
"Jam lima ada wawancara dengan majalah Life di lobi. Setelah itu kau harus fitting untuk kostum syuting besok, jam sembilan ada..."
Daniel membacakan seluruh jadwalku hari ini tanpa jeda. Seperti biasa, tidak peduli aku mendengarkannya atau tidak, dia akan bersemangat mengingatkanku soal pekerjaan. Sesuai motto kerjanya. Semakin panjang jadwal yang harus dia bacakan, semakin deras pundi uang mengalir.
Sedangkan mottoku, tidak perlu dengarkan ucapan Daniel. Lagipula aku bisa bertanya lagi nanti. Apa yang harus kulakukan selanjutnya.
Pikiranku justru tertuju pada hal lain.
Sudah hampir empat bulan aku tinggal di London. Musim dingin sudah hampir tidak terasa aromanya. Kegiatan syuting film di sini sudah hampir mencapai akhir. Namun jadwalku justru terus bertambah dan semakin banyak. Pergi petang pulang petang. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali melihat wajah Drey.
Pacarku itu juga sangat sibuk. Jadwal kompetisi domestik sudah mulai padat. Dia juga harus menjalani pertandingan untuk tingkat Eropa. Beberapa hari yang lalu, dia baru saja terbang ke Italia. Mungkin perjalanan ke luar negeri akan lebih sering baginya seiring kemenangan tim nya.
Aku mendesah kasar. Ingin sekali melihat Drey dan mendukung pertandingannya.
"Luna, apa kau mendengarkanku?"
Tanya Daniel.
"Tidak"
Jawabku singkat. Berharap dia bisa segera berhenti mengoceh. Tadi bicara mengenai jadwal, tetapi barusan dia sudah berganti channel ke arah gosip. Hanya saja, bukan Daniel namanya jika menyadari harapanku.
"Kau ini ya. Aku... Bla... Bla... Bla"
Daniel mengomel panjang. Aku segera menutup telingaku. Kalau saja Drey yang bicara, aku pasti akan mendengarkan dengan sukarela. Mendengarkan Daniel hanya membuatku sakit kepala.
******
Jam sudah menunjuk angka 2 dini hari saat aku akhirnya menginjakkan kaki di rumah. Badanku lelah, mataku mengantuk, tetapi sulit rasanya untuk langsung pergi tidur.
Aku bermaksud mencari minuman di kulkas. Mungkin duduk santai sambil menikmati minuman dingin bisa menenangkan pikiran. Namun yang kutemukan hanya isi kulkas yang kosong. Beberapa makanan kemasan yang kusimpan di sana juga sudah mengeluarkan aroma tak sedap. Kebanyakan sudah lewat masa pakainya. Menunjukkan bahwa sudah terlalu lama aku tidak belanja atau menggunakan kulkas itu.
Aku segera menutup kulkas. Aroma kurang sedap di dalamnya membuat kepalaku pusing. Akhirnya aku hanya duduk termenung di meja makan. Rasanya sudah lama aku tidak memperhatikan kondisi dapurku. Semua terlihat berantakan.
Biasanya baik aku maupun Drey akan menyempatkan diri bersih-bersih. Berhubung kami sama-sama sibuk, tidak ada yang melakukannya lagi. Sekantong sampah yang belum dibuang, piring kotor yang memenuhi bak cuci piring, bahkan debu di kursi yang kududuki adalah hal wajar untuk ditemukan. Belum lagi dengan ruangan lain di rumah ini.
Sepertinya aku harus mengikuti saran Casey menyewa seorang pekerja untuk melakukan pekerjaan bersih-bersih. Mustahil hanya mengandalkan diriku dan Drey saja. Masalahnya, pasti aku juga harus membayar ekstra pada pekerja itu agar tutup mulut mengenai keberadaan Drey di rumah ini.
"Ah...Drey, aku merindukannya"
Sebutku dalam hati. Pulang ke rumah ini, pasti mengingatkanku padanya.
"Kau baru pulang?"
Suara itu membuatku terkesiap. Membuatku segera menoleh pada asal suara.
Badannya yang besar, rambut pendek yang berantakan, serta senyum yang seakan menggoda. Sudah berapa lama aku tidak melihatnya?
Saat aku sedang mencoba menguasai keterkejutanku, Drey sudah mendaratkan sebuah ciuman lembut di dahiku. Terasa hangat dan mendebarkan. Rasanya ada setruman mengaliri tubuhku. Seakan seluruh kerinduanku ditarik olehnya.
Aku tidak bisa menutupi rasa bahagiaku. Melingkarkan lenganku pada pinggangnya, lalu menyadarkan kepala pada tubuhnya yang kokoh. Mencoba meresapi kehadirannya.
Aku sangat merindukannya.
******
Aroma kopi yang harum mengisi rongga hidungku. Membangunkan seluruh inderaku, serta menghapus kantuk di mata. Meskipun aku tidak bisa meminumnya, tidak bisa kupungkiri betapa aku menyukai aromanya. Lalu menikmati ekspresi seksi Drey saat menyesapnya.
"Bagaimana dengan kegiatan syutingmu?"
Suara berat Drey terasa meleleh di telingaku. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu berlebihan menyikapi pertemuanku dengan Drey ini. Namun sungguh, setiap hal darinya mampu memekarkan bunga di hatiku saat ini.
"Kenapa kau terus tersenyum melihatku begitu?"
Tanya Drey lagi. Bisa kubayangkan jika wajahku saat ini terlihat bodoh hingga ia mengatakan itu. Hanya saja, seperti yang kurasakan sebelumnya. Kalau itu Drey, aku akan betah mendengarkannya berbicara meski berjam-jam lamanya.
"Sugar..."
Ah.. panggilan itu. Terasa sangat seksi dan penuh perhatian di telingaku.
Aku tidak peduli pada pembicaraan. Saat ini aku sedang menikmati waktuku melampiaskan segala kerinduanku pada Drey.
"Karena kau kelihatan sedang bahagia, aku akan mengatakan padamu sekarang. Sesuatu yang sangat penting"
Tiba-tiba Drey sudah menggenggam tanganku. Nafasku seakan berhenti untuk sesaat. Tak seirama dengan jantung yang mulai berpacu cepat. Aku sangat menantikan apa yang akan dikatakan oleh Drey selanjutnya.
"Bolehkah aku mengadakan pesta di rumah akhir pekan ini?"
Aku merasa ada yang salah dengan pendengaranku. Hal penting yang diucapkan Drey padaku setelah lama kami tak bersua.
__ADS_1
"Bisa kau ulangi lagi? Aku tidak mendengarnya dengan baik"
Tanyaku ragu.
"Bolehkah aku mengadakan pesta di rumah akhir pekan ini?"
Drey pun mengulangi pertanyaannya. Sama persis, tanpa tertinggal satu huruf pun.
Bukan "aku merindukanmu" atau "aku harap kau punya waktu untuk kencan denganku di akhir minggu". Tuan cassanova di depanku ini ingin menjadi host dari sebuah acara paling tidak kusukai di dunia ini.
"Pesta untuk apa? Siapa yang akan kau undang?"
Tanyaku mencoba menahan diri. Setidaknya aku harus berpikir positif mengenai tujuannya.
"Yah, tentu saja teman-temanku. Ini hanya pesta kecil. Sudah lama aku tidak menjadi host. Mereka juga belum pernah kuundang ke rumah sama sekali. Sepertinya sekali-sekali aku harus bersenang-senang dengan mereka"
Apa ini balas dendam karena Casey datang kemari?
Seluruh rasa hangat di dadaku, debaran jantungku, dan kerinduan yang menggebu langsung lenyap seketika. Menguap ke udara setelah aku mendengar kata-katanya. Sekarang di mataku dia hanya terlihat sebagai pria brengsek.
Aku langsung menarik tanganku. Lalu beranjak dari kursi. Tanpa mengatakan apapun, aku meninggalkannya dan segera pergi ke kamar. Rasa lelah dan kantuk mendadak kembali pada tubuhku.
******
Mood ku sangat buruk hari ini. Jadwal yang sangat padat ditambah dengan pertemuan tidak menyenangkan dengan Drey tadi pagi. Pria itu juga sama sekali tidak mengirimkan pesan padaku. Setidaknya dia harus merasa penasaran kenapa aku langsung pergi tanpa menjawab pertanyaannya. Namun seperti biasa, Drey sulit ditebak isi pikirannya.
"Jadwal syuting besok dibatalkan"
Ujar Daniel membuyarkan lamunanku. Aku segera melempar ponselku sembarangan.
"Apa rencanamu dengan hari libur?"
Tanya Daniel memeriksa kegiatanku. Meskipun tidak ada pekerjaan, Daniel tetap harus memastikan jadwalku besok sebagai manajer. Namun aku sendiri tidak tahu akan melakukan apa. Kata "libur" tidak lagi terdengar menyenangkan bagiku.
"Akan kupikirkan besok"
Jawabku sambil memungut kembali ponselku. Lalu menatap nama Drey yang tertera di layar. Mungkin kali ini aku harus sedikit menurunkan egoku.
Jadi kukirim pesan pada Drey lebih dulu.
Aku libur besok. Apa kau punya waktu untuk pergi denganku?
Aku ada pertandingan di Southampton besok
Begitu jawabannya. Jelas Drey tidak memiliki waktu untukku. Aku menyerah dan meletakkan ponselku lagi.
Padahal aku berpikir hubungan kami sudah membaik dan sedang menghangat. Namun hanya beberapa waktu tidak bertemu, seolah kembali dingin. Ini memang resiko pekerjaan, aku tahu itu. Setidaknya kuharap dia bicara lebih banyak lagi mengenai rencananya. Termasuk pesta di akhir pekan itu. Sudahkah dia menyerah mendapatkan ijinku?
Entahlah.
******
Aku malas beranjak dari kasurku. Ingin terus tidur saja. Tidak ada syuting hari ini, Drey juga tidak di rumah. Aku sedang tidak memiliki semangat melalui hari ini.
Hingga sebuah panggilan masuk untukku, dan aku segera bergegas pergi.
"Maaf sudah merepotkanmu, dan mengganggu hari liburmu"
Sapa Lucy, ibu Lara ketika membukakan pintu.
"Tidak masalah. Aku sedang tidak ada kerjaan"
Jawabku. Lucy langsung mempersilahkan aku masuk. Begitu aku duduk, Rilla dan Ella langsung mendekapku.
"June datang"
Ujar Ella dengan polosnya. Membuatku langsung mengangkat mereka dalam pangkuan. Rindu sekali aku dengan bocah kecil ini.
"June..."
Sementara di balik kursi, Andrew, Terri dan Mario, menyapaku malu-malu.
"Sekolah mereka mengadakan kegiatan piknik besok. Mereka ingin membawa sesuatu untuk dimakan dengan teman-temannya"
Lucy menjelaskan alasan memanggilku datang kemari. Lima bersaudara itu baru saja masuk ke sekolah baru mereka. Agar bisa mendapat banyak teman, mungkin berbagi sesuatu bisa membantu. Sehingga Lucy ingin meminta bantuanku membuat cookies. Lucy yang duduk di kursi roda tidak akan bisa melakukannya.
"Tentu saja"
Jawabku senang.
__ADS_1
Sebenarnya aku belum pernah membuat cookies atau kue kering sebelumnya. Sepenuhnya mengikuti arahan dari Lucy. Ada kekhawatiran hasilnya tidak enak nantinya. Namun yang terpenting aku harus mencoba melakukannya.
Selama membuat kue itu aku banyak bicara dengan Lucy. Aku baru tahu jika Lucy adalah seorang fashion illustrator. Dia bahkan biasa bekerja dengan desainer terkenal. Di sela waktunya menjadi aktivis di organisasi kemanusiaan. Utamanya yang berkaitan dengan anak-anak.
Lucy seorang single parent. Suami pertamanya, atau ayah kandung Lara meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Hingga Lucy akhirnya bertemu lagi dengan Richard Charleville, ayah Drey. Mereka menikah lima tahun yang lalu. Namun sejak dua tahun yang lalu berpisah seperti ini. Sejak kecelakaan yang memaksa Lucy duduk di kursi roda selama sisa hidupnya.
Aku benar-benar tidak tahu tanggapan macam apa yang harus kukatakan. Lucy terdengar seperti wanita hebat. Dia melalui banyak kesulitan tetapi masih bisa berbagi kebaikan. Di satu sisi ceritanya miris sekali. Ditinggalkan setelah menjadi seorang penyandang disabilitas.
"Dulu Drey menghalangiku menikah dengan ayahnya. Namun sekarang dia bahkan bersikap lebih baik dari anakku sendiri"
"Drey tidak menerimamu? Benarkah?"
Tanyaku tak percaya. Padahal di mataku Drey sangat menyayangi Lucy. Kalau dia tidak memberitahuku, mungkin aku akan mengira jika mereka punya hubungan sebagai keluarga kandung.
Lucy mengulas senyumnya. Terlihat mengingat masa yang sulit dipercayai itu.
"Seharusnya aku menuruti Drey. Jika dipikir lagi, mungkin itu caranya melindungiku. Richard bukanlah pria yang bisa memberikan cinta yang kuharapkan"
Jawab Lucy. Kali ini aku bisa melihat binar kesedihan di matanya.
Aku belum pernah bertemu ayah Drey. Namun dari cerita Lucy, entah mengapa aku merasa kesal pada orang itu. Aku bisa membayangkan betapa kejamnya orang itu.
"Apa Drey tidak akur dengan ayahnya?"
Tanyaku hati-hati. Mumpung Ada kesempatan, sepertinya aku harus menanyakan segala hal mengenai Drey. Dia tidak pernah mau bercerita tentang apapun padaku.
Lucy mengangguk. Kemudian sedikit bercerita mengenai Drey dan ayahnya padaku. Termasuk rasa tidak suka ayahnya pada Drey yang memilih berkarir sebagai pemain sepak bola. Entah mengapa cerita itu terdengar familiar bagiku. Namun aku lupa di mana pernah mendengarnya.
"Dia tidak kelihatan seperti itu, tetapi Drey mungkin sangat kesepian. Dia tidak membiarkan seorang pun masuk dalam hidupnya. Seolah membuat pembatas. Karena itu aku senang, saat mendengar dia bercerita mengenai dirimu"
"Kenapa?"
"Untuk pertama kalinya dia membiarkan seseorang memangkas jarak dengannya. Drey juga terlihat begitu bersemangat saat menceritakan apapun tentang dirimu"
Jawab Lucy.
"Aku rasa kau sudah mengisi kekosongan dalam hidup Drey. Memberikan sesuatu yang tak pernah ia miliki"
Tambah Lucy. Kata-kata itu terdengar hangat bagiku. Walaupun aku merasa mungkin berlebihan. Ini belum lama sejak kami saling mengenal. Rasanya mustahil aku sudah menjadi orang sepenting itu dalam hidup Drey. Namun rasanya senang juga mendengar itu.
"Aku berharap kalian akan segera menikah"
"I...itu sepertinya terlalu cepat bagi kami"
"Bukankah kalian sudah tinggal bersama?"
Hampir saja aku menjatuhkan loyang di tanganku, setelah mendengar pertanyaan Lucy.
"Kami tidak tinggal bersama!"
Sanggahku cepat. Rasanya wajahku sudah merah sekali. Berbeda dengan orang lain, Lucy adalah ibu tiri Drey, jadi rasa maluku berkali lipat lebih besar.
Lucy hanya tertawa. Seolah mengatakan walaupun benar, dia juga tidak mempermasalahkannya.
Dasar Drey! Dia menyebarkan rumor tidak benar.
Sebenarnya masih banyak yang ingin kutanyakan pada Lucy perihal Drey. Hanya saja Rilla dan saudaranya menyerbu dapur untuk membantu setelah itu. Jadi pembicaraan kami terhenti di situ.
******
"Itu yang dilakukan June dan Drey"
Tunjuk Rilla dengan polosnya pada adegan ciuman yang terpampang di layar TV. Rupanya gadis kecil itu masih ingat dengan kejadian di rumah lamanya. Saat memergokiku dengan Drey sedang berciuman.
Aku segera berteriak panik dan mengganti channel. Lalu menjewer telinga Andrew sebagai anak tertua.
"Kalian masih anak kecil. Tidak boleh melihat hal-hal seperti ini. Terutama kau sebagai kakak harus menjaga adikmu"
Omelku. Padahal aku sudah malu sekali. Wajahku mungkin sekarang ini semerah kepiting rebus. Aku merasa berdosa sudah menodai kepolosan Rilla.
Mungkin Ella, Mario dan Rilla yang masih sangat kecil tidak paham mengenai apa yang mereka lihat. Berbeda dengan Andrew dan Terri yang sudah tersenyum malu mendengar pengakuan Rilla.
Lucy melihat semua itu dan hanya tertawa. Sepertinya untuk sementara waktu, aku tidak ingin dilihat berduaan dengan Drey di depan mereka.
Selain kejadian memalukan itu, acara membuat cookies berjalan dengan lancar. Meskipun hasil panggangan pertama tidak berjalan baik, untungnya setelah itu cookiesnya masih layak untuk dimakan. Setidaknya saat Rilla dan saudaranya mengatakan bahwa cookies itu buatan June, tidak akan terlalu melukai reputasiku.
Usai makan malam, aku hendak pamit pulang. Lucy membungkuskan beberapa cookies buatanku untuk dibawa. Sekaligus titip salam pada Drey. Walau aku tidak yakin bisa menyampaikannya atau tidak.
Sepanjang perjalanan pulang, aku masih teringat dengan pembicaraan antara aku dan Lucy. Ada banyak hal yang ternyata belum kupahami mengenai Drey. Termasuk sisi menyedihkan dari hidupnya. Jika memang Drey punya kekosongan dalam dirinya, aku ingin mengisinya. Sebanyak mungkin, hingga tumpah. Untuk itu, sepertinya aku harus membuatnya membuka diri padaku.
__ADS_1