Sugar

Sugar
Training


__ADS_3

Hal yang tidak Akan pernah dimengerti oleh gadis sepertiku adalah pikiran laki-laki. Berapa banyakpun pria di dekatku atau berapa lusin film pernah kutonton, pria itu adalah mahluk yang jalan pikirannya sangat kabur bagiku.



Dan pikiran Paling membingungkan adalah saat kutemukan benda aneh itu di laci Drey. Pertama kalinya aku dikenalkan dengan benda itu. Namun bukan itu yang tidak bisa kupahami. Pertanyaanku adalah, Drey tidak Akan menggunakannya lalu untuk apa dia menyimpan benda itu?



Saat itu hanya satu ketakutan yang muncul di hatiku. Dia bukan mempersiapkannya untukku Kan?



Tetapi tidak mungkin aku menanyakannya langsung seperti itu pada Drey. Jadi pertanyaan yang keluar dariku justru,



"Berapa Kali?"



Tentu saja Drey tidak Akan bisa menjawabnya. Bukan seperti aku tidak tahu berapa banyak wanita pernah datang ke hidupnya sebelum aku. Hanya saja, karena Drey tidak bisa menjawab, aku yakin dia pasti melakukan hubungan intim dengan semua mantannya.



Itu membuatku semakin takut. Terguncang. Cemas jika Drey menginginkan hubungan semacam itu dariku juga. Bagi gadis yang terbiasa hidup dalam aturan konservatif sepertiku, itu mustahil.



Namun Setelah bertanya pada Daniel yang notabene pria lain dalam hidupku, ternyata dia memiliki jawaban yang sama. Daniel juga memiliki benda itu padahal tidak punya pacar. Jadi aku bisa merasa lebih tenang. Mungkin semua pria memilikinya.



Suara pintu dibuka membangunkanku. Aku mengerjapkan mataku, untuk melihat Drey yang keluar dari mobil. Tanpa kusadari kami sudah sampai di depan rumah. Saking pulasnya tidurku.



Saat memperhatikan Drey berjalan memutar di depan Mobil, aku yakin dia berniat menggendongku masuk. Karena itu tidak membangunkanku. Hanya saja aku bisa melihat raut lelah di wajahnya Setelah menungguku selesai Syuting sejak semalam.



Drey kaget begitu membuka pintuku, mendapati aku sudah membuka Mata. Kami saling menatap canggung. Seolah orang asing yang baru bertemu. Kami sama-sama tidak mengatakan apapun. Antara tidak bisa Dan tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Aku akhirnya turun Dan berjalan masuk ke rumah. Drey hanya mengekor di belakang.



Sebenarnya aku sangat ingin langsung pergi ke kamar lalu tidur. Rasanya kantuk sudah menggelayuti mataku. Saat kulirik Drey yang tampak cemas, aku tidak tega membiarkan masalah kami berlarut-larut.



"Mau minum sesuatu?"



Tawarku. Drey nampaknya terkejut, namun menganggukkan kepalanya.



**********************************


Matahari bahkan belum terbit, saat aku Dan Drey menikmati asupan kafein. Secangkir kopi untuk Drey, Dan teh untukku. Hanya saja tidak Ada obrolan di antara kami. Sama-sama saling menunggu siapa yang Akan mengambil inisiatif.



"Hmm... Ini kopi yang harum sekali"



Gumam Drey. Sepertinya hanya ucapan Tanpa makna. Untuk mengusir keheningan di antara kami.



Ini pertama kalinya aku melihat Drey begitu gugup dan canggung. Sehingga kuurungkan niatku menanggapinya. Aku ingin melihat lebih lama ekspresinya ini.



Drey tidak mampu menatap mataku. Merasa aku tidak terlalu meresponnya. Aku bisa melihat kegelisahan dari caranya duduk, Dan kakinya yang tidak bisa diam.



"Sugar...aku harus menjelaskan semuanya"



Ujar Drey kemudian. Di sini dia mulai memberanikan diri menatap mataku.



"Kau tahu... Yah, aku tidak bisa berbohong dengan memungkiri semuanya..."



Drey bicara terbata sambil menggaruk kepalanya. Terlihat sekali mencoba berhati-hati. Sebenarnya aku sekarang sedang menahan tawa geli. Ingin sekali aku merekam ekspresi Drey sekarang.



"Wanita-wanita itu, memang pernah masuk dalam hidupku. Tapi percayalah, saat ini tidak Ada yang lebih penting bagiku selain dirimu"



Kali ini aku mulai mendengarkan Drey dengan serius. Kata yang mengungkapkan posisiku di matanya itu mampu menarik perhatianku.



Rasa takut yang terpancar di Mata Drey telah membuatku luluh. Membuat hatiku meremang. Aku tahu harusnya tidak semudah ini merasakan hal-hal semacam itu. Namun hati adalah sesuatu yang sulit dikendalikan.



"Tidak Ada yang bisa kita lakukan dengan Masa lalumu. Aku tahu itu"



Akhirnya aku membuka suara. Kali ini Drey yang Melihatku dengan sungguh-sungguh.



"Hanya saja... Aku tidak Akan bisa seperti mereka. Aku tidak siap menjalani hubungan sampai sejauh itu"



Hati-hati sekali aku memilih kata. Berharap Drey Akan memahaminya Tanpa harus aku menjelaskan secara rinci padanya.



"Kau tidak marah padaku? Kau tidak kecewa dengan masa laluku?"



Tanya Drey. Ekspresinya antara bingung Dan tidak percaya. Aku hanya menggelengkan kepala.



Spontan, Drey berdiri dari kursi Dan memelukku. Erat sekali.



"Aku tidak memintamu menjadi mereka. Aku berjanji Akan menghormati keinginanmu.  Apapun asal kau bisa menerima Masa laluku"



Ujar Drey meyakinkanku. Aku hanya mengangguk. Berharap Drey bersungguh-sungguh menjaga ucapannya.



***********************************


Kepalaku berdenyut, antara kurang tidur Dan tidak paham dengan apa yang kubaca. Adegan berikutnya yang harus di-shoot adalah adegan pelecehan yang dialami Sofia, karakterku. Harusnya adegan ini sudah diselesaikan, namun aku mengalami kecelakaan sebelumnya. Menyebabkan penundaan.  Rencananya, adegan ini baru Akan diambil besok.



Entah kenapa ketika aku mencoba mendalami karakterku di adegan ini, ternyata menjadi lebih sulit dari sebelumnya. Kepalaku sampai sakit saat berusaha untuk membayangkan bagaimana adegan Akan berjalan. Suara ponsel mengalihkan perhatianku. Segera kubuka pesan dari Daniel.


__ADS_1


"Tanya Drey saja"



Itu jawaban singkat darinya. Aku menanyakan mengenai bagaimana merealisasikan adegan ini dari sudut pandang pria. Dan yang kudapatkan hanyalah jawaban kurang serius dari Daniel. Akhir-akhir ini dia selalu melimpahkan pekerjaannya pada Drey.



Kalau saja aku bisa dengan mudah menanyakan Hal ini pada Drey, tentu aku sudah melakukannya. Hanya saja respon Drey tidak begitu baik terhadap adegan ini. Dia marah waktu itu. Entah bagaimana harus menyebutkan ini lagi di depannya.



Ku scroll layar ponselku. Mencari orang lain yang bisa kutanyai. Percuma. Pria yang kukenal baik hanya Daniel Dan Casey. Mustahil meminta pendapat Casey Setelah yang terjadi pada kami. Lagipula Casey pria baik. Mana mungkin paham Hal semacam pelecehan pada wanita. Jadi kuteguhkan mentalku Dan akhirnya menemui Drey.



Drey sedang menonton pertandingan. Dia ini pemain sepak bola, tetapi tidak Ada bosannya menonton pertandingan. Dan karena aku hendak membawakan isu sensitif, aku mendekatinya hati-hati. Aturan pertama saat membicarakan Hal yang dibencinya pada Drey adalah harus bersikap manis padanya.



"Apa yang sedang kau tonton"



Sebuah pertanyaan bodoh saat aku sudah tahu dia menonton sepak bola.



"Pertandingan di Liga Spanyol"



Jawab Drey. Respon yang bagus. Jadi aku berpikir bahwa dia sedang dalam mood yang baik.



"Apa yang dipikirkan pria saat memperkosa wanita?"



Bisikku padanya. Drey hampir saja menjatuhkan remote di tangannya. Lalu menatapku dengan Mata terbelalak lebar. Yang terlebar dari yang pernah kulihat.



"Kenapa kau bertanya seperti itu?"



Tanyanya dengan ekspresi kaget bercampur curiga. Jantungku langsung berdetak sangat keras. Reaksinya berbeda dari yang kuperkirakan. Sepertinya aku salah mengajukan pertanyaan lagi.



"Sugar, kau mencurigaiku lagi? Aku memang brengsek, tapi tidak cukup jahat melakukan Hal semacam itu pada wanita. Aku ini pria terhormat"



Protes Drey yang salah paham dengan pertanyaanku. Menyangka bahwa aku sudah menuduhnya.



Segera sebelum masalah Makin runyam, aku menjelaskan pada Drey maksudku. Aku hanya ingin menanyakan pendapatnya sebagai seorang pria terhadap naskahku. Walaupun ekspresi Drey tetap tidak menjadi lebih baik. Dari awal dia sudah tidak suka dengan isi naskah ini.



Drey hanya Melihatku, dengan sorot sebal Dan Tak nyaman. Mungkin membayangkan pacarnya melakukan adegan berbahaya seperti ini sangat mengganggunya.



"Mana kutahu"



Jawab Drey cuek. Ini adalah tanda-tanda bahwa dia Akan segera ngambek. Meski sudah mempersiapkan diri dengan situasi ini, rasanya masih menakutkan juga.



Aku segera memeluk erat lengan Drey, seolah bermanja.




Panggilku manja. Aku berusaha merayu untuk mendapat perhatiannya. Sebenarnya aku jijik sekali bersikap seperti ini. Bukan diriku. Tetapi daripada Drey marah, aku terpaksa melakukannya.



Drey sedikit goyah juga.



"Aku tidak tahu seperti apa rasanya. Aku belum pernah melakukannya"



Ujar Drey. Kali ini dengan suara lebih lembut. Di satu sisi aku kecewa tidak mendapat jawaban, di sisi lainnnya hatiku bersorak gembira. Pacarku tidak sebrengsek itu.



"Lalu bagaimana? Aku takut harus langsung memperagakan adegan ini. Bantu aku latihan kalau begitu"



Pintaku. Drey menatapku sejenak, seolah bimbang. Sebelum menganggukkan kepalanya.



Ah... Sepertinya aku mengatakan Hal bodoh lagi.



***********************************


Sudah 20 menit berlalu Dan aku hanya saling melempar pandangan dengan Drey. Canggung. Kami sepakat berlatih untuk adegan pelecehan, tetapi sama-sama tidak tahu Cara melakukannya.  Meski terlihat mudah saat membaca naskahnya. Ternyata tidak semudah itu dilakukan.



Sementara Drey hanya menggaruk kepalanya. Salah tingkah juga. Terkadang berpura-pura membaca naskah, tidak berani melihatku. Terkadang dia terlihat tidak nyaman membaca naskah di tangannya. Karena dalam naskah itu dipenuhi dengan adegan yang mengintimidasi.



"Ini mungkin akan sedikit menyakitkan"



Drey berkali-kali memberi peringatan. Aku memang memintanya bersungguh-sungguh. Tidak Akan Ada artinya jika dia melakukannya rasa takut.



"Ehem..bisa Kita mulai?"



Tanyaku. Kami tidak Akan mendapat apapun dengan Rasa canggung di antara kami. Drey hanya menganggukkan kepala. Dan dimulailah latihan kami.



Drey mendekat padaku. Di adegan awal ini dia mendekatiku. Memperagakan cuplikan adegan itu.



*Max menyisir rambut Sofia. Lalu perlahan menyelipkan rambut ke belakang telinganya.



Max : "Kau adalah ciptaan Tuhan Paling sempurna yang pernah kulihat" (tersenyum nakal).



Sofia : (diam, menundukkan kepalanya. Menatap gelisah lantai di bawahnya. Tubuhnya sedikit gemetar)


__ADS_1


Max mengambil tangan Sofia, memainkan jari-jarinya. Sambil terus menghantarkan seringai penuh ancaman



Sofia : Tolong jangan lakukan ini (berkata dengan gugup dan takut)



Max : tetap tersenyum memandang Sofia. Menikmati setiap ekspresi takut Sofia)*



Drey berusaha keras menghidupkan karakter Max. Aku pun dari awal sudah mencoba menjadi Sofia dengan segala emosi di dalam karakternya. Sayang, hasilnya malah di luar ekspektasiku.



Harusnya aku merasakan ketakutan Dan kebencian pada karakter yang diperankan Drey sekarang. Karena dia pria jahat yang menghancurkan kehidupanku. Nyatanya jantungku justru berdetak Tak karuan. Rasa gugup seperti kerinduan pada pria yang dicintai.



Ada yang salah dengan diriku. Tiap sentuhan Drey justru membuat hatiku berdesir. Seringai Drey justru membuatku kagum.



“Sugar… giliranmu bicara”



Tegur Drey membuyarkan lamunanku.



Aku jadi malu sendiri. Meminta Drey serius, nyatanya aku yang tidak fokus. Aku segera menjernihkan pikiranku. Kami sedang berlatih, jadi aku harus bersungguh-sungguh seperti Drey.



"Tolong jangan lakukan ini"



Jawabku. Latihan kami pun berlanjut.



*Sofia mulai ketakutan Dan tidak nyaman. Perlahan dia melangkah mundur. Mencari sesuatu di belakang tubuhnya. Sofia berhasil meraih gelas di belakangnya dan memukulkannya pada pelipis Max.



Max tidak bergeming. Lalu mendekap Sofia dengan penuh amarah. Sofia terus meronta, berteriak keras dan memukulkan kembali gelas yang masih berada di tangannya. Max akhirnya melepaskan Sofia untuk memeriksa kepalanya yang telah mengeluarkan darah. Sofia mendapatkan kesempatannya untuk kabur. Dia mencoba berlari tetapi Max lebih cepat meraih kakinya. Menjatuhkannya. Lalu menyeretnya tanpa ampun.



Sofia terus memohon untuk dilepaskan. Menangis ketakutan.Tangannya mencoba menggapai apapun untuk berpegangan. Max terus menyeret Sofia masuk ke kamar.



(scene 32 : di kamar Sofia)



Max menarik Sofia dan membantingnya ke kasur*



“Brukkk..!!”



Kurasakan tubuhku membentur ranjang dengan keras. Membuatku langsung meringis kesakitan. Drey tidak main-main. Dia benar-benar menyeretku dan membantingku seperti karung beras. Aku tidak tahu kalau akan sesakit ini jadinya. Tetapi tidak sempat mengeluh, karena Drey masih melanjutkan aktingnya.



Drey melepas kaosnya dengan ekspresi marah dan tatapan liar. Persis seperti yang diintruksikan naskah. Harusnya aku juga mengikuti isi naskah. Di mana Sofia merasa sangat takut berada di ambang kehancuran. Hendak dimangsa oleh kebuasan Max.



Namun ada yang salah dengan otakku. Jantungku malah berdetak tak karuan melihat Drey mendekat padaku. Tubuh kekarnya yang selalu membuatku malu kini membuat dadaku sesak. Hingga aku lupa apa yang dikatakan oleh naskah tentang Sofia. Buyar sudah konsentrasiku. Hanya mataku yang masih terbelalak melihat Drey.



Drey mengunci kedua tanganku. Cukup erat hingga membuat pergelangan tangaku seperti mau patah. Memberikan tatapan penuh nafsu untuk segera menyergapku.



Sofia harusnya melawan, meronta, berteriak, menangis. Tetapi tubuhku malah hanya diam. Pasrah. Menunggu Drey melakukan sesuatu selanjutnya.



Kurasakan tangan Drey telah sampai di kaosku. Jika ini berlanjut, mungkin akan benar-benar terjadi hal seperti yang dialami Sofia. Karena perasaanku tak lagi sama dengan yang dirasakan Sofia. Latihan ini sudah berjalan ke arah yang salah. Aku harus menghentikan ini. Seharusnya itu yang kukatakan pada Drey, tetapi tidak ada satupun kata yang bisa keluar dari tenggorokanku.



Di saat itu, tiba-tiba Drey mengecup keningku.



“Maaf, aku tidak bisa melanjutkan ini”



Membuyarkan kebingunganku. Drey lalu melepaskanku dan bergerak menjauh. Dia memakai kembali kaosnya.



“Latihannya sampai di sini saja ya, aku tidak bisa melukai pacarku sendiri”



Ujar Drey sambil tertawa kecut. Dia lalu mendekatiku, dan mulai memeriksa tubuhku.



“Apa kau terluka? Sepertinya tadi aku terlalu keras padamu”



Tanya Drey melihat tanganku yang mulai memerah dengan suara menyesal.



Aku menatap Drey. Sedikit terkejut pada reaksinya. Aku tidak menyangka bahwa dia akan begitu serius memperhatikanku.



Aku juga terkejut pada diriku sendiri. Latihan tadi mengajariku bahwa aku telah salah mengira. Dalam hubungan ini, yang berbahaya bukanlah Drey, melainkan aku. Meskipun aku bilang tidak menginginkan ada hubungan intim di antara kami, namun sisi hatiku yang lain justru seperti menantikannya. Tanpa sadar, memancing Drey dan pasrah padanya. Untung Drey bisa menahan dirinya.



“Akan kuambilkan kompres”



Ujar Drey lalu hendak ke dapur. Sebelum itu kutarik tangannya Dan mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi Drey. Dia terkejut dengan tingkahku.



"Kau jadi genit akhir-akhir ini"



Canda Drey sambil mencubit pipiku. Tawanya sudah kembali lepas seperti biasa.



"Hanya padamu"



Balasku. Tawa kami pun pecah.


__ADS_1


Pelajaran lain yang kudapat dari latihan ini adalah bahwa ternyata aku sudah benar-benar jatuh cinta pada Drey. Cukup dalam hingga aku bisa kehilangan akal sehatku.


__ADS_2