
Aku khawatir dengan kondisi Drey akhir-akhir ini. Sejak melihat Dr. Lily, Drey menjadi murung dan tidak bersemangat. Aku bahkan tidak berani menyebutkan bahwa sudah mengenal Dr. Lily. Drey mungkin Akan semakin marah jika tahu ibu nya dekat dengan ku, tetapi tidak menemuinya.
Aku juga berada pada posisi sulit. Meskipun mengkhawatirkan nya, tidak Ada yang bisa ku lakukan selain menghibur nya. Aku takut salah jika bertanya Dan terlalu mencampuri perasaan nya. Karena ini adalah urusan anak Dan ibu yang sudah Ada sejak aku belum mengenal mereka.
Namun berada di tengah mereka juga tidak nyaman. Dr. Lily tidak terlihat seperti orang jahat, malahan sangat baik selalu membantu ku. Siapa sangka jika dia ternyata adalah ibu yang meninggalkan Drey.
"Apa semua sudah siap?" Tanya ku pada Drey yang sedang memasukkan semua kebutuhan nya.
Hari ini adalah pertandingan penting baginya karena yang pertama di kompetisi. Drey bermain cukup bagus musim lalu Dan mendapat banyak pujian, tetapi timnya tidak menjadi juara di kompetisi domestik. Sehingga pertandingan ini pun seolah akan menjadi penilaian baru untuk nya.
"Mm... Ya"
Dia sama sekali tidak bersemangat. Berbeda sekali dengan sebelum-sebelum nya saat ia hendak berangkat ke pertandingan. Bermain begitu keras untuk ibu nya, lalu bertemu dengan Cara seperti itu. Tentu saja Drey terpukul. Dia bahkan mungkin kehilangan motivasi nya saat ini.
Aku segera mendekat lalu memeluk nya. Tubuhnya yang tinggi besar sulit ku jangkau semua. Namun tubuh yang biasanya dengan mudah mengungkung ku itu sekarang menjadi terlihat begitu kecil.
Drey menghentikan gerakan nya. Aku merasakan dia menghela nafas besar.
"Maafkan aku jadi begini"
Rasanya sulit bagiku melihat Drey yang seolah sedang patah dan terdengar putus asa begini. Aku lebih suka dia yang bisa marah. Namun, sulit untuk meminta itu dari nya sekarang ini. Jadi yang bisa ku lakukan hanya lah menepuk bahu nya. Lalu memberi penghiburan.
"Pelan-pelan saja. Kau juga butuh waktu"
Drey mengangguk, lalu menyandarkan kepala nya pada ku.
*****
"Sayang sekali...! Padahal dia memiliki kesempatan emas untuk mengubah nya menjadi sebuah gol"
Seorang pria tua yang duduk di tribun terpisah berkomentar keras. Lalu orang di sekitar kami ikut menjadi gaduh.
"Ada apa dengan nya? Biasa nya itu mudah sekali menjadi gol" timpal orang lain nya.
"Sepertinya kondisi nya sedang tidak bagus. Apa dia sedang cedera? Tidak biasa nya dia melakukan kesalahan seperti itu" sahut yang lain.
Masih banyak lagi yang mereka ucapkan. Aku bisa mendengar satu demi satu kata. Yang jelas, semuanya membahas Drey.
Mungkin hanya aku dari ratusan ribu orang yang hadir menonton di stadion ini, yang tahu kenapa Drey bermain begitu buruk malam ini. Dia melakukan banyak kesalahan, semua peluang nya membuat gol hilang begitu saja. Lebih dari itu, dia seperti orang kepayahan padahal pertandingan masih panjang.
Pemain yang mendapat Paling banyak pujian musim kemarin, kini menjadi yang Paling di pertanyakan di pertandingan awal.
Hatiku rasanya sedih Dan sakit melihat Drey berlari di lapangan Sana seperti tanpa nyawa. Itu mengingatkan ku pada diri ku yang tidak mampu berdiri di depan kamera.
Pertandingan akhir nya berakhir Setelah sembilan puluh menit. Berakhir dengan sangat buruk, karena tim Drey yang digadang-gadang akan menjadi juara musim ini justru kalah di pertandingan pertama. Lebih dari itu tanpa gol, saat mereka memiliki pemain terbaik Pula.
Aku bisa melihat Drey berjalan kembali ke dalam ruang ganti sambil menunduk. Padahal biasanya dia selalu melambaikan tangan pada penonton lalu mengucapkan perpisahan dengan senyum penuh percaya diri. Pantas saja kini semua orang sedang membicarakan nya Dan mengatakan bahwa dia tidak seperti biasanya.
Aku segera bergegas beranjak dari kursiku lalu pergi ke tempat biasa nya bertemu dengan Drey sesudah pertandingan. Aku harus menyambut nya. Bahkan jika orang lain menuding nya, aku harus jadi satu-satu nya yang berada di sisi nya.
*****
Aku menyendoki sup dari panci ke dalam mangkuk dengan hati-hati. Suhu nya masih panas karena baru saja mendidih. Asap nya masih mengepul. Aroma nya juga menjadi lebih tajam, selain karena Banyak rempah yang ku masuk kan ke dalam nya.
Aku mendengar suara langkah kaki Drey mendekat. Tepat saat aku menaruh supnya di meja.
"Kelihatannya enak sekali, bau nya harum" puji Drey, dia sudah menarik mangkuk sup mendekat padanya.
Aku senang setidak nya wajah Drey kelihatan lebih baik dari sebelumnya. Dia terlihat lebih santai dan bisa tersenyum. Usai pertandingan pertama itu, dia banyak menunduk dan terlihat hancur. Sebenarnya hal yang wajar bagi atlet untuk mengalami pasang surut performa. Namun ini adalah yang pertama kali nya di alami Drey. Dia mungkin tidak tahu cara mengatasinya. Hingga akhirnya terus berada di tempat nya saat ini.
__ADS_1
"Aku sudah lama ingin mencoba resep ini" jawab ku berbohong.
Aku khusus membuat sup ini untuk Drey. Agar dia bisa merasa hangat dan rasa lelah nya sedikit terobati. Mungkin dengan begitu Drey bisa merasa lebih baik.
"Ini lezat sekali. Rasa nya mengingatkan ku pada masakan di rumah mu"
"Aku memang memakai rempah dari rumah"
Drey segera menyendoki isi mangkuk nya hingga tandas. Aku Senang melihatnya karena hanya ini yang bisa ku lakukan. Jadwal syuting ku sedang padat, sedangkan Drey harus kembali intens berlatih. Kami tidak punya banyak waktu bersama.
"Aku akan pulang terlambat hari ini" ujar ku sambil melepas apron ku.
Drey hanya mengangguk dan mencium ku sebelum akhir nya aku berangkat bekerja.
*****
"Apa Drey cedera?" Tanya Daniel heran. Sebagai fans, tentu saja dia Akan penasaran dengan Hal itu. Layaknya penonton yang ku dengar komentar nya.
"Tidak," jawabku singkat. Aku sedang membaca naskah Dan sedikit kesal diganggu begini.
"Tapi dia tidak bermain seperti biasanya. Dia melakukan banyak sekali kesalahan" Daniel masih tidak berhenti nyerocos tentang keluhannya.
"Dia hanya manusia! Berhenti berharap dia selalu sempurna dan menang" hardikku sebal. Aku tidak terlalu suka fakta bahwa fans Drey terlalu terobsesi pada kemenangannya. Itu hanya membuat Drey Makin tertekan.
Daniel akhirnya diam. Dia masih bergumam tak jelas di belakangku, tetapi sudah berhenti mengeluh.
Baru saja aku hendak fokus kembali pada naskah ku,
"Apa Kita bisa bicara?"
Aku terkejut saat Richard sudah berdiri di depanku. Kami sudah tidak saling berhubungan Setelah kejadian di restoran.
*****
Sudah ku duga Richard akan ikut membahasnya. Padahal aku sudah bosan dengan topik itu. Terlebih lagi, bukannya menemui Drey, dia malah menemuiku. Padahal Drey adalah orang yang Paling butuh penjelasan darinya.
"Bukankah itu wajar? Pikirannya pasti sedang kacau sekarang"
Entah kenapa aku jadi ikut-ikutan ingin menyalahkannya. Richard langsung menatapku dengan pandangan tak terima. Dia pasti tahu kalau aku sedang membicarakan peristiwa di restoran malam itu.
Aku buru-buru mengganti Cara bicaraku,
"Tapi, kenapa Anda bisa bertemu Dr. Lily?" Ku pikir ada baiknya sekalian mencari tahu lebih banyak.
Tidak ku sangka, Richard dengan mudah mengatakannya padaku. Saat dia dirawat, sekretarisnya bilang bahwa dia melihat Dr. Lily di rumah sakit. Karena itu Richard memintanya untuk menghubungi Dr. Lily. Tidak Ada alasan pasti, yang jelas Richard hanya ingin bertemu. Semua itu ia lakukan secara spontan.
Dr. Lily selalu menghindarinya Setelah perceraian. Pergi dari satu tempat ke tempat yang lain hingga sulit bagi Richard menemukannya. Richard merasa mungkin adalah kesalahannya juga. Dia marah karena perceraian lalu mengacau pekerjaan Dr. Lily, hingga harus berhenti dari tempat nya bekerja selama bertahun-tahun. Richard terlalu memikirkan harga diri, dan kesal melihat Dr. Lily bisa hidup Dan bahagia tanpanya.
Richard mendengar bahwa setelah dihubungi oleh sekretarisnya, Dr. Lily sudah mengirimkan surat pengunduran diri dan bersiap pindah lagi. Karena itulah Richard memaksa bertemu malam itu. Dia bilang ingin mengucapkan perpisahan. Padahal tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dari pertemuan itu.
"Aku tidak tahu Drey ada di Sana" ujar Richard mengakhiri ceritanya.
"Lalu, jika saja Drey tidak melihat kalian, Anda juga akan tutup mulut perihal ibunya?"
"Menurutku itu yang terbaik. Tidak seperti ibunya ingin menemuinya"
Aku merasa marah dengan jawaban tidak peduli dari Richard.
"Itu masalahnya! Dia marah karena merasa Kalian sudah berbohong di belakangnya" tanpa sadar aku sudah bicara dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Dia sudah dewasa, untuk apa bersikap kekanakan dan marah pada kami" jawab Richard tidak terima.
"Lalu, hanya karena dewasa dia tidak boleh marah pada orang tuanya. Kalian bercerai saat dia masih berusia tujuh tahun. Kalian membiarkannya menghadapi situasi itu sendirian. Ibunya tidak menemuinya, ayahnya sibuk bekerja. Kalian sama sekali tidak berusaha menghiburnya. Dia menyimpan Luka itu selama Delapan belas tahun. Kenapa dia tidak boleh marah?" Cecarku.
Richard hanya melongo melihatku. Sementara aku bisa merasakan hatiku dibakar rasa marah dan sedih. Aku bersedih untuk Drey yang sejak kecil harus menahan lukanya sendirian. Bahkan sampai sekarang orang tuanya tidak tahu itu.
"Itu mungkin bukan kemarahan Drey yang terjadi secara spontan. Itu mungkin kemarahan yang sudah dia pendam selama delapan belas tahun ini. Dia mungkin marah, orang tuanya tidak pernah mempedulikannya" lanjutku. Aku sudah merasakan air Mata di ujung pelupuk mataku.
"Ka..kau berani marah padaku..?"
"Ya, aku berhak! Karena Drey tidak bisa mengatakan itu pada Anda, maka aku yang mewakilinya. Yang jelas, Anda berhutang maaf padanya. Dan berhenti bersikap seolah kondisi Drey saat ini tidak ada hubungannya dengan Anda"
Aku sudah tidak sadar, apakah aku sedang berteriak atau tidak padanya. Aku tidak peduli Dan hanya mengutarakan semua isi hatiku.
Richard terlihat tertegun. Sama sekali tidak membantah. Hanya wajahnya yang kelihatan terlalu terkejut akan mendapat ceramah dengan datang kemari.
*****
Usai pembicaraan dengan Richard, aku sadar bahwa masih Ada Hal yang bisa ku lakukan untuk Drey selain memeluk atau membuatkan sup untuknya.
Aku memohon pada James agar bisa mendapat break dari syuting Hari ini dan menggunakannya untuk pergi ke rumah sakit. aku tahu jam berapa dr. Lily ada di ruangannya. Namun saat aku masuk kesana, ternyata Dr. Lily sedang mengemasi beberapa barangnya ke dalam kardus. Sepertinya yang diucapkan Richard benar, Dr. Lily hendak pergi.
Dr. Lily terkejut saat melihatku datang. Dia segera meminggirkan kardusnya dan berdiri.
"Aku tidak tahu kalau kau Akan kemari. Duduklah, aku Akan membuatkan teh" ujar Dr. Lily, seperti biasanya dia ramah Dan tetap terlihat tenang. Seperti tidak terjadi apapun.
"Apa Anda berniat melarikan diri lagi?" Tanyaku sedih. Pergi tanpa meminta maaf pada Drey menurutku adalah salah.
Dr. Lily tidak segera menjawab, tangannya sibuk meracik teh. Mungkin dia sedang memikirkan alasan yang bagus.
"Ada tawaran pekerjaan yang menarik, jadi aku ingin mencobanya"
Dr. Lily benar-benar tidak ingin mengakui bahwa dia mencoba kabur. Sepertinya juga tidak memiliki keinginan membicarakan Drey. Padahal dia tahu aku kekasihnya.
Di relung hatiku, Ada sebuah rasa nyeri. Jika ibuku bersikap seperti itu padaku, apa yang Akan ku rasakan? Pasti rasanya lebih menyakitkan dari ini. Padahal kasih seorang ibu sangat besar pada anaknya, jadi aku tidak mengerti alasan Dr. Lily bersikeras menghindari Drey.
"Apa Anda tidak ingin menemui Drey?" Tanyaku tanpa basa basi. Jika ia tidak mau bicara, aku harus memancingnya.
Dr. Lily meletakkan cangkir teh di depanku.
"Aku tidak punya alasan untuk melakukan itu," jawabnya.
Mungkin kata-katanya itu dingin dan Tak berperasaan, namun anehnya suara Dr. Lily tidak terdengar begitu.
Aku jadi teringat pembicaraan kami sebelumnya.
"Tidak, kalau aku bertemu dengannya, aku takut akan mengingat semua hal yang sudah ku tinggalkan"
Itu yang diucapkan oleh Dr. Lily. Dulu aku menyangka bahwa yang ia maksud adalah richard atau kenangan. Sekarang aku tahu bahwa sesuatu yang telah ia tinggalkan itu adalah Drey.
"Aku tidak tahu alasan Anda bersikap seperti itu pada Drey, tetapi aku merasa dia tidak pantas mendapatkannya. Orang tuanya berpisah, pasti sudah membuatnya terluka. Anda tidak pernah menemuinya pun menambah kesedihannya. Jika sekarang Setelah melihatnya Anda pergi tanpa mengatakan apapun, dia pasti merasa tidak diinginkan" ujarku berusaha membujuk.
Dr. Lily menatapku. Ada guratan wajah yang mirip sekali dengan Drey di wajahnya. Aku baru menyadari itu. Bahkan hidung dan bibir Drey adalah milik ibunya.
"Mungkin sudah terlambat. Dia tidak akan mau bertemu denganku" jawab Dr. Lily sambil menyeruput tehnya. Aku tahu dia seperti sedang menyembunyikan kegelisahannya.
"Seandainya, ini adalah seandainya. Jika Drey meminta bertemu, apakah Anda bersedia?" Tanyaku.
Dr. Lily nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
__ADS_1
"Anda janji ya" tegasku.