
Aku menyerahkan termometer pada Mutia. Dia memeriksanya dan baru mengangguk setuju. Sama halnya dengan Luna, Mutia tidak percaya kata-kataku. Begitu sampai di rumah langsung melakukan pemeriksaan padaku.
"Apa ada yang ingin kau makan?"
Tanyanya. Mutia tidak berhenti memberikan perhatian padaku. Padahal dia pasti lelah karena baru saja melakukan perjalanan panjang.
"Tidak apa, aku baik-baik saja"
Jawabku.
"Oh ya, bagaimana acara pernikahan Mona?"
Secara cepat aku mengalihkan pembicaraan.
Setelah itu Mutia akhirnya bercerita panjang lebar. Dia mengeluh lelah dengan banyaknya acara pernikahan. Namun aku bisa melihat raut wajah bahagia dari ekspresinya.
"Bu, ayo makan"
Luna datang menyela obrolan kami. Dan cerita itu akhirnya dilanjutkan di meja makan.
Selain Mutia dan Sullivan, Mona dan suaminya Adam ikut pulang kemari. Mereka akan tinggal di sini sampai aku Dan Luna kembali ke Inggris.
"Kalau begitu aku akan tidur dengan Drey"
Celetuk Luna saat kami membicarakan masalah kamar. Di rumah ini hanya ada kamar tidur. Kamar Sullivan dan Mutia, kamar Mona dan kamar Luna. Saat ini aku menempati kamar Luna, sedangkan dia di kamar Mona. Karena kini Mona kembali kemari, otomatis Luna harus keluar dari kamar itu.
Mutia langsung memukul lengan Luna dengan keras.
"Hanya bercanda"
Ujar Luna sambil tertawa lebar. Semua ikut tertawa kecuali Adam. Dia mungkin masih bingung berada di sini. Apalagi dengan candaan Luna. Setelah itu sepertinya Mona berbisik pada suaminya untuk memberitahu bahwa Luna hanya bercanda.
"Karena itu Kan sudah ku katakan sebelumnya. Kita harusnya membangun kamar tamu"
Protes Luna.
"Biasanya juga kamarmu yang jadi kamar tamu"
Timpal Mutia. Mereka akhirnya berdebat. Sementara Sullivan hanya tertawa melihat putrinya.
"Sudah, tidur saja di ruang tengah"
Kini Mona ikut masuk dalam perdebatan. Dan meja makan pun semakin ramai.
"Tidur saja di kamar, biar aku yang di ruang tengah."
Ujarku pada Luna yang benar-benar menata tempat tidur di depan televisi. Di Sana memang sejak awal sudah ada kasur. Biasanya untuk Sullivan yang begadang menonton pertandingan sepak bola. Meskipun begitu, Mana tega aku membiarkan Luna tidur di Sana.
"Aku akan tidur dengan ibu. Aku hanya menata tempat ini untuk ayah"
Jawab Luna sambil tertawa geli. Mungkin karena aku kelihatan serius sekali.
"Tadi kami hanya bercanda. Tidak perlu ditanggapi serius"
Tambah Luna. Karena tadi mereka berdebat, ku pikir Luna akan benar-benar bermalam di sini. Aku sungguh dibuat bingung. Sepertinya antara candaan dan keseriusan di rumah ini sulit untuk ku bedakan. Keluargaku tidak pernah seperti ini. Kami berkelahi saat benar-benar sedang berkelahi. Jadi aku tidak tahu bagaimana mengetahui bagian candaan dan tidak di sini.
"Luna, kalau selesai langsung ke kamar. Nggak usah mojok dulu"
Ku dengar Mutia bicara. Meskipun tidak tahu apa maksudnya, karena menggunakan bahasa mereka. Hanya saja gadisku ini menanggapi dengan memonyongkan bibirnya.
"Besok kita akan pergi pagi. Jadi cepatlah tidur. Selamat malam"
Ujar Luna. Sebelum itu dia masih sempat memberikan kecupan singkat yang membuat ibunya kembali mengomel panjang. Dan ku dengar gadis bandel itu hanya tertawa.
******
Sejak pagi kami telah bersiap-siap. Memakai perlengkapan penuh seperti hendak mendaki gunung. Karena khawatir nanti siang tiba-tiba turun hujan. Jalanan mungkin akan licin.
Kami naik mobil ke lokasi. Tidak sampai sejam kami tiba di sana. Karena bukan akhir pekan, tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya Ada beberapa kendaraan lain terparkir di sana.
Untuk pergi ke air terjun, kami harus melalui jalan setapak yang menurun. Jalanan di sana juga telah dipaving dengan baik. Pemandangan di sana juga bagus. Selain pepohonan yang menjulang tinggi, kadang terlihat siluet dari gunung-gunung yang menjulang. Ada beberapa tempat beristirahat juga, yang telah dibangun sedemikian rupa.
Sepanjang jalan juga Sullivan bercerita mengenai sejarah atau mitos yang berkaitan dengan tempat ini. Perjalanan jadi tidak terasa. Tidak ada rute berbahaya juga. Rasanya perlengkapan kami jadi terasa berlebihan.
Hanya satu jam, kami sudah sampai di lokasi air terjun. Tempat yang indah sekali. Airnya jernih hingga bebatuan di bawah air terlihat jelas. Kami semua segera melepas sepatu dan turun ke dalam air.
Aku bukan penggemar wisata hiking atau alam semacam ini. Sering pergi berpesta, mataku lebih akrab dengan hingar bingar lampu terang. Namun ternyata pengalaman ini tidak buruk juga. Aku merasa udara segar telah membersihkan diriku juga. Rasanya seluruh beban dan kelelahan di badanku langsung hilang.
Keluarga Luna juga baik dan hangat. Mereka bersenda gurau tanpa canggung. Aku bahkan tidak pernah melihat Luna bisa tertawa selepas ini.
"Terima ini"
Luna memulai keusilannya dengan memercikkan air padaku. Aku tidak terima dan dengan mudah langsung mengangkat tubuhnya ke dekat air terjun. Di Sana percikan airnya cukup kuat dan Luna menghindarinya. Dia sampai menjerit-jerit.
Adam melihat kami, dan langsung menirunya. Dia mengangkat Mona walau akhirnya mereka malah terjatuh karena Badan Adam tidak sebesar diriku. Dia dengan mudah kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
Sullivan rupanya tidak mau kalah. Dengan badannya yang juga kekar, dia mengangkat Mutia. Kali ini sukses untuk Sullivan. Dia berhasil membuat istrinya menjerit ketakutan juga.
Kami bermain hingga cukup siang. Setelah basah kuyup semua, kami baru berhenti. Perut juga lapar, sehingga Mutia menggelar tikar yang dibawanya. Lalu membuka bekal makanan kami.
Mutia mengemas banyak sekali jenis makanan. Dia bangun jam tiga pagi untuk mempersiapkan semuanya. Aromanya langsung menggugah selera. Di bawah hangatnya matahari, kami segera menikmati seluruh makanan itu.
"Sugar, tolong ambilkan minum"
Pintaku karena botol minuman terletak jauh dari jangkauanku. Sebelum Luna bergerak, seseorang sudah menyodorkan botol padaku, dan itu Mona.
Aku cukup terkejut dengan tindakannya. Apalagi Mona tidak terlihat takut lagi saat menatapku.
"Terima kasih"
Jawabku. Mona menggangguk. Ada apa ini? Dia bersikap baik padaku. Dan itu bagus sekali. Akhirnya aku bisa berbicara secara normal pada Mona.
"Sugar?"
Pertanyaan Adam mengalihkan perhatian kami. Dia menanyakan panggilanku pada Luna barusan.
"Panggilan sayang Drey untuk Luna"
Mona yang menjawab. Mendadak kami pun menjadi pusat perhatian. Biasanya aku tidak terlalu terpengaruh, kenapa sekarang rasanya malu sekali.
"Kenapa harus Sugar?"
Tanya Sullivan tiba-tiba.
"Huh?"
Aku dan Luna saling melihat. Tentu saja alasannya adalah karena pertemuan pertama kami. Namun Luna sendiri tidak tahu alasan itu. Aku juga belum siap menceritakannya. Mendadak aku jadi gugup.
"Berhenti membahas masalah pribadi kami. Memangnya ada yang salah dengan Sugar? Tentu saja karena aku manis"
Untungnya Luna dengan cepat menyahut. Dia membuat alasan sendiri hingga semua orang tertawa. Namun rasanya aku terselamatkan. Pembicaraan segera beranjak dari Sana.
Usai makan, kami berpisah. Mona dan Adam, aku dan Luna, sedangkan Sullivan membantu Mutia membereskan sisa makanan.
Aku dan Luna berjalan tidak jauh dari lokasi air terjun. Ada tempat peristirahatan yang menarik perhatian kami. Dibuat seperti kereta yang ditarik seperti kuda. Kami menikmati pemandangan dari Sana. Sekaligus mengambil banyak foto, mengabadikan pemandangan bagus di sini.
Saat itu Ada rombongan lewat. Salah seorang dari anak kecil di rombongan itu memanggilku.
"Hai Mister"
"Apa dia mengenaliku?"
Tanyaku heran. Meski menyapa, mereka tetap melanjutkan perjalanan setelah itu.
"Tidak, dia menyapamu karena kau orang asing. Di sini hal seperti ini biasa terjadi. Dulu ayahku juga sering dipanggil saat di jalan"
"Hm..."
Aku menemukan hal baru lagi.
"Lagipula mungkin terlalu mustahil bertemu artis di tempat seperti ini"
Kelakar Luna sambil tertawa lebar.
Setelah itu kami menghabiskan waktu dengan membicarakan pemandangan indah di depan sana. Hingga tiba-tiba gerimis mulai turun. Padahal tadi langit cerah sekali. Cuaca di sini memang tidak bisa diprediksi seperti kata Sullivan.
Aku dan Luna memutuskan kembali turun ke air terjun untuk berkumpul lagi dengan keluarganya. Karena sepertinya hujan akan semakin deras setelah ini. Di sini juga tidak ada tempat untuk berteduh.
Kami berjalan perlahan karena rupanya jalan setapak tadi berubah sangat licin hanya dengan gerimis. Namun ketika sudah hampir mencapai area air terjun, ada seekor tupai yang lewat tepat di samping kaki Luna dan mengejutkannya. Luna kehilangan keseimbangan. Secara refleks aku segera meraihnya sebelum dia jatuh. Sialnya, justru aku yang terperosok dan jatuh.
Pikiranku langsung kosong saat itu. Hanya merasakan tubuh yang langsung jatuh. Satu hal yang menjaga kesadaranku adalah teriakan histeris Luna. Dia berteriak kencang sekali memanggil ayahnya. Apa dia terluka? Rasanya dunia langsung berputar saar itu. Aku ingin segera bangkit untuk memeriksa Luna. Hanya saja tubuhku kesulitan bergerak. Sepertinya aku terperosok lumayan dalam.
Ku rasakan tangan kurus Luna berusaha keras menarikku. Dia gemetar. Dia menangis memanggilku. Saat menyadari itu, aku berusaha keras menjaga kesadaranku. Aku harus segera melihat Luna.
Saat itu aku merasa samar-samar mendengar suara Sullivan. Lalu tubuhku di angkat oleh Dua orang. Sepertinya yang satunya adalah Adam.
"Kau tidak apa-apa? Di mana yang terluka?"
Aku hampir tidak bisa menjawab pertanyaan Sullivan itu.
*****
"Tidak apa-apa. Luka gores pun tidak ada. Tapi akan lebih baik jika nanti diperiksakan ke rumah sakit untuk melihat apakah Ada semacam Luka dalam"
Aku mendengarkan dokter yang berbicara dengan Sullivan. Setelah aku jatuh, Sullivan langsung memanggil dokternya untuk kemari. Takut menimbulkan keributan jika memutuskan membawaku langsung ke rumah sakit.
Hanya saja Rasanya berlebihan sekali. Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya terkejut. Lagipula dengan peralatan mendaki yang baik, bahkan lecet sekalipun tidak ada. Namun Sullivan bersikeras memeriksanya.
"Aku selalu ada pemeriksaan rutin setelah kembali dari bepergian. Jadi, aku bisa memeriksanya lagi setelah pulang nanti"
Ujarku menenangkan. Sebagai atlet, aku tahu dengan baik kondisi tubuhku. Dan tidak ingin mereka mencemaskan yang tidak perlu.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja"
Jawab Sullivan sambil menghembuskan nafas lega.
"Sepertinya aku tidak terlalu cocok dengan alam"
Candaku, Sullivan hanya tertawa.
"Aku Akan mengantar dokter dulu. Dan kau, mm.... Sepertinya Ada yang harus kau lakukan"
Ujar Sullivan. Aku menatapnya lalu menganggukkan kepala.
Setelah Sullivan pergi, aku pergi keluar juga. Di sana ada seorang gadis yang sedari tadi menangis tanpa henti. Bahkan ibu Dan kakaknya tidak cukup menenangkannya.
Setelah melihatku, Mutia Dan Mona memilih pergi untuk memberi kami waktu.
Aku langsung merengkuh Luna yang masih menangis. Tubuhnya masih gemetar. Sepertinya aku sudah membuatnya khawatir lagi hari ini.
Ternyata tadi aku sempat menyelamatkan tubun Luna. Dia tidak sampai terperosok sepertiku. Hanya jatuh menghantam tanah. Namun melihatku jatuh ke bawah. Luna langsung panik dan histeris. Dia ketakutan, lalu memanggil bantuan. Apalagi melihatku yang seperti tidak bergerak. Untungnya Sullivan mendengarnya Dan bisa segera menolongku.
"Aku sudah diperiksa dan baik-baik saja. Tadi aku hanya kehilangan pijakan. Jadi jangan menangis lagi"
Bujukku menenangkannya. Luna masih sesenggukan. Dia bahkan menangis lebih keras daripada saat kami bertengkar tempo hari.
"Aku takut..."
Jawab Luna dengan wajah yang diliputi tersembunyi di dadaku.
"Takut kenapa? Aku baik-baik saja. Tubuhku ini besar dan kuat. Jadi tidak mudah cedera"
Aku mencoba bergurau untuk membuat hatinya merasa lebih baik.
"Aku takut kakimu terluka"
Namun kali ini aku hanya bisa terdiam.
"Dalam pikiranku hanya terlintas, bagaimana jika kakimu terluka? Bagaimana jika kau sampai cedera? Bagaimana kalau kau tidak bisa ikut pertandingan minggu depan? Bagaimana jika kau tidak bisa bermain sepak bola lagi? Aku takut sekali membayangkan semua itu. Aku Tidak ingin apapun merenggut sepak bola darimu"
Aku hanya bisa diam. Sepertinya aku telah lupa, dan Luna yang mengingatkannya. Alasan sebenarnya kenapa aku tidak menyukai kegiatan outdoor seperti ini. Karena itu berbahaya bagiku. Bagi seorang pemain sepak bola, satu cedera bisa mengakhiri segalanya.
Luna tenyata memikirkanku. Sebanyak yang aku Tidak sadari.
Tidak pernah ada seorangpun menyebutkan ini padaku. Tidak ingin apapun merenggut sepak bola darimu. Aku juga tidak akan rela. Sepak bola adalah segalanya bagiku. Ini yang telah menyelamatkan kehidupan Masa kecilku yang berantakan.
Tapi dalam keadaan seperti tadi, aku akan tetap memilih menyelamatkan Luna. Lebih Tak bisa ku bayangkan kehilangan dia oleh alasan apapun.
Aku mengusap punggung Luna. Lalu mengecup keningnya.
"Yang penting kau dan aku baik-baik saja sekarang"
*****
Kegiatan piknik tadi sepertinya tidak terlalu berakhir dengan baik. Aku baru saja membuat semua orang panik. Dan Luna demam saat sampai di rumah.
Luna sudah tidur saat aku memeriksanya ke kamar ibunya.
"Dia baik-baik saja. Hanya sedikit demam, mungkin karena tadi terlalu lama bermain airnya dan kehujanan"
Ujar Mutia mencoba membuat hatiku menjadi lebih baik. Dia sepertinya tidak ingin aku berpikir bahwa Luna sakit setelah menangisiku.
Aku merasakan seseorang menepuk bahuku dari belakang.
"Mau minum kopi denganku?"
Ajak Sullivan. Aku menganggukkan kepala dan mengikutinya ke teras depan. Di sana sudah ada Mona dan Adam juga.
"Kenapa wajahmu terlihat murung begitu? Padahal dokter sudah bilang jika kau baik-baik saja"
Tanya Sullivan berusaha memancingku.
"Luna memang gampang sakit kalau kelelahan. Tidak perlu khawatir"
Tambah Mona. Untuk pertama kalinya dia bicara dengan ramah padaku.
Aku jadi tidak enak membuat semua orang mencemaskanku lagi.
"Tidak, aku hanya merasa bersalah telah membuat Luna takut"
Kemudian aku menceritakan kata-kata manis Luna tadi.
Sullivan tertawa setelah mendengarnya.
"Itu baru putriku. Sepertinya dia sudah sadar diri menjadi pacar pesepak bola. Justru aku akan marah kalau dia tidak mengkhawatirkan hal itu"
Ujar Sullivan. Mona dan Adam juga ikut tersenyum. Ada rasa hangat menyelimuti hatiku. Ada banyak orang yang kini peduli padaku.
__ADS_1