Sugar

Sugar
Party (Drey POV)


__ADS_3

Dia sedang tersenyum. Dia sedang tersipu. Dia sedang mengantuk. Tidak satupun ekspresi Luna terlewat olehku. Ini karena seringnya aku memandang wajahnya. Penampilannya pagi ini sangat memukau dan membuatku sulit memalingkan wajah. Jika aku melihat ke arah lain sepanjang lima detik, maka aku harus mencuri pandang padanya selama sepuluh detik. Seperti itulah terpesonanya aku pada Luna.


Aku juga gemas sekali tiap melihat Luna menyisipkan anak rambut yang jatuh ke telinganya. Ingin aku melakukannya untuknya. Namun gerakannya sendiri cukup membuatku berdegup kencang.


"Drey, aku mengantuk"


Bisik Luna manja. Kalau saja kami hanya berdua di sini, aku pasti akan memeluknya erat dan membiarkan dia tidur di lenganku. Sayangnya, ada orang tua Luna dan Mona di sini. Setelah kejadian semalam, Mutia menjewer telinga Luna, aku harus lebih berhati-hati.


"Tahanlah dulu"


Jawabku berbisik juga. Namun sedikit geli. Mata Luna sepertinya hampir tidak kuat terbuka.


Tak berapa lama, kami akhirnya sampai di gedung tempat acara pernikahan akan dilangsungkan. Selain mobil yang kami tumpangi, ada mobil lain yang mengangkut keluarga besar Luna. Ketika sampai di sanapun, sudah ada beberapa mobil yang terparkir.


Rombongan kami disambut oleh Dua orang yang berasal dari rombongan keluarga pengantin pria. Yang setelah itu mengarahkan kami masuk ke gedung.


Aku Tidak tahu persis seperti apa susunan acara dilaksanakan. Hanya mengikuti Luna. Termasuk saat dia mengajakku duduk di barisan depan. Aku bisa merasakan semua orang memandangi kami berdua. Entah karena mengenali Luna atau aku. Namun karena upacara pernikahan akan segera dimulai, perhatian dengan cepat teralih dari kami.


Acara pagi ini adalah pernikahan secara agama. Tidak terlalu lama. Ikrar janji suci antara Mona dan kekasihnya, Adam berjalan khidmat dan lancar. Aku sempat melihat ekspresi haru Luna dan orang tuanya.


Usai mereka dinyatakan sebagai suami istri, kami mengambil beberapa foto dan bersalaman.


Acara selanjutnya adalah menikmati makanan yang sudah dihidangkan. Saat itulah kehebohan dimulai. Ketika Luna akhirnya diperkenalkan sebagai adik Mona. Termasuk aku juga. Banyak dari mereka yang tidak percaya awalnya. Begitu mempercayainya, ada yang sampai histeris.


Untungnya Sullivan dan Mutia pintar mengendalikan situasi. Mereka juga berhasil menyelamatkanku dan Luna dari serangan permintaan tanda tangan dan foto. Karena ini acara pribadi, hal seperti itu tidak seharusnya dilakukan. Kami hanya bisa sebatas berbicara dengan mereka.


Seperti sebelumnya, aku senang mendapat perlakuan yang ramah. Hanya saja sedikit terganggu saat ada beberapa wanita tiba-tiba menyentuh lenganku atau dadaku. Mereka bilang penasaran dengan ototku. Beberapa kali Luna sampai harus menjadi perisai untukku.


Aku lega saat pesta itu akhirnya berakhir. Aku dan Luna dipulangkan lebih dulu karena situasi.


*****


Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya begitu sampai di rumah. Jumlah tamu yang datang jauh di luar perkiraanku. Padahal Luna mengatakan acara tadi hanya dihadiri keluarga saja. Jumlah keluarga besar di sini memang luar biasa. Sekarang aku bisa sedikit bersantai. Keluarga Luna belum datang dan hanya ada kami berdua saja.


"Minumlah dulu"


Ujar Luna sambil meletakkan segelas air dingin. Langsung ku teguk hingga ludes, mengisi kerongkongan yang rasanya kering. Jujur saja, kami tidak bisa makan dan minum dengan bebas tadi.


"Keluargaku akan datang terlambat. Kau bisa menggunakan kamar mandi di kamar Mona sebelum mereka kembali"


Tawar Luna lagi. Mungkin melihatku sudah pengap.


Aku sebenernya ingin segera mandi dan berganti baju. Pasti rasanya segar sekali. Namun mendengar kami hanya berdua saja sekarang, membuatku melihat kesempatan. Aku ingin menikmati lebih lama wajah Luna hari ini. Setelah ini Luna pasti akan mengganti pakaiannya dan entah kapan aku bisa melihatnya berdandan se-anggun ini.


Tunggu dulu. Apa aku sudah memujinya?


Sepertinya aku terlalu terbuai oleh kecantikan Luna hingga lupa mengatakan pujian seperti biasanya.


Aku segera meraih tangan Luna.


"Hari ini, kau cantik sekali"


Aku bisa melihat rona merah muncul di pipi Luna. Membuatku semestinya menambahkan kata menggemaskan pada ucapanku sebelumnya.


"Kau juga terlihat lebih tampan dengan pakaianmu"


Balasnya. Mata kami saling mengunci. Lalu seperti sudah merencanakannya, kami segera mengambil ponsel lalu segera berpose. Kami harus mengabadikan momen ini.


"Aku berharap bisa mengambil lebih banyak foto Hari ini"


Gumam Luna sambil memeriksa hasil jepretan kami. Mungkin dia mengatakannya karena hari ini kakaknya menikah. Kami memang tidak sempat mengambil banyak foto di venue pernikahan. Sibuk menanggapi orang-orang yang  merubung kami.


"Kalau begitu, ayo kita ambil banyak foto Kita"


Hiburku sambil mengarahkan kamera sekali lagi pada kami.


*****


Seperti kata Luna, Sullivan dan Mutia pulang terlambat. Aku bahkan sudah selesai mandi dan sempat tidur sebentar.


"Apa kau lapar? Kami membawakan masakan dari acara tadi. Ajaklah Luna untuk makan"


Ujar Mutia saat melihatku. Aku hanya mengangguk. Perutku memang lapar, tetapi mungkin harus menunggu Luna dulu.


Dari Banyaknya orang dalam rombongan tadi, hanya Mutia, Sullivan dan beberapa saudara mereka yang pulang. Setelah bicara padaku mereka juga sibuk, seperti sedang mengemas barang.


"Apa ada yang perlu ku bantu?"


Tanyaku menawarkan bantuan.


"Kalau begitu, tolong taruh ini ke teras depan"

__ADS_1


Mutia menyerahkan sebuah kardus. Aku langsung membawanya sesuai arahan Mutia. Lalu kembali lagi mengambil kardus lainnya.


"Apa ini akan dipindahkan?"


Tanyaku heran, melihat banyaknya barang dikemas dan diangkat ke luar rumah. Sepertinya dimasukkan dalam bagasi mobil.


"Ini semua souvenir untuk acara resepsi pernikahan Mona nanti malam. Kami akan membawanya ke hotel"


"Ada acara lagi?"


Tanyaku terkejut. Luna tidak memberitahuku bahwa acara pernikahan Mona belum berakhir. Mungkin karena itu aku tidak melihat Mona dan suaminya di sini.


"Ya, nanti acara besarnya"


Ujar Mutia. Aku tidak bertanya lebih jauh karena dia kelihatannya sibuk sekali. Akhirnya memutuskan untuk mencari Luna. Kami sama sekali belum bersiap-siap untuk acara nanti.


Aku mendatangi kamar Mona dan mengetuk pintunya. Tak lama Luna membukanya, masih sambil mengucek mata. Dia baru saja bangun tidur.


Namun, pertanyaanku langsung buyar dari kepalaku saat melihatnya.


Kedua kalinya hari ini, aku dibuat terperangah oleh Luna. Kali ini dia hanya mengenakan kaos oblong dan celana kedodoran, tetapi mampu membuat jantungku berdetak sama kencangnya seperti tadi. Itu adalah pakaian yang sama yang dikenakan Luna lima tahun yang lalu saat aku pertama bertemu dengannya di hotel.


"Ada apa?"


Tanya Luna membuyarkan lamunanku.


"Masih ada acara pernikahan lagi nanti malam?"


"Ah, iya. Acara resepsi, diadakan di hotel. Kenapa? Apa orang tuaku sudah pulang?"


"Ya"


Luna bergegas turun ke bawah. Dia menemui Sullivan dan berbincang sebentar dengannya. Lalu pergi ke depan untuk melihat barang-barang yang diangkut. Aku hanya mengekor di belakangnya.


Sebelum aku bisa bertanya, Sullivan dan Mutia sudah pamit pergi. Mobil mereka pergi beriringan dengan mobil yang membawa barang "souvenir" tadi. Aku hanya menatap bingung Luna yang melambaikan tangan pada mereka.


"Ibu membawakan makanan. Apa kau mau makan sekarang?"


Tanya Luna. Kenapa dia bisa santai sekali?


"Kita tidak bersiap-siap juga?"


"Huh? Bersiap untuk apa?"


Luna malah bertanya balik.


"Bukankah masih ada acara pesta lagi nanti malam. Tidak apa-apa Kita bersantai begini?"


"Oh... Maksudmu acara resepsi itu. Kita tidak akan datang. Mona mengundang semua teman-temannya di acara nanti malam. Pasti akan jadi heboh jika Kita muncul"


Jawab Luna sambil tertawa renyah. Jadi begitu? Pantas saja upacara pernikahan secara agama tadi hanya dihadiri keluarga saja.


Aku tahu, bahwa situasi ini tidak terelakkan, namun entah kenapa sekarang aku malah merasa Luna seperti terasing. Ini acara keluarga. Mereka harusnya berkumpul, namun hanya Luna sendiri yang harus tinggal di rumah.


"Ayo makan. Masakannya enak sekali. Tadi aku tidak sempat mencicipi tumis dagingnya"


Ajak Luna.


Aku hanya memandang gadis itu. Gadis yang kukhawatirkan itu sekarang matanya sedang berbinar menatap makanan di meja sambil garuk-garuk perutnya. Sungguh orang yang santai.


******


Aku suka menatap Luna memakai pakaian itu. Rasanya seperti aku mengenang takdir di antara kami. Dia tampak sederhana, dan justru karena kesederhanaan itu aku jatuh cinta padanya.


Aku juga suka melihat wajah sumringahnya akhir-akhir ini. Seolah tidak ada beban. Di sini, Luna makan dan tidur dengan baik. Dia juga tidak mengkhawatirkan masalah apapun. Sepertinya pulang ke kampung halaman cukup menjadi obat baginya.


Meskipun begitu aku masih terganggu dengan pikiranku sebelumnya. Rasanya tidak adil jika Luna tidak bisa menghabiskan waktu sesukanya dengan keluarganya.


"Oh, fotonya sudah dikirim. Mona cantik sekali kan?"


Luna segera menunjukkan foto kakaknya dalam acara resepsi itu, yang dikirim oleh ayahnya.


"Iya, dia cantik sekali"


"Sudah ku duga, Mona sangat cocok mengenakan warna pastel"


Komentar Luna sambil memandangi foto di ponselnya. Matanya kelihatan berbinar sekali. Karena itu aku Makin tidak terima. Luna pasti juga ingin ada di Sana.


"Apa kau tidak keberatan tidak bisa datang di pernikahan kakakmu sendiri? Semua keluargamu sedang berkumpul di sana. Sedangkan kau hanya mengamati fotonya di sini"


Luna tidak menjawab dan menatapku heran. Aku langsung sadar sudah keceplosan. Namun sejurus kemudian, Luna memberikan jawabannya.

__ADS_1


"Ini sudah resiko dari pekerjaanku"


Jawab Luna bijak. Tidak ada raut kecewa maupun kesedihan saat dia mengatakannya.


"Memang sedih hanya bisa melihat dari kejauhan seperti ini. Namun jika aku bersikap egois, malah akan membuat semuanya kacau. Bayangkan, ada seribu lebih orang yang diundang ke sana. Meskipun berbohong dan tidak mengatakan bahwa kami saudara kandung, Orang-orang itu akan tahu Mona mengenalku. Mereka akan mulai penasaran, mulai bertanya tentangku padanya. Mulai meminta sesuatu darinya. Maka Mona akan terseret dalam kehidupan selebritiku. Tidak ada jaminan juga seribu orang yang datang itu tidak akan menyebarkannya pada orang lain. Itu akan seperti jamur. Dibasmi satu, muncul yang lainnya"


Luna menjelaskan panjang lebar.


"Bukan berarti aku terlalu percaya diri mereka akan mengenalku sih. Bisa jadi juga ternyata aku tidak populer. Tapi aku hanya ingin memastikan sekecil apapun kemungkinan itu"


Tambah Luna sambil tertawa kecil. Kini rasanya menjadi masuk akal bagiku. Aku juga tidak menjalani kehidupan sebagai orang biasa, jadi tidak terlalu paham sejauh mana popularitas bisa mencederai kehidupan normal.


Saat itu, Luna mengatakannya dengan intonasi serius padaku.


"Aku tahu betapa tidak nyamannya saat kehidupan pribadi ku menjadi konsumsi orang lain. Aku tidak ingin keluargaku mengalaminya juga. Biarkan mereka menikmati kehidupan yang normal Dan tenang"


Mungkin ini yang dinamakan cinta pada keluarga. Terkadang bisa sampai melakukan hal di luar akal sehat sebagai pembuktian. Aku Tidak pernah tahu cinta bentuk ini sebelumnya. Namun melihat usaha Luna melindungi keluarganya, aku hanya bisa kagum. Dia melakukan itu, saat dia juga menjadi orang yang bekerja keras membangun semua ini untuk keluarganya.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku"


Ujar Luna sambil mencium pipiku. Dia mengakhiri pembicaraan kami ini dengan hangat.


"Oh, ya! Ayah memintaku memeriksa isi kulkas. Apa kau bisa melakukannya? Aku ingin ke toilet dulu"


Pinta Luna kemudian. Aku mengangguk setuju dan segera pergi ke dapur. Menuju kulkas. Namun begitu membukanya aku baru ingat kalau Luna tidak menyebutkan secara spesifik barang apa yang harus diperiksa. Karena isi kulkasnya penuh.


"Sugar, ini--"


Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, lampu dapur mendadak mati. Sial sekali!


Aku mengintip ke ruangan samping di sana juga mati. Apa listrik seluruh rumah mati? Karena di sini sekarang gelap sekali, aku memilih diam di tempat.


"Sugar, lampunya mati!"


Teriakku, karena Luna hanya diam saja meskipun sepertinya listrik seluruh padam.


"Aku sedang mencari senter!"


Jawab Luna.


"Pakai ponselmu saja"


Perintahku. Aku tahu Luna memegang ponselnya tadi. Namun kali ini dia hanya diam saja. Apa yang sebenarnya dilakukannya?


"Drey, ada lilin di rak dekat pintu. Di bagian bawah"


Kali ini Luna malah menyuruhku mencari lilin. Apa dia tidak mendengar ucapanku?


Meskipun bingung, akhirnya aku berjongkok dan mencari ke dalam rak. Aku hanya bisa menggunakan sentuhan. Tetapi ku pikir di sana hanya ada cangkir-cangkir saja. Aku menyentuhnya hati-hati. Karena biasanya ibu-ibu sensitif dengan masalah porselen.


"Tidak Ada"


Teriakku pada Luna. Namun tidak Ada jawaban darinya. Aku melanjutkan mencari.


"Sugar, tidak a--"


"Happy birthday to you... Happy birthday to you... Happy birthday, Happy birthday My Drey"


Aku hanya bisa tercengang saat Luna muncul dengan kue di tangannya. Sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Kondisi masih gelap, jadi aku hanya bisa melihat wajahnya dari beberapa lilin kecil yang diletakkan di atas kue.


"Ayo tiup lilinnya . Jangan lupa membuat permintaan"


Ujar Luna sebelum kembali bernyanyi.


Aku menatap kue itu. Kapan terakhir kali aku mendapat kejutan seperti ini? Ah... Aku bahkan tidak pernah mengingat kapan ulang tahunku.


Aku menatap Luna yang masih tersenyum padaku. Tanpa sadar, melontarkan permintaan itu di hatiku.


"Semoga aku bisa terus bersama dengannya"


Lalu meniup lilin saat Luna sampai pada lirik "My Drey".


"Yee.. selamat ulang tahun"


Luna langsung menghadiahiku sebuah ciuman lembut di bibir.


Aku bersyukur Luna mematikan lampu. Jika tidak, dia mungkin sudah melihat mataku yang berkaca-kaca. Karena dia mengatakan padaku,


"Aku tidak bisa datang ke pesta pernikahan kakakku karena aku harus menghadiri pesta ulang tahunmu. Semua orang sedang merayakan untuk Mona. Jadi aku di sini merayakannya untukmu"


What a devil girl. Mengambil seluruh hati dan kenanganku hingga tak bersisa.

__ADS_1


__ADS_2