sekaya ini. Mansionnya sangat megah. Halamannya jika dikelilingi mungkin seharian baru mendapat satu putaran. Dan ini bahkan bukan kediaman utama milik Richard. Aku tidak bisa membayangkan sebesar apa rumah utamanya di Swiss.


Bukannya aku tidak pernah melihat rumah atau bangunan semegah ini. Tapi tidak tahu kenapa, rumah ini bisa membuatku seperti orang norak Dan kampungan, yang menatap sambil melongo.


Aku jadi paham kenapa Drey begitu marah pada ayahnya karena membiarkan Lucy hidup terpisah. Rumah Lucy hanya Ada seujung kuku dari bangunan megah ini. Padahal keduanya sama-sama berada di London.


Aku bersyukur Drey memilih menjadi pemain sepak bola. Jika dia memilih mewarisi bisnis ayahnya, kami mungkin tidak Akan pernah bertemu. Dunia dan kelas kami sungguh berbeda.


"Apa lebih baik aku menunggu di Mobil saja?" Tanya Drey saat Mobil kami sudah hampir mencapai depan rumah.


Drey sepertinya tidak suka dengan ide datang makan malam kemari. Aku harus membujuknya, dan Sepanjang jalan tadi dia terus menggerutu. Hanya saja, mustahil aku bisa datang sendirian. Melihat ukuran mansion ini saja aku sudah ciut.


Aku segera meraih lengan Drey, dan mulai merajuk.

__ADS_1


"Ayahmu mungkin berubah pikiran tentang perjodohanmu"


Drey Paling tidak bisa membantah jika aku sudah mengangkat Hal itu sebagai bujukan. Dia hanya mengangguk setuju.


Kami langsung disambut begitu turun dari mobil. Seorang pelayan mengantar kami ke ruang makan. Drey juga sepertinya baru pertama Kali kemari. Dia terlihat menurut saja pada pelayan.


Saat menyusuri mansion inilah aku mulai menyadari, betapa kosongnya tempat ini. Meski terlihat indah, dipenuhi perabotan Mahal berkilauan, hampir tidak terasa adanya kehidupan. Padahal banyak pelayan yang menyambut kami di depan tadi. Menurutku, ukuran mansion ini jadi mubazir. Rumah Drey yang lebih kecil itu terasa lebih ramai dan hidup dibandingkan tempat ini.


"Silakan masuk" pelayan itu membuka pintu.


Rupanya Richard telah menunggu kami. Dia duduk sendirian di meja besar itu dengan hanya ditemani secangkir minuman.


Selain sapaan ringan, tidak banyak obrolan di antara kami. Richard dan Drey pada dasarnya tidak akrab. Aku juga tidak enak jika bicara terlalu banyak di sini. Terutama dengan beberapa pelayan yang juga ada di ruangan itu. Richard membuat keputusan tepat dengan langsung menghidangkan makanan.


Sebenarnya untuk apa aku diundang kemari?


Itu yang ku pikirkan saat menilai suasana hening dan canggung ini. Aku yakin, sebagai orang terpandang, Richard Akan memiliki perlakuan baik pada tamunya. Lalu kenapa makan malam ini begitu dingin buatku?


Tepat, saat aku memikirkan itu, Richard tiba-tiba bicara.


"Aku meminta koki terbaikku menghidangkan menu Paling istimewa, semoga ini sesuai dengan seleramu"


Rasanya aku salah dengar. Richard bicara begitu lembut Dan sopan. Saking terkejutnya, aku sampai tidak bisa menanggapi.


"Oh ya, aku sudah membaca suratnya. Aku harus minta maaf karena tidak menulis balasannya" lanjut Richard.


Wajahku langsung merah saat mengingat Surat yang ku berikan padanya di rumah sakit. Kenapa juga dia harus mengatakannya sekarang?


"Surat apa?" Tanya Drey bingung.


"Oh, sup ini sangat enak sekali. Kira-kira bahan apakah yang dipakai? Aku bisa merasakan aroma kaldunya yang kuat"


"Kau bisa bertanya pada kokiku jika mau. Aku yakin dia dengan senang Hati akan membantu meskipun tanpa Surat," goda Richard.


Agh, memalukan! Wajahku sudah merah padam hanya karena selembar kertas yang ku tulis karena terbawa emosi itu. Richard juga kelihatannya sangat menikmati menggoda orang.


Hanya Drey yang mengernyitkan kening, tidak paham dengan apa yang terjadi. Hanya saja dia menyadari sesuatu dari pembicaraan ini.


"Jadi kau sudah mengubah pandanganmu tentang dia? Kau bicara cukup akrab bahkan tertawa," Sahut Drey menyela. Ku pikir Richard Akan langsung membantahnya seperti biasa.


"Ehem... Ehem..." Richard justru berdeham seolah salah tingkah. Dia juga memilih tidak menjawab dan kembali memakan hidangannya.


"Apa artinya kau akan membatalkan rencanamu menjodohkanku dengan Lady itu lagi?"


Drey juga sepertinya sudah terbiasa ceplas ceplos dengan ucapannya. Ia memunculkan topik yang sangat sensitif itu di tengah makan malam. Sejujurnya Aku juga ingin tahu jawaban Richard. Namun rasanya tidak tepat jika menanyakannya sekarang. Kami sudah sepakat tidak membahasnya di makan malam ini.


"Tidak," jawab Richard singkat. Dia sepertinya juga tipe yang menyuarakan kejujuran.


Ayah Dan anak ini sama saja. Mereka bahkan tidak peduli denganku yang masih Ada di ruangan ini.


Drey langsung membanting sendoknya hingga menimbulkan suara nyaring. Seketika suasana langsung berubah tegang. Sudah ku duga akan begini. Toleransi amarah Drey benar-benar nol jika sudah berhadapan dengan ayahnya.


Berantakan sudah, acara makan malam ini.


"Jika kau berpikir begitu, lalu untuk apa mengundangnya kemari?! Jangan mengatakan omong kosong seperti menunjukkan rasa terima kasih. Aku juga bisa membelikannya makanan seperti ini!"


Suara Drey benar-benar membahana ke seluruh ruangan. Dia bisa saja membuat semua orang di ruangan ini terkena serangan jantung.


Sementara aku panik dan hendak menenangkan amarah Drey, ayahnya justru terlihat santai. Dia masih sempat minum dengan elegannya. Lalu menyuruh para pelayan yang masih Ada di Sana untuk pergi.

__ADS_1


"Kau pikir, membatalkan perjodohan dengan mereka itu semudah kau membanting sendok di depan para pelayanku?" Ujar Richard Setelah tinggal kami bertiga di ruangan ini. Meskipun ia mengatakannya dengan nada yang tenang, tetapi suaranya yang berat membuat itu terdengar menakutkan.


Suasana benar-benar berubah menjadi tegang. Kalau tahu begini, sebaiknya aku menolak undangan ini. Ucapan terima kasih apanya, aku malah disuguhi pertengkaran begini. Aku bahkan tidak berani menengahi. Mendengar suara debat mereka saja aku sudah terkaget-kaget.


"Ayah Lady Priscilla adalah seorang Earl. Melakukan pembatalan perjodohan sepihak akan membuat mereka malu. Pada akhirnya akan membuat kalian berada di dalam kesulitan juga. Sentimen publik juga akan berat sebelah dengan imej Lady saat ini,"


Richard menjelaskan dengan tenang sekali. Walaupun itu tidak membuat Drey menerimanya begitu saja. Dia menatap ayahnya dengan pandangan menyalahkan. Seolah berkata, ayahnya yang membuat masalah ini, harusnya dia yang bertanggung jawab.


"Tapi... Ku rasa itu tidak Akan jadi masalah jika Lady Priscilla sendiri yang meminta orang tuanya membatalkan ini"


Kali ini Richard bicara dengan lirih, seakan tidak ingin didengar orang di luar. Mendengar itu, bersamaan aku Dan Drey bertanya.


"Maksudnya...?"


"Itupun kalau kalian bisa membujuk Lady Priscilla"


"Jadi, kalau dia bersedia membatalkan perjodohan, Anda tidak Akan memaksa Drey putus denganku lagi? Anda akan merestui kami?" Tanyaku dengan penuh semangat. Mungkin suaraku jauh lebih keras daripada saat Drey berteriak tadi. Sampai-sampai membuat mereka berdua terkejut.


Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Kesampingkan masalah Priscilla, jika Richard merestuiku, sudah merupakan akhir yang terbaik.


Drey langsung tertawa melihat tingkahku. sementara Richard nampak salah tingkah. Dia menghindari tatapanku.


"Ya, tapi sepertinya itu tidak Akan mudah" gumamnya. Dia tidak mengiyakan atau membantah ucapanku. Namun lebih cenderung mengatakan bahwa aku benar.


Baiklah. Target selanjutnya adalah Priscilla!


*****


"Kenapa kau tertawa?" Tanyaku heran.


Drey sedang menyetir Mobil, dan tiba-tiba saja tertawa. Padahal tidak Ada yang lucu di jalanan depan Sana.


"Aku hanya ingat dengan makan malam tadi. Siapa sangka ayahku bisa bersikap begitu padamu. Sebenarnya apa yang kau lakukan padanya?"


Entah itu pujian atau malah ledekan.


"Tentu saja aku bekerja keras untuk itu," jawabku berteka-teki. Itu tidak sepenuhnya bohong. Mengingat semua perjuanganku hanya untuk mendapat perhatian Richard memang tidaklah mudah.


"Lalu, apa maksudnya dengan Surat? Kau belum menjawabnya"


Pertanyaan Drey mengingatkanku kembali pada surat memalukan itu. Aku berharap dia akan berhenti membahasnya. Namun, Drey bukan orang yang akan menyerah sebelum pertanyaannya terjawab.


Jadi, ku ceritakan saja apa yang terjadi. Dan seperti dugaanku, Drey kembali tertawa terpingkal-pingkal.


"Kau mengiriminya Surat? Ini sudah tahun berapa?" Ledek Drey.


"Sepertinya aku sudah kehilangan akal sehat waktu itu" ujarku setuju. Aku juga sedang mengutuk diriku sebanyak mungkin atas kekhilafanku. Aku bahkan belum pernah menulis untuk Drey. Malah menulis Surat untuk ayahnya.


Aku merasakan Drey menggenggam tanganku setelah tawanya selesai, Erat sekali.


"Terima kasih. Terima kasih sudah datang dalam hidupku, lalu mengubah semua Hal buruk di dalamnya. Aku merasa sempurna karenamu" ujar Drey.


Damn him!


Dia yang mengatakan Hal cheesy itu, tetapi aku yang tersipu malu. Jantungku berdebar kencang. Ada kupu-kupu yang beterbangan di perutku. Meskipun sudah merasakan Hal ini berkali-kali, entah kenapa selalu terasa baru.


Aku rasa Drey tidak tahu, bukan hanya dia yang berubah Setelah bertemu aku. Dia pun juga mengubahku. Luna yang dulu, tidak Akan mungkin seberani ini. Tidak akan berani memperjuangkan cinta sekeras ini. Drey pun, membuatku merasa sempurna. Dan aku berterima kasih dia sudah datang dalam hidupku.


Aku bisa merasakan tangan kami menghangat. Musim gugur akan tiba, tetapi aku tidak merasakan dinginnya. Saat ini aku sedang menantikan musim-musim yang akan kami lalui bersama. Begitupun tahun-tahun berikutnya. Lalu saat aku melihat ke belakang, aku bisa merasa bangga telah bertahan selama itu dengan Drey. Apapun rintangannya.

__ADS_1


__ADS_2