
"Kau benar-benar seperti anak kecil. Setiap Hari kerjaanmu hanya marah Dan ngambek"
Sindir Drey begitu melajukan Mobilnya. Meski sebal, aku menahan diri untuk tidak menanggapinya.
"Tidak bisakah kau menjadi gadis manis sekali saja?"
Namun Kali ini aku tidak bisa menahan diri untuk tidak marah. Aku tidak suka dibandingkan dengan wanita lain. Terutama saat Drey mencoba menuntutku untuk menjadi cinta pertamanya. Hanya dia gadis manis yang pernah disebut Drey.
"Sekarang katakan padaku, apa lagi yang membuatmu marah Kali ini?"
Tanya Drey mencoba memulai. Bahkan tanpa harus menunggu sampai di rumah lebih dulu. Karena dia yang mulai, kali ini aku tidak mau kalah juga.
"Jika kukatakan, bisakah kau memperbaikinya?"
"Tentu"
Jawab Drey penuh percaya diri.
"Aku tidak suka Masa lalumu"
Seketika Drey langsung bungkam. Aku bisa melihat kemarahannya dari Cara dia mencengkeram kemudi.
Aku tidak bermaksud mengatakan Hal kejam seperti itu. Tetapi dia lebih dulu melukai egoku. Pada akhirnya kami juga Akan saling menyakiti lewat semua perdebatan di antara kami. Jadi aku hanya ingin mengakhiri ini secepat mungkin. Bahkan jika aku akhirnya harus mendengar kata putus darinya.
Kami berdua sama-sama terdiam. Perdebatan ini ternyata berjalan lebih cepat dari yang kupikirkan. Namun Drey menjawab kata kejam dariku dengan tindakan yang lebih kejam juga.
Drey mengemudikan Mobilnya masuk ke sebuah hotel.
"Kau ingin menginap di hotel Kan? Sekarang turunlah"
Itu yang dikatakan Drey saat Mobilnya berhenti di depan lobi. Aku hanya bisa menatapnya tidak percaya. Drey bahkan tidak mengedipkan matanya saat menyuruhku turun di sini.
Maka aku menurutinya dengan turun dari Mobilnya. Tidak sampai sedetik dari Aku menutup pintu, Drey melajukan mobilnya dengan sangat kencang, Tanpa mengatakan apapun. Aku hanya bisa bengong. Bingung dengan apa yang barusan terjadi.
**********************************
Daniel Melihatku dengan ekspresi speechless.
"Jadi, kau benar-benar diantar untuk menginap di hotel?"
Tanya Daniel mengulang pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya sejak datang mengunjungi kamar hotelku. Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan. Karena suaraku tidak keluar akibat tangis yang deras mengalir.
Meskipun aku sedang benar-benar sedih dan terluka sekarang, aku bisa melihat Daniel menahan tawanya sekarang. Mungkin baginya lucu sekali melihat Drey mengabulkan keinginanku.
"Apa kalian sedang sama-sama PMS?"
Seperti biasa, Daniel selalu mengeluarkan candaannya saat tidak mendapat jawaban. Dia terkekeh sendiri, meski aku sudah melotot padanya.
"just get out of here!"
Teriakku sambil mendorong Daniel. Saat ini seleraku humorku sedang kering. Tidak ingin diajak bercanda.
"oke..oke..well, kita mungkin perlu bicara, jadi siapa yang mulai pertengkarannya?"
Tanya Daniel membuka topik. Dia terlihat tidak ingin membuang waktu. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka mendiskusikan masalah dengan orang lain. Namun, akan sangat jahat jika aku melampiaskan kemarahanku pada Daniel yang notabene tidak terlibat dengan perdebatan kami. Jadi, aku menceritakan apa yang terjadi meskipun dengan nada tanpa minat.
"Hanya karena itu?"
Komentar Daniel yang terdengar seperti keceplosan. Dia tidak sadar mengatakan apa yang harusnya disimpan oleh hatinya sendiri setelah menangkap bahwa semua pertengkaranku tadi dipicu oleh cinta pertama Drey. Tapi tidak sepenuhnya menangkap perihal Lara.
"Jadi kamu juga mau bilang itu salahku?"
Tanyaku menyimpulkan komentar Daniel. Biasanya laki-laki itu cenderung punya pendapat yang sama saat menanggapi masalah perempuan. Daniel langsung gelagapan, menyadari ekspresi muak-ku.
"okey, no comment. Mungkin kalian sedang sama-sama hot"
Daniel mencoba menghindari konfrontasi.
"Cinta pertama memang tidak akan terlupakan bagi seorang pria, tetapi jika kau menganggap itu adalah masalah, maka Akan selalu Ada pertengkaran dalam hubungan kalian. Yah...walaupun Drey juga keterlaluan menurunkanmu di sini. Bagaimana kalau Ada haters menyerangmu? Atau fans yang menculikmu?"
Ujar Daniel tetap pada status netralnya.
Daniel membiarkanku tenggelam dalam kebisuanku. Mungkin dia tahu jika walaupun cinta pertama Drey hanya Masa lalu, aku pun masih butuh waktu menerimanya. Dan saat ini baik aku maupun Drey butuh waktu untuk menenangkan diri.
Daniel memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan kami. Dia menepuk bahuku beberapa kali lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia masih menambahkan sedikit kejujuran dari motifnya bicara denganku.
"jangan lupa, kamu masih dalam masa Syuting, banyak yang harus kamu lakukan. Kamu tidak bisa kolaps disini. Dan jangan sering-sering menampakkan mata bengkak, nanti orang pikir aku memukulmu"
Pada akhirnya Daniel tetaplah seorang manajer.
**********************************
Drey sama sekali tidak menghubungiku. Bahkan saat Daniel mengambil barangku di rumah, Drey tidak mengatakan apapun. Dia benar-benar membiarkanku tinggal di luar. Padahal aku seharian menatap layar ponsel berharap Drey Akan minta maaf Dan menyuruhku pulang. Karena itu Hari ini suasana hatiku buruk.
"Kau sudah sembuh?"
Tanya Casey yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingku.
"Ya"
Jawabku singkat. Aku sedang tidak ingin diganggu siapapun.
"Aku datang menjengukmu, tapi kau masih tidur'
__ADS_1
"Hm.."
Casey terus mengajakku bicara meskipun aku sudah mencoba bersikap dingin dengan mengabaikannya. Sementara mataku masih lekat menatap layar ponsel yang sejak tadi sepi.
Tiba-tiba tangan Casey menyentuh pipiku, mengejutkanku.
"Ada apa?"
Tanyaku kaget. Tidak kusangka seorang Casey Akan berani melakukan kontak fisik denganku Setelah perpisahan kami.
"Ada sesuatu di wajahmu"
Jawab Casey. Dan entah kenapa jantungku langsung berdegup cepat. Mungkin karena kaget, atau mungkin reaksi hatiku yang merasa pernah memiliki Casey sebelumnya.
"Apa kau punya waktu keluar makan malam denganku nanti?"
Ajak Casey juga secara tiba-tiba. Karena semua terjadi secara cepat, aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Ada sebuah restoran yang sangat ingin kukunjungi di sini. Tapi Akan aneh jika aku pergi sendiri"
Mungkin karena aku tidak segera memberi jawaban, Casey langsung mengatakan alasannya. Aku bisa melihat kaki Casey mengetuk-ngetuk lantai saat mengatakannya. Tanda dia sedang gugup.
Awalnya aku ingin menolak ajakan Casey, namun kupikir lagi tidak Ada yang bisa kulakukan. Saat ini aku sedang tinggal di hotel karena diusir dari rumah. Jadi aku mengiyakan ajakan Casey.
*********************************
Pukul enam tepat, Casey menjemputku. Aku sengaja menunggunya di salon. Selain aku harus memperbaiki penampilan akibat tidak memiliki peralatan memadai yang tertinggal di rumah, aku juga tidak mau ketahuan tinggal di hotel. Akan Ada banyak pertanyaan diajukannya nanti.
Sudah lama aku tidak menikmati suasana di dalam Mobil Casey. Dia penyuka Mobil klasik dengan cara mengemudi yang santai. Lalu Seperti biasa Akan selalu Ada suara lagu Coldplay di Sana. Juga penampilan Casey yang rapi.
"Kau tidak memiliki mobilmu sendiri di sini?"
Tanya Casey.
"Tidak, aku selalu pergi kemanapun diantar Daniel"
Jawabku. Dalam hati, aku mengatakan "...Dan Drey".
"Ya, itu lebih aman bagimu. Lagipula kau juga lebih suka tinggal di rumah daripada keluar bepergian"
Ujar Casey, sedikit menyenangkan bagiku saat tahu dia masih hafal kebiasaanku.
"Kita sudah sampai"
Casey mengembalikan kesadaranku. Mobil ini telah masuk ke area sebuah hotel, Dan...ini hotel tempat aku tinggal sekarang! Aku hanya bisa membelalakkan Mata karena terkejut. Kebetulan macam apa ini.
Casey sepertinya telah melakukan reservasi lebih dulu di sini. Kami langsung diantarkan ke meja begitu datang. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, sebuah pemandangan yang cukup familiar. Restoran dari hotel ini selalu terkenal di seluruh dunia. Dan ini mungkin sudah kesekian Kali aku datang kemari. Termasuk dengan Casey.
Tanya Casey. Dia mungkin sudah hafal dengan menu langgananku tiap Kali ke restoran ini. Sehingga Casey juga telah memesan lebih dulu. Tak menunggu waktu lama, seluruh makanan sudah disajikan di meja kami.
Steak restoran ini selalu menggugah seleraku. Baik aroma maupun tampilannya. Aku sudah tidak sabar mencicipinya. Namun saat aku hendak memotong steak itu, Casey sudah Menukar piringku dengan miliknya. Di Mana steak milik Casey sudah selesai dipotong kecil-kecil.
"Terima kasih"
Ucapku malu. Dan Casey hanya menanggapinya dengan senyuman.
Aku memakan perlahan steak itu sambil mendengarkan suara musik klasik yang diperdengarkan. Lalu kenangan itupun muncul.
~ 4 tahun yang lalu ~
Aku memandang gelisah arloji. Ini sudah terlambat Lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Dan aku malu sekali terlihat sendirian di restoran mewah ini tanpa memesan apapun.
"Bagaimana kalau dia ternyata membatalkannya?"
Tanyaku dalam hati, gelisah. Tetapi aku juga tidak bisa pergi dari sini. Karena James yang meminta bertemu. Lagipula aku Akan sangat malu keluar tanpa memesan apapun.
Di saat aku sedang sangat gelisah, akhirnya James datang juga.
"Maaf terlambat, Ada sesuatu yang harus kulakukan"
Ujar James dengan muka dipenuhi rasa bersalah. Aku hanya mengangguk. Dia datang saja aku sudah bersyukur.
Selain James, ada pria lain di belakangnya. Berpakaian santai, hanya mengenakan kaus polo Dan celana pendek. Sepertinya wajahnya familiar.
"Oh...ya, perkenalkan ini Casey Dauner. Kau sudah pernah melihatnya Kan?"
James mengenalkan pria itu. Aku baru sadar kenapa dia begitu familiar. Dia aktor yang cukup populer akhir-akhir ini. Aku sering menonton film-filmnya.
Casey lebih dulu menjabat tanganku. Lalu duduk di samping James. Sebelum akhirnya kami melanjutkan dengan makan malam.
Menu yang kutahu hanyalah steak, jadi aku memesan itu. Kupikir agar lebih simpel. Namun ternyata tidak semudah itu. Aku terbiasa makan dengan sendok atau tangan. Jadi tidak begitu ahli menggunakan pisau Dan garpu. Aku sedikit malu juga kesulitan memoton steak itu.
Hingga tiba-tiba Casey sudah menukar piring kami. Dia memberikan steak nya yang sudah selesai dipotong. Mungkin dia memperhatikan aku yang berusaha keras memotong steak itu Dan merasa iba. Membuatku Makin malu.
"Terima kasih..."
"Tidak masalah"
Jawab Casey lugas. Untuk orang yang baru bertemu, dia memiliki manner yang baik. Persis seperti yang kulihat selama ini di layar televisi.
__ADS_1
Aku baru tahu sekarang jika Ada trik untuk memotong steak dengan mudah. Harus mengikuti tekstur dari daging itu.
Usai makan, James menerima telfon Dan meninggalkan aku hanya berdua dengan Casey. Karena aku tidak pandai bergaul terutama dengan pria, aku hanya diam. Untungnya Casey berinisiatif memulai percakapan denganku.
"James mengatakan padaku jika kau Akan bermain di filmnya"
"Ya, ini Akan menjadi film pertamaku"
"Benarkah? Selamat kalau begitu. James selalu membuat film yang bagus. Kau beruntung sekali bisa bekerja sama dengannya"
Aku hanya bisa menjawab dengan senyum kecut. Meskipun Kelihatannya begitu, tetapi karena ini film pertama, semua tidak berjalan dengan mudah bagiku.
Seperti membaca isi pikiranku, Casey melontarkan pertanyaan yang sudah kutunggu.
"Apa kau Ada kesulitan? Mungkin aku bisa membantumu"
Sebenarnya aku bukan orang cukup terbuka. Tetapi Casey bisa membuatku merasa nyaman. Jadi Tanpa sadar aku sudah bercerita mengenai semua kesulitanku.
Aku kesulitan beradaptasi, masih harus membagi waktu antara sekolah Dan latihan. Sehingga aku tidak punya waktu mencari teman. Rasanya aku ingin menyerah dengan film ini. Ingin pulang saja ke Indonesia.
Untungnya aku bisa bertemu Casey. Selain lega bisa menceritakan semua bebanku, Casey memberiku banyak nasehat. Karena dia pernah mengalami masalahku saat baru pindah dari Australia. Dan tidak butuh waktu lama, kami telah menjadi akrab.
Waktu berlalu Tanpa kami sadari. Malam semakin larut. Tetapi James belum juga kembali Setelah menerima telfon. Saat Casey menelfonnya, ternyata James sudah pergi sejak tadi Dan lupa memberitahu kami. Akhirnya aku dan Casey memutuskan untuk pulang.
"Apa kau membawa kendaraan?"
Tanya Casey saat kami naik lift untuk turun ke lantai bawah.
"Tidak, aku Akan Naik taksi"
"Taksi? Kalau begitu biar kuantar saja. Berbahaya jika gadis sepertimu pulang sendirian malam begini"
Aku pun setuju dengan tawaran Casey Dan ikut dengan Mobilnya.
Gadis Mana yang tidak tersentuh dengan tindakan manis semacam ini. Dikhawatirkan Dan diantar pulang. Belum lagi Casey meminjamkan selimutnya untuk menutupi pahaku. Walaupun saat itu aku sedang mengenakan celana panjang. Namun terlihat sekali bahwa Casey sangat menghormati seorang wanita.
Sepanjang perjalanan pulang, kami melanjutkan obrolan. Lalu bertukar nomor. Mungkin dari sanalah hubunganku Dan Casey berawal. Aku menyukai sikap baik Casey Dan merasa nyaman dengannya.
Dan kini, kami makan di tempat yang sama dengan tempat kami bertemu. Dengan makanan yang sama, begitupun suasananya. Sehingga semua kenangan itu kembali. Aku bahkan bisa mengingat dengan jelas perasaanku pada waktu itu. Rasa hangat yang mungkin itu jatuh cinta.
*********************************
Suara dering ponselku membuyarkan lamunanku. Ketika kuperiksa Dan muncul nama Drey, aku memilih mengabaikannya.
"Kau tidak menerimanya?"
Tanya Casey yang hanya kujawab dengan gelengan kepala. Drey selalu tahu Cara mengganggu kebahagiaanku. Padahal aku sedang asyik bernostalgia.
Drey tidak menyerah. Dia kembali menelfonku. Memaksaku untuk mengangkatnya. Tidak enak pada Casey yang terus melihat ke arah ponselku.
"Ada apa?"
Tanyaku malas.
"Halo, apa ini sugar?"
Aku mengernyitkan kening, ini bukan suara Drey.
"Ya, dimana Drey?"
"Ah..jika kau sugar, bisa menjemput Drey? Dia mabuk berat Dan terus meracau menyebut namamu"
"Dimana dia sekarang?"
Tanpa berpikir Dua Kali, aku langsung bangkit dari kursiku.
"Maaf Casey, aku harus pergi lebih dulu"
Tanpa menunggu jawaban Casey, aku pergi dengan tergesa. Aku sudah tidak peduli ini tidak sopan atau Casey mungkin tersinggung, di pikiranku hanya Ada Drey.
Lokasi Drey yang dikirim padaku ternyata Ada di sekitar hotel. Jadi any berlarian kesana. Bahkan mengabaikan fakta bahwa mungkin orang-orang di jalanan mengenaliku.
Emosiku langsung Naik saat aku masuk ke klub tempat Drey terkapar. Suara musik berdentam menghantam telinga, bau alkohol yang kuat. Semua yang Paling kubenci. Termasuk pemandangan di Mana Drey bahkan tidak mampu mengangkat kepalanya di meja. Entah berapa banyak yang sudah dia minum.
"Jadi kau sugar?"
Tanya pria yang sepertinya adalah orang yang menelfonku. Dia sedikit terkejut mengenaliku.
"Berapa banyak yang dia minum?"
"Entahlah, biasanya dia memiliki toleransi yang tinggi terhadap alkohol. Tapi tadi dia minum seperti orang kerasukan. Setelah itu terus memanggil namamu"
Selagi aku sedang bicara dengan pria itu, Drey sudah dirubung wanita. Ada yang merangkulnya, memegang lengannya. Aku mengenali salah satu di antaranya sebagai Gracey, model yang pernah berkencan dengan Drey.
Aku tidak bisa menahan amarahku lagi. Menghampiri Drey,
"Apa yang kau lakukan disini?! Ayo pulang!"
Teriakku pada Drey yang sudah kehilangan kesadarannya. Semua wanita itu sampai terjingkat kaget saking kerasnya suaraku. Meski aku berteriak pada Drey, mataku melotot pada semua wanita itu. Dan perlahan mereka melepaskan tangannya dari tubuh Drey.
Berani sekali mereka menyentuh pacarku.
__ADS_1