
Tanganku memutar kemudi dengan sedikit gemetar. Yang bisa ku lakukan hanya memegangnya erat-erat. Berharap aku tidak terlalu gugup. Mataku juga mengawasi jalan dengan waspada. Entah kenapa hari ini bisa sepadat ini.
Apa harusnya tadi aku memanggil ambulans saja?
Aku sedikit menyesal karena tidak berpikir dulu. Aku memutuskan dengan terburu-buru untuk membawa sendiri Mobil ini. Padahal aku kagok sekali mengemudikan Mobil, karena lama tidak menyetir sendiri. Sekarang aku jadi takut kami mengalami kecelakaan sebelum sampai di tempat tujuan.
Namun kondisi Richard sepertinya cukup buruk. Dia hampir tidak sadarkan diri. Akhirnya aku memutuskan membawanya sendiri ke rumah sakit.
Richard masih memegangi dadanya. Nafasnya terengah-engah dan mengeluarkan bunyi aneh. Sejak tadi aku terus mengajaknya bicara agar kesadarannya tetap terjaga.
Untungnya perjalanan yang mendebarkan itu berakhir dengan baik. Aku memanggil pertolongan keras-keras begitu sampai di depan pintu unit gawat darurat. Untungnya para petugas cukup sigap dan segera datang membawa Richard masuk ke dalam.
Sebenarnya, dibandingkan kemampuan menyetir, kemampuan memarkir mobilku jauh lebih buruk. Aku akan menyerah dan memarkir sembarangan kalau saja tempat parkir penuh. Sangat sulit memasukkan Mobil di antara mobil lainnya. Butuh waktu sangat lama untuk memarkir Mobil hingga akhirnya aku bisa menyusul masuk ke dalam rumah sakit.
Belum sempat aku melihat atau menanyakan kondisi Richard, aku sudah lebih dulu dicecar dengan berbagai pertanyaan.
Apa Richard memiliki riwayat penyakit tertentu?
Obat apakah yang sedang ia konsumsi?
Dan lainnya, yang jelas tidak Ada satupun yang bisa ku jawab. Sampai panas dingin sendiri. Sepertinya aku terlalu percaya diri saat mengatakan telah mengenalnya. Aku sama sekali tidak tahu apapun tentang Richard.
Perawatan Richard selesai tak lama Setelah itu. Dokter bilang, penyakit jantung Richard yang kambuh. Namun tidak begitu buruk dan ia akan segera dipindahkan ke kamar rawat. Richard mungkin harus menginap selama satu atau Dua hari. Aku bisa merasa lega dan membiarkannya beristirahat.
Selagi membiarkan Richard dirawat, aku mengurus administrasi. Itupun tidak banyak yang bisa ku isi selain nama. Aku tidak tahu berapa usia Richard, bahkan alamat rumahnya. Aku hanya mencampur isi formulir dengan data Drey. Aku sudah cukup malu tidak bisa menjawab saat ditanya tadi. Tidak mungkin juga aku mengosongi formulirnya. Kecuali usia tentunya. Akan jadi masalah jika mengisinya secara ngawur.
Selain itu, Kesadaranku juga kembali saat itu. Aku langsung kemari usai syuting. Jadi saat ini, aku masih memakai wardrobe dari syuting tadi. Memang bukan sejenis pakaian memalukan, tetapi cukup terbuka Dan aneh dipakai ke fasilitas umum seperti ini. Belum lagi aksesorisnya yang berlebihan. Ini memang keren dipakai di dalam film, namun tidak dengan dunia nyata. Belum lagi, aku hanya mengenakan sandal.
Aku jadi merasa seperti mengumumkan bahwa "Luna" sedang ada di sini, dengan Cara yang memalukan. Padahal dengan wajahku saja sudah cukup mudah dikenali. Aku benar-benar jadi pusat perhatian seluruh ruangan. Mereka melihatku dengan tatapan tertarik hingga aku bisa merasakan rasa malu sampai ke ubun-ubun.
Untungnya mereka cukup sopan dengan hanya menyapaku. Mungkin karena di sini bukan tempat yang tepat untuk jumpa fans. Banyak pasien sakit dan dilarang berisik. Hanya saja bisa ku rasakan beberapa Kali kamera diarahkan padaku. Aku hanya bisa berdoa tidak akan timbul masalah nantinya.
"Luna...?" Suara sapaan yang terdengar ragu itu mengambil perhatianku.
__ADS_1
Aku ingin sekali menangis bahagia saat melihat bahwa orang yang menyapaku adalah Dr. Lily.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Apa kau sakit?" Tanyanya khawatir.
Aku akhirnya meletakkan bolpoinku, menjeda pengisian formulir. Lalu menceritakan apa yang terjadi.
"Oh, dia sakit," ujar Dr. Lily Setelah mendengarkan ceritaku. Dia langsung mencari keberadaan Richard yang masih berbaring di salah satu ranjang.
"Sakit apa?" Tanya Dr. Lily masih menatap Richard dari kejauhan.
"Sepertinya dia punya penyakit jantung"
Dr. Lily tidak bertanya lagi. Aneh, dia menatap cukup lama ke arah Richard. Namun dengan pandangan yang tidak bisa ku artikan.
"Mm... Dokter," panggilku. Seperti baru tersadarkan dari lamunan, Dr. Lily kembali melihat ke arahku.
"Apa aku bisa meminjam jaket atau selimut. Bajuku ini sedikit..." Malu-malu aku meminta tolong. Sambil menunjukkan pakaianku yang sedikit mencolok dan terbuka.
"Tunggu sebentar, akan ku ambilkan di ruanganku," jawabnya.
Aku baru sadar jika aku tidak membawa apapun. Baik ponsel maupun dompet. Tadi benar-benar panik dan terburu-buru kemari. Untungnya masalah pembayaran bisa ditunda. Kalau tidak, akan lebih memalukan jika ditendang dari sini.
Aku meminjam telfon rumah sakit menghubungi Drey. Sekarang sudah hampir jam 2 pagi, aku tidak mungkin pulang sendiri. Tidak sampai bunyi dering kedua, Drey sudah mengangkat telfon.
Apa dia belum tidur?
"Halo"
"Drey, ini aku. Aku--"
"Kau Ada di Mana sekarang?!" Tanya Drey dengan suara keras. Dia terdengar panik.
"Aku di rumah sakit"
__ADS_1
"Di rumah sakit Mana? Apa kau sakit? Atau terluka? Daniel menelfonku dan bilang kau tiba-tiba saja hilang dari lokasi syuting," Drey langsung mencecarku.
Aku baru sadar jika sudah melupakan Daniel. Ini sudah Dua jam lebih sejak aku meninggalkan lokasi syuting. Bisa ku bayangkan betapa paniknya mereka berdua selama itu.
Aku segera meminta maaf Dan menjelaskan apa yang terjadi. Aku tahu Drey mencoba menahan amarahnya dibandingkan merasa khawatir saat tahu aku kemari karena ayahnya.
"Tunggu aku di Sana" ujar Drey sebelum menutup panggilan.
*****
Richard langsung dipindahkan malam itu juga. Akibat pengaruh obat, dia juga langsung tidur sehingga aku tidak sempat menyapa. Jadi akhirnya aku hanya duduk sendirian. Terlalu canggung hanya berdua di dalam ruangan ini meskipun Richard sedang tidak sadar.
Berbeda dengan unit gawat darurat, di sini sangat sepi. Bahkan tidak terlihat satupun perawat karena sudah dini Hari. Aku cuma bisa bengong sendirian.
Aku sampai bisa mendengar suara derap langkah kaki Drey di lorong saat ia datang. Drey membuka pintu pelan-pelan, Dan Hal pertama yang ia lakukan adalah memelukku. Tanpa mengatakan apapun Drey memeriksa jika aku baik-baik saja. Sementara saat melihat ayahnya yang terbaring, ekspresinya datar.
"Dia memang sudah lama mengidap sakit jantung" ujar Drey saat aku memberi tahu perihal penyakit Richard. Rupanya meskipun tidak akrab, mereka masih saling mengetahui keadaan satu sama lain dengan baik.
"Aku sudah membayar seluruh biayanya saat mampir di admistrasi tadi. Aku juga menelfon Lucas untuk datang kemari. Kalau Lucy Dan Lara, sebaiknya Kita kabari besok saja"
Drey memberi penjelasan. Kalau begini dia terlihat seperti anak laki-laki yang baik. Karena itu aku heran Richard selalu bersikap buruk padanya.
"Bagaimana kalau Kita pulang?" Tanya Drey.
Aku segera menggelengkan kepala. "Kita tunggu sampai Lucas datang saja. Aku merasa kasihan jika ayahmu ditinggal sendirian"
Drey diam sejenak, lalu akhirnya mengangguk. Ia tersenyum sambil mengusap kepalaku.
"Ayahku benar-benar berhutang padamu," ujarnya.
Lagipula Lucas mungkin tidak akan datang kemari terlalu lama. Jadi ku pikir Ada baiknya kami menunggu.
Drey tahu jika aku belum sempat makan malam, ia membelikan sesuatu yang tersedia di lantai bawah. Hari ini aku pasti sangat menyedihkan, tetapi Drey malah menertawakanku saat aku menceritakan rasa maluku berdiri di rumah sakit dengan pakaianku. Sampai harus dipinjami selimut.
__ADS_1
Aku tidak terlalu ingat bagaimana selanjutnya. Bahkan jam berapa Lucas datang Dan kami pulang. Aku terlalu lelah dan mengantuk. Jadi ku serahkan semua pada Drey.