
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan Hari ini. Namun Ella Dan Rilla adalah gadis yang menggemaskan. Sehingga Tanpa kusadari aku sudah bermain dengan mereka.
Rilla Dan Ella sebenarnya gadis-gadis yang cantik, namun kurang terawat. Baju mereka lusuh dan kebesaran. Rambut mereka kusut, kuku yang hitam dan Rilla yang selalu menggunakan roknya untuk mengusap ingusnya. Membuat tanganku gatal ingin membersihkan mereka.
Saat Dua tubuh kecil itu berebut makanan dengan para anak lelaki, aku Makin miris. Hingga aku harus menolong Dua gadis kecil itu. Tadi Drey membawakan banyak makanan yang langsung laris mereka serbu. Ella serta Rilla kewalahan berebut dengan tubuh kurus mereka.
Bisa kulihat betapa laparnya mereka saat melahap makanan-makanan kecil di meja itu. Seperti sudah tidak makan berhari-hari.
"Apa kau menyukai mereka?"
Tanya Drey saat mataku lekat memperhatikan mereka.
"Siapa mereka? Dimana orang tuanya?"
Aku balik bertanya. Keadaan anak-anak itu benar-benar membuatku miris.
"Calon anak-anak yang Akan diadopsi ibu tiriku"
Aku termangu mendengar jawaban Drey, membuatku Makin penasaran.
Sambil menunggu anak-anak itu menyelesaikan makanannya, Drey mulai bercerita mengenai siapa mereka.
Ibu tiri Drey, tepatnya ibu Lara adalah mantan aktivis untuk lembaga perlindungan anak-anak. Setelah berhenti ingin membuat sendiri semacam panti asuhan atau rumah bagi anak-anak yang terlantar. Namun karena sampai sekarang belum bisa mengelola lembaga sebesar itu, ibu Lara memutuskan untuk mengadopsi anak-anak yang terlantar. Mereka berlima ini yang pertama.
Mario, Andrew, Ella, Terri, dan Rilla adalah lima bersaudara yang kehilangan orang tuanya. Belum lama ini ayahnya melakukan kekerasan yang berujung pada kematian ibu mereka, lalu melukai Lima bocah itu. Akibatnya ayah mereka sekarang menerima hukuman penjara seumur hidup. Dan anak-anak ini tidak memiliki siapapun untuk menjaga mereka. Bahkan saudara mereka sendiri juga menolak mereka.
Karena itu ibu Lara Akan mengadopsi mereka. Masih banyak proses administrasi yang harus dilalui, sehingga anak-anak ini belum bisa dibawa. Mereka juga tidak mau dibawa ke panti sosial. Ibu Lara juga masih membuatkan tempat tinggal bagi mereka. Mungkin butuh waktu sekitar satu bulan lagi anak-anak ini baru bisa dipindahkan dari sini. Selama itu, bergantian keluarga Drey menjenguk mereka.
Rasanya hatiku mencelos mendengar cerita Drey. Aku tahu mereka mengagumkan bisa tetap tersenyum ceria Setelah semua yang anak itu lalui. Tetapi tidak bisa kubayangkan betapa menakutkannya Hari yang harus mereka lalui. Ibunya meninggal ayahnya seorang kriminal Dan mereka tidak memiliki siapapun untuk bergantung.
Tanpa perlu bertanya lagi apa yang harus kulakukan, aku menawarkan diri untuk membantu. Aku memandikan Ella Dan Rilla. Memotong Dan merapikan kuku mereka. Lalu menyisir rambut dua gadis kecil. Selama itu aku harus menahan tangisku.
Aku bukan bersedih hanya sekedar kasihan pada mereka, tetapi kecewa pada diriku sendiri. Sekarang aku paham mengapa Drey membawaku kemari dan hubungannya dengan dietku.
Saat memandikan Ella dan Rilla, aku bisa melihat betapa kurusnya tubuh mereka. Sampai tulangnya bisa terasa setiap aku menyentuhnya. Berbeda denganku yang harus diet karena terobsesi dengan tubuh yang lebih kurus, mereka seperti itu dipaksa keadaan. Karena tidak Ada cukup makanan untuk mengenyangkan mereka setiap harinya.
Aku juga bisa melihat bekas Luka di sekujur tubuh mereka. Karena memiliki ayah yang sering melakukan kekerasan, Ada bekas dari yang lama sampai baru. Mungkin Akan terus ada hingga mereka dewasa nanti. Hal yang menakutkan bagi seorang perempuan.
Tetapi Ella Dan Rilla masih bisa tersenyum ceria. Sedangkan aku yang hanya karena kemunculan satu jerawat saja sudah mengamuk Tak karuan kemarin. Malu sekali rasanya.
Drey mungkin ingin menamparku dengan kenyataan ini. Bahwa mungkin aku terlalu banyak melihat apa yang Ada di atasku, hingga lupa bahwa masih Ada lebih banyak Hal di bawah. Jika aku mau menengok sekali saja, aku mungkin Akan lebih bersyukur.
***********************************
Aku menatap senang kepada Andrew Dan Terri yang sedang berebut bola dengan Drey. Mereka berlarian kesana kemari seolah tidak kenal lelah. Drey juga tidak sedikitpun mengalah sebagai pemain bola professional. Membuat tubuh yang lebih kecil darinya itu pontang-panting mengejarnya.
Di sampingku ada Mario yang tidak bisa ikut bermain karena kakinya cedera. Serta Ella Dan Rilla yang terus menempel kepadaku. Cuaca memang masih dingin, pemandangan di tempat ini cukup indah untuk dinikmati. Warna hijau dari perkebunan adalah yang Paling menarik. Sesaat, di Sana aku seolah lupa pada siapa diriku Dan pekerjaanku.
Tes.
Aku merasakan Ada air jatuh mengenai keningku. Awalnya satu, lalu mulai berjatuhan Makin banyak. Hujan turun lagi. Padahal tadi tidak kelihatan mendung.
Kami langsung berlarian masuk ke dalam rumah. Meski sudah bangunan tua, rumah ini cukup kokoh Dan hangat. Padahal kusangka akan bocor, nyatanya rumah ini cukup Aman dari hujan.
Sepertinya hujan turun sangat deras sekali Dan tidak Akan segera berhenti. Jadi anak-anak itu akhirnya memilih untuk tidur siang. Meninggalkan aku Dan Drey yang terjaga.
Belum juga satu Hari kami berbaikan,
"Sini..."
Ujar Drey sambil menepuk pahanya. Memberi tanda agar aku duduk di pangkuannya. Sambil mengeluarkan senyuman menggodanya.
Di rumah ini tidak Ada tempat untuk duduk selain matras tempat para bocah itu tidur Dan satu kursi di depan. Pria mesum itu memanfaatkannya dengan lebih dulu duduk di kursi itu. Mau Tak mau aku harus duduk di pangkuannya.
__ADS_1
Ada senyum kemenangan di wajah Drey. Itu yang membuatku sebal.
"Ada anak-anak di sini"
Ujarku sambil menjewer telinga Drey saat merasakan dia hendak menciumku. Sekarang aku sudah mulai tahu tanda-tanda saat pria ini hendak menyerangku. Drey hanya terkikik geli. Tetap saja dia bisa mengambil kesempatan dengan melingkari posesif pinggangku.
Kami berdua terdiam menatap hujan yang masih turun sangat deras. Seolah tersihir dengan keindahannya. Aku memang penyuka hujan, namun sepertinya Drey juga menikmatinya.
Lalu aku merasa ini adalah waktu yang tepat untuk bicara banyak Hal dengan Drey.
"Apa kau membawaku kemari untuk memberiku pelajaran?"
Tanyaku jujur. Drey menjawabnya dengan anggukan.
Sebenarnya aku bukan gadis yang cukup terbuka untuk mengutarakan semua yang kupikirkan. Namun Drey adalah orang yang selalu menanggapi dengan jujur semua pertanyaanku. Dan aku sangat nyaman dalam Hal itu.
"Pelajaran apa yang kau dapat hari ini?"
Tanya Drey balik.
"Aku tidak seharusnya memaksakan diri untuk diet saat ada orang yang justru kelaparan. Benar begitu?"
"Mungkin itu salah satunya, tetapi bukan itu yang ingin kusampaikan"
Aku segera melihat Drey dengan ekspresi penuh tanya Setelah mengetahui bahwa jawabanku kurang tepat. Jangan-jangan aku saja yang terlalu positif.
"Apa kau merasa bahwa anak-anak itu sangat menyukaimu?"
Aku mengangguk. Mereka memang terus menempel padaku, jadi mungkin mereka menyukaiku. Begitu pikirku. Tetapi bisa jadi bukan Luna, melainkan June, karakterku di film-lah yang mereka idolakan. Karena sejak tadi mereka terus memanggilku "June".
"Seseorang pernah mengatakan padaku, agar aku mencintai diriku sendiri, menghargai setiap usaha yang telah kulakukan. Karena orang lain hanya Akan melihat bagian luarnya, Tanpa tahu seperti apa sebenarnya di dalam diriku. Mereka tidak Akan bisa mencintaiku, sebesar diriku sendiri. Karena kata-kata itu juga aku jadi bisa berbagi cinta seperti ini"
"Akhir-akhir ini kau selalu berpikir bahwa kau menjadi Artis melalui penampilanmu, jadi aku ingin menunjukkan bahwa orang menyukaimu karena bakatmu. Lihat sendiri Kan? Mereka terus mengingatmu sebagai June. Padahal kalian sama sekali berbeda. June itu gadis liar berpenampilan tomboi. Tukang buat onar. Tapi mereka tidak takut padamu Kan? Karena June juga gadis baik yang selalu melindungi orang yang lemah. Kalau bukan karena aktingmu yang bagus, mereka tidak akan mau berdekatan dengan gadis semacam June "
Drey menjelaskan panjang lebar.
"Kalau orang lain bisa mencintai bakatmu, kau harusnya juga. Bukan terobsesi pada penampilan"
"Tapi aku pernah ditolak saat casting karena penampilanku"
Debatku. Entah kenapa setiap bicara dengan Drey hatiku selalu tergelitik berdebat dengannya. Tidak peduli seberapa hangatpun nasehatnya padaku.
"Berarti mereka bukan rekan kerja yang baik. Tidak pandai menilai kualitas seseorang. Harusnya kau yang menolak mereka, tidak Ada untungnya bagimu"
Debat Drey balik. Mungkin sebenarnya kata-kata ini yang sudah lama ingin aku dengar. Bahwa keyakinanku yang dulu tidak salah. Sebelum orang-orang itu memberiku trauma Dan mengubahku seperti ini.
Drey mengingatkanku bahwa film yang menolakku itu tidak berakhir dengan baik. Bahkan cenderung kritikan karena dianggap terlalu mengeksploitasi wanita sebagai obyek dengan banyaknya adegan tidak baik. Karena terlanjur down, aku lupa bagian terpenting itu. Setelah Drey mengatakannya, bebanku seolah terangkat.
Saat itu hujan sudah mulai reda. Menguarkan aroma Setelah hujan favoritku, yang disebut "petrichor". Seperti bau tanah yang basah.
Berapa lama aku tidak mencium aroma ini?
Mungkin sama lamanya dengan aku yang mulai kehilangan arah. Saat aku begitu sibuk dengan pekerjaanku. Lalu lupa mengenai Cara menikmatinya Dan kehidupanku ini.
Aku selalu menemukan alasan baru kenapa harus bertemu dengan Drey.
Jantungku kembali berdegup cepat saat mengingat itu. Saat Drey mengeluarkan sisi bijaksananya seperti ini. Drey jadi kelihatan berkali-kali lipat lebih mempesona dari biasanya. Hingga Tanpa kusadari, aku sudah mengalungkan tanganku ke leher Drey. Tak ayal membuat Drey menangkap tatapanku padanya.
Drey sepertinya memahami isi pikiranku. Dia mengeratkan pelukannya. Semakin mendekatkan aku padanya. Untuk beberapa saat, kami hanya saling memandang, seolah sedang mengobrol dengan Mata kami. Hingga dia berinisiatif mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
Aku bisa merasakan sapuan hangat dari nafasnya, hanya beberapa senti terpisah dariku. Lalu sambil terus mengunci pandanganku, dia mulai memagut bibirku.
Jantungku berdetak lebih keras merasakan kelembutan bibir Drey. Yang kini sepertinya mulai terasa familiar saking seringnya dia menciumku. Bahkan jika dihitung, dia hampir menyamai angka yang terjadi selama tiga tahun aku bersama Casey.
Drey adalah pria yang jauh lebih hangat. Sangat pandai membuaiku. Caranya mencecap bibirku, ataupun menyesapnya selalu membuatku pasrah padanya. Terkadang menimbulkan hasrat dalam diriku untuk meminta lebih.
Saat sedang menikmati itu, aku merasakan Ada yang menarik-narik bajuku. Awalnya aku tidak ingin mempedulikannya karena kupikir Drey. Tiba-tiba,
"June..."
Suara kecil itu menyadarkanku. Itu bukan Drey. Aku Dan Drey sama-sama terkejut Dan melepaskan ciuman kami. Saat menoleh, di samping kursi Rilla sedang berdiri menatap kami dengan polosnya.
Ah... Rasanya aku ingin memukul diriku sendiri.
***********************************
Aku menyembunyikan wajahku sepanjang perjalanan pulang. Mungkin masih merah sampai sekarang saat mengingat kejadian tadi. Padahal Aku sudah berusaha mengendalikan diri, tetapi malah kelepasan berciuman di depan Rilla. Untungnya Rilla masih belum paham apa yang kami lakukan. Namun setiap Melihatku, selalu Ada ekspresi bertanya-tanya di wajahnya. Seolah mempertanyakan statusku dengan Drey. Rasanya aku sudah bersalah menodai pikiran polos gadis kecil itu.
Sebenarnya aku ingin membawa anak-anak itu bersamaku, Pulang ke rumahku. tetapi Setelah kejadian tadi aku berpikir bahwa itu rencana yang buruk. Drey sering bertelanjang dada di rumah. Dan kami mungkin Akan kelepasan lagi di depan mereka.
Hari sudah malam saat kami sampai di rumah. Tidak Ada makanan maupun bahan untuk menyiapkannya. Sehingga Setelah makan malam seadanya langsung berpisah untuk tidur.
Sebenarnya aku lelah sekali Hari ini. Ingin segera tidur pulas. Tetapi sialnya pikiranku terganggu oleh kejadian tadi. Ketahuan oleh Rilla Dan betapa mempesonanya Drey yang bijaksana. Aku jadi tidak bisa tidur.
Akhirnya aku memilih bangun dan turun ke lantai bawah. Berkat festival Lumiere tiruan yang dipasang Drey, ruangan di rumah ini menjadi indah saat malam Hari. Aku hendak pergi ke ruang tengah, di sana lampunya Paling indah. Mengingatkanku pada langit-langit kamar apartemenku.
"Kau juga tidak bisa tidur?"
Tanya Drey yang ternyata sudah lebih dulu di Sana. Aku pun bergabung dengannya.
Kami berdua duduk di sofa sambil tiduran melihat lampu-lampu di atas. Dengan malam yang hening, rasanya damai sekali di hati.
Aku merasakan tangan Drey menyusup di bawah punggungku mencoba meraih pinggangku. Merusak ketenangan yang baru saja kurasakan.
"Mau melanjutkan yang tadi?"
Bisik Drey sambil menarik tubuhku ke dekatnya. Saking dekatnya, aku sampai bersandar pada tubuh kekarnya. Membuatku bisa menatap Mata birunya yang indah.
Aku ingin menolak Drey. Ingin melepaskan diri dari dekapannya. Namun tubuhku tidak mau menurut. Hanya diam menunggu Hal selanjutnya yang ingin Drey lakukan.
Drey mulai menciumku. Langsung dengan serius. Mencecap bibirku dengan intens. Aku pikir telah mengenali ciuman Drey. Namun ternyata dia masih bisa mengejutkanku.
Aku bisa merasakan Drey begitu agresif dan liar melumat bibirku. Seakan tidak akan ada hari esok. Aku sampai kewalahan. Kuakui Drey adalah "best kisser" yang pernah kutemui. Sesuai dengan julukannya sebagai seorang Cassanova. Dia mungkin telah berpengalaman.
Setelah puas mencicipi seluruh bibirku, Drey menggigit sedikit membuatku dengan sukarela membuka mulutku. Dengan lincah dia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku dan memainkan lidahnya di dalam sana.
Berkali-kali berciuman dengan Drey, ini adalah ciuman terpanas yang pernah kurasakan darinya. Aku terbuai dan melayang menerimanya. Jika aku takut akan jatuh lebih dalam padanya, mungkin inilah saatnya.
Saat dia melepaskan ciumannya, aku bisa melihat tatapan Mata yang telah membuatku mengaguminya. Misterius Dan menggairahkan. Namun Ada binar kelembutan di Sana. Membuatku ingin memilikinya.
Dan Kali kedua dia memagut bibirku aku juga Tak menolaknya. Aku ingin melupakan sejenak Rasa penasaranku terhadap perasaan kami yang sebenarnya. Saat ini aku hanya ingin menikmati waktu yang kami miliki berdua.
Drey telah membuatku merasa istimewa. Membuatku merasa dicintai, lalu perlahan mencintai diriku sendiri. Bisa menikmati setiap detik kehidupanku. Sepertinya aku harus berterima kasih pada orang yang telah memberi nasehat pada Drey.
"Siapa orang bijak yang memberitahumu nasehat tentang kehidupan itu?"
Tanyaku, seperti biasa mengutarakan Rasa penasaranku.
"Cinta pertamaku"
Dan buyarlah sudah semua momen romantis itu. Harusnya aku tidak bertanya pada Drey.
__ADS_1