Sugar

Sugar
Family (Drey POV)


__ADS_3

Aku mengemudikan mobil sambil bersenandung kecil. Ada rasa gembira terasa meluap dalam diriku. Langit terlihat cerah dan jalan di depanku terlihat berbunga. Perasaan hangat yang lama tidak kurasakan.


Aku tersenyum saat melihat Luna yang berdiri di depan pintu. Meski dari kejauhan, aku tahu dia memperhatikan setiap inci gerakan mobilku. Ada sedikit kecemasan di wajahnya.


"Drey..."


Luna yang sudah tak sabar segera menghampiri begitu aku membuka pintu mobil.


"Apa kau yakin akan menemani orang tuaku?"


Tanya Luna sambil mencoba menahanku agar tidak keluar dari mobil dulu.


Aku meneliti garis kekhawatiran di wajah Luna. Hari ini dia harus syuting sampai malam, tetapi orang tuanya ingin melihat London. Jadi aku menawarkan diri untuk mengantar. Sepertinya itu yang membuatnya gelisah. Bukannya dia merasa sungkan sudah merepotkanku, dia mungkin mengkhawatirkan apa yang akan kulakukan tanpa dirinya.


"Serahkan saja padaku"


Jawabku mencoba meyakinkannya. Padahal aku sudah sangat percaya diri, tetapi Luna masih menatapku ragu.


"Tenang saja. Aku tidak akan macam-macam"


Ujarku lagi.


"Luna, cepatlah bersiap. Kita harus berangkat!"


Panggilan Daniel sukses membuat Luna menyerah. Dia tidak punya pilihan selain mempercayakan orang tuanya padaku.


"Jika terjadi sesuatu, segeralah menelfonku"


Pesan Luna yang sedikit cemberut.  Dia terlihat tidak puas. Dia lalu masuk ke dalam rumah lebih dulu.


Sebenarnya aku memang memiliki motif pribadi saat menawarkan bantuanku. Aku ingin mengenal lebih dekat ayah Luna- Sullivan, dan ibunya- Mutia. Mereka memang ramah padaku, tetapi aku ingin mendapatkan jaminan bahwa mereka mengijinkanku memacari putri mereka, bukan sebagai pemain sepak bola terkenal. Melainkan sebagai seorang pria bernama Drey. Karena itu, kesempatan ini bisa kugunakan untuk memberikan kesan baik pada mereka.


Tak lama setelah mengantar Luna yang pergi bekerja dengan berat hati, aku dan orang tuanya juga pergi. Mereka hanya ingin berkeliling melihat London tanpa tujuan yang pasti. Sehingga aku yang harus memutuskan daftar tempat untuk dikunjungi.


Rute pertama hanya melihat London dari balik kaca mobil. Aku bisa mengenalkan beberapa kawasan ikonik yang ramai dikunjungi pelancong. Tentu saja mustahil aku bisa membawa mereka kesana. Cukup banyak yang mengenali wajahku dan itu akan menyulitkan orang tua Luna.


Sedikit demi sedikit, perjalanan ini membuatku lebih mengenal orang tua Luna. Sullivan sama seperti kebanyakan pria tua lainnya. Dia memiliki ketertarikan dan rasa penasaran tinggi terhadap hal yang baru dilihatnya. Setelah itu membandingkannya dengan hal yang pernah ia lihat. Sambil menyinggung beberapa kisah masa mudanya. Intinya, sekali dia bicara, tidak akan ada hentinya. Aku sampai bingung menanggapinya.


Sementara Mutia, tidak terlalu banyak bicara. Dia hanya mendengarkan kami. Sesekali hanya menanggapi dengan senyuman. Kupikir mungkin karena dia memiliki bahasa ibu yang berbeda dari kami. Selain itu Mutia orang yang cool. Saat aku memujinya seperti yang biasa kulakukan pada wanita paruh baya lainnya, tidak terlalu mempengaruhinya. Padahal bahkan Lucy saja bisa tersipu saat aku melakukannya. Aku juga bingung bagaimana harus memperlakukannya. Rasanya aku menjadi canggung di sekitarnya.


Luna pasti mewarisi sifat keduanya, ceria dan cool. Luna kadang hanya memandangku datar saat aku merayunya.


******


Setelah dua jam berkeliling, kami berhenti untuk makan. Ada sebuah restoran terkenal yang menyediakan afternoon tea, dan aku ingin mengenalkan tradisi yang terkenal di London itu pada orang tua Luna.


Aku sudah menyiapkan daftar kunjung ke tempat-tempat yang elegan. Walaupun aku sendiri kurang menikmatinya. Asalkan semua berjalan lancar, dan orang tua Luna senang, tidak masalah bagiku. Namun akhirnya aku sadar bahwa pemikiranku tidak sepenuhnya benar.


Di tengah makan, Sullivan pergi ke toilet. Meninggalkan aku dan Mutia berdua. Sejujurnya aku canggung sekali. Beberapa kali aku mencoba berbicara dengan Mutia, tanggapan yang diberikan paling hanya senyuman. Aku paling bingung menghadapi wanita seperti dia.


"Apa kau menyukai masakan di sini?"


Tanyaku mencoba mencari topik. Rasanya ada yang kurang saat kami hanya sama-sama diam dalam keheningan.


"Ya, ada beberapa yang rasanya masih asing, tetapi aku suka masakan di sini"


Jawab Mutia. Sebenarnya aku berharap dia akan menanyakan sesuatu atau memperpanjang basa basi di antara kami. Namun jawaban Mutia hanya terhenti sampai di situ. Membuat kami kembali terdiam.


Aku mulai bergerak gelisah mencoba memikirkan topik lain untuk dibicarakan.


"Di sini ternyata dingin sekali ya"


Saat pikiranku mulai buntu, Mutia tiba-tiba bicara. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera kutanggapi komentarnya.


"Aku menyimpan sweater dan coat di mobil. Apa perlu kuambilkan? Mungkin akan kebesaran, tetapi pasti cukup hangat"


Tawarku. Aku harus menunjukkan perhatianku padanya.


Biasanya dalam situasi seperti itu, seseorang akan memuji kebaikanku. Mutia justru memberikan respon di luar dugaanku. Sambil tersenyum, dia bertanya padaku,

__ADS_1


"Drey, apa kami membuatmu merasa tidak nyaman?"


Aku cukup terkejut dengan pertanyaan itu.


Apa Mutia sebenarnya tidak menyukaiku? Apa aku melakukan kesalahan?


Berbagai prasangka buruk langsung memenuhi pikiranku. Aku tidak tahu di mana letak kesalahanku hingga Mutia menanyakan hal itu. Padahal selama bersama mereka, aku terus tersenyum, dan bersikap ramah. Aku berusaha keras untuk tidak melakukan kesalahan. Jika mereka tidak menyukaiku, tamat sudah nasib hubunganku dengan Luna.


"Suamiku banyak bicara, dan aku juga tidak terlalu pandai mencari topik obrolan. Pasti tidak menyenangkan pergi dengan orang tua seperti kami. Namun kau harus berusaha membuat suasana tetap menyenangkan untuk kami. Kau pasti merasa terbebani kan?"


Kukira Mutia sedang marah padaku. Namun ketika menatap matanya, aku bisa melihat binar rasa bersalah di sana. Hingga aku tak bisa langsung menjawab Mutia.


"Aku sangat berterima kasih dengan perhatianmu. Namun jangan memaksakan diri. Tanpa perlu kau menunjukkannya, aku tahu kau pria yang baik. Jadi saat kau tidak suka dengan sesuatu, katakan saja pada kami. Bersikaplah lebih santai pada kami. Biarkan kami juga mengenalmu"


Ada desiran aneh di hatiku saat Mutia menggenggam tanganku. Tangan yang lembut tetapi memberikan rasa hangat yang berbeda dari Luna. Untuk pertama kalinya aku berani menatap wajah Mutia.


Wajah seorang ibu yang membangkitkan nostalgia.


Rasanya ada kelegaan di hatiku.  Intuisi Mutia tajam sekali. Dia melihat sesuatu pada diriku yang bahkan tidak kusadari sama sekali. Bahwa aku sebenarnya takut harus menghadapi Sullivan dan Mutia sendirian tanpa Luna. Kalau bisa, aku memilih tidak menawarkan bantuan untuk mengantar karena tidak nyaman dengan orang tua. Namun setelah Mutia menunjuknya, aku merasa semua rasa takut dan khawatir itu hilang.


Aku rasa suasana menjadi lebih baik setelah itu. Aku tidak harus berpikir keras menanggapi semua kata-kata Sullivan. Ataupun berpikir bagaimana membuat Mutia bicara padaku. Aku bisa menjadi diriku sendiri.


"Biar aku yang membayarnya"


Mutia langsung menahan tanganku saat aku hendak mengeluarkan dompetku.


"Tidak apa-apa, biar aku saja"


Tolakku. Tagihan untuk makanan kami cukup besar, dan aku merasa bertanggung jawab sebagai orang yang merekomendasikan restoran mahal ini.


"Mana bisa sebagai orang tua, kami meminta anak untuk membayarnya"


Jawab Mutia masih menahan tanganku.


"Sudah, serahkanlah pada menteri keuangan. Dia memiliki simpanan yang banyak"


Apa dia memanggilku sebagai anak?


******


Aku mengubah rencana untuk  berkunjung ke museum patung lilin yang terkenal di London usai makan. Aku merasa bahwa Mutia tidak akan menikmatinya. Lagipula aku juga tidak terlalu paham mengenai tempat itu karena belum pernah kesana sebelumnya.


Aku melihat aksesoris yang dipakai Sullivan dan Mutia. Mereka sepertinya menyukai barang vintage. Sehingga aku mengubah tujuan ke pasar loak. Ada sebuah tempat yang memiliki banyak koleksi barang bekas, maupun klasik yang bagus. Memang bukan tempat yang elegan, tetapi nisa kulihat bahwa keputusanku tidak salah. Akhirnya aku bisa melihat wajah penuh semangat dari Mutia.


"Oh...ini model klasik yang bagus"


Tidak hanya Mutia, Sullivan juga menikmatinya. Matanya sudah berbinar melihat deretan kerajinan miniatur mobil-mobil klasik.


"Wah... Benar juga. Model J keluaran tahun 1931. Sulit sekali menemukan tipe ini"


Komentarku setelah memperhatikan miniatur dari mobil Duesenberg yang ditunjuk Sullivan. Walaupun miniatur itu kelihatan seperti tiruan murahan, tetapi aku cukup mengagumi ketelitian pengrajin yang membuatnya.


"Bagaimana kau tahu jika ini keluaran tahun 1931?"


Tanya Sullivan heran.


"Aku sangat menyukai mobil. Dari klasik sampai sport. Kau boleh bertanya manapun, aku pasti bisa menjawabnya. Aku bahkan punya koleksi dari berbagai tipe"


Jawabku bangga. Senyum Sullivan langsung mengembang mendengarnya. Dia juga merangkulku.


"Akhirnya aku bisa bertemu orang yang memahamiku. Kau berbeda dengan dengan para perempuan di rumahku. Mereka selalu bertanya 'kenapa aku mengumpulkan sampah itu?'. Mereka tidak bisa memahami keindahan mereka"


Curhat Sullivan dengan tawa penuh rasa puas. Aku ikut tertawa. Paham sekali seperti apa rasanya. Luna pernah mengatakan hal yang mirip saat melihat koleksiku.


"Kau harusnya menggunakan uangmu untuk membeli barang yang lebih penting"


Luna mengatakannya dengan tatapan heran. Ternyata bukan hanya aku yang mengalaminya.


Tanpa sadar, kini aku memiliki topik lain untuk dibicarakan di luar sepak bola dengan Sullivan. Aku memang senang sebelumnya, tetapi kini lebih senang lagi. Memiliki teman untuk membicarakan hobiku. Yang kuingat, bahkan tidak bisa kulakukan dengan ayahku sendiri.

__ADS_1


Saking senangnya bicara dengan Sullivan, aku tak sengaja bersenggolan seseorang yang kebetulan sedang memilih barang di belakangku. Tak ayal kami bertukar pandangan. Cukup lama daripada orang biasanya. Sehingga mungkin saja orang itu mulai menyadari siapa aku.


Wajahku sudah tertutupi oleh topi dan syal yang membelit sampai hampir separuh wajah. Namun mata dan postur tubuhku cukup mudah dikenali jika diperhatikan seksama. Itu yang sekarang terjadi. Orang di depanku sudah menunjukkan tanda-tanda terkejut. Matanya nampak terbelalak, tinggal suaranya saja yang keluar lalu semua orang pasti memperhatikan kami.


Tubuhku sudah lebih dulu mematung, tidak siap berkelit.


"Charles, tali sepatumu lepas...!"


Hingga kudengar suara itu mendahului. Aku tidak yakin jika ditujukan padaku karena namaku bukanlah Charles. Namun kulihat Mutia berjalan padaku lalu berjongkok di depanku. Membetulkan tali sepatuku yang memang sedikit lepas.


Ternyata Mutia yang mengatakannya.


Sama sepertiku, orang di depanku ikut terpengaruh oleh ucapan Mutia. Dia sepertinya menyangka bahwa aku orang lain dengan nama Charles dan akhirnya tersenyum malu, sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.


Aku terselamatkan.


Setelah itu, dengan kompak Mutia dan Sullivan menggamit lenganku untuk keluar dari sana. Mereka tahu betul bahwa berbahaya jika aku berdiri di sana lebih lama.


******


"Terima kasih"


Ujarku pada Mutia dan Sullivan. Kami akhirnya membatalkan penelusuran di pasar loak dan mencari tempat duduk yang sepi di sekitar sana.


"Tidak masalah. Kami sudah terbiasa dengan hal ini. Setiap kali pergi dengan Luna, pasti terjadi hal seperti ini"


Jawab Mutia.


"Pasti berat menjadi orang terkenal"


Sahut Sullivan sambil tertawa. Sepertinya menganggap kejadian ini sangat lucu.


Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa saking berterima kasihnya. Hanya saja ada rasa hangat mengalir di hatiku. Mungkin seperti ini rasanya memiliki keluarga yang sebenarnya. Seorang ayah yang berbicara tentang hobi yang sama. Seorang ibu yang memberikan perhatiannya. Dan orang tua yang memberikan perlindungannya, seolah anaknya masih seorang bocah. Jadi seperti ini rasanya. Aku baru tahu.


Mungkin Mutia merasa bahwa aku merasa sedikit malu, dia mencoba menghiburku. Mutia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto padaku.


Dalam foto itu ada Luna mengenakan seragam kelulusan SMA nya. Dia mengapit orang tuanya dengan seorang gadis yang terlihat lebih dewasa. Mereka berdua memiliki garis kemiripan, tetapi terlihat berbeda. Luna tersenyum lebar menampakkan barisan giginya, sementara gadis satunya tersenyum malu-malu.


"Siapa ini? Apa ini kakak Luna?"


Tanyaku. Pertanyaanku ini mungkin seperti yang diharapkan oleh Mutia. Dia lalu bercerita mengenai gadis yang kutunjuk.


Ramona Eloise, atau Mona adalah nama gadis satunya. Tak lain adalah kakak Luna. Usia mereka terpaut tiga tahun. Seperti yang terlihat di foto, Mona memiliki kepribadian yang sangat berbeda dengan Luna.


Mona adalah gadis pemalu dan lebih pendiam ketimbang Luna. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Apalagi Mona rupanya memiliki pekerjaan di kantor pemerintah. Karena itu keberadaannya sebagai kakak dari selebriti terkenal seperti Luna tak pernah diekspose. Hingga Luna lebih dikenal sebagai anak tunggal. 


Itu menjelaskan kenapa selama ini aku tidak pernah tahu jika Luna memiliki kakak. Lagipula Luna sendiri tidak pernah membicarakan keluarganya, selain fakta bahwa orang tuanya akan marah jika tahu kami sering tinggal satu atap.


"Sebagai orang tua, kami sudah sudah ahli kalau soal menyembunyikan orang dari pandangan dunia"


Aku tertawa dengan pernyataan terakhir Mutia. Dia mengatakannya penuh rasa bangga. Namun aku bisa menangkap maksud Mutia menceritakan semua ini. Dia ingin aku berpikir bahwa aku tak perlu menyalahkan diri sendiri. Meskipun perjalanan kami akhirnya kacau.


Aku menatap foto itu lagi. Mutia benar. Aura kakak beradik ini sangat berbeda. Jika Luna bersinar terang layaknya matahari, maka kakaknya terlihat seperti angin yang menyejukkan. Rasanya iri sekali memiliki foto keluarga seperti itu  Namun yang terpenting, baik dulu maupun sekarang Luna tetaplah seorang gadis yang manis.


******


Setelah perjalanan dari pasar loak, kami memutuskan untuk pulang. Mutia ingin memasak sendiri makan malam hari ini. Kami sendiri juga kehabisan opsi tempat untuk dikunjungi.


Saat Mutia selesai menata makan malam, Luna pulang. Sambil berlari dengan wajah panik, dia langsung mencecarku dengan pertanyaan tentang apa saja yang kami lakukan. Sepertinya dia terus merasa cemas sepanjang hari. Untungnya Sullivan menolongku dengan ekspresi bahagianya. Sehingga akhirnya Luna melepaskanku.


"Malam ini menginap di sini saja"


Ujar Mutia saat kami selesai makan. Aku dan Luna sama-sama terkejut dengan tawaran itu. Kami kompak melihat ke arah Sullivan. Menunggu responnya.


"Benar. Sudah malam dan kau pasti lelah"


Di luar dugaan, Sullivan dengan mudah menyetujuinya. Jadi tidak ada alasan bagiku menolak. Aku melihat ke arah Luna yang juga tersenyum lebar. Persis seperti di foto tadi. Dan aku merasakan desiran itu lagi.


Gadis ini benar-benar telah mengubah duniaku. Dia membawaku mengenal kata-kata yang asing dalam hidupku. Cinta, keluarga, dan aku menantikan kata lainnya yang akan dibawakannya untukku nanti.

__ADS_1


__ADS_2